ALEXAND

ALEXAND
37. Maaf


__ADS_3

Di balkon kamar apartemen berwarna putih kebiruan itu, tampak dua orang muda mudi yang sedang duduk berdua. Hanya terpisah meja kecil di antara mereka.


Senyap dan sunyi.


Hanya suara bising dari lalu lalang kendaraan di bawah mereka yang jadi pemecah suasana dingin ini. Keduanya tampak sama-sama kalut di pikiran masing-masing. Tak ada yang membuka mulut atau bersuara sedikitpun, benar-benar dingin dan sepi.


Beberapa kali, sepasang mata si gadis itu melirik lelaki di sebelahnya. Ia hanya berani menatap cowok itu tanpa berani bersuara atau sekadar menyapa. Rupanya masalah yang terjadi kemarin masih belum menemukan titik terang.


Ya! Sejak Farhan datang, Reyna tak berani memulai perbincangan yang belum usai semalam. Bahkan Farhan pun terlihat masih sangat enggan memulai percakapannya. Ia hanya mengucapkan beberapa kata tentang balkon kamar, dan setelah mereka duduk berdua di balkon kamar Reyna maka sudah tak ada lagi hal lain selain diam dan senyap.


"Orang bilang, jangan pernah mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalu nya." ucap Farhan yang akhirnya memecah keheningan. Reyna memejamkan matanya erat, bersiap mendengarkan tiap kata yang akan diucapkan oleh Farhan yang mungkin saja bisa melukainya.


"Tapi nyatanya aku ga peduli, aku memilih untuk tuli karena cinta ini udah terlanjur kuat. Udah terlanjur dalam. Udah ga akan ada kata mundur dari kamu Rey. Meskipun aku sendiri belum tau isi hati kamu yang sebenar-benarnya itu seperti apa, hanya aku atau masih ada sisa nama Willy." sambung Farhan lagi.


Reyna kini menoleh, menatap sorot mata tak biasa dari kekasihnya. Sudut hatinya tergores, nafasnya sesak mendengar kalimat tadi meluncur dari bibir Farhan. Ia tau semua ini memang kesalahannya, tapi ia punya alasan tersendiri. Alasan yang sulit diterjemahkan dengan lisan.


"Maaf." lirih Reyna singkat. Ada banyak kata beralasan dalam benaknya, tapi lagi-lagi bibirnya tak sanggup mengutarakan semuanya.


Farhan menarik nafas dalam.


"Kenapa minta maaf?" tanya Farhan menoleh, membalasan tatapan mata kekasihnya.


"Aku punya banyak karena buat semua ini, tapi aku ga bisa nerjemahin pake lisan. Sekali lagi, maaf." cicit Reyna tersenyum kecut.


Srek


Farhan menarik kursinya ke depan kursi Reyna. Mereka jadi saling berhadapan sekarang.


"Tapi aku ga pernah bilang kamu salah, aku tadi cuma ngutarain kata orang aja kok." ucap Farhan yang justru makin membuat Reyna merasa terpojok penuh rasa bersalah.


"Aku maafin kamu, tapi aku cuma butuh penjelasan kamu, bukan minta maaf. Kalo kamu belum bisa jelasin, ya udah ga papa! Aku tunggu sampai kamu siap. Aku cuma denger itu dari Sherin, dan aku mau denger cerita versi kamu." tutur Farhan menggenggam erat kedua jemari tangan Reyna.


Reyna menghela nafas panjang.


"Aku ga tau apa yang diceritain sama Sherin soal Willy, aku masih belum bisa jelasin semuanya. Tapi kamu bisa percaya kan? Aku udah ga ada apa-apa sama dia, kemarin itu dia cuma sekedar mampir doang. Bang Rayn juga ada kok waktu itu." jelas Reyna tercekat.


"Iya, aku percaya sama kamu. Dan akan selalu percaya! Tapi aku punya satu pesan buat kamu Rey." sahut farhan masih mengelus lembut punggung tangan Reyna. Reyna kembali berani menatap bola mata hitam pekat milik Farhan.


"Apa?"

