All About You (Semua Tentang Kamu)

All About You (Semua Tentang Kamu)
Bersama


__ADS_3

Suasana hening, keduanya hanyut dengan pemikiran masing-masing. Tangan Kara terus bergerak menggoda di dada Andreas. Tubuh mungil gadis itu bergerak ke atas, ia menelusupkan kepalanya di lekukan leher Andreas dengan tangannya yang membekap tubuh kekar itu dengan erat. Mata Kara menatap wajah Andreas yang terlentang, mata itu sama sekali tak menatapnya, rasanya begitu menyesakkan di hati Kara.


"Andreas!" panggil Kara pelan.


"Bersiap sekolah, ini hampir siang. Aku juga ada jadwal hari ini," sahut Andreas. Ia hendak beranjak bangun, tapi Kara memeluk dada Andreas membuat lelaki itu kembali pada posisinya.


Kaki kiri Kara bertengger manis di pinggang Andreas dan tangan mungil itu mengelus wajah Andreas. Mata itu kembali bertemu. Kara menyentuhkan tubuhnya dengan diri Andreas membuat jarak itu sirna. Kara memiringkan kepalanya mendekati lekukan leher lelaki itu. Andreas mengerang kecil saat material basah gadisnya menyesap bawah jakunnya, tak berpikirkah gadis itu dengan situasi? Aksi Karania menggila, tak dapat dipungkiri jika lelaki itu merasa panas dengan ruangan itu meski AC menyala.


Kara menangkup wajah Andreas setelah ia puas dengan keinginannya, mata itu bertatapan dengan hidung mancung itu menyatu. Kara menggesekkan hidungnya yang bersentuhan itu dengan mata yang terpejam.


"Kara, a--"


"Biarkan aku dengan apa yang aku lakukan, Andreas!" sahut Kara seblum Andreas melanjutkan kata-katanya. Mata indahnya perlahan terbuka menatap mata tajam mlik Andreas.


"Apa kau masih tetap akan meninggalkanku, Andreas? Apa dengan yang kulakukan ini kau masih belum mengerti jawabanku?"


Andreas hanya diam, bibirnya terkatup rapat seakan enggan untuk bersuara barang sedikit. Kara yang merasa tak mendapat respon itu merasa jengkel.


"Kau menyebalkan, Andreas!" pekik Kara. Tangan kanannya menarik hidung Andreas dengan keras membuat lelaki itu meringis.


"Hai apa yang kau lakukan?" ucap Andreas sambil mengelus hidungnya.


"Aku kesal padamu. Kau hanya diam dan menatapku, kau bahkan tidak menanggapiku," kesal Kara.


Andreas mengernyit seperkian detik ia tersenyum mlihat ekspresi Kara.

__ADS_1


"Kau ingin aku merespon bagaimana, hem?"


"Ya setidaknya kau menciumku!"


Oppsss! Kara menggigit bibir bawahnya dikala menyadari mulutnya yang salah bicara. Seharusnya kata-kata itu hanya di hati lalu kenapa ia keluarkan? Ia memekik di hati, ia merasa pipinya sekarang ini memanas menahan malu. Apa lagi melihat ekspresi Andreas yang sepertinya menahan tawa.


"Kau yakin ingin aku melakukannya lagi? Lebih dari itu pun sepertinya tidak masalah," sahut Andreas seraya mengedipkan mata kanannya untuk menggoda gadisnya.


"Andreas!" rengek Karania.


Andreas hanya tersenyum simpul.


"Lihatlah wekker di nakas itu sudah menyatakan pukul 07:07. Apa kau tak ingin bersiap sekarang hem? Cepatlah bangkit dari tubuhku lalu mandi, jika terlalu lama di dekatku, apa kau tak takut akan lengket?"


"Andreas, beri aku kesempatan untuk bisa benar-benar mencintaimu. Jangan pergi dariku, kumohon. Aku mulai nyaman dengan adanya dirimu akhir-akhir ini, aku bahkan melupakan Kevin saat bersamamu. Beri aku kesempatan menjalankan bebanku sebagai istrimu. Kau boleh menegurku jika aku melakukan kesalahan dan kau juga boleh melakukan apapun yang kau mau pada ku, tapi hanya satu hal yang tak sanggup kulakukan, kau mungkin bisa mengerti aku. Aku takut kau berpaling," lirih Kara.


Seketika bayang-bayang Andreas berdua dengan Alisya yang tampak mesra tadi malam membuatnya meneteskan air mata, tetesan itu mengenai leher Andreas membuat lelaki itu membalikkan posisi.


"Kenapa harus menangis?" gumam Andreas. Ia menghapus air mata Kara dengan ibu jarinya.


"Jika kau berusaha menerimaku hanya karena terpaksa dan merasa kasihan padaku itu tak perlu kau lakukan, Kara. Aku tak akan menuntutmu melakukan sesuatu yang tak sejalan dengan hatimu!"


Kara menggelengkan kepalanya dengan cepat. Andreas salah mengartikan tangisannya kali ini.


"Sungguh! Aku tidak seperti yang kau pikirkan, Andreas! Aku hanya... Aku ... Emm... aku...."

__ADS_1


"Aku?"


"Entahlah, aku tak tahu. Tadi malam adalah kali pertama aku melihat ada wanita yang begitu terlihat dekat denganmu, bahkan kau bahagia bersamanya, aku kesal melihat itu. Aku marah saat matamu menatapnya, aku marah saat bibirmu menyunggingkan senyum padanya bahkan kau tertawa lepas bersamanya. Aku merasa sangat gerah saat kau berdiri mesra di panggung merangkul pinggangnya. Jika saja itu pesta orang yang kukenal maka sudah kupastikan pesta itu putus di tengah jalan. Kue ulang tahun yang disuapkannya ke mulutmu ini jika mampu maka akan aku hilangkan sampai tak tersisa bahkan aku merasa tak rela aliran darahmu mengandung zat dari kue itu," ucap Kara dengan ekspresi kesalnya. Andreas tersenyum geli dengan penuturan Kara. Apa benar gadis itu mrasa seperti itu? Apa mungkin gadisnya cemburu?


"Wajah gadis itu benar-benar ingin aku cakar saat itu juga agar kau tidak tertarik padanya. Matanya yang menatapmu itu rasanya ingin aku lepas agar ia tidak bisa melihatmu sama sekali. Bibirnya yang tersenyum padamu itu rasanya ingin aku pukul. Tangannya itu rasanya ingin aku potong saja karena sudah dgan beraninya menyentuhmu," lanjut Kara.


Seketika Andreas tertawa lepas mendengar keluhan Kara. Gadis itu semakin kesal, ia memukul dada lelaki itu.


"Apa kau cemburu hem? Menurutku kuenya rasanya enak, apa lagi dia menyuapiku dengan lembut dan sepertinya dengan kasih sayang."


Andreas meringis karena cubitan Kara di perutnya. Ia kembali tertawa mlihat ekspresi Karania.


"Kau menyebalkan, Andreas! Berani-beraninya kau memujinya di hadapanku!" kesal Karania.


"Aku tau kau cemburu, 'kan?" goda Andreas mengedipkan matanya.


"Tidak, aku tidak cemburu sama sekali!"


Tawa Andreas terhenti, ia terlihat murung. Kara jadi merasa bersalah.


"Baiklah, mungkin hanya aku saja yang terlalu berharap dan bersemangat menganggap semuanya serius," lirih Andreas.


Ia menjauhkan diri dari Karania, merubah posisi menjadi duduk. Ia hendak beranjak meninggalkan kasur, tapi terhenti ketika gadis itu memeluknya dari belakang.


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2