
Jantung Devan berdegub dengan sangat kencang, dia tidak tahu kenapa. Tapi, yang pasti seperti ada kembang api yang meletup di hatinya.
Eh! Apa pria itu suka mendengar Fara mengucapkan 'mau itu' seraya menunjuk senjata yang memiliki kekuatan super luar binasa?
Fara mengerjapkan matanya berulang kali, wanita itu merasa heran dengan sang suami yang tampak terdiam sambil memegangi burung hantu.
"Pak, pak." Fara menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri di depan wajah suaminya.
Sontak tubuh Devan tersentak dan tersadar dari lamunannya, dengan jantung yang masih bertalu-talu karena keinginan Fara membuat Devan mulai berpikir yang iya-iya.
"Mau itu!" Jari Fara kembali menunjuk.
"I-iya sebentar," sahut Devan tergagap.
Devan berdiri dengan berdeham untuk menyembunyikan rasa yang aneh pada dirinya.
Saat pria itu hendak menurunkan pinggang celananya, Fara segera menghentikan gerakkan itu.
"Bapak mau apa?" pekik Fara.
Devan mengernyitkan alisnya. "Bukannya kamu yang mau?"
Fara menggelengkan kepala karena yang dirinya mau adalah segelas air yang ada di atas nakas—di belakang Devan. Hal itu membuat Devan menjadi malu, dengan wajah memerah Devan membalik badannya.
Sialan!!! Ini sangat memalukan! Umpat Devan dalam hati.
Pria itu hendak melangkah pergi. Namun, Fara lebih dulu menghentikan dan membuat Devan kembali membalik badannya.
"Jangan pergi ...," ucap Fara dengan wajah yang terlihat imut.
Devan merasa enggan, lagi pula siapa yang masih mau menunjukkan wajah setelah kejadian memalukan itu baru saja terjadi.
Pria dengan wajah datar semerah tomat itu tetap saja melanjutkan langkahnya. Namun, lagi-lagi Fara memanggilnya, kali ini tanpa embel-embel 'pak'.
"Devan!" panggil Fara.
Sejujurnya Fara takut memanggil mantan bosnya dengan nama saja. Tapi, entah kenapa mulutnya susah sekali untuk direm.
Devan menghela napas panjang dan membiarkan Fara terus memanggilnya.
"Huh ya sudah sana." Fara mendengus sebal.
Fara hendak turun dari tempat tidurnya, hal itu membuat Devan yang sedikit lagi hendak menekan handle pintu menjadi urung dan segera berjalan dengan cepat ke tempat istrinya berada.
"Mau ke mana? Tetap di sana!" Devan memperingati Fara yang hendak melangkah maju.
__ADS_1
Fara terkejut, reflek kakinya berhenti.
Saat Devan sudah berada di hadapan Fara, Devan langsung mengangkat tubuh Fara dan merebahkannya kembali di atas tempat tidur.
Fara diam mematung dengan mata berkedip-kedip. Apa yang baru saja terjadi sangat di luar dugaannya.
Muncul lagi posesifnya, hadeuh ... padahal aku hanya ingin mandi. Keluh Fara dalam hati.
"Tetaplah di sini, jangan banyak bergerak dulu!" Devan menasehati Fara dengan sorot matanya yang tajam.
Pelupuk mata Fara terasa panas, dia merasa Devan sedang memarahinya.
Devan yang melihat mata istrinya berkaca-kaca menjadi heran. Apa dirinya terlalu keras? Pikir Devan.
"Maaf," ucap Devan seraya menutupi tubuh istrinya dengan menggunakan selimut tebal.
Lengan Fara bergerak menghapus air matanya yang luruh berjatuhan sambil memperhatikan wajah Devan yang tampak khawatir.
"Mau apa dan ke mana? Biar saya yang lakukan," kata Devan saat tangisan istrinya sudah berhenti.
Fara yang tidak ingin membuat Devan merasa malu seperti tadi, akhirnya mengatakan keinginan yang sebenarnya hanya kesalahpahaman Devan dalam menangkap sinyalnya.
"Sebenarnya tadi mau ini," ucap Fara seraya menyentuh burung hantu Devan dengan jari telunjuknya.
