ALEXAND

ALEXAND
38. Berakhir.


__ADS_3

"Lakuin aja kalo lo emang serius." suruh Rayn enteng. Farhan membulatkan matanya.


"Lo serius kan?"


"Iya. Coba aja buktiin! Gue pengen tau seberapa serius sih cinta yang selalu lo sebut-sebut itu. Inget ya! Adek gue cuma satu, dan dia yang paling berharga buat keluarga gue!!"


"Lo serius apa ngeprank nih?" tanya Farhan sekali lagi. Ia ingin memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.


"Gue serius. Gue lebih aman dan nyaman kalo adik gue duluin gue nikah, daripada elu belum jadi apa-apa aja udah nyosor mulu."


"Heh jangan abang ngadi-ngadi ah!!" potong Reyna menggeleng menolak. Rayn justru mengangguk serius.


"Ga papa dek, abang kan juga udah ada plan nikah sama Dinda. Kalo emang kalian mau duluin abang ya udah abang juga ga papa. Lagian juga kamu udah cukup umur, kalo udah saling cinta dan saling mantap! Ngapain nunggu lagi?" tutur Rayn serius.


"Bener juga sih apa kata lo nyet! Makin lama makin ga bagus juga, apalagi cewek gue nih banyak yang mau. Ogah gue kehilangan Reyna." sahut Farhan setuju. Tangannya mulai merambat ke pinggang ramping Reyna, berusaha untuk memeluknya dari samping tapi bisa diatasi dengan mudah oleh seorang Rayn.


Rayn langsung menarik Reyna masuk ke dalam pelukannya saja.


"Gue cuma pesen satu, jangan mainin perasaan adik gue. Gue udah percaya ya sama lo! Jangan sekalipun lo berani bikin dia nangis karena kesalahan lo, lo pasti udah tau kan tabiat buruk gue hah?" ucap Rayn. Bukan mengancam, tapi penuh penekanan.


"Iya gue ngerti."


"Jaga kargo gue ini baik-baik!!"


"Iya siap pak bos!! Lo tunggu aja dalam kurun waktu kurang dari seminggu, gue bakal bawa bokap nyokap buat nemuin om wisnu sama tante Rina buat ngelamar Reyna, adik lo!" ucap Farhan mengangguk pasti. Sudut bibir Rayn tertarik ke atas.


"Semoga tuhan merestui niat baik lo brother!!" tutur Rayn menepuk-nepuk pundak sahabatnya ini. Farhan mengangguk pasti sedangkan Reyna masih tampak gelisah. Bingung? Jelas bingung!


"Bang, Beb, emang harus secepet ini ya?" cicit Reyna yang sangat tampak tak siap. Kedua lelaki itu mengangguk.


"Harus!!"


"Ck. Aku ga mau ngelangkahin abang!!" rengek Reyna menggeleng kekeuh. Ia memeluk Rayn dengan erat.


"Hey its okay sayang... Abang ga papa di langkahin, abang ga mau kamu sama Farhan nanti malah ngelakuin hal aneh-aneh diluar ikatan! Abang cuma mau kamu aman dari macam-macam kesalahan fatal dan tetap baik-baik aja." tutur Rayn lembut mengelus puncak rambut adiknya dengan penuh sayang. Farhan membuang muka setelah mencerna ucapan Rayn barusan, bagaimanapun memang kesalahan yang dimaksud oleh Rayn tadi sudah terjadi di antara mereka bukan?


Mendengar penuturan lembut dari Rayn lantas membuat air mata Reyna terjun bebas. Reyna mengeratkan pelukannya dengan isakan, rasa bersalah itu kembali muncul memenuhi ruang hatinya hingga terasa sangat sesak. Sesak sekali!


"Kalo sampek gue denger terjadi sesuatu sama adek gue, lo habis di tangan gue Han!"


...****************...


"Gue masih ga nyangka sih lo bakal mengkhianati gue kek gini Will." ucap Victor tiba-tiba. Ia dan Willy sedang duudk berdua di teras markas motor. Willy menghela nafas.


"Bukannya gitu Vic."


"Terus apa kalo enggak gitu hah?!!"


"Gue juga baru inget dan tau kalau Reyna ternyata adalah dia yang selama ini gue cari. Gue ga ada niatan buat mengkhianati lo, tapi gue juga ga mungkin lari dari hati gue sendiri! Reyna adalah cewek yang selama ini gue cari, dan sekarang gue udah berhasil nemuin dia. Ga mungkin juga gue ngingkarin perasaan gue sendiri." jawab Willy penuh penekanan.


