
23:27
Andreas mendengus bosan duduk seorang diri seperti bocah terkucilkan, sesekali ia melirik Karania yang gembira ria. Hendak rasanya ia pulang dan menyeret wanita itu dengan paksa, tapi ia berpikir berkali-kali karena jika ia melakukan itu sudah pasti wanita itu semakin membencinya. Tidak. Tidak akan, dengan keluh kesah Andreas memilih menatap layar ponselnya dari pada menatap panggung dansa apa lagi menatap Kara di sana. Sejujurnya ia cemburu dengan Kara yang terhimpit di antara lelaki, tapi apa yang bisa ia perbuat selain diam? Jemari lelaki itu menekan beberapa keypad yang dibutuhkannya untuk menyusun kata.
Konsentrasi Andreas buyar untuk melanjutkan pesan balasan untuk orang yang jauh disana saat seseorg menepuk pundaknya. Lelaki itu menoleh dan mendapati seorang wanita di sampingnya.
"Hai?" sapanya seraya tersenyum.
"Oh, hai!"
"Boleh duduk?" ujarnya sambil menunjuk kursi di hadapannya yang berdampingan dengan Andreas.
"Bukankah ini pestamu? Lalu kenapa kau harus bertanya terlebih dahulu, aku hnya tamu di sini seharusnya aku yang melakukan itu!"
"Tidak masalah, bukankah tamu adalah raja?" ucapnya yang sudah duduk menghadap Andreas.
"Boleh aku berteman denganmu?"
Andreas mengernyitkan keningnya lalu tersenyum,
"Tidak ada larangan makhluk sosial untuk berteman, bukankah begitu?"
"Ya, seperti itulah mungkin!"
Perbincangan hangat yang sesekali dihiasi canda tawa, perkenalan yang baik, saling bercerita kehidupan masing-masung diri. Alisya semakin terkesan dengan lelaki di hadapannya. Benar-benar idaman wanita, Terlihat dari setiap tutur katanya saja sudah terlihat lelaki itu sangat ramah, cinta? Mungkin Cinta, Alisyia termenung menatap lekat wajah Andreas yang terlihat damai, banyak kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya saat tertawa, hingga tanpa sadar Alisya tesenyum sendri menatap lelaki itu.
"Hey, Alisyia! Are you ok?"
Alisyia gelagapan saat suara itu memecahkan khayalannya.
"A--aku... aku baik, ya aku baik-baik saja."
"Lalu kenapa kau senyum-senyum? Ada yang aneh di wajahku ya?" tanya Andreas sambil meraba wajahnya sendiri.
"A--tidak, Tidak. Tidak ada!"
Alisyia terlihat canggung untuk berkata.
"Em... Andreas!"
Andreas menatap heran akan wanita itu, "Ya?"
"Em... apa kau ke sini bersama pasanganmu?"
Andreas tersenyum kecut, di dalam hati dia mengatakan 'Yea tentu'. Namun, tidak sesuai harapan, sekilas ia menoleh pada wanitanya di sana lalu ia menggeleng menanggapi Alisyia.
"Apa kau tak ingin berdansa?"
Andreas tertawa pelan, "Siapa yang mau berdansa denganku?" ucapnya di ujung tawa, pertanyaan sekaligus jawaban yang menarik untuk Alisyia. Gadis itu tersenyum manis.
"Bersamaku," ucapnya sedikit malu. Melihat ekspresi Andreas yang seperti tak percaya dengannya ia sedikit kesal.
"Bukankah kita teman? wajar kan jika berdansa?"
"Haha, kau ini. Ya, kau benar, tapi...."
"Aku tak ada pasangan, sungguh!" sergah Alisyia dengan cepat sebelum ucapan Andreas terselesaikan.
Hening, Andreas tampak berpikir. Gadis itu pun menunduk menahan malu. Andreas sedikit menampakkan senyum, tak tega rasanya ia jika harus menolak permintaan gadis di hadapannya itu sedang dirinya mungkin mampu memenuhi keinginan gadis itu.
"Baiklah!"
__ADS_1
Rona wajah Alisyia nampak jelas bahwa gadis itu benar-benar bahagia.
Alunan lagu terdengar syahdu, musik sllow itu berkesan romantis, pasangan dansa nampak girang dan dengan senang hati menggerakkan tubuh untuk mengikuti irama.
