All About You (Semua Tentang Kamu)

All About You (Semua Tentang Kamu)
Pagi Panas


__ADS_3

Waktu terus berlanjut, hari terus silih berganti.


Tidak ada kemajuan harmonis pada hubungan Karania dan Andreas. Pertengkaran masih sering terjadi, tapi Andreas hanya diam dan menanggapi Kara dengan senyuman. Saat kemarin Karania mengerjainya habis-habisan pun lelaki itu tetap bersabar.


Karania POV


Hari ini tepat 3 bulan Andreas tinggal bersamaku, ah ralat! Aku yang tinggal bersamanya. Pagi ini aku sangat malas memandang wajah cecunguk ini. Aku heran dengan lelaki ini, kenapa bisa gak marah sama gue? Padahal kemarin dia sepertinya tersiksa sekali saat kukerjain habis-habisan membuatnya bolak balik kamar mandi 3 jam. Parah, kan? Tapi apa? Dia diam saja tanpa marah meski ia tahu aku yang membuatnya begitu dan aku tertawa pun ia diam saja. Sebenarnya niatku membuatnya marah hanya satu yaitu cerai. Ya, aku ingin kebebasanku kembali.


Terkadang lelaki di sampingku ini begitu menyebalkan menurutku karena ia tidak memberiku izin nongkrong bersama Daniel dan kawan-kawan. Sebenarnya sesekali apa salahnya coba?


Sebenarnya aku sangat malas memulai pembicaraan dengan lelaki ini karena kemarin ia menyusahkanku saat dia sakit. Tak ada pilihan lain, jika tak bicara maka Aku KERE! NO! Tidak bisa!


"Andreas!" panggilku, tapi dia tetap fokus menyetir tanpa peduli padaku, menyebalkan!


"Andreas!" panggilku lagi, tapi respon tetap sama, melamun apa coba sampai gak dengar panggilanku?


"Andreassss!"


"Aw!" ringisku sambil mengelus jidatku yang terbentur bagasi mobil karena Andreas mengerem mobil mendadak.


"Kau gila? Ini sakit bodoh!" pekikku kesal.


"Salahmu sendiri yang berteriak, refleks kaget karenanya aku rem mendadak, maaf deh," ucapnya. Aku kesal kali ini benar-benar kesal.


Gila. Benar-benar gila. Jantungku? Jantungku sepertinya bermasalah karena akhir-akhir ini selalu bergendang ria dikala Andreas mendekat. Dan kali ini? Ah tidaaakk! Jangan sampai Andreas mendengarnya.


Tanpa terasa mataku terpejam merasakan hangat napas Andreas yang menerpa wajahku serta hangatnya tiupannya pada jidatku yang sakit tadi. Sebenarnya tidak terlalu sakit dan yang sebenarnya lagi sudah tidak sakit, tapi aku? Arrgghh... Ada apa denganku? Rasanya nyaman jika Andreas perhatian seperti ini padaku, rasanya aku juga enggan melepas waktu ini.


Material basah miliknya menempel di jidatku yang sakit tadi. Seperti sengatan listrik tegangan tinggi, tubuhku terasa memanas antara malu, nyaman, gengsi, kesal dan yang paling penting ialah aku berasa enggan dia melepaskannya.


Cuih! Kemana keberanianku membentaknya saat akan mendekatiku dulu? Kemana itu? Nyali berontakku ciut seketika.


Aku membuka mataku saat kurasa material basah itu telah menjalin jarak denganku. Saat aku membuka mataku yang kudapati ialah wajah Andreas yang begitu dekat denganku, bahkah hidung kami bersentuhan. Andreas membuka anting di hidungku dengan pelan serta anting telingaku yang hanya ada di sebelah kiri lalu ia melemparnya ke belakang. Entah kenapa aku hanya diam. Nyaman rasanya memandangi wajah Andreas dengan dekat seperti ini.


Aku berusaha menelan salivaku karena tenggorokanku terasa kering ketika Andreas memandangi mata dan bibirku secara bergantian.


"Andreas--emph---"


Gila! Argh menyebalkan! Aku melototkan mataku kaget ketika Andreas tiba-tiba mencium bibirku bahkan **********, sialnya aku tak mampu berkutik karena keterlenaan.


Entah dorongan darimana dengan beraninya Andreas mencumbu Kara dengan gairah menggebu di balik dada. Sambutan dari Karania membuat Andreas semakin berani.

__ADS_1


Sebelah tangan Kara mengalungi tengkuk Andreas dan sebelah tangannya lagi menelusup di balik kemeja lelaki itu. Mengelus pelan punggung serta dada bidang Andreas yang membuat lelaki itu mendesah pelan disela cumbuannya pada bibir gadisnya.


Kara menggeliat, ia menggigit bibir bawahnya yang ia rasa sudah 1 in tebalnya. Ia berusaha meredam desahannya yang sdah di ujung tanduk dikala material basah itu mencumbu mesra leher jenjangnya.


