
Jantung Devan bertalu-talu, dia ingin mengurungkan niatnya. Namun, bayang-bayang bulatan padat sang istri terus menghantuinya satu harian ini. Tidak! Dia tidak akan mundur. Bisa gila dirinya jika sampai gagal.
Tubuh Devan merangkak ke atas tempat tidur dengan perlahan, dia mengacak rambutnya sebelum menjalankan aksi yang sudah di pikirkannya sedari siang.
Perlahan tapi pasti tangan Devan menarik baju tidur Fara hingga berada di atas dada.
Tenggorokan Devan terasa tercekat saat tahu jika Fara tidak mengenakan kacamata penutup pada bulatan padatnya.
Pria itu menundukkan kepalanya di depan dada sang istri, kedua sikunya dia jadikan sebagai penyanggah agar tidak menimpah tubuh wanita yang masih terlelap itu.
Mulut Devan mulai terbuka, dia segera mengulum aset istrinya dengan perasaan yang tidak menentu.
Sapuan hangat dari lidah Devan mengusik tidur Fara. Mata wanita itu mengerjap pelan, dan betapa kagetnya Fara saat mendapati sang suami sedang menjelma menjadi bayi besar.
Jantung Devan berdetak sangat cepat, dia berharap rencananya tidak gagal.
“Um bau alkohol, pasti pak Devan mabuk lagi.” Fara mengendus-ngendus bau yang menusuk hidungnya.
Syukurlah. Batin Devan, dia dapat bernapas dengan lega.
Fara menggeliatkan tubuhnya saat Devan memainkan miliknya dengan rakus. Wanita itu mendorong kepala Devan untuk menjauh.
“His ini mabuk kok bisa nyasarnya ke kamarku, pakai acara minum susu kosong cap pabrikku lagi!” Fara mendengus dan melenguh disaat yang bersamaan.
Tangan Fara mengangkat wajah Devan dari dadanya, tanpa sengaja Devan membuka sedikit matanya saat Fara sedang menatapnya dengan intens.
Pria itu langsung menutup matanya dan berpura-pura oleng, milik Fara yang berada dalam mulutnya kembali ia manjakan sampai-sampai tangan Fara melepas pegangan pada wajahnya dan beralih mere-mas kedua sisi seprai.
Shitt! Aku hampir ketahuan. Umpat Devan dalam hati.
Malam semakin larut, Fara merasakan kantuk yang luar biasa. Dia merasa tubuhnya sudah lemas dan berakhir kembali terlelap dan membiarkan Devan yang sedang bersimulasi menjadi bayi besar yang tidak ingat umur.
Sebelah mata Devan terbuka sedikit untuk mengintip, dia bernapas lega saat tahu jika sang istri benar-benar sudah tertidur.
Betapa ajaibnya, lidah Devan tidak lagi terasa pahit setelah mengulum bagian dari bulatan padat milik Fara. Walau indera perasanya sudah kembali normal, dia tetap tidak melepaskan milik Fara dari mulutnya.
Sampai rasa kantuk juga menjemput dan menarik dirinya ke dalam alam mimpi. Devan tertidur dengan mulut yang masih betah bertengger di bagian bulatan padat milik istrinya.
__ADS_1
Satu tangan pria itu berada di bulatan padat yang menganggur.
Devan terlihat damai dalam tidurnya, tidak seperti semalam saat dirinya terus bermimpi buruk.
Kali ini dia dapat tidur dengan nyenyak ditambah ada sesuatu yang hangat dan kenyal menyumpal mulutnya sepanjang malam.
Pasangan suami istri itu terlihat sangat pulas dalam tidurnya, sampai pagi menyapa dan sebuah suara membangunkan Fara. Tapi, tidak dengan Devan yang masih anteng tidur sambil menggulum aset istrinya.
“Mommy,” panggil Ainsley dari luar kamar.
Fara membelalakan matanya, dia ingat jika pintu kamarnya tidak dikunci. Bisa gawat jika Ainsley melihat daddy-nya sedang menyusu seperti ini. Fara merasa panik ditambah Devan yang masih asik tidur.
Tidak ada pilihan lain, Fara langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya dan juga tubuh Devan saat mendengar handle pintu ditekan.
