
Pagi hari...
" Mau kemana kamu baby?". Tanya Bian yang melihat kekasihnya berpakaian rapi.
" Aku mau ke kampus, udah lama ga ke kampus pasti banyak pelajaran yang tertinggal ". Jawab dwi yang bergegas turun tangga.
" Heyy sayang, tunggu bentar.. Kamu itu masih sakit belum sembuh, liet muka kamu tuh banyak perban". Ucap Bian yang melarang kekasihnya untuk pergi sementara.
" Tapi aku udah lama banget ga ke kampus Bian"
"Ga boleh, tunggu bener bener sembuh dulu.. Lagian kamu ga kuliah ga kerja aku bisa menuhin semua kebutuhan kamu". Cetus Bian dengan datar dan sedikit angkuh.
"Tapi aku juga bosen dirumah terus". Ucap dwi yang sedikit cemberut.
" kalau gitu anterin aku pulang, udah lama banget ga balik pasti udah banyak banget debu nya". ajak dwi yang ingin mengunjungi rumahnya.
" oh oke". Jawab bian dengan singkat lalu bergegas.
Didalam perjalanan menuju kerumah dwi tidak ada percakapan sama sekali diantara kedua pasangan tersebut.
Sampai pada akhirnya dwi yang memulai pembicaraan kepada Bian pacarnya itu.
"Bian.. ". Panggil dwi tetapi tidak ada jawaban dari Bian dan dia tidak merespon sama sekali.
" BIAN.. ". Teriaknya dengan kesal.
Dan tiba tiba bian menghentikan mobilnya dengan tiba tiba.
" Aku ga mau dipanggil Bian ". Ucapnya datar yang menatap mata kekasih nya.
" kita ini udah resmi pacaran, bisakah kamu memanggil dengan panggilan yang sedikit berbeda? ".
" hah, eh anu.. Maaf". Ucap dwi yang gugup karna Bian berada sangat dekat di depannya.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan tanpa ada sepatah kata lagi karna dwi merasa gugup sampai jantungnya berdegup kencang.
Setelah sampai dirumah dwi, tidak kaget lagi karna rumahnya menjadi sedikit kotor dan berdebu karna sudah berminggu minggu tidak ditempati.
" Bian keknya kamu tunggu di dalam mobil aja ya, soalnya kotor banget banyak debu nanti kamu malah bersin bersin". Ucap dwi yang takut pacarnya akan terkena flu.
" Baby.. Ga mau". Sahut Bian yang agak sedikit manja.
" Hah? Naon ga mau? " . Bingung dwi dengan sikap kekasih nya itu.
__ADS_1
" aku mau bantuin baby beberes ". Ucap Bian dengan senyum yang belum pernah terlihat diwajahnya.
" ah yaudah sih kalau kamu mau bantuin aku".
Setelah cukup lama mereka bebersih di dalam rumah tiba tiba Bian teriak histeris
"Aahhk bangsa*t baby tolongin aku". Teriak takut gemetar naik diatas meja.
" hah kenapa Bian, kenapa teriak teriak heh,ngapain juga naik keatas meja ". Ucap dwi yang bingung dengan kelakuan pacarnya itu.
" itu cepet usir tikusnya sayang iiii geli banget iii buruan usir". Panik Bian dengan geli bergidik di badannya.
"Hah? Kamu ngomong apa tadi? Tikus? Hah? ". Tanya dwi yang bingung kaget dan tidak percaya bahwa seorang Bian yang membunuh tanpa belas kasihan takut sama tikus.
" Cepet sayang aduh, usir tikus nya".
"Iya sabar ih ini juga lagi aku tangkep". Jawab dwi dengan keadaan bingung.
" udah aku buang, kamu bisa turun sekarang ".
" aaaa maaciw baby tengkyuu aaa mwah". Ucap bian yang memeluk dwi.
" jangan peluk peluk bian, aku bau keringet tau". Sahut dwi yang langsung ingin melepas pelukan Bian.
" ih gapapa keringet baby wangi wangi". Kata Bian yang memeluk dwi lagi.