"Tapi, karena tiba-tiba tidak mau, ya jadinya geleng-geleng kepala." Lanjut Fara dengan berbohong.
Glek!
Tenggorokan Devan jadi tercekat, ditambah jari telunjuk Fara yang menekan senjata miliknya seperti sedang menekan tombol pada remot TV.
"J-jadi sekarang mau apa?" tanya Devan dengan napas memburu.
"Mau mandi," sahut Fara.
Kepala Devan mengangguk paham, dan beberapa detik kemudian Fara merasakan tubuhnya melayang karena saat ini Devan tengah mengangkat tubuhnya ala bridal style.
Spontan Fara mengalungkan tangannya di leher sang suami.
Perlakuan Devan berhasil membuat jantung Fara berdetak tak karuan, debaran aneh menyelusupi keduanya. Tatapan Fara terus tertuju pada wajah Devan yang fokus membawanya ke kamar mandi.
Saat ini Fara tidak mampu membuka mulutnya, dia begitu syok dengan apa yang tengah terjadu saat ini.
Devan yang membukakan baju dan seluruh bagian lainnya sehingga tubuh mulus miliknya terekspos dengan sempurna.
Dengan begitu telaten Devan menurunkan tubuh Fara ke dalam bathtub yang sudah terisi dengan air.
__ADS_1
Glek!
Berulang kali Devan meneguk ludahnya dengan kasar, bagaimana tidak? Saat ini tubuh Fara sangat menggoda di matanya. Sebagai pria yang seratus persen normal tentu saja dirinya sangat tergoda.
"Pak saya bisa sendiri," ucap Fara dengan suara yang mencicit seperti tikus.
Devan yang hendak menggosok punggung sang istri tidak memperdulikan ucapan itu, dan tetap melakukan hal yang sebenarnya menyiksa dirinya.
Mata Fara terpejam kuat dengan kulit yang meremang menahan geli akibat dari sentuhan tangang Devan.
"P-pak ... saya bisa sendiri," ucap Fara sekali lagi.
Devan menghentikan gerakan tangannya yang sedang menggosok punggung Fara, lalu berdiri dengan badan yang tegak.
Spontan Fara mendengak melihat Devan, tatapan mata Fara jatuh pada burung hantu Devan yang masih terbungkus rapi oleh celana yang dikenakan pria itu.
"I-itu!" Tangan Fara menunjuk ke arah aset Devan yang terlihat membesar dari balik celana.
"Abaikan saja, jangan berkomentar lagi. Si baby bisa masuk angin jika kau terlalu lama di kamar mandi," ucap Devan dengan wajahnya yang terlihat kaku.
Tangan Fara reflek memegang perutnya sendiri, dia berpikir apa bisa buah hatinya masuk angin karena dirinya menghabiskan waktu yang cukup lama di kamar mandi?
Acara mandi berjalan dengan lancar. Ya, walaupun diiringi dengan suara Fara yang syahdu saat tanpa sengaja atau tidak tangan Devan salah jalur dan menyerempet bulatan padat milik Fara.
***
Saat ini keluarga kecil itu tengah menonton televisi bersama di kamar Devan.
"Mommy masuk TV!" pekik Ainsley dengan heboh.
Fara tidak kalah terkejutnya dengan sang anak, betapa kagetnya dia saat namanya tersanding dengan nama Devan dalam berita yang mengatakannya sebagai istri dari pemilik perusahaan media terkemuka di dunia.
Sontak kepala Fara menoleh ke arah Devan yang juga duduk di sampingnya.
Devan yang sudah tahu dari Jhon jika berita tentang dirinya dan Fara akan ditayangkan terlihat biasa saja karena dirinya sudah terkejut lebih dahulu.
"P-pak, itu ...."
"Ya, saya tahu. Ini akan jadi selamanya!" sahut Devan memotong ucapan Fara dengan suara yang tegas.
"Selamanya?" kata Fara dengan mulut menganga.
"Jadi ibu dari Ainsley dan si baby selamanya, dan gelarmu sebagai istri saya adalah permanen!" ucap Devan.
Bersambung ....
__ADS_1
Hai zeyeng-zeyengku, masih pada ingat gak nih sama pasangan pak Devan dan Fara?
Ada yang kangen othor? Eh, maksudnya Devan dan Fara 🙊