
"tante ini mau dipotong atau di biarin aja?"
"dipotong aja sayang biar nanti tinggal makan" jawab Vera sembari tersenyum.
Alana memotong kue yang baru saja dia buat bersama tante Vera menjadi beberapa bagian. dengan menggunakan celemek coklat yang melekat ditubuhnya agar melindungi gadis itu supaya tidak kotor selama pembuatan kue. dan rambut nya yang di cepol menampakkan jelas leher jenjang Alana yang putih nan mulus. sehingga semakin menampakkan aura kecantikan nya.
hanya membuat dan memotong kue saja Alana mampu membuat para kaum adam ketar ketir diluar sana karena kecantikan gadis itu. ah tidak, buat apa apa jauh jauh kalo ada yang dekat, contoh nya Arslan yang sedari tadi nangkring di meja dapur mama nya demi melihat proses pembuatan kue yang dibuat bersama Alana. tentu nya Arslan tidak ingin ketinggalan soal gadis yang satu itu.
melihat bagaimana cara Alana memahami cara pembuatan kue tadi, dan beberapa bahan yang ternyata Alana kenal membuat Arslan takjub. selama dua tahun tidak bertemu ternyata pengetahuan nya bertambah dalam membuat kue.
Arslan menumpu kepalanya dengan kedua tangan sedangkan matanya tak pernah lepas mengamati setiap gerak gerik Alana. gadis itu terlihat sangat cantik, apalagi kalau sudah masuk dapur.
"cantik banget kan Ar" sindir Vera pada anaknya.
wanita itu tertawa melihat Arslan yang kelabakan, benar feeling nya sedari tadi Arslan terus memperhatikan Alana. dasar kang gagal move on.
Alana mengangkat wajahnya selesai memotong semua kue menjadi beberapa bagian. gadis itu menatap Vera dan Arslan lalu tersenyum "udah tante" Ucapnya.
"yasudah ayo bawa ke taman samping, kita makan bareng bareng. Ar tolong bantuin bawa, jangan bantuin liat aja" perintah Vera dengan semangat empat lima Arslan membawa dua piring berisikan kue buatan mama nya dan Alana. sedangkan untuk minum mereka akan di siapkan Art.
drttt....
Alana merogoh saku celana nya dan membelalakkan matanya kala tau siapa yang menelepon.
'mampus' batin Alana kelimpungan melihat ada 46 panggilan tak terjawab dari Gaza. matanya beralih menatap jam yang tertempel di dinding rumah Arslan, pukul empat sore. selama itu dia pergi dan hanya izin ingin ke taman hiburan tadi.
sebenarnya pergi main ke rumah Arslan tidak ada dalam planning mereka. hanya saja ketika pulang dari kedai es krim tadi Arslan menawarkan untuk mampir sebentar di rumah nya. cowok itu mengatakan jika mama nya sangat merindukan Alana sosok gadis yang pernah hampir menjadi calon menantu wanita itu.
tidak ada alasan untuk menolak, karena Arslan sudah mengajak nya jalan dan mentraktir full sampai Alana tidak kebagian untuk bergantian membayar. hanya mampir sebentar toh, ketemu tante Vera yang ternyata orangnya begitu baik dan penyayang. mama Arslan bahkan mengajak Alana membuat kue bersama seperti dua tahun silam. dan itu lah alasan mengapa Alana lupa waktu dan belum kembali sampai sekarang, dia terlalu asik mengaduk adonan kue.
__ADS_1
Alana benar benar melupakan Gaza yang begitu overprotektif dengan nya ketika menyangkut Arslan. gadis itu segera menyusul Vera dan Arslan di taman samping rumah.
Alana menatap Vera dengan tak enak, padahal dia yang sangat bersemangat membuat kue tadi dan Vera yang sangat senang dengan kedatangan Alana. bahkan gadis itu belum mencicipi kue buatannya tapi sudah harus pergi.
"tante..." panggil Alana, Vera yang sudah duduk di kursi dekat taman itu menoleh sembari tersenyum pada Alana.
dengan tidak enak hati Alana berpamitan pada mamanya Arslan "tante maaf... tapi sepertinya aku harus pulang" Vera langsung berdiri "loh kenapa sayang, kita makan kue nya dulu baru pulang ya" tawar Vera yang sepertinya tidak rela.
sedangkan Arslan sudah menatap Alana dengan tanda tanya dan juga benar benar melupakan Gaza yang sudah kesal setengah mati karena adiknya belum juga dipulangkan.