Huffttt


Victor menghela nafas berat.


"Oke gue terima." lirih Victor pelan. Willy menaikkan sebelah alis, tak mengerti apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


"Maksud lo?"


"Gue biarin lo suka Reyna, its okay lo perjuangin aja dia. Gue yang bakal mundur!" ucap Victor. Willy menggeleng tak percaya. Pasalnya Willy sendiri belum pernah melihat Victor menyukai seorang perempuan segila saat Victor menemukan Reyna.


"Lo serius?"


"Iya, gue bisa nyari cinta lain. Lagian juga lo sama Reyna udah jelas-jelas pernah saling cinta kan? Masih ada celah buat lo masuk dan ngerebut dia dari Farhan." ucap Victor lagi. Willy tersenyum tipis.


"Oke, thanks Vic."


'Gue cuma mundur cuma dari lo Wil, bukan dari Reyna. Cewek itu tetep harus jadi milik gue, gimanapun caranya.' batin Victor bersimrik.


...****************...


"Reynaaaaaaa Reyyyyy!!!" pekik suara cempreng nan lantang yang telah mengganggu tidur Reyna di kelas pagi ini. Siapa lagi yang berani semena-mena kepada Reyna kalau bukan Adis.


"Ck. Apaan si Adis gangguin mulu ah!!" decak Reyna kesal. Adis menarik-narik lengan Reyna agar gadis itu tak kembali tidur.


"Anak baru Rey itu anak baru hosh hosh...."

__ADS_1


"Hah? Apaan? Anak baru siapa?" tanya Reyna yang kurang lebih sudah mulai kembali kesadarannya.


"Willy yang lo bilang mantan lo itu Reyn!! Dia lagi ribut tuh." ucap Adis mengatur deru nafasnya. Reyna awalnya mendelik kaget tapi setelah itu dia biasa saja.


"Lo habis darimana si? Ngeluyur mulu kerjaan." tanya Reyna mengalihkan topik. Adis menabok lengan Reyna.


"Ishh gue laporan tentang ribut, elu malah bahas keluyuran!" omel Adis sebal.


"Ga peduli gue, Willy udah bukan urusan gue lagi." sahut Reyna dengan satu tarikan nafas. Mulai malam itu, saat ia tau betapa hancurnya Farhan karena tau hubungannya dengan Willy di masa lalu itu, Reyna sudah memutuskan untuk tak akan mau lagi terseret ataupun menyeret Willy dalam kehidupannya kini.


Sekarang hanya ada Farhan, bukan Willy lagi. Willy-nya hanya masa lalu, sedangkan Farhan-nya adalah miliknya sekarang dan semoga terus hingga masa depan nanti.


"Yakin lo?"


"Yakin. Selain tentang Farhan, gue bodoamat!!"


"Tapi ini ada sangkutan sama kak Farhan juga loh, yakin masih bisa bilang ga peduli?" tanya Adis lagi. Kali ini Reyna langsung membulatkan matanya, siap mengintrogasi info yang di dapat oleh Adis.


"Kenapa lagi Farhan?"


"Nah kan kelimpungan kan lu! Makanya dengerin dulu gue ngomong!!" gerutu Adis kesal.


"Ya udah buruan! Gimana?"


"Tuh Willy sama kak Farhan ribut-ribut di deket lapangan basket." jawab Adis. Reyna langsung berdiri dan memasukan Hp nya ke dalam tas kecil yang ia bawa tadi.


"Lapangan basket yang mana satu?"


"Deket gedung teknik." jawab Adis. Reyna mengangguk dan langsung melesat pergi.


"WOY REYNO!!! JANGAN TINGGALIN GUE LAH ANJ- AH SIALAN EMANG." teriak Adis ngegas karen Reyna meninggalkannya begitu saja.


"Berani-beraninya dia ninggalin si malaikat pembawa berita."


...****************...


"Han udahlah lo ga usah respond ini anak terus!! Makin lo ngeladenin dia, makin lama kelarnya." bisik Andre malas berhadapan terus-menerus dengan Victor dan Willy yang tak ada habisnya berulah.


"Justru itu Ndre! Musti dikelarin biar ga banyak cincong." sungut Farhan geram. Tangannya sudah terkepal erat sedari tadi, ia sudah sangat kebelet ingin meninju wajah Willy yang dari tadi terus saja mengklaim kalau Reyna adalah miliknya.


