
Andreas tahu gadis itu belum mengganti pakaiannya di balik selimut itu jadi ia mengambilkan piyama tidur untuk gadis itu agar sedikit leluasa bergerak. Andreas mengganti pakaiannya yang tadi sempat kotor, dengan kaos putih serta boxer abu-abu, setelah itu Andreas mendekati Kara, ia berjongkok sejajaran dengan diri gadisnya yang rebahan. Andreas tersenyum melihat wajah Kara yang tenggelam di balik bantal, dengan pelan Andreas menyentuh bahu gadis itu agar tidak terlalu mengganggu.
"Aku tahu kamu belum tidur, bangunlah dulu sebentar," ucapnya lembut.
Kara menoleh ke asal suara, didapatinya Andreas yang tersenyum ke arahnya.
"Ganti pakaianmu, jeans dan jaketmu itu tidak bermanfaat dibawa tidur," ucap Andreas lagi, ia menyerahkan piyama merah dari tangan kanannya.
Kara diam, ia bangkit menjadi posisi duduk dengan wajah yang masih terlihat kesal. Andreas juga ikut duduk di tepi kasur, tangan kanannya masih terulur untuk menyerahkan piyama itu pada gadisnya, tapi gadisnya tak bergeming, Kara hanya menatap piyama itu lalu menatap wajah Andreas.
"Pakailah, bukankah ini piyamamu biasanya? Apa aku salah ambil? Baiklah akan aku ganti."
Andreas hendak berlalu, tapi dengan cepat Kara memegangi tangan lelaki itu membuatnya kembali duduk, sorot mata itu kembali bertemu.
"Untuk apa menggunakan itu?" tanya Kara sambil menunjuk piyama di tangan Andreas dengan dagunya.
"Hei, tidurmu sedikit leluasa jika menggunakan ini daripada jaket dan jeans itu!"
Kara menatap lekat wajah Andreas. Jujur, ada pemikiran tersendiri yang singgah dibenaknya saat ini.
"Bisa kau pakaikan?"
__ADS_1
"Tentu," jawab Andreas tanpa sadar, seperkian detik ia kembali mencerna jawaban dari pertanyaan Karania.
"Pakaikan? What?" kaget Andreas.
Karania hanya diam tak bergeming.
"Ada apa? Bukankah biasanya kau memakainya sendiri? Aku---"
"Jika tidak mau maka biarkan saja aku tidur dan jangan ganggu aku. Besok aku TIDAK AKAN sekolah!" sahut Kara sebelum Andreas selesai mengucpkan kata penolakannya. Gadis itu segera merebahkan tubuhnya kembali dan kali ini ia membelakangi Andreas.
Andreas menghela napas jengah. Gadis itu bnar2 menguji kesabarannya.
Perlahan Andreas menyentuh bahu Kara," hei, tidurlah setelah berganti pakaian," bisiknya lirih.
"Kara, mengertilah! Bagaimana pun aku lelaki dan bagai mana bisa aku---"
"Bukankah sudah kukatakan, jika tidak mau maka JANGAN ganggu aku?" pekik Kara yang tiba-tiba bangkit dari baringannya, mata indahnya menatap Andreas yang ada di hadapannya. Penglihatannya terasa merabun, seperkian detik air bening itu membasahi pipinya yang tirus.
"Hei ada apa denganmu? Kenapa kau menangis? " Andreas segera menghapus air mata yang membasahi pipi tirus gadisnya.
Dua sejoli itu berpandangan lekat di jarak yang sangat dekat bahkan hidung lentik itu hampir tersentuh. Kara menggenggam tangan Andreas yang berada di pipinya.
__ADS_1
"Andreas!" lirih Karania sebelum ia memeluk tubuh Andreas. Lelaki itu mematung, mencerna apakah ini mimpi? Tapi ini nyata. Ada sedikit senyuman yang terpancar dari bibir Andreas. Ia mengelus kasih punggung Kara yang menangis didekapannya.
"Ada apa denganmu tiba-tiba menangis? Ada masalah?"
Karania terdiam dengan pertanyaan Andreas. Jika ia jujur lelaki itu pasti mengejeknya, gengsinya masih berkuasa. Ia melepas pelukannya
"A--aku... aku? Ehm... Rindu Papa-Mama. Ya, aku rindu mereka...."
"Yakin?"
Buru-buru Kara mengangguk.
"Ya sudahlah, jangan menangis. Paman Samuel akan kemari minggu depan jadi jangan kawatir!"
"Andreas, aku boleh menyuruhmu?"
Andreas tersenyum lalu mengangguk,
"Jika aku mampu maka akan kulakukan!"
"Temani aku tidur sekarang," ucap Karania seperti kebiasaannya yang merengek pada Papanya.
__ADS_1
"Bukankah aku memang menemanimu tidur, ada-ada saja. Nih piyamamu, aku keluar jadi kau bisa berganti sekarang."
...Bersambung.......