All About You (Semua Tentang Kamu)

All About You (Semua Tentang Kamu)
Teman Baru


__ADS_3

Senyuman terukir di bibir Karania dikala sorot hitam mata wanita itu menangkap sebuah objek di seberang sana. Lapangan, ya lapangan basketball. Gadis itu sdikit berlari menuju objek yang menjadi perhatiannya.


"Execuse me, sorry mengganggu!" ucap Karania ketika gadis itu sudah berada di tengah lapangan. Ia tak peduli orang sedang latihan atau apapun yang penting adalah keinginannya. Banyak penonton wanita yang bersorak kesal di kala Karania menerobos masuk lapangan, tapi 'No problem' pikirnya yag pasti dia sudah masuk.


"Ya, kami hanya latihan. Ada keperluan?" tanya salah satu lelaki anggota tim bassket itu. Lelaki itu mendekati Karania dan saat ini berdri berhadapan dengan wanita itu, yang membuat para wanita yang bertengger di luar lapangan riuh, tak rela pangeran mereka didekati, padahal kan cuman dekat biasa doang?


"Ah ya, apa aku bisa ikut bergabung bermain bersama kalian?" tawar Kara.


Lelaki itu mengerutkan keningnya. Ia menatap mata Karania lalu memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah.


"Kamu serius? Kamu perempuan," lirihnya yang terlihat seperti keheranan.


"Lelaki memang menyebalkan, selalu saja meremehkan kualitas wanita. Wanita tdak selalu tidak bisa, wanita juga bisa melakukan pekerjaan lelaki, hanya lelaki yang tak bisa seperti wanita!" celetuk Kara pelan, tapi ekspresinya terlihat kesal. Ia bersedekap sesekali mengibaskan helai rambut yang menjuntai di wajahnya.


"Siapa namamu?"


"Karania," jawab Kara dengan cuek, ia hanya melirik lelaki itu sekilas.


"Oke. Gue Daniel--kapten tim dan ya... Lo boleh ikut gabung!"


Karania menatap lelaki itu seraya tersenyum, Mungkin dengan sdikit olah raga dirinya bisa melupakan masalah, tapi tdak untuk rindunya pada Kevin, pikir Kara.


"Gaesss!" panggil Daniel pada teman-temannya yang sedari tadi masih latihan.


"Dia Karania, bakal ikut tim kita," ungkap Daniel saat teman-temannya menghampiri.


"Whattt? The Girl?" Pekik kompak mereka.


Karania memutar bola matanya jenggah menatap para lelaki itu. 'Aneh!' desis Kara di hati.


"Ya, tidak masalah bukan?" jelas Daniel.


"Bukan begitu, emh siapa tadi? Ah, ya Karania. Apa kau bisa bermain dengan baik?" tanya salah anggota tim Daniel.


"Pertanyaanmu seakan meremehkan kinerja wanita!" ketus Kara.


"Oke, lo bisa buktiin ke kita kalau memang jago!" tantang Hendry.


"Siapa takut!"


"Lo bisa ganti kostum di ruang sebelah sana," ujar Daniel menunjukkan arah tempat ya g ia maksud.


****


Permainan imbang, 1 lawan 5. Meski Karania hanya sendiri, tapi dia mampu menandingi skor dengan lawannya.


"Yeayyy, gue menang!" girang Kara.


"Gila! Lo cewek beneran atau jadi-jadian sih?" pekik Hendry yang kelelahan merebut bola dari Karania.


"He-eh, capek gue," tambah Daniel yang mengikuti Hendry duduk di tengah lapangan, sedang 3 anggota timnya terkapar di pojokan.


"Siapa suruh nantang!" ucap Karania cekikikan. "Makanya kalian para cowok jangan remehin kinerja wanita," lanjut Kara. Gadis itu juga ikut duduk bersebelhan dengan Daniel.


"Main lo gue acungin jempol. Kita yang sering tanding gini aja biasanya gak pernah tepar gini dan apalagi kalah lawan satu cewek. Benar-benar hebat!" puji Daniel, Kara hanya tersenyum menanggapinya.


"Hufft! Untung aja udah sepi penonton kalau enggak? Gue gak bisa bayangin pamor kita turun gegara kalah sama nih cewek," ucap Hendry pada Daniel, sekilas ia menatap Karania yang di samping Daniel. Gadis itu cekikikan dengan tampilan wajah dua lelaki itu.

__ADS_1


11:27 PM.


