
Sang surya yang awalnya bertahta di ufuk barat kini telah beristirahat dan digantikan dengan bulan yang berkuasa di gelapnya malam, bertugas menerangi setapak bumi yang legam. Angin berembus pelan menyusup di sela-sela ruang yang pengap.
Karania menggeliat dan mengerjapkan matanya pelan, berusaha mengembalikam kesadarannya. Gadis itu merenggangkan ototnya lalu melirik arloji di tangan kanannya, "18:45!" gumamnya.
Ia beranjak dari posisi tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Kara membasuh wajahnya di wastafel seraya menatap dirinya pada cermin besar yang ada di hadapannya.
"Wait!" gumam Kara ketika ia hendak melepas kain yang membalut tubuhnya.
"Seragam? Tadi sore gue?" Karania mengingat-ingat kmbali kejadian tadi sore.
"Bukankah tadi sore gue di mobil sama si cecunguk itu? Lalu? Wait, wait, wait! Awas Lo cunguk, akan kuhakimi kau karena sudah lancang padaku," geram Kara. Gadis itu segera merendam diri di bathup stelah menanggalkan semua helaian kain yang melekat pada tubuhnya.
.
Kara keluar dengan mengenakan kimono sambil mengeringkan rambutnya yang basah, wajahnya nampak kesal.
"Mana lelaki itu, aku akan menghabisimu cecunguk!" geram Kara. Ia bercakak pinggang di hadapn cermin setelah meneliti ruang kamar itu dan tak menemukan yang ia cari.
Pintu kamar itu terbuka dan muncullah lelaki tampan dari sana, siapa lagi jika bukan Andreas. Mendengar suara pintu terbuka dengan otomatis Kara menoleh dan tatapannya terlihat mengenaskan ketika ia mendapati lelaki itu dengan santainya menghampirinya.
"Kau!" geram Karania seraya mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Andreas ketika lelaki itu berada tepat di hadapannya. "Apa yang kau lakukan padaku?"
Andreas mengernyit bingung dengan pertanyaan gadis itu, seperkian detik ia sedikit menyunggingkan senyum yang terlihat samar ketika otaknya mampu mencerna pertanyaan itu.
"Tidak banyak yang kulakukan padamu." Jawaban singkat Andreas membuat Karania semakin kesal. Andreas menurunkan jari gadis itu, lalu ia menggenggam tangan Kara.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan," ucap Andreas swperti mengerti dengan ekspresi Kara. Lelaki itu tersenyum menatap gadisnya.
"Kau tenang saja. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang di luar batasanku. Aku akan mencoba mengerti dirimu. Ya, aku memberimu kebebasan, tapi kumohon ingatlah batasan sesuai statusmu. Ini peringatan pertama dan terakhir dariku untukmu, mungkin setelah ini aku tidak akan memperingatimu lagi jadi kumohon mengertilah dengan keadaan. Ya, kuakui kau menganggapku lelaki yang tak berguna, tapi aku akan berusaha membuat diriku kau anggap berguna suatu saat nanti. Aku tidak berani terlalu berharap 'Aku Kamu menjadi kita' karena itu menurutku akan ditentukan oleh takdir. Aku di sini membantu membuatmu untuk berubah lebih baik dari sebelumnya. Aku tidak berharap kau akan mengucapkan terima kasih suatu hari nanti, tapi aku hanya sedikit berharap aku bisa menjadi lelaki yang berharga untukmu," tutur Andreas dengan lembut.
Karania hanya diam dengan ekspresi acuhnya, bahkan pandangan matanya saja ke arah lain, ia benar-benar enggan menatap lawan bicaranya kali ini. Gadisitu hanya merasakan tangan hangat yang menggenggam tangannya dan sedikit meremas, ia bisa melirik tangannya yang digenggam Andreas dan langsung menarik paksa lalu ia menatap sangar pada lelaki itu yang menatapnya dalam.
"Jaga sikapmu, kau bukan siapa-siapaku. Jika saja aku berani menentang keinginan Papa-Mama mungkin aku tidak akan pernah mau menikah denganmu, ingatlah itu!" sahut Kara dengan ketus.
