
Devan pulang melewati jam makan malam, dia menaiki tangga dengan wajah yang terlihat sangat dingin.
Pria itu membuka pintu kamar putri kecilnya, dan terlihatlah Fara sedang menyanyikan lagu penghantar tidur untuk sang anak. Entah kenapa Devan terlihat tidak sabaran, dia masuk ke kamar sang anak dan menarik tangan Fara untuk mengikuti dirinya.
“Pak, Ley sudah mau tertidur.” Fara menahan tubuhnya.
Fara heran dengan suaminya yang terlihat marah. Jika, dipikir-pikir pria itu baru saja pulang dan dia merasa tidak ada melakukan kesalahan apa pun.
“Ley, Daddy pinjam mommy sebentar.” Devan kembali menarik tangan Fara.
Ainsley belum sempat menjawab. Tapi, sang daddy sudah lebih dulu membawa mommy-nya ke luar.
Pria itu menarik tangan Fara dengan kasar, rahang yang mengetat mendandakan jika Devan sedang menahan amarah. Tapi, kenapa? Pikir Fara.
“Pak, tangan saya sakit.” Fara berusaha mengimbangi langkah suaminya yang lebar dan tergesah-gesah.
Devan tidak menghiraukan istrinya yang mengaduh kesakitan, dia seperti kerasukan setan. Matanya yang tajam terlihat semakin mengeringan. Fara sampai tidak berani mengeluarkan suara lagi.
Pria itu menarik Fara masuk ke dalam kamarnya, begitu sudah berada di dalam, Devan segera menutup pintu dan mendorong tubuh Fara merapat ke dinding. Mata Fara spontan membelalak, dia tidak menyangka sang suami melakukan hal itu.
Tangan Devan memukul tembok dan mengunci pergerakkan Fara dengan tangan yang mengurung wanita itu.
“Ke mana saja kau hari ini?!” tanya Devan dengan mata menatap nyalang.
Fara tidak dapat bergerak sedikit pun, kepalanya menengadah menatap wajah sang suami yang terlihat seperti gas yang sedang meledak.
“Jawab!” ucap Devan dengan suara terdengar marah.
“Ke pasar,” jawab Fara jujur.
Devan menarik pinggang Fara hingga wanita itu tersentak, dia menekan pinggang sang istri semakin menempel ke tubuhnya.
“Lalu?” Devan bertanya dengan tidak sabaran.
Fara bergerak, dia berusaha mengambil jarak dari Devan. Namun, usaha itu tidak berhasil karena Devan semakin mengencangkan pegangannya.
“S-saya makan di rumah makan,” cicit Fara seperti tikus.
“Dengan pria bernama Zack, benar?!” Suara Devan terdengar membentak.
__ADS_1
Hal itu membuat Fara menciut ketakutan, kakinya gemetaran saat Devan menyeringai, dia tidak tahu jika Devan akan semarah ini. Jantung Fara berdebar hebat, dan debaran itu semakin tak karuan saat Devan membopongnya seperti karung beras, lalu menghempaskannya ke atas sofa yang ada di kamar pria itu.
“Jauhi dia!” ucap Devan tidak ingin dibantah.
“B-bukannya bapak yang mengatakan saya boleh berhubungan dengan pria manapun?” Fara menutup matanya, dia menjawab tanpa berani melihat wajah sang suami yang lebih dingin dari biasanya.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya saat mendengar jawaban yang ke luar dari mulut Fara.
“Dasar murahan!” Hina Devan.
Spontan mata Fara terbuka, pelupuk matanya terasa panas, seperti ada yang mendesak ingin ke luar dari mata indahnya, kalimat singkat yang dilayangkan Devan menggores hatinya.
“Saya bukan wanita murahan!” Fara berteriak marah.
Air mata yang sedari tadi dibendungnya berhasil luruh, dia berdiri dan menghadap ke depan suaminya dengan perasaan yang terluka.
“Bapak pulang-pulang langsung marah dan mengatai saya murahan. Kenapa bapak memiliki perspektif seperti itu terhadap saya tanpa tahu kebenarannya.” Fara memukuli dada suaminya dengan membabi buta.
Pria itu menangkap kedua tangan Fara yang memukuli dirinya, dia tidak tahu kenapa dirinya tidak bisa mengendalikan diri saat tahu Zack mendekati Fara.
