All About You (Semua Tentang Kamu)

All About You (Semua Tentang Kamu)
Bertahun-tahun?


__ADS_3

"Apa maksudmu bertahun-tahun, Andreas?" tanya Kara akhirnya.


"Semua orang pasti akann menertawakan kisah cintaku yang begitu tragis mencintai, tapi tak dicintai. Meski rasa sakit, marah, kesal, bosan itu berkecamuk di diri, tapi cinta membutakan segalanya. Mungkin orang yang kucintai tak pernah merasa dicintai meski aku berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Aku berusaha merubah semua yang membuat cinta ku ilfill padaku, tapi? Aku tak tahu hasil apa yang kudapat di akhir nanti. Kekecewaan sudah seperti santapan istimewa diriku, tapi jika kehancuran mungkin akan menjadi titik terakhir hidupku...."


"Kau kenapa, Andreas? Apa yang kau katakan? Mengakhiri hidup? Jangan coba-coba memperagakannya, aku tak ingin di introgasi sebagai tersangka!" ketus Kara seperti kebiasaannya, ia tak memahami nada serius dari ucapan Andreas.


"Bukankah jika diriku tak ada itu lebih membuatmu senang?"


Pertanyaan itu membuat Kara diam. Memang ia pernah merasa senang jika tak ada lelaki itu, tapi itu dulu. Dulu! Tidak untuk sekarang! Mata Karania berkaca-kaca hendak melepas bendungan air yang tertahan itu.

__ADS_1


"Apa yg kau katakan, Andreas?" Bibirnya bergetar seakan sulit untuk brkata, ia menangis tak bersuara, tapi lelaki itu tak menyadarinya karena mata yang terpejam rapat.


"Aku tau, Kara... Pernikahan ini mengekangmu, membuatmu jauh dari kebahagiaanmu. Aku memang egois untuk itu, status istri mungkin tak mampu kau pikul atau bahkan tak mau kau pikul!"


"Ya, aku merasakan itu, tapi itu dulu! Sungguh itu dulu!" ucap Karaniandibarengi dengan isakan tangis, entah mengapa hatinya terasa menjerit seakan menolak penuturan Andreas.


Andreas membuka matanya didapatinya Kara menangis, tangannya terulur menghapus air mata itu.


"Kau yang membuatku menangis, Andreas! Kata-katamu seakan-akan kau akan pergi jauh dariku," ucap Kara disela isakan tangisnya.

__ADS_1


"Jika aku mampu pergi mungkin sudah kulakukan sejak lama, Kara. Sejak lama!" lirih Andreas. Matanya berpaling dari Kara beralih pada langit-langit kamar itu.


"Setelah berbulan-bulan kita bersama dan selama itu pula aku berusaha untuk membuatmu menerimaku, tapi usaha itu seakan gagal. Diriku seakan sulit dianggap, namaku tak mampu terukir indah di hatimu, bayanganku sangat sulit terlintas dibenakmu. Hanya aku yg mencintai di sini, tapi tidak dengan cintaku!"


Karania hanya diam, sangat sulit bibirnya untuk berfungsi sekedar untuk sekedar berkata 'Aku mulai nyaman denganmu' empat kata yang berarti mendalam itu sangat sulit diucapkan.


"Andreas, A--aku...."


"Tak perlu mengatakan apapun, Kara! Aku tahu jawaban yang membuatku hancur itu akan keluar dari mulutmu. Kau masih menginginkan Kevin, bukan? Bahkan kau mencintainya," balas Andreas.

__ADS_1


Kini mata itu bertemu, kali ini Kara benar-benar kelu. Benar kata-kata Andreas, dirinya memang masih berharap Kevin, bahkan mencintainya tapi rasa nyaman itu berbeda. Meski ia mencintai Kevin, tapi perasaan di jiwanya tak senyaman ia bersama Andreas, bahkan akhir-qkhir ini ia terlupa akan Kevin. Kali ini Kara benar-benar tak mampu menjawab apapun meski di benaknya terbesit pertanyaan 'Bagaimana bisa lelaki itu tahu perasaannya?' Namun, pertanyaan itu hanya mampu terkurung di benaknya. Karena kehabisan kata, Kara memilih kembali membenamkan wajahnya di dada Andreas serta memainkan ujung dada lelaki itu. Hening. Keduanya hanyut pada pikiran masing-masing.


...Bersambung.......


__ADS_2