
"Lana pulang" ucap gadis itu kala memasuki kediaman Sharamon. Alana menghampar kan pandangannya ke seluruh rumah, sepi tidak ada orang. lalu ia pergi melangkah ke dapur mendapati bibi Suir yang sedang memasak untuk makan malam.
Alana mendatang bi Suir dengan senyum merekah, gadis itu mengintip isi kuali yang baru saja bi Suir aduk. bau harum tercium ke dalam hidungnya, bau makanan ini sangat lezat batin Alana sumringah.
"bibi masak apa bi?" tanya Alana
bi Suir tersenyum "masak tom yam, makanan kesukaan enon" katanya sembari menatap Alana.
Alana mengangguk seraya tersenyum, gadis itu membatin 'aduh bibi itu makanan kesukaan Alana yang dulu, bukan kesukaan aku' batin nya sedikit gusar melihat ada beberapa seafood seperti udang di sana.
Alana menatap tangan dan kuali berisi tom yam secara bergantian.
"Non Alana kenapa? udah laper, mau bibi siapin dulu non?" tanya bi Suir menatap anak majikannya, Alana menggeleng pelan "enggak kok bi, aku belum laper. kebetulan tadi baru makan di luar sama temen temen, nanti sekalian sama kak Gaza aja" jawab Alana.
"Yaudah kalo gitu bibi ke samping dulu non, mau ngecek tanaman hias nyonya" pamit bi suir yang sudah selesai dengan masakan nya.
Alana mengangguk menatap kepergian bi Suir, lalu pergi menuju kamarnya untuk melaksanakan ritual mandi sore.
<><>
Alana sudah segar setelah keluar dari kamar mandi. gadis itu menuju meja rias, menatap pantulan dirinya dari balik kaca. Alana menghela nafas kemudian mengambil hairdryer dan mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas.
ditengah tengah mengering rambutnya Alana termenung memikirkan ucapan Emil di restoran mall tadi. benarkah itu Gaza? atau Emil hanya salah lihat saja. hatinya begitu panas setelah mendengar itu, tapi air muka nya tetap terjaga tenang seolah tidak terjadi apa apa.
padahal sebenarnya Alana sama tidak rela nya dengan Emil. dan kenapa juga Gaza tidak memberitahukan padanya, kan Alana adik Gaza. dia berhak tau dong, kenapa Alana harus jadi orang yang sekian tau dan tau dari orang lain.
gadis itu meletakkan hairdryer nya dengan kasar di atas meja. padahal rambutnya masih setengah kering. Alana menghembuskan nafas membuat anak rambut nakal yang menutupi mata nya terhempas ke atas.
wajah nya cemberut dengan bibir yang maju ke depan.
"jahat banget gak kasi tau aku duluan" cibir Alana menyekap dada menatap pantulan dirinya.
<><>
sementara disisi lain mobil yang dikendarai Gaza sampai di perkarangan komplek rumah mewah. Gaza menatap datar gadis di sampingnya yang belum juga turun.
__ADS_1
"e- eum lo gak mau mampir dulu Gaz?" Tanya cewe itu dengan tersenyum manis membuat Gaza enek untuk membiarkan manusia itu berada lebih lama di dalam mobil mewah nya.
"enggak deh next time aja" balas Gaza
cewek itu mengangguk "oke, gue masuk dulu. hati hati dijalan" katanya dan hanya dibalasi anggukan saja oleh Gaza.
Cewek itu turun dari mobil dan menutup pintunya, menatap Gaza dari balik kaca mobil yang terbuka.
"eh Gaz"
Gaza menaikkan sebelah alisnya lalu melepaskan kembali persneling mobil.
"thank you ya udah mau temenin gue beli kalung, di pilihin lagi. dan selera lo bagus juga" Ucapnya tersenyum senang.
Gaza hanya mengangguk "iya" balasnya cuek.
"gue balik dulu, salam buat bokap lo" pamit Gaza pergi menginjakkan pedal gas dari komplek perumahan mewah itu.
cewek itu tersenyum tipis menatap kepergian mobil Gaza yang semakin menjauh dari pandangan nya. ia menghela nafas panjang seraya menatap paper bag ditangan nya.