Karania POV
Aku melirik ke samping kanan dimana kumelihat cunguk itu berada, tadi. Sekarang bangku itu kosong. Entah kemana dia, bosan rasanya di sini. Baru kali ini aku merasa bosan saat berada di pesta, apa mungkin pasca lama tak pernah pesta? Aku tak mengerti, tiba-tiba moodku berubah menjadi buruk. Buruk seburuk-buruknya setelah aku melihat Andreas bersama seorang wanita tampaknya mereka begitu asik. Satu kata untuk saat ini 'MENYEBALKAN'. Rasanya aku ingin menarik rambut panjang wanita itu dan mencakar habis wajahnya agar terlihat jelek otomatis Andreas tidak memandangnya lagi.
"Kau kenapa, Nona? Ada masalah?" ucap Haris yang membuyarkan lamunanku.
Aku menggeleng pelan seraya tersenyum samar. Entah kenapa pikiranku sekarang hanya ada satu objek yaitu Andreas. Aku tak melihat lelaki itu lagi, apa dia bosan dan pulang sendri? Jika iya aku benar-benar marah.
"Hendak berdansa, Nona?" tawar Martin. Aku geleng kepala karena aku memang tidak hobi berdansa bahkan kemungkinan besar aku tidak bisa berdansa.
"Ayolah, Kara! Berdansa saja bersamaku," tawar Daniel.
"Denganku saja, Kara!" sela Zein.
Buruk, aku yang kesal semakin kesal dengan 2 lelaki ini. Mereka slalu berdebat jika mengajakku apapun.
Aku tak peduli, biarkan saja mereka berdebat, mau gulat pun aku setia jadi penontonnya.
Karena jengah, aku mengedarkan pandanganku dan tak sengaja sorot mataku tertuju pada panggung yang di ujung sana, lampion yang berkedap-kedip tidak membuat penglihatanku samar.
Apa aku salah lihat? Tidak, Tidak! Aku salah lihat, ya salah lihat. Mungkin aku terlalu memikirkannya membuatku salah lihat begini.
Aku memalingkan pandanganku ke arah lain dan kembali menatap panggung itu, aku mengucek mataku berusaha memperjelas pandanganku.
Deg
"Andreas!" lirihku pelan mungkin tak ada yang mendengar.
Apa-apaan ini? Aku merasa wajahku memanas sekarang, pandanganku buram seperkian detik kemudian air mata jatuh membasahi pipiku, apa ini? Kenapa aku menangis? Buru-buru aku menyeka air mataku sebelum ada yang melihatnya.
.....
Sangat malas rasanya aku menatap wajah Andreas. Kali ini lelaki itu benar-benar membuatku marah. Bisa-bisanya dia seperti tak merasa bersalah sama sekali padaku stelah berdansa mesra dengan gadis jelek itu, Hufftt menyebalkan.
Rasanya aku gerah saat ini, Andreas ak memandangku sama sekali meski jarakku tak jauh darinya, arrrgg aku kesalllll....
"Ada apa denganmu, Kara? Kuperhatikan dari tadi kau menatap Alisyia dengan sinis. Ada dendam terkesumat di jiwamu padanya!" Martinterkekeh setelah berkata begitu, aku menatapnya tajam, ingin rasanya aku merobek mulutnya itu.
"Siapa gadis itu?"
"Alisyia. Ini pestanya. Dia itu sepupuku yang baru pulang dari London dan mungkin mulai besok akan menjadi teman barumu."
Cuih, rasanya aku tak sudi berteman dengan wanita itu. BURUK!
MC sialan itu sangat berbelit-belit sekali, jika puncak acara langsung potong kue saja apa susahnya juga. Aku menggerutu jengah, batinku bergejolak minta pulang.
Andreas! ingin rasanya aku berteriak memanggil namanya. Suasana hatiku benar-benar panas. Pemotongan kue ini sangat lama. Oh God, sabarkan aku!
Kulihat gadis jelek itu menyerahkan potongan kue pertama dan kedua untuk kedua orangtuanya dan potongan kue yg ketiga... Entahlah. Pakai senyum sok manis lagi. Menjijikan!
"Potongan kue ini buat seseorang yang sepesial," ujarnya.
"Buat gue!" teriak Haris disertai cengirannya.
"Bercandamu tidak lucu sama sekali," gerutuku.
