All About You (Semua Tentang Kamu)

All About You (Semua Tentang Kamu)
Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Kara menatap sekitar, lalu ia menoleh ke arah Andreas yang berada di sampingnya.


"Kok mall?" heran Kara terdengar dari suaranya ia tak suka sama sekali.


Andreas tak mengubris Kara. Ia turun lebih dulu lalu membukakan pintu di sebelah Kara. Gadis itu enggan keluar langsung saja ia menarik paksa pergelangan tangan Kara.


"Andreas, gak mau! Aku maunya pantai kek atau taman kek, aku gak mau mall!" rengek Kara.


"Ikut saja, Ayo!"


"Andreas!"


Kara menghentakkan kakinya kesal karena Andreas tidak menuruti maunya. Sepanjang perjalanan menyusuri mall tangan Andreas tetap menggenggam pergelangan tangan Kara agar gadis itu tak kabur. Kara makin kesal karena Andreas berhenti di deretan gaus.


"Carikan gaun yang cocok dengan gadis ini," ucap Andreas pada pegawai yang berjaga dan dia mendorong paksa tubuh Kara agar mau mencoba beberapa gaun di dalam sana.


"Andreas, gak mau!" rengek Kara.


"Jika dia gak mau silahkan lalukan apa saja yang membuatnya menurut," ujar Andreas pada pegawai itu, Kara semakin kesal dengan Andreas.


Karania POV


Satu kata untuk kali ini menyebalkan. Aku paling tidak suka dengan pakaian seperti ini, saat ini aku sedang berada di ruang ganti, sudah 17 kali ganti gaun, tapi tak ada satu pun yang Andreas katakan bagus! Menyebalkan bukan?


"Andreas, aku lelah tahu!" rengekku yang baru selesai berganti. Aku harap ini yang terakhir. Gaun panjang sepanjang lutut ini berwarna silver dengan bagian lengan bahu yang mengembang. Ada aksen mutiara di bagian pinggang yang membalut tubuh rampingku. Aku langsung duduk di pangkuan Andreas.


"Cukup bagus! Ini saja, ganti lagi sana!" ucap Andreas padaku. Aku benar-benar kesal hari ini padanya. Aku berlalu dari hadapannya dengan menghentakkan kakiku kqrena dia begitu sibuk dengan ponselnya. Apa sih yang dia lihat?


Setelah keluar dari ruang ganti aku tak langsung menemui Andreas, tapi berjalan sekitar ruang ganti, setelah puas melihat-lihat, aku ke tempat Andreas menungguku tadi, tapi dia tidak ada. Tidak masalah biarkan saja, aku lanjut jalan-jalan di sekitar sini saja.


"Bisa temani aku melihat-lihat gaun lagi?" tanyaku pada pegawai yang tadi membantuku, ia mengangguk.


"Tidak masalah, ayo!"

__ADS_1


Kami pun berjalan-jalan di sekitar dan... Aku tersenyum saat memandang sesuatu yang melekat di patung di hadapanku ini. Merah darah. Aku cukup suka dengan warna merah meski kata orang merah itu warna menyakitkan mata. Ada sedkit pemikiran mesum di otakku melihat gaun yang ada di hadapanku ini.


"Aku ingin yang ini, gabungkan saja dengan yang tadi biar lelaki tadi yang bayar," ucapku pada pegawai tadi.


Aku menggerutu sebal, 30 menit aku menunggu Andreas, tapi dia tak ada juga, kemana lelaki itu?


"Sudah selesai?"


Aku menghela napas jengah, dia menatapku dengan tatapan tak bersalah sedikit pun bahkan ia tersenyum manis padaku, Oh my God! Aku meleleh.


"Hem," dehemku.


"Tunggu di sini, aku akan bayar dulu!" Setelah itu ia berlalu lagi.


"Andreas, kenapa ke toko sepatu? Sepatu milikku masih banyak dan bagus-bagus kok!"


Dia diam saja dan tangnnya masih menggenggam pergelanganku.


"Buat diapain?" tanyaku.


"Coba dulu," sarannya, dengan malas aku mencobanya dan baru satu langkah kakiku sudah tersilang dan akan jatuh, untung saja Andreas merangkulku jika tidak wah alamat benjol keningku.


Aku deg-degan seakan kali pertama menatap mata Andreas. God, tolong aku, jangan sampai mukaku memerah!


"Kau tak bisa dengan highells?" ujar Andreas mengembalikan posisiku agar berdiri tegak.


Aku mengangguk tanda membenarkan.


"Baiklah tidak jadi jika begitu!"


****


Karania kesal berkali lipat. Ia bersemangat mengajak Andreas jalan-jalan bukan maksudnya ke mall, tapi ke pantai atau taman biar kelihatan romantis begitu. Eh... Sejak kapan kata romantis ada? Entahlah. Sekarang Kara semakin dibuat kesal, bagaimana tidak? Pukul 15:20 sore Kara berencana hendak tiduran setelah pulang dari mall yang melelahkan tadi, tapi apa? Andreas mengangkatnya lalu mendudukkannya di sofa yang sudah terhampar beberapa buku materi, buku tulis dan pulpen di atas mejanya. Belajar adalah salah satu kebiasaan Kara untuk tidur dan jika tidak pulpennya itu pasti akan menggambarkan cakar elang di buku catatannya.

__ADS_1


"Kara, belajar dengan bagus. Jangan tidur, ke pantai jangan kau pikirkan, nanti saja mengajakmu jalan-jalan sekarang fokus saja belajar dulu," ceramah Andreas.


"Howaaammm... Ngantuk!"


Kara merebahkan kepalanya di sandaran sofa, tak butuh waktu lama untuknya tidur karena saat ini juga ia sudah terlelap.


Mulut Andreas dari tadi komat kamit menjelaskan materi di buku Sains yang berada di tangannya tanpa memperhatikan si pendengar.


"Kau mengerti, Kara? Tanyakan yang---" Ungkpan Andreas terhenti ketika melihat Kara tertidur dengan nyenyaknya di posisi duduk.


"Gadis ini selalu saja tidur jika belajar," gumam Andreas sambil geleng-geleng kepala.


Ia membereskan buku yang berserakan dan meletakkannya di atas meja lalu ia mengangkat tubuh Kara dengan hati-hati membawanya ke kamar.


Andreas membaringkan gadisnya dengan hati-hati, lalu menyelimutinya. Andreas memperhatikan wajah damai Kara dengan senyuman di bibirnya. Perlahan wajah itu mendekat.


Cup


Kecupan singkat itu mendarat di bibir Kara.


"Aku mencintaimu, Karania!" bisiknya di telinga kiri Kara stelah itu ia berlalu keluar dari kamar.


Setelah Andreas menghilang di balik pintu, senyuman merekah di bibir Kara dengan mata yang masih terpejam. Perlahan ia membuka matanya menyibak selimut lalu loncat-loncat kegirangan di atas kasur. Sebenarnya ia terjaga saat Andreas mulai membopongnya, tapi yang namanya otak nakalnya berkerja jadi ya lanjut dengan 'Pura-pura' tidur saja deh.


"Aku mencintaimu, Karania!" Girang Kara meniru suara Andreas barusan.


"Aaaa... I Love You too my Husband! Uh, Andreas!" gumam Kara sambil membayangkan lelaki itu mencumbunya.


"Mesum!" rutuk Kara menepuk pelan kepalanya karena pemikiran kotor itu singgah.


"Lanjut tidur deh!" gumamnya kemudian dengan segera ia kembali tiduran sebelum Andreas kembali masuk kamar.


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2