Alana Transmigrasi

Alana Transmigrasi
Pertengkaran


__ADS_3

"Alana pulang sama gue!!" perintah Gaza yang datang dengan melipat kedua tangannya cool.


kedua manusia itu mengalihkan pandangannya menatap Gaza yang mendekat ke arah mereka. cowok itu mendengus kesal melihat kedatangan Gaza. gagal sudah rencananya ingin mengantar Alana.


Alana tersenyum senang melihat kedatangan kakaknya, gadis itu berlari kecil mendatangi Gaza. sedangkan Gaza menepuk jidatnya melihat tingkah sang adik.


"dasar childish" gumam Gaza.


begitu Alana sampai di samping nya Gaza dengan tidak berhati menarik ujung kerah baju Alana, sehingga gadis itu menggantung di tangannya. Gaza menariknya dengan tangan kosong, pure tenaga dari otot otot nya yang hasil nge-gym selama ini sehingga urat urat kekar di tangan besarnya bertimbulan.


Alana menatap jengah sang kakak, tidak aesthetic sekali per-kakak adikan ini pake acara tenteng tentengan adik segala.


"kak turunin~~" rengek Alana mengayunkan kakinya.


Gaza memandangi Alana dari atas sampai bawah kemudian menatap remeh cowok yang tadi bersama adiknya.


"lo mau anter adek gue?" tanya Gaza seolah memberi tawaran. Alana melotot kakaknya ini apa apaan sih batin gadis itu kesal.


"boleh Gaz?" tanya cowok itu cepat, dirinya terlalu bersemangat sehingga melupakan senyum maut mematikan dari Gaza.


"boleh dong" kata Gaza dengan santainya sambil masih terus memperhatikan raut wajah kesal Alana yang masih di tenteng nya.


"tapi pertanyaannya gue cuma satu" lanjut Gaza tersenyum.


"apa Gaz? gue jawab sebisa gue deh"


Gaza tersenyum miring "LU MAMPU GA BABU...!!! HAHAHA"


<><>


Alana masuk kedalam rumah dengan hati yang kesal dan perasaan gondok, gadis itu mengentak hentakan kakinya kesal. bibi Suir pun menatap bingung kedatangan anak majikannya, pulang pulang sekolah kok udah bad mood.


Alana bahkan mengabaikan kedatangan teman kakaknya yang berada di ruang keluarga. gadis itu langsung saja menaiki tangga meninggal kan Vano yang sepertinya memanggil Alana tadi.


Gaza berhenti diruang keluarga dengan Vano, cowok itu tersenyum tipis dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. bagi Gaza Alana yang sekarang sangat menggemaskan batin nya. kalo marah pasti merajuk, gampang ngambekan. berbeda dengan Alana yang sebelumnya kalau sudah marah malah ngomel ngomel gak jelas, semua semua salah dan sangat merepotkan Gaza.


cowok itu ikut bergabung dengan Vano di sofa ruang keluarga. alisnya terangkat sebelah menyadari kehadiran temannya yang datang tanpa memberi kabar dahulu.


"ngapain lo disini?" tanya Gaza


"gue perlu Alana sebentar" ucap Vano to the poin, cowok yang sebelas dua belas sifat nya dengan Gaza itu, dingin, irit bicara, dan cuek.

__ADS_1


"adik gue bukan piala bergilir buat temen temen gue" balas Gaza tajam dengan menahan emosinya.


sejujurnya jika cowok di depannya ini bukan teman nya, Gaza pasti akan membogem Vano habis habisan. dan kembali lagi jika mereka bukan teman Gaza dirinya juga tidak akan melarang keras mendekati Alana.


"gue ada perlu bukan mau nyobain adek lo kaya Arslan juga" jawab Vano sinis seraya tersenyum miring menatap wajah emosi Gaza yang memerah.


"brengsek! Alana bukan cewe yang boleh kalian mainin" geram Gaza tertahan.


Vano berdesisi sinis "kamar nya dimana biar gue susul" kata Vano yang memang sengaja.


Tangan Gaza terkepal kuat, rahang cowok itu mengeras. urat urat dilehernya tercetak jelas dengan wajah merah padam menahan amarah.


"keluar sebelum gue bunuh lo!" ancam Gaza menatap sinis temannya.