"kakaknya aku udah nelpon dari tadi tante, udah di cariin karena aku izin tadi cuma mau main ke taman hiburan aja" balas Alana jujur dan merasa sangat tidak enak, padahal tante Vera sudah capek-capek mengajar kan nya cara membuat kue.
sial, Arslan melupakan soal Gaza. lelaki itu bisa mendapat bogem mentah saat memulangkan Alana nanti.
"yah, gak apa apa deh sayang tapi janji ya lain kali main ke sini lagi?"
"hati hati Al, Ar" pesan Vera tersenyum.
"iya tan/iya ma" jawab mereka serempak.
Vera menatap kepergian kedua anak muda itu setelah menghilang di balik pintu kaca wanita itu duduk kembali di kursi yang sempat di duduki nya tadi. art bernama ani mengantarkan tiga cangkir teh dan meletakkan nya di meja sebelah Vera yang juga berisikan kue yang di buat Vera bersama Alana tadi.
"bawa aja lagi bi, tamu nya udah pulang" suruh Vera lesu.
teh nya datang orang nya pergi, bi Ani menatap heran nyonya nya. tapi art itu mengambil kesempatan untuk bertanya siapa gadis yang membuat kue bersama nyonya nya tadi.
"maaf Nya, tamu nyonya tadi cantik banget pacar nya den Arslan ya?" tebak bi Ani menggoda nyonya nya.
Vera tersenyum, bukan pacar tapi mantan bi batin Vera gemes. karena bi Ani yang baru sekitaran satu tahun kerja di sana membuat nya tidak tau momen momen Arslan masih bersama Alana dua tahun yang lalu.
__ADS_1
saat saat Alana masih sangat sering main ke rumah nya dan selalu berhasil membujuk Arslan agar mau mengikuti latihan sore olimpiade matematika. karena dulu Arslan sangat pintar sama seperti Alana hanya saja lelaki itu selalu malas. tapi ketika bertemu Alana, sikap Arslan berubah drastis karena pawangnya.
mereka adalah pasangan serasi, sangat cocok di mata publik. tapi sayang sekarang hanya sebatas mantan tanpa tau apa bisa balikan.
Vera menatap asisten rumah tangga nya "mantan calon mantu bi" balas Vera masuk ke dalam rumah.
meninggalkan bi Ani yang menganga lebar sangking kagetnya mengetahui fakta yang sebenarnya.
<><>
mobil milik Arslan terparkir di halaman kediaman Sharamon.
Alana melepas sabuk pengaman nya dan bersiap hendak turun "mau aku anterin ga?" tawar Arslan yang siap bertanggung jawab memulangkan Alana terlambat.
gadis itu menggeleng kecil "gak usah kak, kamu pulang aja" balas Alana. gadis itu menghentikan kegiatannya yang ingin membuka pintu mobil lalu berbalik menatap Arslan lagi.
"thank you kak Arslan jalan jalan nya. next time lagi ya, jangan kapok bawa aku" ucap gadis itu dengan sangat riang dan jangan lupa senyum tulus yang selalu tercetak di bibirnya.
Arslan tersenyum tipis dan mengacak gemas rambut Alana "kamu gak pernah ngebosenin Al, sampai tua pun senyum kamu itu candu bagiku" kata Arslan tersenyum.
Alana tidak tau harus mengatakan apa, mendengar nya saja tanpa bertanya gadis itu sudah tau kebenaran ucapan Arslan. rasa cinta dan sayang lelaki itu begitu nyata untuk nya. hanya sayang Alana yang dulu harus memutuskan cowok sebaik dan setulus Arslan yang gadis itu juga tidak tau apa penyebab nya.
meskipun sudah mendapatkan potongan potongan memori kecil Alana lewat mimpi yang memang terasa nyata itu. tapi dia belum menemukan penyebab mereka putus dan rusaknya persahabatan Arslan dan Gaza. tapi satu yang Alana yakini, dirinya adalah penyebab yang kuat. feeling nya mengatakan itu dan Alana tidak pernah meragukan perasaan nya.
Alana turun dari mobil Arslan setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi. dan langsung masuk ke dalam rumah begitu mobil yang baru saja ditumpangi nya pergi dari halaman luas kediaman Sharamon.
<><>
TBC.
__ADS_1