
"Andreas, aku boleh menyuruhmu?"
Andreas tersenyum lalu mengangguk,
"Tentu saja, jika aku mampu maka akan kulakukan."
"Temani aku tidur sekarang!"
"Ada-ada saja, Bmbukankah aku memang menemanimu tidur biasanya? Sudahlah. Ini piyamamu, aku akan keluar kau bisa berganti sekarang!"
Andreas hendak beranjak setelah menaruh piyama itu di dekat Kara. Setelah dua langkah ia kembali berhenti karena Kara memeluknya dari belakang, tangan gadis itu bersedekap erat di perutnya, detakan jantung itu pun berpacu lebih cepat.
"Aku ikut," lirih Kara.
Andreas menyentuh tangan Kara yang di perutnya melonggarkan dekapan itu lalu ia berbalik menghadap gadisnya.
"Ini sudah larut, besok bukankah kau harus sekolah? Aku tidak mau jika Papamu datang dan melihat nilai sekolah mu masih jelek, tidurlah aku hanya sebentar!"
Bibir hangat itu mendarat mulus di kening Kara. Gadis itu diam dan memejamkan matanya meresapi kecupan singkat itu, saat ia membuka matanya ia sudah mendapati Andreas menghilang di balik pintu. Gadis itu menampakkan senyum samar saat menatap pintu yang baru saja dilewati suaminya.
"Mungkin aku sudah tidak waras, setelah kejadian di mobil kemarin, tanpa disuruh otakku selalu berpikir tentang itu," gumamnya pelan. Ia tersenyum geli ketika otaknya sedikit berpikiran kotor. Kara mengumpati dirinya sendiri.
.....
Entah dorongan dari mana kali ini Kara berpakaian super WOW. Mungkin baru kali ini ia berpakaian seperti ini. Tanktop pas body berwarna hitam serta bawahan mini karet yang panjangnya hanya sejengkal dari pinggul. Pakaian serba hitam memposekan lekukan tubuhnya yang ideal serta kulit putihnya yang mulus. Rambut panjangnya ia sanggul sembarangan membuat pesonanya semakin melekat.
Kara duduk bersila di sofa, telinga yang bersumpal earphone membuatnya manggut-manggut tidak jelas, sedang tangannya dengan asiknya mengotak atik remote TV mencari channel yang menarik di malam larut. Ia terlihat fokus menatap TV ketika melihat pertandingan balap motor, kepalanya sesekali masih manggut-manggut bahkan ia tak menyadari jika Andreas sudah berada di dekatnya.
Lelaki itu geleng-geleng kepala dengan sikap Kara yang sulit diatur. Ia juga berusaha tidak terlalu menatap gadis itu yang terlihat menggoda malam ini, ralat! Gadis itu memang selalu terlihat menggodanya setiap saat, tapi kali ini ia harus benar-benar ekstra menjaga pertahanan agar tidak goyah.
Andreas merempas remote TV dari tangan Kara lalu dengan cepat ia mengarahkan remote itu ke TV dan memencet tombol merah, dengan gerakan cepat ia juga menarik earphone yang bertengger manis di telinga Kara. Ia tak peduli gadis itu menggerutu.
"Kara, tidur!" seru Andreas datar setelah menaruh ponsel Kara di meja rias.
"Tidak mau!" tolak Karania dengan ketus. Mulutnya komat-kamit menyalurkan sumpah sarapah tanpa suara.
__ADS_1
"Kara, tidur sekarang! Bergadang tidak sehat!" ucap Andreas yang duduk di samping Kara. Gadis itu hanya melirik sekilas lalu kembali memalingkan wajahnya.
"Tidur saja kau, aku tidak mau!"
"Karania!"
"Tidak mau, Andreas!" sahut Kara menghadap lelaki itu.
"Tidur atau---"
"Atau apa? Aku tidak takut padamu!"
"Aku memiliki hak penuh pada dirimu, dan sekarang kau menggodaku. Jika kau tidak tidur maka akan kupastikan kau menjadi mangsaku malam ini!"
"Aku tidak menggodamu, enak saja!"
"Secara tidak langsung kau sudah menggodaku dengan pakaian minimu ini jadi cepatlah tidur!"
Karania diam seakan menantang.
Tubuh hangat itu tak ada jarak, Karania hanyut dalam dekapannya di dada bidang Andreas. Kepala yang ia sandarkan miring di dada itu membuatnya mampu mendengarkan detakan jantung Andreas yang seakan bergendang-ria, ia tersenyum akan hal itu.
Hening, tidak ada yang bersuara, Andreas diam karena ia mencoba menahan dirinya agar tidak tergoda karena walau bagaimanapun ia tetap lelaki normal. Lelaki normal mana yang tak tergoda pada gadis dengan posisi sepertinya saat ini? Ditambah lagi poster tubuh itu menggoda.
"Kara, bangkit dari pangkuanku dan tidur!" lirih Andreas.
Kara melepas dekapannya dan bergerak memperbaiki posisi duduknya, Hal itu membuat Andreas menggigit ujung lidahnya. Dua pasang mata itu bertemu, Kara mendekatkan wajahnya pada Andreas membuat hidung lentik itu bersetuhan bahkan kondisi tubuh itu pun tak ada jarak.
"Jika aku tidak mau, apa kau tetap memaksa," lirih Kara di depan bibir Andreas.