__ADS_1


"Jangan sia-siain seseorang yang udah ada di samping kamu demi seseorang yang kembali dari masa lalu ya? Karena hasilnya ga akan berakhir baik. Hanya akan ada penyesalan, apapun alasannya." jawab Farhan. Reyna mengangguk samar.


"Aku nggak akan ninggalin kamu yang, gimanapun posisi dan keadaanku sama Willy. Aku ga akan pernah ngelepasin kamu." ucap Reyna. Farhan tersenyum kecut mendengar ucapan Reyna yang jelas-jelas salah di telinganya.


"Jawaban kamu ini kurang baik loh, sadar ga?Coba tanyain dulu ke hati kamu Rey, sebenarnya kamu ini masih menginginkan willy kembali atau cuma sekedar rindu dengan waktu yang direnggut paksa oleh takdir?" tanya Farhan membuat Alis Reyna berkerut heran. Farhan menarik nafas dalam, ia tau kalau Reyna belum bisa memahami tiap katanya tadi.


"Kamu ga boleh terjebak diantara dua orang. Aku ga akan bisa lepasin kamu, tapi aku akan selalu berusaha buat nerima keputusan kamu. Karena kamu juga harus bisa milih. Aku ga mau kita bersama, kalau separuh hati kamu masih ada sama Willy. Aku mau jadi satu-satunya di hati kamu Rey, bukan salah satunya." ungkap Farhan lebih detail. Kali ini Reyna dapat mencerna semua kata-kata Farhan. Hatinya mencelos sakit mendengar ungkapan ini. Katakanlah Reyna bodoh!


Sudut mata Reyna mulai menggenang, ada rasa menyesal, kecewa dan sakit akan kesalahan yang ia buat sendiri. Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa pula Willy harus kembali saat Reyna sudah memiliki Farhan? Kenapa? Oh my god!


"Hey kok nangis? It's okay, aku ga marahin kamu sayang... Aku cuma mencoba untuk jelasin ke kamu biar kamu ga terus-terusan terperosok ke dalam jurang masa lalu yang salah." cicit Farhan mengusap perlahan lelehan air mata yang membasahi pipi mulus Reyna. Reyna langsung menubruk tubuh tegap itu hingga sedikit terhuyung ke belakang.


Di dekapnya dengan erat tubuh Farhan, lelaki yang kini jadi pengisi ruang hampa di hati dan hari-harinya. Lekaki yang sangat ia cintai.


Farhan mengelus-elus punggung Reyna dengan lembut, ia tau kalau saat ini situasi hati Reyna masih tidak baik dan belum stabil. Gadis ini butuh tempat dan ruang untuk penenangan diri. Farhan berusaha sebaik mungkin untuk menenangkan Reyna meskipun hati kecilnya juga menuntut kejelasan. Farhan tau ia butuh kepastian itu, tapi dia harus menunggu.


Hiks hiks


Perlahan tangisan itu mulai mereda di kikis oleh waktu tenang yang diberikan oleh Farhan. Lambat laun isakan Reyna sudah mulai tak terdengar lagi.


"Udah tenang?" tanya Farhan yang pertama kali melepaskan dekapan. Reyna mengangguk sambil menyeka ujung matanya yang masih berair. Lihatlah, Reyna tampak sangat kacau. Lelehan air matanya membanjiri tiap sudut wajah, beberapa tetesannya mungkin sudah jatuh terusap oleh baju bagian pundak Farhan.


"Ishh kamu mah ngeledek mulu! Orang habis melow-melow an juga ah." gerutu Reyna sebal. Farhan tertawa kecil lalu menangkup kedua pipi gemoy Reyna.


"Berantakan gini masih tetep cantik aja, ceweknya siapa sih hm?" goda Farhan sembari jempolnya mengusap lembut bagian pipi Reyna yang masih sedikit tergenang sisa lelehan air mata tadi.


"Ceweknya Farhan dong!!" sahut Reyna kembali mengeratkan pelukannya dengan Farhan. Farhan membalas pelukan itu.


"Bismillah, calon istri." ucap Farhan di sela peluknya. Reyna mengangguk dalam dekapan itu.


"Bismillah, nyonya Alexand hihi." cicit Reyna terkikik kecil. Farhan mengacak gemas rambut panjang Reyna, ada ledakan bahagia tersendiri di ruang hatinya saat Reyna mengatakan kalimat itu.


