All About You (Semua Tentang Kamu)

All About You (Semua Tentang Kamu)
Mencintai dan Dicintai


__ADS_3

Embun di dedaunan mulai mengering, Air uap bumi di fajar yang membasahi tumbuhan itu menetes ke tanah. Kicauan burung terdengar begitu merdu dikala mega merah itu menampakkan diri di ufuk timur. Gemuruh suasana kota yang padat manusia itu mulai terdengar hidup, kendaraan yang riuh di jalan kota. Sang surya semakin menapaki singga sananya, cahaya surya itu kian memerah menerangi bumi.


Cahaya sang surya menyelusup di sela-sela gorden sebuah ruangan, membuat terganggu penghuninya. Sepasang mata indah itu mulai terbuka perlahan, sedikit mengerjap karena silau. Gadis itu sudah tersadar dari mimpi indahnya, meski telah terjaga ia sama sekali tak bergeming, rasa enggan menyelimuti dirinya. Hari ini ia benar-benar malas untuk bersekolah. Memang setiap hari ia malas sekolah dan kebiasaannya adalah dipaksa oleh Andreas. Jika lelaki itu tidak memaksanya setiap hari mana mungkin ia rajin sekolah setiap hari, tapi ngomong-ngomong mengingat Andreas, Kara jadi tersadar dengan keadaannya saat ini? Bukan sebuah bantal yang menjadi guling di dekapannya saat ini, tapi sesuatu yang lebih nyaman dari apapun. Kara membalikkan kepalanya, mendongak menatap wajah damai Abdreas yang msih tertidur. Posisi mereka saat ini adalah berpelukan, sebelah tubuh Kara menempel sempurna di tubuh Andreas, tangan kekar itu bertegger di punggung dan di pinggang Kara sedang gadis itu memeluk erat tubuh sang lelaki. Deruan napas hangat serta detak jantung yang santai itu seakan hiburan untuk Kara. Sebuah senyuman terukir tanpa dipinta tatkala mata indahnya menatap wajah damai itu dengan saksama. Sadar, ia benar-benar sadar dengan apa yang ia lakukan. Bahkan tadi malam.... Ia benar-bebar gila, seperti ada yang salah dengan dirinya saat ini. Gadis itu mengulum senyum geli ketika ia kembali mengingat cumbuan lelaki itu, sungguh menggiurkan. Cukup lama Kara memandangi wajah itu, ia bergerak mendekatkan wajahnya dengan wajah Andreas. Hidung lentik itu bersentuhan, mata indah itu menatap bibir Andreas yang tertutup rapat.


"Aku tak tahu ada apa denganku, tapi aku begitu marah denganmu. Aku merasa bibir ini tak pantas untuk orang lain," gumam Kara dengan pelan, tangan kanannya pun mengelus lembut bibir yang terkatup rapat itu.


'Bibir ini, ya bibir ini. Aku merasa takut kehilangan bibir ini. Entah sejak kapan, aku tak tahu, tapi yang pasti kini aku mulai menyukai bibir ini. Setiap kata yang keluar dari bibir ini seakan menghipnotis jiwaku. Aku tak mengerti keadaan. Setiap aktivitas bibir ini hanya pantas untukku!'


Kara menyentuh mata Andreas lalu ia tersenyum manis, 'Mata ini hanya patut untukku, memandang diriku bukan orang lain,' lirihnya. Seketika memori tadi malam kembali teringat membuatnya terlihat kesal, lalu ia menyentuh hidung mancung Andreas.


"Hidung ini bernapas hnya untukku dan apapun itu hanya untukku bukan yang lain" gumamnya lagi. Karania kembali menatap bibir yang masih tertutup rapat itu.


Entah keberanian darimana, Kara mengecup bibir sang suami. Meski tanpa ******* bibir itu menempel sempurna dan sperti ada magnet yang merekatkannya, ada rasa enggan di diri Kara untuk melepas ciuman itu. Keberanian gadis itu muncul setelah kejadian di mobil lalu, sungguh otaknya sulit diajak kompromi. Mata indah itu terpejam, merasakan nyamannya dan hangat dari material bibir itu.


Mata yang awalnya tertutup itu kini terbuka, memperlihatkan sorotan tajam dari mata hitam itu. Objek pagi ini benar-benar indah, bisakah seindah ini setiap saat?

__ADS_1


"Apakah long kiss this morning dibibirku begitu indah?" Suara serak khas bangun tidur itu mengejutkan Kara yang tengah asik dengan ritual barunya.


