
Udara menyengat begitu dingin dikarenakan hujan mengguyur bumi. Pagi telah tiba, tapi matahari masih bersembunyi dicbalik pekat awan mendung.
06:55
Kara menggeliat di depan Andreas. Mengeratkan pelukannya agar terasa hangat, sebenarnya ia tahu sekarang jam berapa, tapi ia sengaja malas bangun dan malas sekolah, dengan otak licinnya ia sengaja 'Pura-Pura' tidur dan memeluk Andreas agar lelaki itu lupa dengan jam. Lagipula di luar cuaca begitu dingin, ada alasan tepat yang singgah di otaknya persiapan jawaban untuk pertanyaan Andreas nanti nanti. Kesiangan, itulah akal liciknya.
Kara semakin memeluk erat Andreas dikala lelaki itu menggeliat. Kaki kanannya bertengger manis di paha Andreas dan wajahnya ia telungkupkan di dada bidang lelakinya.
Sekarang, setelah baikan dengan Andreas, Kara tak segan-segan memakai pakaian trabsparan dan seksi. Seperti saat ini ia hanya menggunakan jeans sejengkal dari pinggul mungkin 2 jari dari area pribadinya lalu bra tanpa lengan berwarna cokelat. Perut datarnya ia biarkan terekspos sempurna, toh cuma Andreas yang melihatnya.
Faisal mulai terjaga dari tidur nya, Ia hendak beranjak duduk namun niat nya tak jadi krena ia merasa berat di tubuh nya. Ia tersenyum saat menatap roshni dgan nyamannya memeluk tubuh nya. Apakah ini awal kebaikan hubungannya? Entahlah, lelaki itu hnya bisa berharap gadis nya mampu bnar2 menerimanya.
Tangan Andreas membelai rambut panjang Kara dan tangan satunya lagi menyusup merangkul punggang Kara lebih erat. Kara menggeliat membuat pergesekan dibawah sana. Andreas memejamkan matanya karena naluri lelakinya aktif di pagi hari.
"Apa ini kebiasaan gadis ini saat tidur? Tidak bisakah ia berdiam saja, Oh my God!" rutuk Andreas di hati.
"Karania, bangun!" bisik Andreas.
"Hm... lima menit lagi," balas Kara yang kembali menggeliat membuat kaki itu kembali bergesek.
Sebenarnya ada kata sengaja di diri Kara krena jika Andreas mencumbunya kemungkinan besar sekolahnya FREE! Pintar bukan?
"Kau tidur atau tidak sih, Kara?" tanya Andreas.
Kara yang sedari tadi tersenyum di balik penderitaan Andreas dengan spontan menjawab, "Tidak!"
"Jadi kau hanya pura-pura tidur?"
Lagi-lagi Kara menjwab dengan tanpa sadar, iya manggut-manggut.
"Hooo begitu rupanya, ternyata kau hnya pura-pura ya?"
Seketika mata Kara membulat menyadari kesalahannya. Posisi yang berbalik membuat Kara gugup, Abdreas menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit dimengerti. Ibu jari Andreas menelusuri bibir Kara.
"Kara, apa kau benar-benar yakin dengan keputusanmu? Apa kau benar-benar ingin menerimaku?" lirih Andreas.
Kara mengalungkan tangannya di leher Andreas seraya tersenyum
"Apa kau melihat ada wajah bercanda saat aku mengatakannya?"
__ADS_1
Andreas menggeleng.
"Itu artinya aku serius... Kita jalani semuanya dari awal, meski tak semua tanggung jawab beban istri kulakukan, tapi aku akan menjalankannya sebagian. Aku akan melupakan Kevin, bersamamu aku pasti bisa!"
Airmata Andreas menetes jatuh tepat di pipi Kara.
"Jangan menangis, kau cengeng sekali," ucap Kara. Ia menghapus air mata Andreas dengan tangan mungilnya, lalu kembali mengalungkan tangannya di leher Andreas.
"Aku tak akan melupakan waktu ini, ini adalah hasil penantianku. Terimakasih, Kara!" Girang Andreas dengan segera ia memeluk gadisnya, menyusupkan kepalanya di lekukan leher Kara. Gadis itu hanya tersenyum.
Kulit tubuh itu bersentuhan, tak ada jarak sama sekali.
