Ampun Pak!

Ampun Pak!
KESALAHAN YANG KESERINGAN


__ADS_3

Pria itu turun dan melihat pakaiannya yang berada di atas lantai. Kaki Devan menginjak sesuatu, saat dia melihat apa yang ada di bawah telapak kakinya, ternyata hanya tiga buah kancing baju berwarna merah.


Dia membungkuk dan mengambil kancing baju yang terpijak oleh kakinya, reflek tangan Devan memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut saat tubuhnya condong ke depan.


“Ssttts,” ringisnya.


Devan kembali menegakkan tubuhnya saat sudah memungut pakaian serta kancing itu, dia memperhatikan jika kancing ini bukanlah miliknya.


“Apa ini milik Fara? Apa aku melakukannya lagi?” gumam Devan sambil mengenggam kuat kancing yang ada di tangannya.


Pria itu mencoba mengingat, sekelebat bayang-bayang ketika dirinya menjadi bayi besar terlihat dan saat itu pula dia mengusap wajah dengan kasar. Dia tidak menyangka bisa melakukan hal itu, entah apa yang membuatnya begitu menyukai saat bibir dan lidahnya mengulum aset milik Fara seperti permen.


Devan segera memakai pakaiannya dan berniat untuk menemui Fara sekarang juga. Ini tidak bisa dibiarkan. Jika mereka terus melewati batasan maka tidak menutup kemungkinan sesuatu tumbuh di hati dan di rahim Fara.


Kaki Devan melangkah menuju kamar sang istri, dirinya masuk begitu saja ke kamar Fara tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Mata Devan tak dapat berkedip saat matanya langsung disambut dengan lekuk tubuh Fara yang hanya terbalut dengan handuk putih sebatas paha. Jakun miliknya naik turun melihat handuk yang tidak menutup dada Fara dengan sempurna. Dirinya jadi teringat saat bibirnya memainkan benda itu.


Sialan! Apa yang terjadi denganku. Batin Devan mengumpat.


Fara yang masih berdiri di dekat ranjang merasa terkejut akan kedatangan suaminya yang tiba-tiba. Sementara itu, Ainsley terfokus pada kedatangan daddy-nya. Gadis kecil itu berlari menuju Devan.


Pria langsung membawa Ainsley ke dalam gendongannya. Dia melihat banyak lukisan di atas dada Fara yang saat itu terlihat karena ikatan handuk yang tidak begitu ketat. Devan segera membawa putri kecilnya ke luar sebelum anak itu menyadari apa yang ada di tubuh mommy-nya.


Devan membawa putrinya ke lantai bawah dan meletakkan putri kecilnya ke atas kursi meja makan.


“Bik, sajikan bubur untuk Ley. Saya dan Fara akan menyusul nanti,” ucap Devan pada bik Sani.


“Baik, Tuan.” Bik Sani menjawab dengan diiringi anggukan kepala.


Pria itu kembali naik ke lantai atas. Ainsley berniat menyusul daddy dan mommy-nya. Akan tetapi, gadis kecil itu mengurungkan niatnya karena dia ingin sang mommy dan sang daddy dekat seperti yang dirinya lihat dari keluarga teman-temannya yang datang saat mendatangi acara sekolah.


Kala itu kedua orang tua temannya datang dengan senyuman di wajah mereka dan berjalan saling merangkul. Ainsley tidak pernah melihat itu dari daddy dan mommy-nya.

__ADS_1


Sebuah ide muncul di kepala gadis kecil yang cerdik itu, dia terkiki pelan dengan menutup mulutnya menggunakan satu tangan.


“Nona Ley kenapa tertawa?” tanya bik Sani dengan tersenyum sebab melihat tingkah lucuh anak tuannya.


“Ley punya misi besar. Tapi, ini rahasia. Jadi … bibik jangan marah ya kalau Ley tidak beri tahu. Hi-hi-hi.”


Kepala bik Sani menggeleng kecil, anak tuannya sungguh menggemaskan dan juga cantik.


Di sisi lain, Devan sudah masuk kembali ke dalam kamar Fara. Namun, berbeda dengan sebelumnya, kini Fara sudah memakai pakaian yang lengkap. Devan berdeham sembari berjalan mendekati sang istri.