"Sorry, kebetulan kue ini buat seseorang yang baru aku kenal!" tolaknya. Aku tersenyum mengejek pada Haris, dan ya tentu saja dia kesal padaku.
__ADS_1
"Untukmu, Andreas!"
Seerrrrr.... Batu bara bergesek, gunung merapi sepertinya siap memuntahkan laharnya, aku ******* ***** genggamanku berusaha menahan emosi, kenapa bisa? Arggh.
Andreas menatapku sekilas sebelum ia melangkah mendekati wanita itu. Sangat enggan rasanya aku menyebut namanya. Apa Andreas tak mengerti tatapanku barusan? Apa dia tidak mengerti larangan dariku? Sial.
.....
Aku melangkah keluar dengan kesal. Benar-benar kesal. Mengingat kejadian barusan di mana gadis itu dengan mesranya menyuapi kue itu pada Andreas membuatku ingin membakar rumah ini.
Rasanya aku butuh refresing, balap! Ya tapi? Arghh, lengkap sekali penderitaanku saat ini. Aku tak peduli orang-orang yang masih asik di dalam yang pasti aku gerah di dalam dan aku ingin segera mendinginkan kembali suasana hatiku ini.
"Karania!"
Suara itu? Bukankah ia masih asik di dalam dengan wanita itu?
"Hei, ada apa? Apa kau sakit?"
"Minggir, aku ingin pulang. Tak perlu menghalangi jalanku!"
Andreas menggenggam tanganku, damai, Ya itulah suasana yang kurasakan. Aku mendongak menatap wajahnya, sorot mata kami bertemu. Sungguh rasanya aku ingin memuntahkan amarahku saat ini juga.
"Ada apa?" tanyanya yang terdengar begitu perhatian. Aku terlena, tapi seketika bayangan kejadian barusan membuatku kembali kesal. Aku menarik kasar tanganku yang ia genggam.
"Andreas, kau ingin pulang?"
Suara seseorang di belakangku, aku pun menoleh dan mendapati wanita tadi. Kulihat Andreas tersenyum pada wanita itu. 'Tidak bisakah bibir itu hanya berfungsi untukku?' gerutuku di hati.
"Em, sepertinya ya."
"Siapa yang bersamamu ini?"
Andreas melirikku sekilas lalu kembali tersenyum pada wanita itu.
"Saudariku...."
Deghhh.
Sakit! Ingin rasanya aku tuli detik ini juga. Kenapa begitu menyakitkan kata 'Saudariku' itu terucap dengan mudah dari mulut Andreas. Bukankah dulu aku yg menginginkan? Ini kali pertama aku mendengar Andreas mengatakan aku saudarinya meski aku sering melakukan itu.
Tahan, Kara! Tahan! Jangan menangis....
Diriku memanas seutuhnya mendengarkan perbincangan mereka bahkan aku merasa seperti angin di sini. Lebih baik aku pergi sebelum kacau.
"Andreas, jika kau ingin di sini tidak masalah. Aku akan pulang sendiri," ucapku tanpa menoleh keduanya.
Baru dua langkah kakiku kembali terhenti ketika tangan Andreas menggenggam pergelanganku.
"Alisyia, kami permisi. HBD. See You!"
"Lebay!" lirihku pelan.
***********
Hanya ada keheningan di antara dua makhluk yang sedang duduk manis di kursi mobil. Tidak ada yang bersuara meski keduanya sesekali saling melirik.
Karania diam. Bayangan di pesta tadi masih hangat di otaknya, ia menyorotkan arah pandangnya kluar jendela. Menangis. Ia kembali menangis dalam diam tanpa sepengetahuan Andreas.
Mobil yang dikemudi Ansreas sudah berhenti di depan rumah. Karania langsung melengos keluar dan berlalu meninggalkan Andreas tanpa kata membuat lelaki itu heran. Andreas juga buru-buru mengejar Kara.
Andreas masuk ke kamar mendapati Karania yang sudah berbalut dengan selimut. Lelaki itu geleng-geleng kepala dengan kelakuan Kara. Bagaimana bisa gadis itu masih membiasakan diri melempar sepatu ke sembarang arah? Bahkan setiap pulang skolah pun begitu.
__ADS_1
Andreas tahu gadis itu belum mengganti pakaiannya di balik slimut itu jadi ia mengambil piyama untuk gadis itu kenakan saat tidur agar sedikit leluasa.
...Bersambung.......