
Kian detik berlalu, waktu terus berjalan. Setengah jam lamanya Andreas berada di mobil hanya berdiam diri. Ia hanya bisa menatap wanita di sana dari mobil, sebagai lelaki yang mencintai tentu rasa cemburu itu ada, tapi dia bisa apa? Lelaki itu hanya bisa diam dan bersabar, ia tidak ingin wanita yang ia cintai itu semakin membencinya jika sampai ia terlalu mengekang.
"Kara, mana saudaramu kok gak ada? Ini sekolah udah mulai sepi loh, apa lo pulang bareng kita aja," tawar Zein dan diangguki semangat oleh Martin.
"Ya, mending balik bareng kita. Lo bonceng sama gue aja. Tenang, gratis!" tawar Martin dengan sedikit bercanda.
"Hmm, saudara gue lupa kali!" acuh Karania, tidak sengaja ia menoleh ke arah gerbang dan dilihatnya ada mobil hitam di sana, Kara memicingkan penglihatannya 'Itu orang ngapain di situ coba? Niat jemput atau enggak sih, menyebalkan!' umpat Kara di hati.
"Emm, gue duluan, gaess! Jemputan gue sudah ada tuh," ucap Karania sambil mengarahkan pandangnya pada mobil yang berdiam di depan gerbang.
"Itu jemputan lo? Kalau itu sudah lama di situ," sahut Martin.
Karania mengerutkan keningnya 'Kenapa gak nemuin gue itu orang? Ah, masa bodo. Gue gak peduli,' gumam Karania di hati.
"Gue duluan!" pamit Kara, ia sedikit berlari menghampiri mobil Andreas.
__ADS_1
Karania yang tadinya melamun seketika lamunannya buyar ketika mendengar empasan pintu mobil di bagian penumpang. Ia menoleh dan sudah mendapati gadis yang sejak tadi ia tunggu sudah duduk santai di belakangnya. Lelaki itu mengembuskan napasnya dalam, berusaha menetralkan keadaan.
"Pindah ke depan, aku bukan sopirmu!" ucap Andreas lembut.
"Berisik sekali kau, tidak ada bedanya jika aku di sampingmu atau di belakangmu, sama saja, kan kau yang menyupir? Eh tapi kau itu bukankah memang sopirku orang suruhan Papa jadi NO COMMENT OKE!" ketus Karania acuh.
Andreas hanya bisa bersabar dan diam. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menembus jalanan kota yang ramai.
'Bersabarlah, Andreas! Kau harus bisa memaklumi wanita itu, dia tdak mencintaimu bahkan ia membencimu. Kau harus bisa membuktikan betapa mencintainya dirimu akan dia, kau harus bisa membuatnya mengerti dan bisa menerimamu. Tetap percaya dia akan menerimamu di hari akan datang,' gumam Andreas di hati, ia mencoba menyemangati dirinya sndri. Sesekali lelaki itu melirik wanita yag ia cintai itu lewat kaca spion tengah.
Andreas memarkirkan mobilnya di pakarangan rumahnya. Ia menoleh pada Karania yang senyap.
"Pantas saja dia diam ternyata gadis ini tertidur," gumam Andreas lirih.
Lelaki itu beranjak dari posisinya lalu beralih pada posisi Karania. Andreas hendak menyentuh tubuh Kara berniat mengangkatnya, tapi seketika tangannya yang terulur itu ia tarik kembali.
__ADS_1
'Aku tak ingin gadis ini semakin membenciku karena lancang menyentuh tubuhnya tanpa izin, tapi aku juga tak mungkin membiarkannya di sini, jika aku membangunkannya kasian juga,' ujar Andreas di hati.
'Hufftt! Biarkan saja jika dia marah, akan kujawab seadanya saja nanti,' tambahnya lagi.
Andreas menyelipkan tangannya dengan pelan di pundak Karania dan juga dibagian lututnya agar wanita itu tidak terbangun. Andreas membaringkan tubuh Kara di kasur setelah ia melepas tas punggung gadis itu.
"Apa yang dibawa gadis ini? Ringan sekali," gumam Andreas yang menenteng tas Kara, ia membukanya dan geleng-geleng kepala karena hanya ada 2 buku tulis dan 1 pulpen.
Setelah menaruh tas Karania di tempat semestinya, Andreas kembali mendekati Kara lalu menyelimuti gadis itu. Andreas berjongkok untuk menyamai tingginya dengan diri Kara yang berbaring di kasur. Andreas tersenyum kecut saat ia mengamati wajah damai Kara. Jika orabg melihat luarnya saja mungkin orang akan mengatakan betapa beruntungnya dirinya memiliki Karania, tapi nyatanya wanita itu menganggap dirinya tidak ada, mungkinkah ini hanya cobaan dari cintanya? Meskipun harus selalu berdiam dan bersabar, tidak ada sedikit pun rasa penyesalannya menikahi gadis itu karena ia begitu mencintai Karania, wanita yang sekarang tanggung jawabnya.
"Aku bahagia bersamamu meski aku tahu kau tak bahagia bersamaku, aku akan selalu berusaha mengerti dirimu dan mencoba membuatmu nyaman denganku. Aku mencintaimu, Karania!" bisik Andreasl di telinga kiri Kara.
Andreas mengecup singkat bibir ranum milik wanitanya itu. Ia sedikit tersenyum karena Kara menggeliat oleh ulahnya, tapi wanita itu tetap pada alam mimpinya. Andreas beranjak dari posisinya. Ia berlalu menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya dan mendinginkan hatinya yang msih terasa panas.
...Bersambung.......
__ADS_1