"And... Empphh... Andreas...." Gadis itu tak mampu berkutik, ia merasa suaranya terputus ditenggorokan, mungkin hanya desah napasnya yang lebih nyaman ia lantunkan.


Kara merasa melayang dikala **** ************* merespon cumbuan dari Andreas. Tangan kekar lelaki itu memuja tubuh Kara dari paha menjalar ke perut, elusan lembut itu membatnya semakin berdenyut dan pasrah.


"Andreas!" Kara menjambak rambut Andreas dikala tangan kekar itu mengelus serta meremas pelan bagian depan tubuhnya membuatnya semakin memburu.


Keduanya hanyut dengan keindahan dunia mereka masing-masing sampai-sampai mereka tak peduli dengan posisi mereka saat ini. Untung saja jalan menuju sekolah pagi ini cukup sepi jadi tidak bermasalah.


"Ah, huh!" Karania langsung tersandar di bantalan kursi sedetik setelah Andreas mengakhiri cumbuannya.


'Kau gila, Andreas! Aku tak tahan,' lirih Kara yang brusaha menetralkan dirinya kembali karena denyutan itu semakin menderu.


Sama seperti Kara, Andreas pun tersandar dengan mata terpejam berusaha mengontrol dirinya.


'Ck, apa yang kau lakukan, Andreas? Bodoh! Bodoh! Bodoh! Tapi Respon Kara membuatku gila seketika,' batin Andreas.


'Apa yang kau lakukan saat ia menciummu, Kara? Kenapa kau menerimanya? Ini gila, tapi? Arrrgghh aku tak mampu menahannya,' batin Kara.


"Whatt? 07:06 ?" pekik Kara histeris.


"Apa?" sahut Andreas yang sama terkejutnya.


'Mampuslah aku jika sampai terlambat hari ini,' gumamnya kemudian.


.....


"Aw! Andreas, kau menyebalkan, ini sakit. Baru saja menyenangkan sekarang kau sudah kembali menyebalkan!" pekik kesal Kara yang lagi-lagi jidatnya terpentok dashbord.


Andreas tersenyum menoleh ke Kara dikala ia mendengar kata 'BARU SAJA MENYENANGKAN' rasanya di hatinya berbunga-bunga.


"Aku masuk, bye!" Karania sudah menjulurkan satu kakinya, tapi pinggulnya dirangkul Andreas membuatnya terduduk kembali dengan cepat Andreas menutup pintunya kembali.


"Ada Apa? Bukankah kau bilang padaku bahwa aku tidak bleh terlambat apa lagi smpai dihukum dan kau dipanggil kepala sekolah dan i---"


Sebuah kecupan singkat itu menghentikan ocehan Karania.


"Bagus, diam saja!"

__ADS_1


Andreas mengusap lembut tepi bibir Kara yang msih basah menggunakan ibu jarinya, Andreas pun meniup-niup pelipis Kara yang sedikit berkeringat.


"Apa yang---"


"Diamlah, aku bertanggung jawab karena ulahku. Kau tidak mungkin masuk ke dalam sana dengan seragam amburadul begini."


Karania hanya diam, tak ada perlawanan sedikit pun darinya saat Andreas dengan santainya membenarkan bra yang digunakannya. Ia fokus memperhatikan gerak Andreas saat lelaki itu sedikit menyentuh dada miliknya, Kara hanya menggigit bibirnya menahan geli. Setelah Andreas selesai mengancingkan satu per satu seragam sekolah Kara, lelaki itu tersenyum pada gadisnya sebelum kembali bersandar.


"Masuklah, nanti kau bisa terlambat!"


Kara tak bergeming, entah dorongan darimana ia mendekatkan diri pada Andreas, tangannya terulur untuk memperbaiki kemeja lelaki itu.


"Selesai, aku pergi!"


"Apa lagi?" tanya Andreas saat menoleh Kara masih di tempat.


Gadis itu nyengir sambil menengadahkan tangan kanannya, Andreas yang mengerti itu langsung memenuhi kebutuhan gadisnya.


"Thanks a millions. Bye!" ucap Kara.


Andreas hanya tersenyum.


"Em, Andreas!" panggilnya lagi sebelum benar-benar keluar.


"Kenapa? Uangnya kurang?"


Kara menggeleng. Ia kembali separuh badan masuk.


"Andreas!" panggilnya otomatis Andreas menoleh.


Cup


"Hati-hati di jalan!" bisik Karania.


Andreas mematung, Benarkah ini?


REAL or FAKTAMORGANA? Kara? Karania mencium bibirnya?


Andreas seperti mendapat lampu hijau dari gadisnya itu meski bendera putih itu belum berkibar. Senyuman girang Andreas merekah dari bibirnya bahkan ia tak merasa Kara sudah ditelan jarak, aktivitas menggugah itu kembali terbayang oleh Andreas, serta untuk pertamakalinya Kara menciumnya.


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2