
"Kau benar, mungkin aku cemburu. Ini kali pertama aku merasa seperti ini," gumam Kara. Uap udara dari mulut Kara saat ia berbicara itu terasa hangat di punggung Andreas. Lelaki itu menampakkan senyuman mendengar kata CEMBURU keluar dari bibir Kara.
"Jangan marah padaku!" rengek Kara sperti kebiasaannya merengek pada ayahnya.
"Rayuanmu sepertinya bagai minyak menjatuhi air," ucap Andreas dengan lagak kesal sebenarnya ia tersenyum puas dengan ini.
"Andreas, aku hanya bercanda!"
"Menyingkirlah, aku hendak ke kampus hari ini masih ada jadwal pagi."
"Tidak mau!"
"Karania!"
"Tidak mau, Andreas!" ujar Kara yang masih setia memeluk Andreas dengan tubuh polos.
"Kau yakin tak mau melepas pelukanmu dan membiarkanku pergi?" tanya Andreas. Kara menggeleng, Andreas bisa merasakannya karena gesekan rambut gadis itu.
"Baiklah, jika begitu kau harus melayaniku," ucap Andreas menghadap ke Kara.
Karania hanya diam, tangan Andreas yang mulanya di kedua bahu Kara kini mulai bergerak turun. Kara masih tak menyadari jika tubuhnya tidak berbusana saat ini. Andreas meraih tangan Kara lalu menciumnya. Mata Andreas menatap tubuh Kara yang menggodanya lalu ia mulai mendorong tubuh Kara agar kembali rebahan dan ia pun berbaring miring dengan kaki yg merepat di rekangan gadisnya.
"Tubuhmu membuatku menahan sesuatu, Kara!" gumam Andreas. Kara melirik ke dirinya. Sungguh ia tak menyadari pose dadanya yang polos tanpa benang, lelaki itu kembali memuja tubuh Kara di mulai perut, mungkin ingin Andreas sama dengan ingin Kara, buktinya gadis itu hanya diam merasakan sentuhan yang kmbali membuatnya melambung. Andreas kembali bertahta menjelajahi tubuh Kara memberikan tanda kepemilikan di sana, tapi cumbuan Andreas terhenti di depan dada Kara, membuat Kara merasa belum puas padahal dia sdah merasa melambung awalnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Kara yang terdengar tidak ikhlas.
"Kau tidak sekolah heh?" sinis Andreas.
"Tidak!" sahut Kara enteng.
__ADS_1
"Aku tau alasanmu menggodaku tadi. Kau tidak mau sekolah kan? Oh my God! Ini sudah jam 8:15 Kenapa aku lupa waktu?" gerutu Andreas. "Kenapa kau tak mau sekolah? sebentar lagi kau akan ke Universitas dan meninggalkan sekolah itu, Kara!"
"Malas," sahut Kara yang tampak Be-Te dengan omelan Andreas. Alasan yang sebenarnya ia malas sekolah ialah bertemu Alisyia, gadis yang tadi malam berdansa dengan Andreas. Martin bercertia jika gadis itu akan menjadi teman sekelasnya tentu itu membuatnya tambah MALAS SEKOLAH.
"Oh God, Kara. Haruskah setiap hari dengan rutin aku memaksamu sekolah?"
"Tentu saja, tapi jika kau memberiku pilihan antara berada di bawahmu seperti ini atau sekolah maka aku memilih berada di bawahmu dan bebas dari sekolah," ucap Kara yang membuat Andreas melonngo. Sejak kapan gadisnya mempunyai pemikiran seperti itu? Melihat ekspresi heran Andreas, Kara tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Lanjutkan sesuatu yang tertunda!" bisik Kara di telinga Andreas sambil menggigit pelan daun telinga itu. Entah kenapa kini ia begitu berani berbuat sesuka hati pada lelaki itu.
"Kau yakin?" tanya Abdreas. Kara mengangguk pelan karena menahan malu.
......
13:37
Kara tersenyum saat melihat Andreas duduk di sofa ruang tamu yang trlihat fokus dengan laptopnya.
"Andreas!" panggil Karania yang baru duduk di samping Andreas.
"Hem...."
"Jalan-jalan?" tawar Kara.
"Hem!"
Karania jengkel karena lagi-lagi Andreas hanya berdehem. Kara menutup laptop Andreas dengan paksaan membuat Andreas menatapnya tajam, sedang Kara balas tatap dengan tatapan jengkel. Andreas semakin menatap tajam Kara yang di sampingnya ketika memperhatikan penampilan Kara yang membuat lelaki itu menggeram.
"Oh my God! Apa kau akan membuat banyak lelaki di luar sana menegang dengan pakaianmu seperti ini hendak jalan-jalan heh? Ganti sana!"
__ADS_1
Jeans yang hanya sejengkal dari pinggul dan kemeja putih transparan menampakkan bra merahnya, serta lekukan tubuh idealnya, tapi satu lagi anting di hidung itu tak lepas dan di telinga juga. Andreas memperhatikan anting itu, di sebelah kiri dan kanan nampak berbeda, telinga kiri hanya ada satu anting jepit berwarna hitam besar dan di kanann ada 3 anting putih yang melekat dengan manisnya. Kara tak memakai gelang karena sudah habis dibuang Andreas.
"Kara, Apa-apaan denganmu ini?"
"Bukankah hanya kau yang mlihatnya? Aku akan berganti pakaian jika kau mau mengajakku jalan-jalan. Ayolah!" rengek Kara mengguncang lengan Andreas.
"Tidak masalah, tapi buang anting yang tak ada bagusnya sama sekali itu," sahut Andreas.
"Andreas, tidak mau!" rengek manja Kara.
"Buang, Kara!"
"Nggak mau!"
"Karania!"
"Andreas!"
Keduanya adu pandang seakan tak ada yang mau mengalah dari pertarungan sengit.
"Tidak ada fasilitas," ucap Andreas, yang membuat Kara kesal dan komat kamit tidak jelas mengeluarkan sumpah sarapah tanpa suara dengan berat hati ia mulai melepas antingnya satu persatu.
"Andreas!" lirihnya terdengar memohon.
"Berikan cepat!"
Kara menyerahkan semua antingnya ke tangan Andreas yang menengadah di hadapannya dengan tidak ikhlas.
...Bersambung.......
__ADS_1