Bibir yang mash menyatu itu bergerak mengeluarkan suara yang membuat Kara kaget bercampur malu. Ia ketahuan sang tuannya. Ia mendongak dan meringsut menjauhi bibir itu. Sungguh ia malu, benar-benar malu, di hati ia terus merutuk, betapa bodohnya dirinya yang melakukan sesuatu tanpa berpikir resikonya.


Gadis itu lebih memilih kembali menelungkup miring di dada bidang Andreas tanpa memandang wajah tampan itu, tangan mungil itu memeluk tubuh Andreas dengan erat seperti enggan melepas.


Andreas dapat merasakan deruan hangat napas gadisnya yang menerpa di dada miliknya dan juga bibir kenyal itu menempel di dadanya membangkitkan jiwa lelakinya, tapi masih bisa dikendalikan.


Kara merasa sangat gugup, ia tertangkap basah saat ini. Mata indahnya tertutup untuk meresapi sentuhan tangan Andreas yang mengelus kepalanya, tapi tangan kiri lelaki itu membuat Kara embali merasakan kenikmatan. Elusan lembut yang menjalar di punggung dan perutnya berasa mandi air dingin di musim gugur, menggigil bukan? Itulah situasi saat ini, gadis itu menggeliat pelan di pusaran tubuh lelaki itu. Sungguh indah terasa.


Andreas membalikkan posisi membuat aktivitas Kara terhenti seketika. Kini, Kara berada di bawahnya, tangan Andreas menyangga bobot badannya, kaki kanannya bergerak menelusup di lekangan gadisnya. Mata itu kembali bertemu, kegugupan Kara tak dpat dipungkiri, seluruh tubuhnya terasa berat untuk digerakkan saat ini, lidahnya saja seperti tergigit. Ibu jari Andreas mengusap lembut keringat di pelipis Kara.


"Aku berharap waktu berhenti saat ini juga, agar aku tak terbangun dari mimpi indahku," lirih Andreas.


Kara tak bergeming sama sekali.

__ADS_1


"Bertahun-tahun lamanya aku berharap keindahan ini ternyata harapanku membuahkan hasil. Aku bisa memilikimu meski kau tak menginginkan aku. Mungkin aku egois, hnaya memikirkan diriku sendri. Orang bilang, kebahagian orang yang dicintai itu lebih utama meski harus mengorbankan perasaan. Orang bilang, tak apa membiarkan orang yang dicintai itu bahagia dan melepasnya dengan orang lain meski sakit demi yang dicintai apa yang tidak? Namun, aku sama sekali tak ingin melepas, hanya ada 2 pilihan bagiku, bertahan menunggu yang tak pasti atau mengakhiri hidup," ujar Andreas lirih disertai tetesan air mata. Tangan mungil Kara bergerak menghapus air mata itu, hatinya terasa sakit melihat lelaki di hadapannya itu menangis.


"Apa yang kau katakan, Andreas? Sungguh aku tak mengerti!"


Andreas menampakkan senyum kecut, "kau boleh marah padaku, atas apa yang kulakukan padamu, tapi kumohon jangan tinggalkan aku. Biarkan aku di sisimu selalu meski tak ada tempat di hatimu!" Lagi-lagi tetesan air mata Andreas meluncur dengan sempurna, lelaki itu memejamkan matanya lalu mengempaskan diri ke samping Kara.


Mata Andreas masih terpejam dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya. Kara mengecupi bekas tetesan air mata itu. Sejak kedian tempo kemarin gadis itu seakan terbiasa dengan kemesraan, yang terakhir dikecupnya adalah bibir, lalu ia membenamkan wajahnya di dada Andreas.


"Aku tidak marah, Andreas!" gumamnya.


Hening, Andreas hanya diam tak bergeming, tangannya pun tak berfungsi sama sekali hanya ia biarkan terkulai.


"Aku tau aku membuatmu merasa tak nyaman, Kara. Jika kau menginginkan kebebasan aku akan memilih pilihan kedua di prinsipku yang mungkin terlalu mencintai, mengakhiri hidup mungkin pilihan terbaik," gumam Andreas dengan mata terpejam.


Seketika Kara mendongak menatap wajah Andreas yang sendu. Sebegitu pedulikah lelaki itu padanya? Apakah lelaki itu benar-benar mencintainya? Seakan ada jarum kecil yang lancip menelusup di ulu hati gadis itu, sakit... sungguh sakit terasa mendengar penuturan yang memilukan, tapi ada yang mengganjal, bertahun-tahun? Maksudnya? Rasa penasaran itu menyeruak di benaknya.

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2