Ampun Pak!

Ampun Pak!
KESIALAN DEVAN


__ADS_3

Mereka sudah berada di depan rumah yang dindingnya terbuat dari papan, Devan mengetuk pintu yang terbuat dari papan itu sembari mengucapkan kata permisi.


Tak lama setelahnya sepasang suami istri berusia sekitar lima puluhan membuka pintu dan menyambut keluarga kecil Devan dengan senyuman yang terlihat ramah.


“Permisi, Pak, Buk. Kedatangan saya ke sini ingin meminta izin,” ucap Devan dengan wajahnya yang dingin dan juga datar.


Fara merutuki sang suami dalam hati, sikunya menyenggol-nyenggol pinggang Devan dengan sengaja untuk memperingati pria itu, dia tak habis pikir dengan Devan yang selalu memasang wajah tak bersahabat. Jadi lah dirinya turun tangan untuk bicara. Apalagi mantan bosnya itu tidak mengerti dengan kode yang dia berikan, sehingga wajah tampan si suami masih saja datar dan dingin.


“Em begini, Pak. Saya dan ….” Fara sedikit ragu untuk berucap, dia menengadahkan kepala seraya melirik wajah Devan sekilas.


“Saya dan bos saya ingin meminta izin untuk menikmati liburan di sekitaran sawah ini, apakah boleh, Pak, Buk?”  ucap Fara akhirnya dengan tutur kata yang sopan dan terdengar ramah.


Pasangan suami istri yang terlihat sudah tua itu saling bersitatap satu sama lain sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk secara bersamaan.


“Tentu saja boleh. Mbak dan mas-nya pasangan suami istri dan ini anaknya ya?” tanya si ibu.


Fara terseyum kikuk, dia tidak tahu harus menjawab apa, mengingat Devan tidak ingin sampai ada orang yang tahu tentang status mereka. Namun, di luar dugaan, Devan menjawab pertanyaann ibu itu.


“Iya, Buk,” jawab Devan.


Pria itu berpikir tidak mungkin kedua orang di depannya menyebarkan hal tentang hubungannya dengan Fara. Bahkan, bapak dan ibu yang tinggal di antara sawah yang terletak di pinggir sungai itu terlihat tidak mengenal dirinya. Jadi, dia merasa tidak masalah menjawab pertanyaan si ibu.


“Kalian terlihat sangat cocok,” ucap suami si ibu.


Ainsley yang berada di dalam gendongan Fara memeluk leher mommy-nya sembari memperhatikan sepasang suami istri pemilik sawah.


 


***


 


Semilir angin menerpa wajah Fara, aroma alam yang asri begitu menyejukan. Angin bertiup pelan—menghasilkan bunyi saat tumbuhan padi itu saling bergesekan.


Kini Devan, Fara bersama dengan Ainsley tengah duduk di dangau yang di kelilingi dengan sawah hijau yang terbentang luas. Tas berisi makanan itu di letakkan di tengah-tengah mereka. Ainsley berdiri sambil menujuk orang-orangan sawah.


“Mom, itu apa?” tanya Ainsley dengan rasa keingintahuannya yang besar.

__ADS_1


“Itu namanya orang-orangan sawah, dia berada di sana agar burung-burung tidak berani mendekati tumbuhan padi,” ujar Fara menejelaskan.


Devan memperhatikan sekelilingnya dengan duduk bersila, Fara mengulum bibir rapat. Baru kali ini Fara melihat mantan bosnya duduk lesehan dengan kaki dilipat seperti sekarang ini. Rupanya sang pria sadar sedang diperhatikan oleh Fara.


Pria itu memasang wajah dingin dengan menatap tajam ke arah Fara, tatapan matanya seolah sedang memperingati wanita itu untuk tidak memperhatikan apa yang sedang ia lakukan.


Fara menjulurkan lidahnya, dia mengejek mantan bosnya itu sebagai balasan atas tatapan tajam yang pria itu berikan.


Devan mengalihkan padangannya ke arah lain, dia teringat akan Selena yang pernah melakukan hal yang sama dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Fara.


“Daddy, ikut!” teriak Ainsley.


Mendengar sang anak memanggil, Devan berbalik arah dan membawa Ainsley ke dalam gendongannya. Fara duduk diam memperhatikan Devan dan Ainsley yang berjalan ke tepi sungai. Jarak sungai itu sangat dekat, keindahan di tempat ini begitu sempurna, perpaduan antara bunyi daun yang bergesekan berpadu sempurna dengan bunyi air sungai yang mengalir.


