
Eembusan hangat napas Andreas semakin menderu di leher Kara, hal itu membuatnya semakin gugup setengah mati.
"Gue cuma mau ngambil rantai di leher lo!" bisik Andreas, deruan napas saat Andreas bicara di telinganya membuat gadis itu menggeliat geli.
Setelah mengatakan itu dan kalung di leher Karania sudah ia ambil lelaki itu segera berdri dan Kara pun kembali berusaha mengontrol dirinya.
"Lo apa-apaan sih? Mau ngambil kalung gue dengan cara gitu, bikin gue gugup aja! Opppssss!" Karania segera merutuki dirinya karena keceplosan ucapannya yang terakhir.
"Apa lo bilangg tadi?" selidik Andreas.
"Tidak ada!" ketus Karania, kali ini ia benar-benar gugup. Gadis itu segera berdiri. Ia sedkit memperbaiki pakaiannya dengan gaya khas cowok.
"Ganti pakaianmu sekarang!"
"Tidak mau!"
"Kara, jangan membantah!"
"Aku tidak mau, kau mengerti kata 'TIDAK MAU'? sudah berapa kali kukatakan aku tidak mau!" ujar gadis itu, ia bersedekap memalingkan sorot matanya dari tatapan dingin lelaki di hadalannya itu.
"Ganti atau---"
__ADS_1
"Atau apa?" tantang Karania sebelum Andreas selesai bicara, gadis itu kini menatap tajam mata Andreas.
"Atau aku yang akan menggantikannya!"
Ucapan Andreas membuat Karania kesal.
'Ancaman apa ini? Hukuman Papa benar-benar penyiksaan terbesar untukku, kenapa bisa Papa menikahkan gue sih?' batin Karania terus bergumam sedang mata indahnya menatap Andreas seakan menantang akan ucapan lelaki itu.
"Mana berani kau melakukannya!" ucap Kara dengan santainya. Gadis itu memutar-mutar ujung rambutnya seakan acuh.
"Kau yakin tak mau menuruti perkataanku? Kuberitahu padamu, apapun yang kukatakan maka akan kulakukan itu adalah prinsipku jadi cepatlah ganti pakaianmu sebelum aku yang bertindak!" tegas Andreas menatap penuh peringatan.
"TIDAK MAU!" pekik Karania kesal.
Andreas yang sudah terlanjur kesal langsung menarik Karania mendekat dengannya, tentu saja mendapat berontakan dari gadis itu, tapi lelaki itu menahan cekalannya. Ia mengangkat tubuh Karania dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Lo mau ngapain, turunin gue!" pekik Karania, ia memberontak, tapi Andreas tetap berjalan menapaki tangga.
"Sesuai ucapanku tadi," ujar Andreas singkat.
Mata Karania membelalak mendengar perkataan Andreas. Kepalanya terlintas pemikiran mesum tentang Andreas dimana lelaki itu membuka seluruh penutup di tubuh nya dan menampakan kepolosan lekukan tubuhnya dan sudah pasti lelaki itu tertarik, lelaki mana yang tidak tertarik jika sorot mata memandang hal itu?
__ADS_1
"Tidakkk!" teriak Karania ketika Andreas sudah mendudukkannya di sofa dalam kamar.
Teriakan Kara membuat Andreas mengernyit heran 'Kenapa denganĀ gadis ini?' pikir Andreas.
"Sarap?"
"Gue bisa ganti pakaian sendiri," seloroh Karania cepat. Ia langsung bergegas mencari seragam yang sempat ia kucilkan tadi setelah menemukan seragam itu Kara langsung berlari ke kamar mandi, sedang Andreas terkekeh geli dengan tingkah Karania. Lelaki itu pun memutuskan melangkah keluar dari kamar.
****
Awal sekolah di sekolah baru Kara fine fine saja, belum ada masalah yang dibuatnya karena ancaman Andreas saat di mobil tadi seakan membuatnya sdikit ciut.
10:05 Pm
Waktu istirahat Kara jengah berada di kelas, di sana menurutnya ada pemakaman hantu karena apa? Semua murid yang ada di kelas itu lebih banyak wanita sedang Karania paling tidak suka berteman dengan wanita karena itu menurutnya 'Sangat menjengkelkan' apa lagi wanita itu pasti cerewet bukan?
"La la la.. Swittt Swiittt"
Kara bersenandung sesekali bersiul, kepalanya manggut-manggut tak jelas pasca earphone masih menyumpal telinganya. Kaki gadis itu terus melangkah menyusuri koridor menuju kantin. Sorot matanya diedarkannya pada sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia tersenyum ketika sorotan hitam itu tertuju pada pemandangan di seberang sana.
...Bersambung.......
__ADS_1