"Haha kenapa lo ga mundur aja Han? Padahal simple! Lo mundur buat lepasin Reyna, dan gue yang bakal maju untuk jaga dia. Sisi baiknya lo bisa kan balik ke mantan lo itu hah? Yang udah jelas pasti pernah lo pake." ucap Willy yang makin gencar memancing emosi Farhan yang memang selalu cenderung naik saat Reyna-nya disenggol orang.


"Ga usah munafik! Ambil balik aja mantan lo itu karena kalo lo cuma butuh jatah, lo salah deketin Reyna. Gue tau dia itu cewek mahal, enggak murahan kek mantan lo dan elo juga pastinya!!"


"Bangs*t banyak bac*t! Mati aja lo anj-"


Satu kepalan tinju yang telah mengeras itu sudah siap dilampiaskan oleh Farhan, tapi kepalan itu melayang dan berhenti di udara.


"Sayang stop!!"


Siapa lagi yang berani mencegah langkah Farhan kalau bukan Reyna. Farhan menolehkan pandangannya pada dangan mulus lembut yang mencekal pergelangan tangannya.


"Stop! Turunin tangan kamu." suruh Reyna garang. Farhan perlahan menurunkan tangannya dengan nafas yang masih memburu.


"Berantem terus gini mau jadi jagoan kamu hah?!"


"Lupa sama janji kamu hm? Mana bukti usaha kamu!!" tanya Reyna lagi dengan tatapan lurus nan serius. Tatapan mata elang tajam penuh bara api Farhan tadi langsung layu perlahan karena dihadapkan langsung dengan sepasang mata sang pawang.


Farhan menghela nafas pelan.


"M-maaf sayang." cicit Farhan jinak. Reyna mengulas senyum tipis, menghargai usaha Farhan yang mulai bisa mengontrol emosinya sendiri.


"Untung aja kamu bawa pawangnya tepat waktu beb!" bisik Andre pada Adis yang sudah berdiri cantik di sampingnya. Adis mengangguk.


"Kak Farhan bisa langsung jinak gitu ya, padahal dari tadi aja kamu ga bisa hentiin dia." sahut Adis.


"Coba bicarain dengan baik-baik! Ga harus selalu pake emosi dan kekerasan kan?" tutur Reyna lembut mengelus lengan kanan Farhan. Reyna menggandengkan dirinya dengan pantas di samping kekasihnya itu. Farhan mengangguk pasrah, ia selalu tak bisa melawan kehendak Reyna. Entah mengapa pula!


"Iya, aku coba. Demi kamu!" ucap Farhan, Reyna mengangguk dengan senyum cantiknya.


"Nah ini baru kesayangan aku!!"


Suasana baru saja mulai tenang dan hangat kembali, tapi Willy seolah tak ingin membiarkan hidup keduanya tenang. Willy malah tanpa izin dan tanpa malu nyerobot meraih lengan kanan Reyna yang tadinya dipakai untuk mengelus lengan Farhan agar tenang. Sontak saja bola mata hangat yang memancar dari Farhan kini langsung kembali menajam dengan aura panas menusuk!


"Rey nanti kamu bisa kan-"

__ADS_1


"Kak Will, udah!!" potong Reyna melepaskan genggaman Willy di tangannya. Sebelum gunung api Farhan kembali meletus, Reyna harus menghentikan perseteruan ini.


"Loh kenapa?" tanya Willy. Reyna mengeryit tak mengerti.


"Kenapa apanya?"


"Kenapa kayak menjauh?"


"Kenapa lo bilang? Jawabannya jelas karena kita udah selesai. Tamat!" pungkas Reyna skakmat.


"Ingat kata tukang parkir bos!!" celetuk Andre nimbrung.


"Bahas inggrisnya, bulan pintu pergi blokir." sahut Adis menambahi.


"Bisa ngeja nggak?"


"Mundur GOBLOK!!" tambah Farhan ketus. Reyna menekan lengan Farhan agar tetap berdiri dan tak berulah di tempatnya.


"Heh ini gara-gara elo ya bangs*t!!" pekik Willy lepas kendali dan langsung menarik kerah kemeja hitam yang tengah dipakai oleh Farhan. Farhan hanya tersenyum miring, ia tak perlu bergerak karena ini hanya sebuah permulaan saja. Lagipula juga ada Reyna, ia tak akan mau terlihat brutal di depan gadis yang ia cintai.


"Gara-gara lo Reyna-gue ninggalin semua janjinya dulu!!" desis Willy lagi.


"Kak Will lepas ga?" lerai Reyna. Willy tak menggubris Reyna sama sekali, emosinya sudah berada di ujung tanduk.