Andreas tersenyum miris setelah mendengar perkataan gadis itu. Sungguh hatinya terasa sakit, ingin rasanya marah, memaki dan berteriak untuk melampiaskan keadaan buruk hatinya, tapi apa daya? Diam dan sabar adalah pilihan terbaik.
"Aku tidak akan memaksamu untuk apapun, tapi mengertikan posisiku dan ingat batasan statusmu, itu saja. Kau dalam pengawasan serta tanggung jawabku. Kau tidak hanya sebagai istri untukku, tapi kau juga sesuatu berharga yang Paman Samuel titipkan padaku bahkan yang dia berikan padaku. Aku akan tetap melakukan tugasku sebagai seorang suami pada istrinya dan juga sebagai seorang kepercayaan Paman Samuel yang memberikan putrinya padaku!"
"I don't care!" jawab Kara enteng seraya melangkah menjauh dari hadapan Andreas.
__ADS_1
"Jika lapar, makan malam untukmu sudah siap. Jika ada sesuatu yamg kau butuhkan temui aku, aku akan berusaha memberikannya sesuai keadaan," ucap Andreas sbelum berlalu meninggalkan kamar itu.
'Tiga kata untukmu dariku AKU MEMBENCI KAMU!' teriak Kara di hati ketika ia menatap pintu yang sdah tertutup.
Dinginnya deruan angin yang menerpa alam, tapi sepertinya tak mampu mendinginkan hati lelaki yang saat ini duduk di teras rumahnya.
"Arrghhh!" pekiknya dgan kesal. Ia tertunduk sendu dan tak terasa butiran bening itu menetes dengan sendirinya.
"Kenapa, Kara? Kenapa begitu sulit untukmu menerimaku? Aku mencintaimu, aku Sangat sangat mencintaimu sejak lama, tapi keberanianku senyap dan aku berpikir dengan pernikahan aku bahagia, tapi apa? Apa ini? Saat keberanianku muncul untuk mengungkapkan cintaku setelah pernikahan, kau justru membuatku pupus dengan kebencianmu. Aku berharap kau peka dengan hatiku, Kara!" lirih Andreas dengan pelan. Bahunya bergetar, lelaki itu menangis dalam diam, wajahnya yang ia tutup dengan kedua telapak tangannya itu tertunduk. Ia sakit mengingat tingkah dan setiap ucapan Karania yang menggambarkan bahwa gadis itu begitu membenci dirinya.
Andreas mengusap wajahmya dengan kasar untuk menghilangkan bekas air di pipinya itu. Lelaki itu mengacak rambutnya dengan tampang frustasi.
'Kenapa aku terlalu mencintaimu?' gumamnya di hati.
****
"Hei, kenapa kau dari tadi hanya berdiam dan termenung kawan? Ada masalah?" ucap Martin pada Daniel. Lelaki itu sedkit terperanjat dari lamunannya ketika Martin menepuk pundaknya.
"Sepertinya dua dari teman kita sudah dimasuki roh setan bengong dari sekolah, buktinya habis tadi siang dua brother kita ini termenung terus," sahut Haris .
"He-Eh!" sahut Martin juga. Mereka bertiga menatap aneh Zein dan Daniel yang masih juga termenung.
Haris, Hendry, dan juga Martin kesal karena mereka berbicara tanpa respon dari Zein ataupun Daniel. Seperkian detik ketiga lelaki itu saling melirik dan tersenyum sambil manggut-manggut sesekali melirik kolam renang.
1... 2... 3...
Byurrrr....
Byurrrrr...
"Huwahahahahaha!" Tawa mereka lepas setelah menceburkan Daniel dan Zein secara brgantian.
"Sialan lo, dingin bego!" umpat kesal Zein yang basah kuyup.
"Awas kalian akan kubuat bakso tusuk dan tulang kalian aku buat sup!" ujar Daniel geram.
Zein yang juga di kolam bergidik mendengar perkataan Daniel apa lgi Hendry, Haris dan Martin, tawa 3 lelaki itu seketika langsung terhenti dan mereka saling tatap satu sama lain seraya bergidik ngeri ketika memori mereka memutar sesuai perkataan Daniel.