"Emmm beb?" panggil Reyna mendongakkan kepalanya tapi masih dalam posisi memeluk.


"Hm?" sahut Farhan menunduk dengan satu alis terangkat.


"Apapun yang akan terjadi, jangan pernah pergi ninggalin aku ya? Kamu boleh marah kalo aku salah, tapi kamu ga boleh minta pisah." ucap Reyna serius. Farhan tersenyum tipis dengan satu anggukan.


"Kalo ada masalah juga larinya jangan ke club, apalagi sama cewek. Aku ga mau ya kamu kenapa-napa nantinya!!" sambung Reyna lagi. Farhan mencubit gemas hidung mancung Reyna.

__ADS_1


"Iya cantikku sayang!! Udah, atau masih ada pesan titipan lagi nih?" sahut Farhan mengedip-ngedipkan matanya dengan lucu. Reyna tertawa.


"Sama ada sih satu lagi."


"Apa tuh?" tanya Farhan masih dengan posisi yang sama.


"Aku mau kamu tau, kalau kamu adalah satu-satunya nama yang udah aku ukir rapi di hati ini beb. Willy cuma masa laluku, dan aku yakin kalau kamu adalah masa depanku nanti. Aku tegasin sekali lagi! CUMA KAMU DAN HANYA KAMU!! Ngerti?" ucap Reyna penuh penegasan. Farhan tak bisa menghentikan lengkungan manis yang dibentuk bibir nya. Ia tak bisa menolak senyum bahagia ini.


"Kalaupun ada cerita antara aku sama Willy, itu cuma sekedar masa lalu yang belum selesai tapi akan segera aku selesaiin. Secepatnya." ucap Reyna lagi.


"Diem mulu! Ngerti nggak?" tanya Reyna mengerucutkan bibir karena cerocosannya hanya di balas dengan cengiran Farhan saja.


"Iya ngerti sayaaaaang... Cups." jawab Farhan mengecup singkat kening Reyna yang balas tersenyum manis.


Tek tek


"Nyosor terossssss!! Apartemen sama dunia ini udah kek milik berdua aja ya, gue di sini cuma mampir." celetuk suara berat yang menyembul di balik pintu kaca balkon.


"Abang?!!" pekik Reyna balik badan. Kaget? Tentu saja. Sejak kapan Rayn berada di situ?


'Untung aja tadi gue ga jadi nyosor bibir. Bisa berabe urusan, huh untung aja masih jadi rejeki anak sholeh.' batin Farhan menghembuskan nafas lega.


"Nyet kok lo bisa di sini? Beb, Rayn tau passcode nya?" pekik Farhan heran. Reyna mengangguk, beberapa hari yang lalu Rayn memaksa Reyna untuk ditunjukkan letak apartemen sekaligus passcode pintu.


Yang sangat mengagetkan bagi Rayn waktu itu adalah apartemen Reyna dan Farhan ternyata berhadapan dan Rayn baru tau hal itu. Rayn sempat ngamuk karena negative thingking serta over thingking, tapi Reyna sudah berhasil mengatasi kemarahan abangnya tempo hari.


"Ya tau lah. Gue kan abangnya! Kenapa lo ga terima hah? Sini lu one bye one sama gue! Sembarangan aja main sosor adek gue." jawab Rayn ngegas bin nyolot. Cowok itu berkacak pinggang dengan gaya garangnya.


"Adek lo kan calon istri gue wleee." sahut Farhan tak mau kalah. Satu alis Rayn terangkat.


"Baru calon?" tanya Rayn. Farhan mengangguk.


"Iya lah."


"Baru calon aja belagu amat lu!!" semprot Rayn galak. Farhan geleng-geleng kepala.


"Wah mandang sepele nih anak... Lo mau gue lompatin ga? Kalo iya, gue lamar Reyna minggu depan habis bokap gue balik dari Paris." tanya Farhan menantang. Rayn tersenyum miring. Sementara Reyna mendelik, bagaimana kalau Rayn menerima nya?


"Lakuin aja kalo lo emang serius." suruh Rayn enteng.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🄰🄰


__ADS_2