
Karania menggeliat ketika pagi menyapa. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya berusaha mencari kesadaran sempurna. Lalu ia menoleh ke samping, kosong. Tidak ada mahluk bernyawa di sampingnya padahal memorinya masih ingat betul tadi malam ada laki-laki di sampingnya, kenpa sekarang tidak ada? Bahkan dua guling masih bertengger di tengah-tengah kasur itu. Sekarang di samping ruang kasur Kara sudah rapi, selimut yang terlipat di atas bantal. Kemana orang itu? Ia tak mau ambil pusing, langsung saja dia beranjak dan menuju kamar mandi mengingat hari ini ia sudah mulai sekolah lagi. Tadi malam sepasang insan itu memang tidur satu ranjang, tapi dipisah oleh dua guling untuk penghalang batas kasur.
-flashback-
Andreas menggendong Kara sampai kamar, setelah mendudukkan gadis itu di atas kasur empuk. Andreas kembali keluar tanpa bicara dan kembali dengan membawa nampan berisi nasi serta lengkap dengan lauk pauknya.
"Nih makan setelah itu minum obat baru kau bisa tidur!" Andreas menyodorkan sepiring nasi pada Kara yang sandaran.
"Hah? Buat gue?"
"Emang mata lo liat ada makhluk lain didekat gue selain elo?"
"Enggak," jawab Kara disertai dengan gelengan kepala.
"Nah lo pinter, berarti ini buat lo. Cepat habiskan dan minum obat dinakas ini setelah itu tidur, besok kau sudah bersekolah di sini!"
"Besok?" ucap Kara sambil menyuap makanannya.
"Ya besok." Andreas berucap seraya beranjak dari duduknya.
"Huufftt baru aja bisa bebas dari sekolah dan harus sekolah lagi, sekolah gak tau apa gue bosen?" pekik Kara kesal, sangking kesalnya ia menyuap nasi dengan cepat.
Andreas yang seyup-sayup mendengar omelan kara itu hanya geleng-geleng kepala dan kembali menatap gadis itu sembari melanjutkan aktivitasnya yaitu membuka ikatan sepatu.
"Makan yang bener!" tegur Andreas.
"Berisik lo!"
Setelahnya hening beberapa menit. Kara menoleh ke arah soffa, tidak ada orang di sana, "Kemna tuh orang?" Pikir Kara.
Pintu kmar mandi terbuka dan Andreas keluar dari sana dengan setelan tidurnya. Rambut pria itu basah mungkin baru selesai mandi.
'Ck, sial!' pekik Kara di hati. Awalnya ia hendak membuang 2 pil obat yang disodorkan Andreas tadi, tapi keduluan kelihatan oleh lelaki itu.
"Ngapain lo" Andreas mendekati Kara yang hendak menuju balkon.
"Mau cari udara segar." Alasan Kara. Sebelah tangannya berada di balik tubuhnya. Kara merasa kepalanya masih puyeng jadi sesekali dia memijat pelipisnya.
"Yakin lo" tanya Kara yang seperti tak percaya.
"Yaiyalah, emang ngapain lagi coba?" Kara berusha bersikap santai padahal ia ingin sekali berbaring sekarang mengingat setiap yang ia pandang berasa berputar.
__ADS_1
Andreas melirik nampan di atas nakas. Piringnya kosong dan air putihnya hanya sisa sedikit dan juga obat, obatnya sudah tidak ada.
"Sudah minum obat lo?"
"Ah? Ya, emmm sudah lah!" bohog Kara ia menampakkan cengiran kebiasaannya.
"Tangan lo nempel di punggung ya?" ucap Andreas yang terlihat menahan tawanya karena ia tahu gadis itu berbohong karena takut akan obat.
"Ah, gak kok," gagap Kara.
"Tunjukin tangannya itu!" Kara mengulurkan tangan kirinya sambil tersenyum paksa, "bukan kiri, tapi kanan," tambah Andreas lagi.
Kara terlihat kesal, "Mau ngapain sih? Gue gak mau!"
Tanpa banyak bicara Andreas langsung berjalan lebih dekat pada Kara dan menarik tangan kanan gadis itu meski dapat omelan dari Kara ia tak peduli.
"Lo bilang tadi sudah minum obat, kan? Dan ini apa?" ucap Andreas setelah berhasil merebut sesuatu yang tersimpan di balik telapak tangan Kara tadi.
Kara nyengir kikuk karena ketahuan bohong sama seperti kelakuannya pada orang tuanya biasanya.