Setelah selesai bebersih dan semua sudah tampak bersih tidak terasa hari sudah siang dan mereka berdua mencari makanan lalu dibawa balik dan dimakan dirumah dwi.
" sorry ya aku ga bisa masak jadi kita beli makan diluar ". Lirih dwi yang menunduk karna merasa bersalah.
" it's okay baby, kamu ga bisa masak restoran sama rumah makan masih banyak, lagian aku juga ga masalah kalau kamu ga bisa masak, aku masih bisa kok masak makanan buat kamu". Jawab Bian dengan senyum dan suara yang lembut.
"Hey sayang kok kamu jadi sedih gitu, jangan sedih cinta". Ucap Bian yang mencium kening pacarnya.
*drtttt... Drtttt.. drtttt..
" lu dimana? Kok gada dirumah? ". Tanya Gian yang ada dirumah Bian.
" jalan sama cwe gua".
"Kita susul lu ya, boring banget".
" kaga.. Enak banget lu, gw lagi mau berdua sama cwe gua". Jawab Bian dengan cetus langsung mematikan telpon.
__ADS_1
"****** si Bian... Kita bertiga dibuang cug". Ucap gian yang memasang wajah sedih konyol dan memeluk kepada Bihan dan Ray.
" apaan sih lu ah, geli banget begitu, jangan begitu najis". Kata Ray yang melepas pelukan dari Gian.
" apa boleh buat jadi kita bertiga mau kemana? ". Tanya nohan yang mengehala nafas.
Saat mereka bertiga ingin beranjak meninggalkan rumah Bian, tiba tiba ada sebuah mobil datang dan berparkir di halaman rumah.
" hah cok siapa tu". Tanya ray yang penasaran.
" ga tau anjr, bian kaga ada dirumah lagi". Ucap Gian yang tidak tahu itu siapa.
Setelah orang yang di dalam mobil itu keluar betapa kagetnya mereka karna orang yang berada disana adalah Pak Adhinatha ayahnya Bian.
" selamat siang om". Sapa nohan yang agak gugup.
"Hm?.. Dimana Bian? Kenapa cuma ada kalian bertiga?" tanya pak Adhinatha dengan dingin, sehingga membuat mereka bertiga sedikit gemetar.
" Bian sedang main sama temannya yang lain om". Jawab Gian dengan keringat dingin.
" haha.. Kenapa kalian sepertinya berbohong kepada saya" . Ucap pak Adhinatha dengan tawa yang sinis.
" benar om, Bian sedang main bersama". Belum sempat nohan berbicara pak Adhinatha langsung memukul nohan dengan keras.
* Buaghhkkk...
" Nohan saya tidak suka ditipu, jadi jangan berusaha untuk membodohi saya" . Ucap pak Adhinatha lalu menyuruh mereka untuk masuk kedalam rumah.
" saya tidak suka mengulang pertanyaan yang sama, jadi dimana Bian sekarang ".
" Om Bian memang sedang bersama temannya yang lain ". Jawab Gian, tetapi pak Adhinatha langsung memukul nya dengan besi yang dibawa oleh anak buahnya.
*Bruaaaghhkk...
" Berani sekali bocah tengil seperti kalian membodohi saya". Teriak pak Adhinatha yang langsung menghajar mereka bertiga.
Lalu terdengar suara mobil milik Bian yang sudah pulang kerumah. dan teman teman Bian saling tatap karna sudah pasti Bian pulang bersama dwi.
Setelah masuk rumah Bian kaget karna ayahnya ada di rumah sedang menyiksa teman temannya. Lalu dia menarik dwi untuk berdiri dibelakangnya.
" serahkan gadis itu". Ucap pak Adhinatha yang sambil menghisap rokoknya.
Dwi yang ketakutan lalu memegang erat tangan Bian, menyadari kekasihnya yang merasa takut Bian lalu menyuruh Nohan untuk membawa dwi pergi dari rumahnya.
__ADS_1
" Nohan.. Bawa dwi pergi dari sini". Ucap Bian dengan wajah datar. Lalu Nohan membawa dwi pergi tetapi dwi menolak untuk meninggalkan Bian.
" ga nohan gw mau disini". Lirih dwi yang masih memegang tangan Bian dengan erat.