“Dia pria baji-ngan!” Devan mulai mengontrol kembali emosinya, dia berkata dengan suara lebih tenang.
Salah satu sudut bibir Fara terangkat, dia menarik tangannya dengan kasar hingga terlepas dari jerat pria yang notabennya adalah suaminya.
Devan kembali tersulut dengan rasa marah yang membara, wanita di depannya tidak tahu seperti apa sosok Zack.
“Apa kau mau menjadi korbannya, HA?!” Devan bertanya dengan suara meninggi.
Korban?
Fara tidak mengerti maksud dari apa yang diucapkan oleh suaminya. Dia menarik napas dan berusaha untuk berpikir jernih.
“Bapak tidak perlu mengatakan saya murahan hanya untuk memperingati saya,” kata Fara membalas tatapan mata Devan yang tajam.
Devan membuang wajah ke arah lain. Hal yang tidak sangka ke luar dari mulut pria itu.
“Maaf.”
Satu kata singkat yang ke luar dari mulut Devan membuat perasaan Fara lebih baik. Tapi, ada satu hal yang terlintas di pikirannya, dari mana Devan tahu dia berjumpa dengan Zack? Apa Devan memata-matainya? Pikir Fara.
__ADS_1
Devan mengulurkan sebuah sapu tangan ke pada Fara tanpa mau menatap wajah wanita itu. Mata Fara mengerjap, dia dengan ragu menerima uluran sapu tangan yang diberikan oleh suaminya.
“Hapus air mata itu,” kata Devan, lalu dia berbalik arah dan masuk ke dalam kamar mandi.
Fara menarik napasnya berulang kali, apa yang baru saja terjadi mengobrak-abrik isi hatinya. Baru saja dia merasa sakit hati. Namun, dalam waktu singkat dia juga merasa kembali membaik.
“Apa maksud pak Devan? Ada apa dengan Zack?” Fara bermonolog.
Dia memilih untuk ke luar dari kamar suaminya dan kembali menghampiri sang anak. Namun, sebelum itu dia memastikan jika wajahnya terlihat baik-baik saja.
“Ley ….” Fara membuka pintu dengan perlahan.
Ainsley sudah tertidur dengan lelap sambil memeluk boneka kecilnya. Fara tersenyum lalu kembali menutup pintu dengan perlahan. Dia mendekat ke ranjang sang anak dan ikut bergabung untuk tidur.
Fara memeluk tubuh Ainsley dengan sayang, dia berusaha memejamkan mata hingga akhirnya rasa kantuk berhasil membawanya ke dalam dunia mimpi.
Sementara itu, Devan yang baru saja menyelesaikan acara membersihkan diri segera mengenakan pakaian tidur dan mengecek kamar putri kecilnya.
Saat pria itu membuka pintu kamar sang anak, terlihat Fara dan Ainsley saling berpelukan. Kaki Devan berjalan mendekati ranjang anaknya, dia berdiri di tepi ranjang sang anak sambil memperhatikan wajah kedua wanita yang sedang tertidur pulas itu dengan wajah datar.
Mata Devan mengernyit saat melihat Fara tersenyum dalam tidurnya, lesung pipi wanita itu terlihat begitu jelas. Dia memalingkan wajah dan meninggalkan kamar Ainsley.
Waktu bergulir, jarum jam terus berputar hingga tidak terasa pagi kembali menyapa setiap manusia di dunia.
Mata Fara terbuka, dia merenggangkan tubuhnya yang menimbulkan bunyi peraduan tulang. Perhatian Fara beralih ke putri kecilnya.
Tangan Fara terulur mengusap pipi Ainsley dengan lembut. Usapan lembut yang diberikan oleh Fara membuat anak berusia lima tahun itu terbangun dari tidurnya.
“Good morning, Mom,” sapa Ainsley dengan mata berkedip lucu.
“Morning too, Sayang.”
***
Fara tidak melihat keberadaan Devan pagi ini, pria itu melewatkan acara sarapan paginya. Fara berpikir jika sang suami tidak ingin melihat dirinya sehingga pergi ke kantor pagi-pagi sekali.
__ADS_1
Bersambung ….
Lah pak Devan kenapa?