
Gaza memarkirkan motor sport nya dihalaman kediaman Sharamon. lelaki itu membuka helm full face nya begitu Alana turun dari motor. Gadis cantik itu memandangi wajah kakak nya dengan tatapan sulit.
"kenapa?" tanya Gaza menaikkan sebelah alis.
"gpp" jawab Alana cepat.
Alana melempar helm nya secara tiba-tiba dan untungnya Gaza dapat menangkap benda itu.
"ck dasar" kesal cowok itu menatap kepergian adiknya. Gaza meletakan helm tadi kemudian ikut turun juga dan masuk ke dalam rumah.
"Nonnn...!!!" Teriak pak satpam menghela nafas, telat lagi dia menanyakan pada anak majikannya. Alana sudah terlanjur masuk ke dalam rumah.
"wes lanjut kerja ae" pasrah pak satpam kembali ke pos nya.
<><>
Alana keluar dari kamar mandi dengan kaos coklat polos dan celana pendek berwarna putih. tangan sibuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil. sementara kaki nya berjalan mendekati meja rias.
Alana duduk dan terdiam menatap pantulan diri nya dari balik kaca. gadis itu termenung dengan segala isi pikirannya.
"aku harus cari jalan keluar apa pun yang terjadi" ucap Alana pada diri nya sendiri.
sudah sejak seminggu lama nya terjebak di dalam raga orang lain Alana harus segera mencari jalan keluar untuk kembali ke kehidupan nya yang dulu.
"mulai besok kita bakal telusuri kejadian aneh ini dengan raga Alana" sambungnya menatap sendu.
<><>
"balik sono udah mau jam makan malam" usir Gaza pada teman temannya.
Reno menatap sinis sang tuan rumah " justru karena mau jam makan malam kita disini nunggu" ucapnya.
"nah betul itu kita kan kesini mau numpang makan" sahut Daniel
"ck, gak modal" cibir Varro
__ADS_1
"elu juga bangsat" kesal Gaza.
Varro tertawa ngakak "yaelah Gaz sekali sekali kan makan di rumah orkay"
"gaya lu macem orang susah aja" cibir Gaza.
"susah beneran mampus" sambung Vano kembaran Varro.
mata Varro melotot tajam menatap adik kembarnya.
"eh kalau gue susah lu juga ya goblokk" kesal Varro, dua kakak adik kembar itu saling menatap sengit.
"udah pulang pulang" usir Gaza kembali.
Bibi Suir menatap bingung ke arah teman teman anak majikannya. art itu ingin mengatakan jika makan malam sudah siap.
"permisi aden, makan malam nya teh sudah siap" kata bi Suir tersenyum.
sorak porak gembira terdengar dari teman teman Gaza yang gagal di usir, mereka semua ngacir berlarian ke meja makan. kan lumayan makan gratis di rumah Gaza yang makanan nya enak enak buatan bi Suir.
jarang jarang bukan makan disini, dan mumpung orang tua Gaza jarang berada di rumah membuat mereka jadi leluasa untuk merusuh.
"siap den" ucap bi Suir kemudian naik keatas.
Alana turun ke bawah setelah di panggil bibi suir tadi, gadis itu menatap cengo dengan keberadaan teman teman kakaknya yang memenuhi meja makan.
'jadi ini temen temen nya kak Gaza' batin gadis itu menatap satu persatu teman kakaknya.
"eh ada Lana sini duduk disebelah kak Reno" tawar Reno tersenyum manis melihat kedatangan adik sohib nya yang amat cantik itu.
Alana mengangguk sejenak lalu duduk di sebelah Reno, gadis itu tersenyum kik kuk ketika ditatap para teman kakaknya.
Kecuali Vano, dia menatap Alana dengan tatapan dingin seolah tak suka melihat gadis itu. Alana sadar, dia tau Vano menatap nya seperti itu. Tapi Alana mencoba untuk tidak peduli padahal ia mati matian berfikir apa dirinya pernah menyinggung atau berbuat pada salah satu teman kakaknya.
Alana menatap Gaza, cowok itu menghela nafas seolah tau tatapan bingung adik nya.
__ADS_1
"temen gue, Reno, Daniel, dan kembar itu, Vano dan Varro" ucap Gaza singkat.
"kependekan kak, panjangin dikit yang jelas" pinta Alana jengah.
Reno melotot di buatnya "heh bodoh lo jelasin atau gimana sih, kalau gak niat ngomong bisu ae"kesal nya melihat Gaza yang sangat dingin meski pun bersama adiknya sendiri.
"wait wait kok ada yang aneh" ucap Varro
"Iya, kenapa lo jelasin kita dan kenapa Alana seolah gak tau tentang kita? What's wrong with you Alana?" Tanya Daniel heran
"loh kenapa sih? lo amnesia Al?"
Alana menatap mereka semua, bingung harus menjawab apa sedangkan Gaza lagi lagi menghela nafas. makan malam mereka terpaksa ditunda karena harus menjawab pertanyaan teman temannya mengenai Alana.
"oke gue jelasin, gak tau kenapa seminggu yang lalu tiba tiba aja dia jerit pas bangun tidur. gue samperin dan dia sama sekali gak ingat gue atau bisa dibilang hilang memori total, dia bahkan gak tau siapa dirinya. aneh? pasti gue juga ngerasa gitu tapi ya gimana" jelas Gaza yang kali ini menurunkan ego nya untuk lebih panjang sedikit ketika berbicara, hanya untuk percakapan ini saja tentunya.
"terus bonyok lo tau?" tanya Daniel
"tau"
"gue udah hubungi via telpon kemaren dan ya bisnis lebih no satu dibandingkan anaknya" ucap Gaza yang terlihat lelah ketika membahas orang tuanya.
Alana memandang sendu, andai Gaza benar benar kakak kandungnya di raga gadis itu yang sebenarnya. pasti dia akan merasakan hangatnya kasih sayang kedua orang tua.
Alana tersenyum tipis, membahas orang tua membuat nya ingat dengan kedua orang tua gadis itu. Alana jadi merindukan mereka berdua, apakah mereka kehilangan anak tunggal nya yang cantik ini.
baiklah Alana bertekad akan mulai mencari jalan keluar nya mulai besok, apa pun yang terjadi jadi itu harus kembali ke kehidupan nya yang lalu.
Brak
benda pipih miliknya terjatuh kebawah, Alana berdecak kesal dan menurunkan tangannya untuk meraih ponsel. karena tangan nya yang pendek membuat Alana kesusahan dan lebih menurunkan tangannya lagi tanpa melihat kebawah.
"dapat" gumam nya senang, Alana hendak naik keatas lagi tapi gadis itu tersentak kaget melihat tangan Gaza yang berada di kepala nya.
Alana menatap tangan itu, rupanya Gaza melindungi kepalanya agar tidak terluka mengenai ujung meja. Alana tersenyum tipis menatap kakak nya di sebelah. kemudian kembali duduk seperti semula dan salah tingkah sendiri sampai terbalik menggunakan garpu dan sendok.
__ADS_1
<><>
TBC.