"Kara, kau tahu? Hal ini seakan membangkitkan kehidupanku," gumam Andreas yang seperti berbisik di telinga Kara.
"Memangnya kau selama ini mati, begitu? Itu artinya kau vampir dong," sahut Kara terkekeh.
"Bukan itu, sayang!"
"Lalu?"
Andreas lebih merapatkan tubuhnya dan paha gadis itu dijepitkannya di rekangannya. Seketika mata Kara membulat merasakan sesuatu, mungkin itu yang Andreas maksud, dengan susah payah Kara menelan salivanya.
"And--dreas.... A--apa itu?" gagap Kara.
"Ini juga salahmu yang menggodaku, kakimu itulah yang harus kau salahkan, sayang!"
Lagi-lagi Andreas memanggilnya sayang? Kara merasa melambung sekarang.
"A--aku--"
"Tidak perlu gugup! Bukankah kau sudah pernah membuka tubuhmu di hadapanku? Tapi hanya satu yang tidak, itu tidak masalah," ucap Andreas.
Tangannya mulai menelusup di belakang Kara, mencari kaitan bra cokelat Kara. Gadis itu hanya diam merasakan. Andreas melempar bra itu ke sembarang arah, sekarang ada keberanian di diri Andreas untuk meminta haknya meski hak yang paling berharga itu tak ia dapat mungkin belum saja.
"Kusarankan untukmu, jangan mendesah karena itu bisa membuatku lupa segalanya," bisik Andreas sebelum memulai cumbuannya.
Andreas sudah mulai memuja tubuh gadisnya, dengan susah payah Kara menahan desahannya dengan terus menggeliat, menggigit bibir bawahnya dan meremas punggung Andreas.
"Kau gila, Andreas! Aku tidak tahan!" pekik Kara yang terbata-bata. ******* lolos dari mulutnya membuat Andreas menggila.
__ADS_1
Andreas hendak menarik resleting jeans Kara, tapi tangannya dipegang oleh Kara membuatnya terhenti.
"Kau boleh menikmatinya, tapi jangan satukan dirimu, aku masih belum siap," lirih Kara.
Andreas tersenyum, lalu menarik lepas jeans Kara bahkan dalaman itu pun terlepas.
"Ini kali pertama aku melihat postur diri wanita, aku hanya akan melihat dirimu saja, kau orang yang pertama dan yang terakhir," gumam Andreas.
Kara memejamkan matanya, tangannya meraba apa saja yang mampu ia raih untuk ia remas sebagai pelampiasan rasanya. Tak mampu menolak, itulah kata yang tepat untuk saat ini.
Sentuhan lelakinya membuatnya benar-benar gila.
*****
Siang yang tidak terlalu berhawa panas, cuaca msih separuh mendung. Andreas meraih ponsel dan betapa terkejutnya ia karena ini sudah pukul 13:50.
"Oh my God!"
Andreas mengusap wajahnya, akhir-akhir ini ia selalu lupa waktu di dekat gadisnya. Buktinya ia kembali melupakan jadwal kuliahnya.
"Andreas!" lirih Kara di sampingnya, Andreas menoleh. Gadis itu memeluk Andreas dengan erat.
"Andreas, apa kau masih akan melirik wanita lain setelah memiliki aku? Bahkan kau sudah melihat tubuhku dengan puas," gumam Kara.
Andreas terkekeh , "Pertanyaan konyol kau dapatkan darimana itu hem?"
"Aku lihat di film-film itu. Laki-laki setelah dapat manis ia pergi," sedih Kara.
Andreas mendongakkan wajah Kara lalu menangkup wajah itu dengan kedua tangannya.
"Hei, dengar! Aku mencintaimu, Kara. Tidak terpikir sedikit pun untuk melirik yang lain. Jika aku ingin melirik yang lain maka sudah ku lakukan sejak lama dan tidak mungkin aku menerima pernikahan ini. Tubuhmu yang sudah kau eksposkan padaku tidak akan sia-sia. Aku akan menjaganya krena kau milikku, Kara!"
"Tepati kata-kata itu, jangan hanya diucapkan!"
"Tentu!"
Andreas memeluk Kara sesekali mengecup pucuk kepala gadisnya.
...Bersambung.......
__ADS_1