"kapan lo peka nya sih Gaza" Ucap yang sangat berharap Gaza tau tentang perasaan gadis itu.
<><>
ya, Aldon papi nya memerintahkan Gaza untuk mendekati gadis bernama Arbela itu atau disebut Ara. awalnya Gaza enggan, lelaki anti wanita itu tidak akan pernah menghabiskan hidupnya dengan sia sia hanya karena seorang wanita. bagi Gaza wanita itu menyusahkan dan banyak maunya, susah di atur bahkan haus perhatian. ya itu yang lelaki dingin itu tau tentang seorang wanita yang sangat dia hindari dalam hidupnya.
bahkan Aldon sampai memohon, setidaknya tipis tipis. Gaza mau membiarkan Ara di dekatnya, meski menolak keras untuk menjadikan gadis itu kekasihnya. Aldon pikir itu jauh lebih baik demi kelancaran bisnis nya.
ck, dasar penggila kerja batin Gaza muak dengan orang tuanya. bahkan sejak kejadian Alana kemarin kedua orang tua sanggup untuk tidak pulang dan sebentar saja menjenguk putri mereka.
benar benar parah! dua tahun seorang ibu dan ayah tidak pulang ke rumah dan menjalani kewajiban sebagai orang tua. tidak tau rumah dan kapan harus pulang.
meninggalkan anaknya dengan satu orang pembantu dan satu orang satpam di rumah yang besar tanpa kehangatan. memberikan banyak fasilitas, dari koleksi kendaraan, uang saku berbentuk kartu tanpa batas limit dan kebebasan yang mutlak.
'ck, orang tua?' batin Gaza merasa asing dengan kata itu, sering di dengar tapi tidak pernah merasakan langsung seperti apa. dia punya, hanya saja tidak bisa di gapai untuk tempat pulang bahkan ketika dia kecil pun. sejak Alana lahir mereka sudah tidak pernah pulang ke rumah ini lagi.
__ADS_1
Gaza mengetuk pintu kamar Alana yang tak kunjung di buka, bahkan sautan saja pun tidak ada.
Gaza terus mengetuk tanpa lelah, karena tadi bibi suir mengatakan padanya jika Alana belum makan malam demi menunggu diri pulang. cowok itu menatap ke arah arloji di tangan nya, sudah hampir pukul sepuluh malam dan Alana belum makan.
"Lana?" panggil nya, bagaimana mungkin adiknya tidur secepat ini.
Gaza merogoh saku celana dan mengambil ponsel genggamannya. cowok itu beralih menelpon Alan dengan satu tangan nya yang masih aktif mengetuk pintu.
"ck" decak Gaza setelah dua panggilan terlewatkan tanpa tersambung dengan Alana di dalam sana.
apa jangan-jangan Alana pingsan di dalam sana karena belum makan? tiba tiba pikiran itu terlintas di benak Gaza, hati nya sedikit khawatir lalu berlari ke bawah mencari bibi Suir.
"bi, kunci serap dimana?" tanya Gaza khawatir.
"itu den, bibi taru di gantungan samping akuarium" kata bi suir menatap Gaza aneh.
"makasi bi" ucapnya bergas mengambil kunci serap dan segara membuka pintu kamar Alana.
Gaza memasukkan kunci serapnya dan memutar kunci itu, cukup lama dan bahkan belum bisa terbuka sampai sekarang.
Cowok itu berdecak kesal "ck, ini bibi beneran kunci serap kamar Lana bukan sih" ucapnya kesal setengah mati.
tidak ingin membuang waktu lebih lama Gaza berbalik hendak menukar kunci yang lain, mana tau dia yang salah ambil. kan kata bi Suir di gantung, disana juga ada banyak kunci dan tidak bilang kunci yang mana.
clek
Gaza berbalik dengan wajah datar.
<><>
TBC.
____________
aku baik sama kalian, jadi aku panjangin dikit kikikikik.
__ADS_1
anyway, kalo readers ku mau yang lebih panjang lagi jangan lupa like nya sayang. komen juga aku harapin banget, vote juga sekalian haha. aku ngelunjak ya (´ε` )
bay, see you in the next chapter 🖤