
"Tunggu!" pekik Andreas menahan langkah Karania. Gadis itu berhenti melangkah dan kembali mendekati Andreas.
Kara menengadahkan tangan kanannya di hadapan wajah Andreas, ia tak peduli dengan tatapan lelaki itu. Gadis itu manggut-manggut tak jelas karena earphone yang tersumpal di telinganya kakinya pun sedikit ia goyangkan. Wjahnya tidak menghadap Andreas.
"Apa-apaan ini?"
Kara menarik kembali tangannya serta mendengus kesal.
"Aku hanya meminta fasilitas sekolahku, tidak perlu khawatir aku tidak akan meminta uang padamu!"
"Kau dapat dari mana kostum sejelek ini? Ini sangat jelek, aku mengambil seragam sekolahmu tadi subuh tidak seperti ini. Sopir mengantarkan seragam lengkap kenapa kau menggunakan yang sejelek ini, Kara?"
"Kau berisik sekali sih!" Karania kembali mengeraskan volume musik di earphonenya.
Andreas memperhatikan pakaia Karania yang menurutnya lebih miskin dari pemulung, bagaimana tidak. Karania bukan menggunakan rok selutut seperti mana seharusnya ia malah menggunakan jeans hitam polos yang lumayan longgar sobek-sobek di bagian paha dan lututnya, bagian ujung seragam sekolah dimasukkan sebagian diselipan pinggangnya dan sebagian amburadul, dua kancing seragam putih itu sengaja ia buka dan memperlihatkan kaos hitam di dalamnya serta dua kalung panjang yang berjuntai di dadanya. Jaket cokelat juga melekat di tubuhnya dan tas hitam ia sampirkan di sebelah kanan.
"Lo mau sekolah atau mau mulung?"
"Enak aja lo ngatain gue!" kesal Karania.
"Ganti pakaianmu cepat, aku menunggumu di sini!"
"Aku tidak mau ganti pakaian lagi karena ini lebih nyaman dan juga aku tak menginginkan kau menungguku, aku hanya perlu fasilitasku. Aku tahu Papaku pasti memberikan motor padaku lewat kau jadi serahkan, aku tidak mungkin jalan kaki." Karania kembali menengadah.
"Kara, cepat ganti bajumu aku yang akan mengantarmu!"
"What! No!"
__ADS_1
"Karania!"
"Tidak mau!"
Karania menarik tangan Kara agar mendekat padanya, lelaki itu tak peduli dengan ocehan Karania serta berontakan yang gadis itu lakukan. Ia tetap kekeh melepaskan gelang-gelang warna warni yang menurut Andreas hanya cocok dipakai orang yang tidak waras, tapi kenapa bisa Kara suka?
"Andreas, hei apa yang kau lakukan kenapa kau merempas gelangku?"
"Diamlah!"
"Tidak bisa begitu!" ujar Kara yang berusha menarik tangannya, tapi apalah daya Andreas lebih gagah karena ia laki-laki.
Karena Kara terlalu keras menarik tangannya dan Andreas tidak sengaja melepasnya membuat gadis itu hendak terjatuh ke belakang dan hal itu membuat Andreas reflek kembali menarik tangan Kara serta memeluk pinggang wanita itu membuat mereka sangat dekat bahkan hidung lentik mereka menyatu. Kara merasa detak jantungnya lebih cepat berdetak dari biasanya aliran darahnya pun terasa memanas 'Kenapa ini?' batin Kara.
Andreas sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya dengan posisi mereka saat ini, dan hal ini ia jadikan kesempatan emas untuk melepaskan anting-anting Kara yang berat sebelah menurut Andreas dan juga di hidung gadis itu.
"Aww sssttt!"
"Biasakan sedikit sopan!"
Karania yang kesal hanya bisa komat kamit tanpa suara dengan tidak jelasnya mengatai Andreas, sedang lelaki itu hanya tersenyum.
"Cepat ganti pakaianmu atau---"
"Atau apa? Mau lapor papa lo?"
"Lapor sih tidak, tapi bukankah aku adalah suamimu dan aku bebas melakukan apapun padamu, Aya mu juga tidak bermasalah!"
__ADS_1
"Jangan harap gue akan anggap lo suami. Ingat ya gue gak mau ada yang tahu kalau kita itu udah nikah yang tepatnya dinikahin. Awas aja lo kalau bilang-bilang!"
"Terserah padamu saja, lagi juga aku sama sepertimu. Baiklah cepat ganti bajumu dan kita segera berangkat!"
"Tidak mau!" pekik Kara.
"Karania!"
"Tidak"
"Atau aku akan--- "
Andreas berjalan mendekati Kara yang membuat gadis itu mundur, awalnya ia acuh, tapi melihat tatapan mata Karania membuat otak wanita itu berpikir apa-apa.
"Lo mau ngapain?"
"Aku akan---"
"Aa--ak--aku--"
Karania merutuk di hati karena nyalinya ciut seketika, dan lebih membuatnya merutuk adalah tersandung karpet yang membuatnya terduduk di sofa sedang Andreas sudah ada di hadapannya.
Dekat semakin dekat, embusan napas lelaki itu bahkan menerpa wajah Kara yang membuatnya semakin gugup.
"Lo... lo mau apa?"
"Aku Akan---"
__ADS_1
Kara memejamkan matanya pasrah, Andreas menyeringai licik. Senang melihat nyali Karania menciut.
...Bersambung.......