Tangan Kara bergerak meraih tangan Andreas agar merangkul pinggangnya setelah itu ia mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Jika kau tidak mau menurut maka aku akan melakukan sesuatu, dan mungkin mulai sekarang, setiap bantahanmu akan mendapat hukuman dariku," sahut Andreas.
Bibir Kara membuka ingin mengeluarkan kata, tapi sebelum suara itu keluar, bibir Andreas terlebih dahulu menyumpalnya. Gadis itu terperanjat kaget karena Andreas ******* bibirnya tanpa permisi, ingin rasanya ia mengeluarkan sumpah sarapah, tapi keterlenaan membuatnya lupa kata.
__ADS_1
Perlahan mata gadis itu terpejam menikmati sentuhan lelakinya, cengkraman tangannya di pundak lelaki itu terhenti. Ada kekesalan saat Andreas berhenti mencumbunya. Mata itu kembali saling menatap.
"Tidur!" suruh Andreas, tapi lagi-lagi Andreas menolak, ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Lagi-lagi gadis itu bergerak-gerak di pangkuan Andreas. Pertahanan ekstra mungkin bisa melebur jika terus-terusan seperti itu. Andreas menatap mata dan bibir gadisnya secara bergantian, gejolak itu sulit dikendalikan.
Lampu hijau kembali menyala membuat leluasa.
Kara memejamkan matanya dikala wajah Andreas semakin mendekat padanya, bahkan tangan kanan lelaki itu berada di tengkuknya dan tangan kiri itu masih bertengger manis di pinggulnya menarik dirinya semakin mendekat, seperkian detik material basah itu menyentuh bibir kenyal miliknya.
Gadis itu merasa melayang tinggi dikala tangan kekar itu memuja tubunya. Desau suara itu semakin tertahan membuat kaki yang tadinya hanya diam kini melingkar manja di pinggang lelakinya. Respon dari Kara membuat Andreas semakin menjalar, kini cumbuan bibirnya teralih pada leher jenjang yang sejak tadi memang membuatnya tergoda. Kedua tangannya tak hanya diam bahkan sangat sibuk memuja lekukan tubuh gadisnya membuat gadis itu menggeliat sesekali mengeluarkan suaranya yang terdengar nyaman di telinga Andreas.
Tubuh ideal itu tersaji di hadapan mata Andreas membuatnya tak mampu menahan diri untuk tidak memuja. Kedua insan itu saling memandang di posisi yang dekat, Kara berbaring di bawah tubuh yang sekarang hanya ada pakaian terakhir di bagian tubuhnya sedang dirinya pun sama, bra dan bawahan.
Desiran napas itu masih memburu, keringat hangat itu membasahi tubuh Kara membuat kulitnya tampak mengkilat dan itu semakin menggoda.
Andreas hendak menjauhkan diri dari Kara, tapi gadis itu memeluk lehernya membuatnya tertahan dengan posisi sangat dekat. Kara menggelengkan kepalanya sebagai bertanda larangan untuk Andreas beranjak pergi.
Benak Kara mengingat pertemuanya dengan seorang ibu-ibu tadi sore saat ia hendak ke mini market terdekat. Ibu-ibu itu bercerita dengan kisah yang hampir sama dengan keadaan dirinya. Kara merasa gundah dengan pengalaman wanita tua itu. Lelaki yang mengasihinya pergi menjauh dengan wanita lain karena tak sanggup dengan tingkahnya yang memiliki ego tinggi serta tak merasa diri telah terikat. Seakan tak memiliki tugas besar. Karania kalut jika kembali teringat tentang cerita wanita tua itu, apakah ia akan bernasib sama seperti wanita tua yang menyesal di waktu yang terlambat? Memori Kara kembali membayangkan kejadian di pesta bebrapa jam lalu, dimana ia melihat Andreas bersama wanita lain. Sungguh ia tak rela.
"Kau boleh melakukan apapun pada tubuhku, tapi jangan untuk satu hal itu, aku belum siap, dan kumohon jangan tinggalkan aku!" lirih Kara seperkian detik air mata itu menetes dari sudut matanya.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapan pun meski kau tak menginginkanku," sahut Andreas sambil menyeka air mata Karania.
"Apa kau berjanji?" tanya Kara. Ia meraih tangan kanan Andreas dan menaruh di kepalanya.
"Aku berjanji!" ikrar Andreas dengan mudah.
Bibir hangat milik lelaki itu mengecup kelopak mata gadisnya yang terpejam.
"Maafkan aku, aku tak mampu menahan diriku" bisik Andreas di telinga kiri gadisnya.
Seperkian detik bibir lelaki itu kembali mencumbu leher jenjang Kara. Gadis itu memalingkan wajahnya ke sebelah kiri membuat lelakinya semakin leluasa. Setiap lekukan tubuh Kara melengkung ketika lelaki itu mengecupinya. Penutul dadanya sudah terlepas dan material basah itu berkuasa penuh di sana membuat desau napas itu menyaring. Gadis itu pun merasa sensitifnya berdenyut sebagai respon pemujaan lelaki itu. Kara menggeliat gusar ketika pahanya disentuh sesekali digigit, tubuhnya benar-benar seperti santapan vampir malam ini. Hendak rasanya ia merapatkan rekangan, tapi tangan kekar itu terlebih dahulu meluluhkankannya. Sentuhan tangan dari ujung kaki itu membuatnya semakin meremang dan mungkin lupa akan dunia.
...Bersambung.......
__ADS_1