“Dasar ceroboh,” ucap Devan, dia mengatai Fara dengan mata yang menatap tajam si wanita.


“Ha?” Wajah Fara melengos.


Dirinya heran dengan kedatangan Devan yang langsung mengatai dirinya ceroboh, entah apa yang ada di pikiran pria itu yang datang-datang malah membuat kesal. Fara berkacak pinggang seraya memiringkan kepala.


“Bapak masih di bawah pengaruh alkohol ya?” tanya Fara.


Kletak!


“Saya seratus persen sadar!” jawab Devan dengan suara terdengar tegas.


Fara memajukan bibirnya seraya menyipitkan mata, sungguh ingin sekali dirinya membalas perbuatan sang suami. Namun, dia tidak berani melakukan hal yang sama ke pada Devan.


“Semalam hal itu terjadi lagi, benar?” Devan bertanya dengan mimik wajah berubah datar.


Kepala Fara menoleh ke arah lain, lalu dia menjawab pertanyaan dari suaminya dengan menganggukkan kepala. Fara dapat mendengar helaan napas yang ke luar dari mulut pria berumur 36 tahun itu saat setelah dirinya menganggukkan kepala.


“Ini sudah melewati batas,” kata Devan. “Tatap saya ketika saya sedang bicara, itu sangat tidak sopan!” tegur Devan saat Fara masih menatap ke arah lain.


Dengan terpaksa Fara menolehkan kepala dan menatap lekat wajah pria di depannya.


“Terus, bapak mau menyalahkan saya? Iya? Kalau begitu anggap saja ini sebuah kesalahan yang keseringan,” balas Fara dengan menatap sengit wajah suaminya.

__ADS_1


Wajah Devan berubah kaku, rahang pria itu mengeras. Devan memilih kembali menarik napas panjang agar dirinya tetap dalam emosi yang stabil.


“Bagaimana jika hal itu membuatmu hamil?!” tanya Devan dengan sorot mata tajam.


Tangan Fara reflek menyentuh perutnya sendiri, dia jadi teringat jika semalam dia bermimpi bertemu wanita cantik yang mengelus perutnya.


Cinta akan membuat kalian bahagia.


Kata-kata dari wanita bergaun putih semalam kembali terdengar di telinga Fara, hal itu membuatnya tersentak dan melepaskan tangan dari perutnya.


“Kalaupun saya hamil, anak itu akan menjadi milik saya, saya bisa membesarkannya sendiri,” jawab Fara ketus.


“Dan membawanya dalam perutmu sambil bekerja, begitu?” Sambung Devan dengan seringai di bibirnya.


Tangan Fara mengepal kuat, dia merasa tak suka saat Devan mengucapkan hal yang merupakan fakta jika hal yang masih menjadi ‘kalau’ itu terjadi.


“Dengar baik-baik. Jika sampai kau hamil dari bagian milikku. Maka anak itu akan menjadi milikku!”


Fara menggelengkan kepala, dia merasa tidak terima atas apa yang diucapkan oleh suaminya.


“Apa bapak tega memisahkan seorang anak dari ibunya?”


“Saya tidak mengatakan hal itu. Artinya kau juga akan selamanya berada di sisi saya. Maka dari itu berhati-hatilah. Jangan sampai benihku tumbuh di rahimmu,” ujar Devan memperingati Fara.


Pria itu  melenggang pergi meninggalkan Fara yang masih terpaku akan apa yang diucapkannya barusan.


Fara memegangi perutnya sambil menggelengkan kepala dengan kuat. Dia meyakinkan diri jika dirinya tidak akan mungkin hamil hanya karena sudah melakukan hubungan badan dengan suaminya sebanyak dua kali.


Tidak mungkin kan aku hamil, pak Devan menyentuhku hanya dua kali, ucap Fara dalam hati.


Sekelebat pikiran melintas di kepala Fara. Sebuah pikiran yang mengatakan jika sampai apa yang diucapkan Devan terjadi, maka dirinya dan Ainsley akan tetap bersama. Tapi … bagaimana dia bisa bertahan dengan rumah tangga tanpa adanya cinta?


 

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2