
Saat pagi hari Bian terbangun dan tidak melihat kekasihnya ada disampingnya,mencari kesana kesini tetapi tidak ditemukan juga, perasaan takut yang dirasakan Bian terasa sangat bercampur aduk dan mengerikan, dia takut akhirnya dwi akan meninggalkannya.
" wii... [ Teriak] dwi kamu dimana sayang. " rasa khawatir Bian takut akan ditinggal pergi selamanya oleh dwi.
Lalu tiba tiba terdengar seseorang membuka pintu dan ternyata itu adalah dwi.
"Bian?.. " [ heran ] , hei kamu kenapa kok kek habis lari lari gitu.
" [ berlari ] kamu darimana aja, kenapa pergi ga bilang sama aku dulu [ memeluk ].
" aku ga mau bangunin kamu, soalnya tidur kamu nyenyak banget, jadi ga tega buat bangunin kamu". Lirih dwi yang mencoba menenangkan Bian.
" Lain kali kamu harus pamit gimanapun keadaannya, kalau kamu ga pamit aku bakalan marah sama kamu ". Ucap Bian yang sedikit mengancam.
Tiba tiba telpon milik Bian berdering..
Drtttt.... Drtttt....
" angkat dulu Bian siapa tau penting ".
" Biarin aja ga penting ".
" belum kamu angkat loh, masa dibilang ga penting? ".
" tch yaudah ". Kesal Bian dengan wajah datar mengangkat telpon.
"Lu dimana? ". Tanya Nohan dengan panik.
" rumah". [ wajah datar ].
" Cabut sekarang bareng dwi" [ panik ].
__ADS_1
"Hmm". Respon Bian yang sangat santai.
"Lu dengerin gw, ayah lu mau kerumah lu".
" hm". Respon Bian dengan wajah datar dan langsung mematikan telpon dari Nohan.
" baby ayo pergi [ menarik ] ". Ajak Bian langsung menggandeng tangan dwi.
" heh, pergi kemana? Ini masih pagi Bian". Tanya nya dengan bingung.
Belum sempat keluar dari rumah, ternyata Pak Adhinata sudah ada di depan pintu.
" ayah ". Lirih Bian menatap lelaki paruh baya itu.
" [ lirik ] bawa gadis itu ". Ucap pak Adhinata kepada anak buahnya.
" [ menggandeng ] tunggu ayah, apa yang ayah lakukan ". Tanya Bian yang sedang memegang kekasihnya dengan erat.
" tidak perlu membawanya, cukup disini saja ayah mengobrol padanya , selain itu juga ayah tidak boleh menyentuhnya [ menatap tajam ]".
" hahah baiklah putraku, kenapa kau sangat was was terhadap ayahmu sendiri ". Tawa pak Adhinata dengan sedikit terbahak.
Setelah itu mereka bertiga duduk dan mulai mengobrol dengan sangat serius.
"[ lirik] Nak,apa benar kau putri Sukma?".
" Sukma? [ lirih ].
" Sukma Batari indrajaya [ menatap tajam ]".
" iya ". Lirih dwi menjawab pertanyaan dari ayahnya Bian.
__ADS_1
[ tertawa ] ternyata benar, pantas sekali kau mirip dengannya. Dimana sukma sekarang [ menatap tajam ].
"[Lirik] apa maksud ayah bertanya seperti itu". Sahut Bian yang sudah mulai kesal terhadap ayahnya.
" kenapa? Wajar aku menanyakan kekasih ku dulu". Ucap pak Adhinata Yang membuat dwi dan bian kaget.
" [ teriak ] ayah bagaimana bisa ayah menanyakan wanita lain disaat ibu masih hidup ".
" emang ibumu masih hidup?". Tanya pak Adhinata dengan wajah datar, sehingga membuat bian semakin kesal dan marah.
" apa maksud ayah [ menarik kerah] bukannya ayah bilang padaku ibu masih hidup ". Ucap bian yang marah.
" [ tertawa ] hei tenang lah nak, iya ibumu masih hidup jadi kau tidak perlu secemas ini ". Sahut pak Adhinata yang sangat santai.
" jadi gimana? Sukma ada dimana putriku? ".
" hah? [ kaget ].
" kenapa kalian berdua kaget [ tertawa tajam ] emangnya aku tidak boleh memanggil calon menantu ku dengan sebutan putriku ". Ucap pak Adhinata yang santai sambil meminum sebuah kopi.
" anu.. Bunda sudah meninggal om ". Sahut dwi yang sedikit gemetar.
*PRAANNGGGKK..
Suara gelas yang terjatuh dari tangan pak Adhinata.
" hah? Kau bilang apa tadi nak? [ menarik baju dwi ].
" om [ menangis ]".
" ayah, apa yang ayah lakukan, sudah kubilang jangan pernah lagi menyentuh nya, jadi lepas kan tangan ayah".teriak bian dengan wajah dingin kepada ayahnya.
"bian [ gemetar ]". Lirih dwi yang memanggil nama kekasih nya itu.
__ADS_1
" gapapa sayang, ga akan ada yang berani nyakitin kamu selagi masih ada aku [ memeluk ].