"Ini bukan elo! Lo bukan Willy William." ucap Reyna yang langsung membuat sepasang mata tajam Willy beralih tempat. Ditatapnya dengan seksama wajah cantik Reyna yang juga tengah menatapnya dengan serius.


"Willy yang gue kenal, Willy yang pernah gue cinta, dia laki-laki baik! Bukan Willy si kasar dan arogan kek gini!" lanjut Reyna mengeluarkan uneg-unegnya yang tersimpan beberapa hari ini. Tiba-tiba pula Reyna teringat dengan malam itu, saat ia pulang bersama Farhan dan dihadang oleh geng Willy yang brutal. Catatan penting! Reyna cewek bar-bar, tapi dia paling ga suka sama cowok kasar, brutal dan arogan. Catat!!


"Rey, kamu ngomong apa si? Aku masih Willy pacar kamu yang dul-"


"Stop! Gue bukan pacar lo lagi, bahkan gue ga tau lo itu siapa. Lo udah jadi orang lain Will!"


"Sorry kalo gue terlalu kasar, tapi gue udah ga bisa ngenalin bad attitude ini. Lo bukan Willy yang gue sukai dulu."


Willy mematung mendengar tiap tamparan kata yang berhasil menusuk merobek-robek permukaan hatinya yang kini menjadi sesak. Rasanya sangat teramat perih!


"Mulai sekarang gue mohon, Please! Stop ganggu hidup gue sama Farhan. Kita udah usai bertahun-tahun yang lalu! Ga perlu ngungkit masa lalu kita lagi, gue tegasin sekali lagi! KITA UDAH SELESAI!!" pungkas Reyna tegas penuh penekanan di tiga kata terakhir. Nafas Reyna tampak tak karuan hanya karena melampiaskan semua isi kepala dan hatinya. Hatinya agak sesak menerima fakta baru Willy yang sangat jauh berbeda, tapi ia harus mengakhiri semua ini!


"Tapi Rey, kita usai sebelum waktunya. Kamu tau itu kan? Kamu juga bilang, belum bisa lepasin kisah kita meskipun kamu udah mencoba mulai hubungan sama cowok lain. Iya kan?" protes Willy enggan melepaskan Reyna seperti apa yang diminta oleh gadis itu.


"Iya emang bener! Tapi itu dulu, sebelum aku ketemu Farhan. Setelah ada Farhan, sudut pandang dan keterpojokan akan bayang-bayang rasa itu udah bisa dipupus oleh waktu. Udah ga ada sepercikpun nama WILLY di hati gue, udah habis! Udah basi." ucap Reyna lagi.


"Tapi Rey-"


Tak mau memperpanjang perdebatannya, Reyna langsung berbalik pergi. Langkah panjang setengah berlari itu kian menjauh dari kerumunan.


"Lo denger apa kata cewek gue tadi? LO HARUS MUNDUR!!" tanya Farhan bersimrik menunjuk wajah merah padam penuh amarah Willy. Sorot mata tajam yang tak lepas dari punggung kecil Reyna yang makin jauh. Farhan langsung ikut berbalik badan untuk menyusul kekasihnya.


"Santai aja Will, akan ada masa yang tepat kok." bisik Victor menenanhkan sahabatnya. Tangan Willy masih terkepal kuat.


"Ga ada kata mundur di kamus gue." desis Willy kemudian berbalik pergi. Gerombolan penonton yang kepo itu juga berangsur pergi dan sepi.


"Kelas udah kelar beb?" tanya Andre. Adis mengangguk.


"Bawa mobil?" tanya Andrr lagi. Adis menggeleng.


"Yee angguk sama geleng doang!!" omel Andre. Adis nyengir.


"To the point aja dong makanya! Mau ngajak jalan kan?" sahut Adis tak kalah galak. Andre mengangguk dengan cengiran khas.


"Ya iya dong!!"


"EH WOYYY!!" panggil suara keras berteriak dari belakang mereka. Keduanya menoleh.


Rayn.


"Ada apaan tadi rame banget?" tanya Rayn heran. Ia datang bersama Dinda di dekapan sampingnya.


"Loh Adis? Lo sendirian aja? Reyna mana?" tanya Rayn lagi. Andre memutar bola matanya malas.


"Kudet amat jadi orang!! Tuh adek lo kabur sama Farhan, habis berantem tadi sama Willy mantannya." sungut Andre menunjuk belakang, arah parkiran.


"APA?!!!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🄰🄰

__ADS_1


__ADS_2