
Keadaan Fara sudah lebih baik, setelah dua hari dirawat wanita itu sudah diperbolehkan pulang dengan catatan harus istirahat total dan tidak boleh melakukan pekerjaan berat.
Saat ini Devan sedang mengendarai mobilnya, dia membawa sang istri pulang. Fara yang duduk di kursi depan bersama Devan merasa jengah karena saat ini mobil yang dikendari oleh pria itu berjalan super lambat, jika dipikir-pikir lebih cepat orang yang sedang berlari dibandingkan dengan laju mereka saat ini.
Kepala Fara menoleh ke arah jendela mobil, dia memperhatikan pejalan kaki yang bisa dia perhatikan dengan lama, yang artinya mereka benar-benar sangat lambat!
Tatapan Fara beralih pada suaminya yang terlihat begitu serius saat menyetir. Wanita itu menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang terlalu berlebihan.
“Pak apa tidak bisa ditambah kecepatannya,” protes Fara.
Tanpa menolehkan kepala Devan menjawab, “ini demi keselamatan anak saya!”
Mulut Fara menganga lebar, anak saya? Tidak! Lagi-lagi Devan mengatakan hal yang membuatnya jengkel.
“Anak saya juga!” tegas Fara penuh penekanan.
Devan diam, dia tidak membalas ucapan istrinya dan memilih fokus menyetir. Perjalanan terasa begitu panjang dan membosankan. Fara sampai tertidur karena perjalanan pulang terasa begitu lama.
Mata Devan sedikit melirik ke arah istrinya yang tertidur, dengan tatapan fokus ke depan, tangan Devan mengusap perut Fara.
Mengusap perut Fara seperti hobi baru baginya, ada getaran halus yang menjalar ke hatinya saat tangan itu menyentuh perut sang istri.
Hampir satu jam lamanya, akhirnya mobil Devan memasuki kawasan rumahnya. Seorang satpam membukakan pintu gerbang saat melihat kedatangan tuannya.
Fara yang masih tertidur tidak dibangunkan oleh Devan. Pria itu turun dari mobil begitu mobilnya sudah terparkir dengan sempurna. Perlahan dia membuka pintu mobil yang satunya, lalu menggendong tubuh Fara ala bridal style.
Cahaya dari langit yang begitu silau membuat Fara terganggu, mata indah wanita itu mengerjap pelan, dengan mata menyipit dia melihat wajah sang suami yang tengah mengangkat tubuhnya.
Tampan, satu kata yang mewakili apa yang dirinya lihat saat ini. Devan menundukkan kepala sejenak saat menyadari jika Fara sudah terbangun dan sedang memperhatikannya.
Merasa terciduk, Fara menjadi merona. Dia menyembunyikan wajah di dada bidang sang suami seraya memeluk tubuh yang tegap itu dengan sangat erat.
Kepala Devan menggeleng pelan, dia membawa istrinya masuk dan terdengarlah suara Ainsley yang berteriak girang memanggil mommy-nya.
“Mommy!” Ainsley berlari ke arah Devan dan Fara.
Pria berumur 36 tahun itu menurunkan tubuh Fara ke atas sofa ruang utama dengan perlahan dan penuh kehati-hatian.
Mata Ainsley terlihat berkaca-kaca, gadis kecil itu begitu merindukan mommy-nya.
__ADS_1
“Mommy kangen sama Ley.” Fara memeluk tubuh sang anak dengan erat.
Saat Fara ingin mengangkat tubuh Ainsley ke atas pangkuannya, Devan langsung mengentikan gerakannya.
“Biar saya saja! Jangan melakukan aktivitas berat!” Devan memperingati.
Pria itu segera mengangkat tubuh Ainsley ke atas pangkuannya. Gadis kecil itu mendengakkan kepala seraya bertanya kenapa dirinya tidak boleh naik ke atas pangkuan sang mommy pada Devan.
Devan mengusap kepala putrinya. “Daddy bawa mommy ke kamar terlebih dahulu ya,” ucap Devan terdengar lembut.
Fara terlihat begitu khawatir, dia takut Ainsley belum siap memiliki seorang adik. Dia belum menyiapkan diri untuk menjelaskan kondisinya sekarang pada sang anak.
Ainsley tersenyum senang saat melihat daddy-nya menggendong sang mommy. Sementara Fara, dia merasa begitu berdebar. Aroma yang menyeruak dari tubuh Devan membuatnya merasa begitu nyaman.