Mata Fara fokus ke depan, dia memperhatikan sebidang tanah yang belum ditanami oleh tumbuhan padi, reflek mata Fara begerak ke arah lain saat mendengar suara Devan yang terdengar panik.


Fara buru-buru menghampiri suami dan anaknya dengan perasaan khawatir, dia menanyakan apa yang terjadi. Ainsley diturunkan dari gendongan daddy-nya, gadis kecil itu memperhatikan wajah tegang Devan.


“Seperti ada yang bergerak di kaki saya,” ucap Devan dengan muka tegang.


“Kiri,” sahut Devan singkat.


Dengan berani Fara menggulung celana suaminya hingga ke atas, terlihatlah seekor hewan berwarna hitam yang menggeliat kaki kiri pria itu.


Tubuh Devan bergidik ngeri, dia berusaha menghentakka kakinya agar hewan yang mengerikan itu terjatuh dari kakinya. Namun, hal itu tidak dapat dilakukannya saat Fara mendelikkan mata ke arahnya seraya menahan kakinya dengan kedua tangan wanita itu.


“Ini pacet, dia hanya menyedot darah bapak,” kata Fara.


Ainsley memerhatikan mommy-nya dengan mata menyipit sambil sesekali menggelengkan kepala. Anak dan daddy itu terlihat sama takutnya dengan hewan kecil yang terlihat biasa saja di mata Fara.


“Kau bilang hanya?! Dia menghisap darah saya! Jauhkan hewan menjijikan ini!” Devan menaikkan suaranya.


Fara merasa kesal dengan suaminya, dia kembali berdiri lalu membawa Ainsley ke dalam gendongannya dan meninggalkan Devan yang berdiri mematung sambil berteriak padanya.


“Hei! Lepaskan hewan ini dari kaki saya terlebih dahulu!”


“Mom, kasihan daddy,” ucap Ainsley dengan mata berkaca.

__ADS_1


Ainsley terus menunjuk daddy-nya dengan tatapan sedih, Fara yang melihat itu merasa tidak tega untuk mengerjai Devan lebih lama. Jadilah dia kembali menghampiri Devan dan kembali berjongkok di dekat kaki pria itu setelah menurunkan Ainsley dari gendongannya.


Fara mengambil daun kering yang ada di sekitar kakinya, lalu setelahnya dia menarik hewan itu dengan daun kering yang dijadikannya sebagai alas tangan.


Dengan mudah Fara menyingkirkan hewan berwarna coklat kehitaman itu dari kaki suaminya. Ainsley bertepuk tangan seraya memuji Fara yang terlihat hebat di mata anak itu.


“Huh, sama yang begini aja takut.” Fara mendengus, dia kembali berdiri.


Tatapan mata Fara dan Devan saling bertabrakan, keduanya saling memalingkan wajah disaat yang bersamaan untuk memutuskan kontak mata itu.


Mereka kembali ke dangau. Fara menarik kaki suaminya agar menjulur ke bawah. Bibir Devan hampir saja melayangkan protes. Namun, hal itu lebih dulu dicegah oleh Fara.


“Saya mau membersihkan sisa darah di kaki bapak.”


Devan memperhatikan Fara yang dengan telaten membersihkan kakinya dari darah yang tersisa, sapuan lembut tangan Fara di kakinya membuat mata pria itu terpejam.


Namun, tubuh Devan menegang seketika, matanya terbuka lebar dengan wajah pucat yang mengihiasi wajah tampannya.


“Fara ….”


“Ada apa, Pak?” Fara mendengar nada panik dari suara suaminya.


“Saya merasakan pergerakan yang sama seperti tadi. Kali ini di tempat lain,” kata Devan dengan wajah tegang.


Ainsley yang tidak mengerti hanya diam memperhatikan kedua orang tuanya.


“Di mana? Biar saya singkirkan lagi,” sahut Fara enteng.


Devan menggerakkan mulut tanpa suara. “Di bookong saya.”


Mulut Fara menganga lebar saat tahu apa yang dikatakan oleh suaminya lewat gerakan mulut tanpa suara.


 


Bersambung ….


Dosa gak ya ngetawain pak Devan, aduh othor gak habis ting-ting sama kelakukan pasutri yang satu ini. Hadeuh, untung aja bukan lintah yang nemplok.

__ADS_1


__ADS_2