Lima remaja lelaki dan satu wanita itu masih betah berdiam di lapangan. Bedanya tadi mreka di tengah-tengah dan sekarang sudah berada di pinggiran lapangan. Mereka bergurau akrab. Biasalah Kara, ia paling minder jika berteman dengan gadis sebayanya, tapi jika lelaki? Jangan tanyakan lagi karena ia hnya punya teman lelaki dan otomatis kenal lelaki lebih membuatnya terasa enjoy. Sangking asyiknya, gadis itu melupakan jam belajarnya, 'Tidak perlu masuk' pikirnya, sedang para lelaki itu saat ini memang sedang free mereka mendapat izin dari kepala sekolah karena mereka latihan.


"Hufftt... Kalau gini tiap hari gue betah sekolah deh kayaknya," ucap Kara, sesekali ia meneguk soda yang dibeli Zein di kantin tadi untuk menghilangkan haus mereka.


"Ye mana bisa tiap harilah," sahut Zein yang sedang asyik mengunyah kacang.


"Lo asal dari mana? Gue baru liat lo!" sahut Martin yang ada di sebelah Zein, lelaki itu melirik Karania sekilas lalu kmbali fokus pada ponselnya.


"Pengen tau, gitu?" tanya Karania.


"He-Eh," jawab mereka secara bersamaan disertai dengan anggukan.


"New York," jawab Karania lalu ia kembali meneguk minuman soda yang ada di tangan kanannya.


"Wow jauh juga. Kok bisa pindah sini?" tanya Martin penasaran.


Kara tersedak soda ketika pertanyaan itu terlontar untuknya. Mau dijawab apa coba? Kalau kasih alasan yang sebenarnya pasti para cowok ini bakal minder temenan sama dia yang statusnya sudah jadi istri sah.


Karania menatap mereka satu per satu dengan cengiran aneh . Jujur ia bingung untuk merangkai alasan.


"Emmm... aku pindah karena, Ah Yeah. Aku pindah karena aku ikut saudaraku yang melanjutkan kuliahnya di sini. Jadi ya, aku ikut juga dipaksa orang tua," jawab Kara asal, meski ada kebohongan di ucapannya, tapi bukankah alasannya itu juga ada benarnya?


"Oh begitu." Martin lelaki yang selalu ingin tahu itu hanya mengangguk pertanda mengerti, sedang dua lelaki yang berada di samping kanan dan kiri Karania itu masih setia menatap satu objek, yaitu gadis tengah-tengah mereka. Karania hanya melirik keduanya sekilas tanpa menoleh.


"Ngapain lo berdua!" tegur Karania pada Hendry di kanannya dan Daniel di kirinya, tapi dua lelaki itu tak bergeming, mulai terbesit pikir jahilnya. Gadis itu tersenyum dengan tatpan lurus ke depan. 1.... 2... 3...


"Zombie dance!" pekik Karania keras dan sedikit menyenggol lengan kedua lelaki itu.


Seketika tawa Karania menggelegar, disertai dengan Haris dan Zein, Martin yang sdari tadi asyik dengan ponsel saja beralih objek menjadi tertawa terpingkal-pingkal dengan ekspresi kaget Hendry dan Daniel.


Karania tertawa keras sambil memegang perutnya, bagaimana tidak tertawa coba? Hendry dan Daniel yang kaget dengan pekikan keras Kara membuat mereka teriak histeris, menutup kuping mereka dan berlari loncat-loncat ke sana ke mari. Keduanya melakukan gerakan yang sama itu, membuat empat remaja itu semakin tertawa lepas. Seperti domba tak bertuan.


"Woooyyyy!" pekik Haris yang masih diselingi tawanya. Mendengar pekikan Haris membuat kduanya tersadar, mereka saling pandang lalu menatap satu objek yang sama.


Dilihat mereka empat remaja itu tertawa lepas sambil menunjuk-nunjuk mereka.


'Kenapa?' pertanyaan yang sama di benak keduanya


"Hahaha... Parah kalian berdua, kaget kok kayak para cewek lebay, Hahaha!" ucap Karania disela tawanya.


Seketika keduanya sadar jika hanya dijahili gadis itu.


"Karaniaaa!" pekik Daniel dan Hendry kesal.


"Hahahahaha!" tawa Kara. Ia berdiri lalu menirukan ekspresi Daniel dan Hendry yang kaget tadi. Berlari loncat-loncat tak jelas dan tutup telinga, Kara melakukannya diiringi dengan tawa.


******


"Pulang bareng gak? Sekalian tau rumah lo, mana tau kapan-kapan gue main ke rumah lo gitu," tawar Hendry pada Karania ketika diparkiran, Kara kikuk.


Sebenarnya pengen sih dianterin tuh cowok, tapi bagaimna nasib Andreas yang janjinya bakal jemput? Pikir Karania. Ralat, sejak kapan ia berpikir tentang lelaki itu?


"Mau nggak?" ulangnya, "tanpa dipungut biaya alias gratis! Lagian kan kita udah teman," lanjut Hendry kembali.