“Bik, tolong antar Ley ke kamar saya,” ucap Devan pada bik Ayu saat dia akan menaiki tangga.
“Siap, Tuan!” sahut bik Ayu.
Asisten rumah tangga itu mesem-mesem sendiri melihat keromantisan tuannya saat menggendong Fara.
“Aduh jadi pengen punya suami lagi.” Bik Ayu gigit jari.
“Pak,” panggil Fara.
“Mulai sekarang tidur di kamar saya, ini berlaku selamanya!” tutur Devan dengan tegas.
Fara melongo dengan mulut terbuka lebar, apa dirinya sedang bermimpi? Apakah yang berada di dekatnya sekarang ini adalah Devan jadi-jadian?
Kepala Fara jadi pusing memikirkannya, dia memilih untuk mengabaikan keheranannya dan berusaha menikmati saja atas jalan hidup yang sudah digariskan Tuhan untuk dirinya.
Tubuh Fara direbahkan begitu hati-hati oleh Devan. Jika diperlakukan seperti ini setiap hari, bisa-bisa hati Fara melebur dan membentuk sebuah nama yaitu Devan. Ternyata begini rasanya diperlakukan dengan lembut oleh pria dingin.
Tidak berselang lama, Ainsley muncul dari balik pintu. Gadis kecil itu menghampiri kedua orang tuanya dengan melompat-lompat seperti kelinci.
“Sayang hati-hati,” ucap Fara yang merasa khawatir.
Devan yang parnoan menangkap tubuh Ainsley saat gadis kecil itu hendak melompat ke atas tempat tidur.
“Mulai sekarang Ley harus berhati-hati ya, sementara waktu pangku dan gendongnya sama Daddy saja ya, Sayang.” Devan mengecup pipi kanan sang anak.
__ADS_1
“Kenapa, Dad?” Ainsley yang duduk di pangkuan daddy-nya merubah posisi menjadi miring agara bisa melihat wajah daddy-nya.
Devan menarik napas sebelum menjawab pertanyaan dari putri kecilnya. Sementara itu, Fara menatap dengan cemas. Dia takut melihat bagaimana reaksi Ainsley.
“Di perut mommy ada dedek bayi, di sini ada adiknya Ley.” Devan menjelaskan seraya membawa tangan putrinya ke atas perut Fara.
Fara mengulas senyumnya saat Ainsley membelalakkan mata sambil menatap serius ke arah perutnya.
“Adik?” tanya Ainsley.
“Iya, Sayang,” sahut Devan.
Mata gadis kecil itu berembun, mulutnya terbuka hendak menangis. Namun, Fara dengan sigap menggapai tubuh anaknya untuk dia peluk.
“Ley tidak suka ada adik?” tanya Fara seraya mengusap kepala sang anak berulang kali.
Bahu Ainsley bergetar dan naik turun yang menandakan gadis kecil itu sedang menangis. Devan turut mengusap punggung sang anak.
Apa cara menyampaikannya salah ya? Pikir Devan.
“Apa mommy akan sayang adik saja, terus Ley huaa … Ley dibuang.” Ainsley menangis dalam pelukan Fara.
Fara mengurai pelukannya, dia menangkup wajah sang anak. “Mommy sangat menyangi Ley, mana mungkin Mommy membuang Ley. Bisa-bisa Mommy menangis setiap hari kalau tidak ada Ley,” tutur Fara.
“Yakan daddy?” Fara melirik ke arah suaminya.
Devan menganggukkan kepala. Namun, Fara merasa tidak puas dan memelototi dirinya.
Dia sudah berani membesarkan matanya padaku. Batin Devan.
“Daddy dan mommy sangat menyangi Ley, kehadiran adik tidak akan membuat Daddy dan mommy mengurangi rasa sayang ke pada Ley,” jelas Devan.
Fara tersenyum seraya mengangguk. Ainsley mengusap air mata yang mengalir di pipinya dengan lengan.
“Benar?” tanya Ainsley dengan mata yang basah bekas air mata.
Pasangan suami istri itu mengangguk dengan serentak yang membuat senyum Ainsley kembali terbit.
Bersambung ….
__ADS_1
Over protektif amyattt pak, kemarin-kemarin tidak mau Fara hamil. Nah! Sekarang kok anu ya? Ada yang sepemikiran sama othor?