"Huwaaam!" Kara pura-pura menguap, " kayaknya gue ngantuk pengen tidur nih," elak Kara, ia segera menuju ranjang dan mengempaskan dirinya di kasur empuk itu. Membenamkan wajahnya di balik bantal.
Andreas geleng-geleng kepala dengan kelakuan Kara. Ia segera mengambil selimut dari dalam nakas di sebelah kanan ranjang setelah itu langsung mengempaskan tubuhnya pada kasur yang sama dengan Kara
"Ya tidurlah ngapain lagi?" ketus Andreas dengan mata terpejam.
"Lo tidurnya di kamar lain aja ngapa? Gue gak mau tidur berdua bareng lo yang ada entar lo---"
"Gue gak bakal macem-macam sama ratu galak kayak lo, dan ya aku malas tidur di sofa yg ada tubuhku remuk. Semua kamar digembok dan ini kamar satu-satynya yang dibuka jadi terpaksa kita harus 'SATU KAMAR'!"
"Kok bisa?" Karania duduk menghadap Andreas akibat rasa penasarannya.
"Tadi bokap lo nelpon dan dia bilang kalau kita harus satu kamar gak boleh pisah, gitu!"
"Terus?"
"Yaudah, bokap lo suruh orang gembok semua kamar dan menyisakan satu sebelum kita datang. Mau diapakan? Menurut saja!" jelas Andreas dengan masih memejamkan mata.
"Menyebalkan!" desis Kara kesal, ia melirik sekilas lelaki yang di sampingnya lalu kembali merebahkan tubuhnya.
"Lo ngapain?" tanya Karania ketika menoleh ke arah lelaki di sampingnya yang sedang menumpuk dua guling ditengah-tengah kasur.
__ADS_1
"Ini batas lo sama gue!"
"Hah?" cengang Karania kebingungan.
"Udah, gue capek mau tidur!" ketus Andreas kembali berbaring memejamkan matanya memunggungi Kara.
"Ck, dasar lelaki menyebalkan!" omel gadis itu sebelum kembali pada posisi awalnya.
Andreas sedikit tersenyum mendengarkan umpatan kesal gadis di sampingnya. Meski mata yang terpejam Andreas sebenarnya belum sepenuhnya tidur.
-** Of **-
***
Karania keluar dari kamar mandi sudah berseragam lengkap, seragam sekolah barunya. Handuk masih melilit rambutnya, ia bersenandung sesekali bersiul layaknya laki-laki. Kara bercermin di depan meja rias yang brukuran sedang, ia melepas gulungan handuk di kepalanya dan melemparnya ke sembarang arah.
"Kara, biasakan tidak sembarangan!" pekik Andreas yang hendak menuju lemari, tapi terhenti karena handuk yang dilempar Kara menutupi wajahnya membua lelaki itu tak sengaja menendang sofa.
Kara berbalik dan nyengir menunjukkan deretan gigi rapinya menampakkan jarinya yg berbentuk huruf V, sedang Andreas hanya diam, tak ada senyuman di bibirnya. Andreas acuh pada Karania dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda setelah menaruh handuk itu pada tempatnya dan itu membuat gadis itu sedikit kesal karena ia tak suka diacuhkan.
'Dia menyebalkan!' rutuk Kara di hati, ia menatap tajam ke arah Andreas yang sedang menyusun pakaian di lemari, tatapan Kara seakan menggambarkan 'Matilah kau'.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Aku tau aku ini memang tampan, tapi tidak perlu menatapku begitu juga, karena jika terlalu lama menatapku maka kau akan jatuh cinta padaku, merindukanku jika tidak bisa menatapku lagi," ucp Andreas tanpa menghentikan aktivitasnya. Ia sdikit tersenyum sesekali melirik Karania.
'Najis sekali jatuh cinta padanya' gerutu Karania di hati ia memutar bola matanya kesal.
"Tidak perlu mengumpat di hati, ucapanku akan terbukti nanti," sergah Andreas seakan tahu pkiran gadis itu.
"Diam kau!" pekik Kara ia langsung kembali menghadap cermin dan menyisir rambutnya.
***
Andreas mendekati Karania yang sudah siap berangkat, tas kulit berwarna cokelat berukuran sedang sudah bertengger di bahu kanannya. Andreas mengitari Kara memperhatikannya dari bawah sampai atas.
"Ngpain sih? pusing gue liat lo keliling gak jelas!" ujar Karania kesal.
"Lo sarap?"
"Bodo amat, dah gue mau berangkat!" Karania melongos menuju pintu utama.
"Tungggu!"
__ADS_1
...Bersambung.......