“Mom,” panggil gadis kecil berusia lima tahun itu dengan suara yang semakin terdengar dekat.
Fara merasa panik, dia menarik dadanya dari mulut Devan dan membuat pria itu terbangun. Fara menahan kepala sang suami saat Devan terlihat ingin bangkit yang membuat wajah pria itu menempel di bulatan padat miliknya.
“Ada Ley, nanti selimutnya melorot, saya turunkan baju dulu,” ucap Fara dengan berbisik.
Devan berubah diam dan menurut, dia sedikit mengangkat kepalanya saat Fara sedang menurunkan baju yang semalam ia naikkan hingga ke atas.
“Selamat pagi, Sayang,” sapa Fara.
“Ada daddy. Daddy bobok sama mommy ya?” Jari telunjuk Ainsley menunjuk Devan yang sedang berpura-pura tidur dengan posisi tiarap.
“Iya Ley. Daddy takut tidur sendiri tadi malam, jadi Mommy temenin deh,” jawab Fara dengan mengarang.
“Daddy cemen, kalah sama Ley. Ley pemberani. Ya kan, Mom?” Ainsley memeluk pinggang mommy-nya seraya tersenyum.
“Iya, Sayang. Daddy cemen banget yah hi-h-hi.”
Kedua wanita berbeda usia itu cekikikan. Berbeda dengan Devan merasa kesal saat Fara ikut menimpali ucapan putri kecilnya.
“Kita mandi dulu yuk Ley, biarkan daddy istirahat beberapa menit lagi,” ajak Fara.
Gadis kecil itu mengangguk setuju dengan ajakan sang mommy. Keduanya ke luar meninggalkan Devan yang tengah berpura-pura tidur.
__ADS_1
Saat istri dan anaknya sudah pergi, Devan langsung mengubah posisi tiarabnya menjadi duduk.
Tangan Devan reflek menyentuh bibirnya, mulutnya mengecap beberapa kali. Sebuah senyum lega terbit di wajah tampan pria itu.
“Tidak pahit lagi.”
Devan berangkat kerja dengan suasana hati yang baik. Namun, dia melewatkan acara sarapannya sebab dia belum siap berhadapan dengan sang istri.
***
“Bagaimana pun caranya aku akan mendapatkan Fara! Kalian berempat bawa wanita yang kalian awasi ke hadapan saya hari ini. Ingat, jangan sampai gagal!”
“Baik, Tuan,” jawab keempatnya dengan serempak.
Seringai jahat tampak jelas tersungging di bibir Zack. Dia akan membawa Fara bersamanya, sulit sekali mendekati wanita itu. Jadi, jika dia tidak bisa mendapatkannya dengan cara seperti biasa, maka dia memilih menggunakan cara paksa.
Siang ini Fara memilih ikut bersama pak supir untuk menjemput Ainsley. Wanita itu memeluk tubuh sang anak saat Ainsley sudah ke luar dari kelasnya.
“Pak Roni, kita lewat jalan motong saja, tadi saja macet banget,” ucap Fara.
“Siap, Nyonya,” sahut pak Roni.
Supir itu memilih jalan pintas yang lokasinya tidak ramai dilewati orang. Bahkan, saat ini tidak ada kendaraan yang melintas selain mobil mereka.
Tanpa disadari, sebuah mobil diam-diam mengikuti mobil yang dinaiki Fara dari belakang, dan pak Roni baru menyadari hal itu saat mereka sudah memasuki jalan pintas yang sepi.
“Nyonya, ada yang mengikuti mobil kita,” ucap pak Roni memberi tahu.
Spontan Fara menoleh ke belakang, dan benar saja apa yang dikatakan oleh pak Roni jika ada mobil yang mengikuti mereka.
“Mom, Ley takut.”
Fara memeluk tubuh sang anak dengan erat. “Tidak apa sayang, itu hanya mobil yang ikut melintas di sini,” kata Fara yang berusaha menenangkan sang anak. Padahal saat ini hatinya tengah gelisah.
Di perusahaan, wajah Devan berubah tegang saat mendapat laporan dari orang yang selama ini mengawasi Fara jika saat ini istri dan anaknya sedang diikuti oleh orang suruhan Zack.
Bersambung ….
__ADS_1
Apa yang terjadi selanjutnya?