"Emmm Makasih, lain kali aja deh!" tolak Karania. Hendry mengangguk seraya tersenyum walau ia sedikit kecewa.

__ADS_1


"Atau bareng gue aja?" tawar Daniel kemudia.


Karania menggeleng lalu tersenyum.


"Thanks, gue bakal dijemput my brother!"


'Cih, ralat brother, yang ada tuh orang musuh terbesar gue,' pekik batinnya.


"Lo tinggal pilih ikut siapa di antara kita. Boncengan motor kita juga pada kosong semua. Lagian belum ada jemputan lo kan, dia kan lo bilang tadi kuliah, belum tentu bisa jemput lo kali," Sahut Zein, ia menunjuk deretan motor mereka yang terparkir berdampingan.


"He-Eh," sahut Haris sedang Martin cuma mengangguk singkat.


---


Andreas mengemudikan mobilnya ke arah sekolah Karania dengan sedikit kencang, untung saja jalanan tidak terlalu ramai. Ia menghentikan mobilnya mendadak setelah sudah bertengger di halte samping gerbang sekolah. 'Sepertinya belum terlambat' pikirnya.


Lelaki itu celingukan menatap keaarena sekolah sana dari dalam mobil, banyak siswa-siswi yang kluar dari gerbang itu dan juga ada yang duduk santai bermain ponsel di halte. 'Mungkin lagi nunggu jemputan,' pikir Andreas acuh.


"Dimana itu cewek?" gumam Andreas.


Mau masuk, tapi dia ingat persyaratan Kara tadi pagi dikala ia paksa untuk memakai seragam sepatutnya.


"Ok gue bakal nurutin mau lo buat ganti seragam, tapi dengan syarat... Lo gak boleh bilang sama siapun tentang status kita, ralat! Statusku yang pastinya karena gue gak sudi jadi istri lo, oke!"


Meski sakit, lelaki itu hnya bsa diam, dan mencoba berpikir positif. 'Mungkin dia akan berubah nanti dan menerima keberadaanku,' gumam Andreas di hati.


"Heh jangan bengong lo! Kedua, karena anter jemput gue Papa yang tugasin lo jadi ya, no problem gue terima nasib, tapi ingat! Lo gak boleh keluar mobil dan nemuin gue karena gue bisa masuk sendiri!"


"Tapi--"


"Kalau lo nolak, gampang! Gue juga gak masalah kok, tapi jangan harap gue mau pakai seragam sialan ini!" ketus Karania, gadis itu bersedekap memalingkan pandang dari Andreas.


"Oke Oke... Gue terima permintaan lo, tapi gue juga punya peraturan buat lo dan wajib lo patuhin!"


'Ada aturan kewajiban dan kewajiban pula buat dilanggar,' gumam batin Kara.


"Lo harus turutin nasihat gue dan gak ada PE-NO-LA-KAN titik gak pake koma! Pertama... lo gak boleh naik motor kalau gak ada izin dari gue, kalau perlu lo izin dari gue pake stempel jempol manis dari gue buat jidat lo. Kedua... Gue gak larang lo berteman dengan siapapun asal pada batasan, Ingat BA-TA-SAN. Ketiga, lo mau pergi kemana pun harus ada gue, titik gak pake koma!"


"Kalau gue gak mau nurut, rusuh lo apa?" ketus Karania.


"Gue bakal sita diri lo!" jawab Andreas tegas.


"Maksud lo?"ujar Kara geram dengan ancaman Andreas.


"Ya, lo artikan aja sendiri!"


Setelah itu Andreas keluar dari kamar, sedang Kara? Gadis itu mendengus kesal.


Andreas mengembuskan napasnya yang terasa jengkel pasca sorot matanya menatap sosok yang ia kenal masih berdiri betah di sana dengan beberapa pria. Sudah 15 menit Andreas menunggu gadis itu menghampirinya, tapi tak kunjung juga ia melihat batang hidungnya. Gadis yang ditunggunya itu malah duduk santai di motor, sesekali tertawa kelihatan lnya. Hendak ia hampiri, tapi ia mengingat janji yang membuatnya mengurungkan niat, padahal dirinya merasakan hawa panas meski di mobil AC berfungsi.


'Gadis itu!' geram Andreas.


Ia hendak memaki, tapi diurungkannya niat itu karena bagaimna pun ia harus tetap sabar dengan tingkh Karania, bukankah tujuannya untuk bisa membuat wanita itu berubah dan bisa menerimanya? Mungkin inilah ujian dari usahanya.


"Perlu kau tahu, aku mencintaimu, Karania Mauren Alexandria!" gumam Andreas menatap nanar pada gadis di sana.


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2