Vano tersenyum miring, bukan nya keluar kan cowok itu malah nekat melangkah menuju arah tangga.


"GUE BILANG KELUAR ANJ...!!!" Teriak Gaza kehilangan kesabaran. cowok itu berjalan mendekati Vano dan membogem mentah wajah Vano.


Bugh


Vano tersenyum sinis mengusap ujung bibir nya yang berdarah akibat sobek terhantam bogeman Gaza.


Gaza tersenyum remeh kemudian merenggangkan otot otot tangan nya "ayo! mau war disini?" tantang nya.


Vano menatap Gaza dengan dipenuhi kabut asap kemarahan. dengan hati yang panas dan kemarahan yang menguasai tubuhnya. cowok itu menghajar habis habisan Gaza yang notabene nya sahabat nya sendiri.


Bugh


Bugh


Bugh


"ADENN...!!!! GUSTIALLAH NON... NONNNN LANA. ADEN GAZA SAMA DEN VANO INI TEH BERANTEM GIMANA NON" Teriak bibi Suir yang kelimpungan, art itu bersembunyi di balik sofa dengan tangan yang membawa secangkir teh yang awalnya ingin bi suir sajikan pada Vano. tamu anak majikannya dan sekarang mereka malah jadi pukul pukulan begini.


bibi Suir menutup mulutnya nya "aduh si bibi aya aya wae, kok malah panggil enon harusnya kan panggil pak abdi" kata bi suir menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


"Bibi ada apa kok teriak teriak—"


mata Alana melotot melihat aksi Gaza dan temannya yang saling memukul di bawah tangga.


"KAK GAZA...!!!!"

__ADS_1


"aduh non jangan turun! jangan turun non bibi mohon ntar non yang kena" kata bibi suir khawatir.


Alana menatap bi Suir tak percaya "jadi aku harus gimana bi, mereka bisa mati!" balas Alana histeris saat melihat darah segar mengalir dari pelipis dan bibir Gaza. Alana sudah tak dapat melihat keadaan Vano yang juga babak belur karena di hajar habis habisan oleh kakaknya.


Alana hanya khawatir dengan Gaza saat ini, gadis itu ingin turun ke bawah dan memisahkan mereka tapi bi Suir melarang nya.


"Non tunggu sebentar bibi panggilin pak abdi dulu, tunggu non tunggu" kata bibi kelimpungan. bibi Suir berlari keluar mencari satpam pribadi kediaman Sharamon.


Bugh


tubuh Vano jatuh tersungkur diatas lantai, Gaza naik ke atasnya untuk menahan pergerakan Vano dab bersiap melayangkan satu pukulan lagi.


"Stop sakitin adik gue bangsatt...!!" maki Gaza pelan agar Alana tidak mendengar percakapan mereka, cowok itu menatap penuh memerintah.


"gue gak pernah sakitin adik lo Gaz, malah Alana yang ninggalin gue dan lebih milih Arslan" kata Vano tajam tapi tersorot kekecewaan mendalam di mata nya.


"Alana gak pernah kaya gitu, lo jangan nuduh adik gue tanpa bukti anj...!!!"


Bugh


"KAK UDAH...!!!" Teriak Alana histeris di anak tangga terakhir. gadis itu sudah tak dapat menahan gejolak lagi saat melihat Gaza yang terus menghajar Vano tanpa henti.


tubuhnya merosot jatuh begitu saja melihat banyak nya darah yang mengalir di wajah kedua lelaki itu dan beberapa lebam dan lecet disana.


Alana benci pertengkaran, dia takut jika ada orang yang bertengkar sampai harus saling menghajar.


"udah kak aku takut... jangan pukul pukulan" kata Alana ingin menangis.


Gaza bangkit dari posisinya dan meninggalkan Vano yang terkapar lemas. Gaza merengkuh tubuh adiknya, memeluk Alana erat seolah tak boleh ada seorang pun yang menyakiti adiknya.


walaupun terkesan dingin dan tidak peduli dengan sekitarnya tapi Gaza sangat menyayangi Alana dan cowok itu tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Alana.


"ssttt... jangan nangis lagi gue disini" ucap Gaza pelan dan mengecup singkat kening Alana.


cup


"maaf Lana" lirih nya.


<><>


TBC.

__ADS_1


__ADS_2