"Hehehe, fix!" Ketiganya nyengir menatap Daniel yang juga menatap mereka seakan-akan memangsa, spontan mereka memberikan gambaran V di jari mereka.
"Lo kanibalisme?" tanya Zein yang merinding di dekat Daniel.
__ADS_1
"Ya, gue kanibal!" seru Daniel yang terlihat serius, seketika bulu roma ketiga lelaki itu meremang.
"Kabuurrrrr!" pekik mereka bersamaan dan langsung berlari masuk.
"Huwaaaaa gue belum nikah, gak mau mati!" pekik Zein yang bergegas menjauhi Daniel, setelah kakinya berpijak di lantai ia langsung berlari ke dqlam tanpa peduli keadaanya yang basah-basahan yang terpenting gak mati bujang, pikirnya.
Daniel melongo melihatĀ teman-temannya pada kabur, apa memang seseram itu tampangnya sehingga ia benar-benar terlihat cocok jadi kanibal dan mampu membuat teman-temannya pada takut?
"Huwahahahahahaha!" tawa Daniel yang tersisa sendri di situ. Bukan bangkit dari air itu Daniel malah berenang terlentang menatap bintang di langit seraya tersenyum.
"Karania!" Satu kata keluar dari mulutnya, sebuah nama dari gadis manis yang ia kagumi sejak siang tadi.
****
"Apa kabar Kara sekarang, ya?" gumam seorang lelaki yang sedang duduk termenung di basecamp genknya.
"Sabar kawan, kita juga gak tau kenapa si kapten enggak nagsih kabar," ucap Leon yang menepuk pelan bahu Kevin yang sdag termenung.
"Gagal lagi," gumam Kevin kesal. Ia mengusap kasar wajahnya.
"Nanti juga ketemu," sahut Yoseph.
"He-Eh," respon Lion sambil manggut-manggut.
'Lo dimana? Gue kangen Lo,' lirih Kevin di hati.
****
"Lion,Yoseph, Kevin, Daren... gue kangen kalian. Maafin gue gak kasih kabar gue sekaragn karena gue gak mau kalian tau status gue dan kecewa karena melanggar perjanjian kita yang tidak boleh ada yang menikah sebelum selesai kuliah," gumam Karania di hati. Ia sedang menatap langit malam dari balkon kamarnya, menumpahkan kerinduannya yang 2 hari tak tahu kabar pada sobat karibnya.
"Kevin, gue sayang lo!" lirih Kara.
Andreas mematung, langkahnya terhenti seketika. Niat awalnya yang ingin menemani gadis itu terhenti seketika. Niat itu pupus begitu saja. Andreas merasa dirinya memanas ketika sebuah nama keluar dari mulut gadis yang dicintainya.
Sepahit inikah rasanya cinta tak terbalas? Lelaki itu tersenyum miris lalu memilih langkah mundur kembali keluar dari kamar itu. Andreas berusaha menetralkan kondisinya dengan berdiam kembali di teras rumah. Tangan Andreas mengepal, rahangnya pun mengeras ketika ia mengingat gadisnya itu mengucap kata sayang dan nama lelaki lain.
"Kapan kau mengerti aku mencintaimu, Kara? Aku tahu tak semudah membalik telapak tangan untukmu mencintaiku, tapi setidaknya hargai aku. Beri aku kesempatan untuk bisa sedikit lega dengan keadaan. Aku tidak bisa melupakanmu apa lagi untuk melepasmu untuk orang lain. Aku tak mamp, Kara. Aku sakit dengan ini. Jika saja rasa CINTA ini mampu kuhapus maka akan kulakukan sejak lama," lirih Andreas yang terdengar pilu, untaian katanya diiringi dengan genangan air dari pelupuk matanya.
"Tidak! Aku tidak bleh menyerah, jika aku tak ingin gadisku dimiliki orang lain maka aku harus berjuang," gumam Andreas kmbali menyemangati dirinya. Ia menghapus air matanya setelah itu ia kembali masuk ke dalam rumah, setelah mengunci pintu utama Andreas langsung mengempaskan dirinya pada sofa empuk di rung tamu.
...Bersambung.......
__ADS_1