
Pagi ini Devan tampil dengan wajah yang tampak lelah, dia tidak bisa tidur setelah terbangun dari mimpi buruknya.
Pria itu turun ke bawah untuk sarapan sebelum berangkat ke perusahaan, Fara dan Ainsley sudah lebih dulu ada di ruang makan. Mata Devan menatap tidak selera ke arah piringnya.
“Bik!” Devan memanggil bik Wati yang baru saja selesai menata minuman ke atas meja makan.
“Ya, Tuan?”
“Saya ingin nasi goreng,” ucap Devan.
Mimik wajah bik Wati berubah kaget, baru kali ini tuannya meminta menu nasi sebagai sarapan.
Bik Wati membungkukkan badan dan segera pergi ke dapur untuk memberi tahu bik Sani dan Ayu.
Fara turut merasa aneh, selama dia tinggal di rumah ini. Tidak pernah dirinya melihat Devan sarapan dengan nasi. Fara memakan menu sarapan ala western yang sudah tersaji, lidah serta perutnya menerima baik makanan itu, mungkin karena dirinya mulai terbiasa sarapan dengan makanan western.
Ainsley turut memakan sarapannya dengan sangat lahap, sama seperti Fara yang juga terlihat berselera.
Devan menatap sang istri dan putrinya dengan menggeleng kecil. Pandangan Devan teralihkan saat bik Sani membawa sepiring nasi goreng seafood.
Devan segera menghabisi nasi goreng itu, Fara yang melihatnya sungguh tidak menyangka karena sang suami terihat sangat menyukai hidangan itu.
“Mulai besok, ingatkan bibik untuk memasak menu nasi seperti ini,” ucap Devan pada Fara.
“E-eh iya, Pak.” Fara mengurungkan niatnya untuk kembali memakan sarapannya.
***
Devan sudah siap dengan kemeja dan jas yang melekat di tubuhnya, pria itu terlihat uring-uringan sebelum berangkat bekerja. Lidahnya terasa sangat pahit, dan parahnya adalah dia begitu menginginkan kembali rasa bulatan padat milik Fara.
Ini benar-benar gila! Batin Devan prustasi.
Rasa keinginan yang ada di dalam dirinya begitu besar. Namun, dengan sekuat tenaga dia menahannya dan memilih untuk segera berangkat ke perusahaan miliknya.
Sesampainya di kantor, Devan disambut ramah oleh para karyawannya. Tidak sedikit dari mereka yang memasang senyum palsu di depan Devan, seakan mereka menyukai sosok pemilik dari perusahaan media terkemuka itu. Padahal, banyak sekali yang sering membicarakan Devan secara diam-diam.
Devan menanggapi seadanya setiap kali ada yang menyapanya, dia melanjutkan perjalanan menuju ruangannya.
Pria itu memanggil Jhon lewat telfon yang ada di atas mejanya. Saat panggilan itu tersambung, Devan segera menanyakan sesuatu ke pada sekretarisnya itu.
“Jhon, apa kau pernah menginginkan sesuatu sampai lidahmu terasa sangat pahit?” tanya Devan.
__ADS_1
Jhon mengernyitkan dahi, dia sedikit bingung dengan pertanyaan dari Devan yang terdengar aneh.
“Maaf, Tuan. Saya tidak pernah merasakan hal seperti itu,” jawab Jhon seadanya.
Devan mendengus, dia pikir Jhon tahu jawaban dari keanehan yang dirinya alami.
Sungguh dia sangat tidak nyaman dengan semua ini. Bayang-bayang dua aset Fara terus memenuhi pikirannya, lidahnya terasa sangat pahit dan dia begitu menginginkan mengulum bulatan padat milik Fara dengan mulut dan juga lidahnya.
Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba dirinya seperti ini, dan salah satu cara untuk menghilangkan rasa yang aneh ini adalah dengan cara merealisasikannya. Pikir Devan.
“Tuan, apa Anda sedang sakit?” tanya Jhon terlihat khawatir.
“Tidak,” jawab Devan singkat.
“Jhon, setelah metting siang ini, belikan saya satu botol minuman A,” titah Devan.
“Tuan ingin mabuk di kantor?” tanya Jhon sedikit kaget.
“Apa kau pikir saya gila?!” balas Devan terdengar ketus.
Jhon bingung melihat tingkah tuannya hari ini yang tampak tidak tenang. Tapi, dia hanya bisa mengangguk dan mengikuti perintah dari tuannya.
“Kau kembalilah, saya ingin memeriksa berkas ini sendiri,” usir Devan secara halus.
Devan mulai memikirkan bagaimana caranya dia bisa merealisasikan apa yang ada di dalam pikirannya. Dia memilih pulang larut malam hari ini untuk bisa melancarkan rencananya.
***
“Sial!” Devan membanting map yang ada di tangannya ke atas meja. Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri hari ini. Bagaimana tidak, saat meeting tadi dia sulit sekali untuk fokus. Dan lagi-lagi penyebabnya masih sama yaitu keinginan anehnya.
Devan terlihat uring-uringan di dalam ruangannya. Jhon sampai pusing sendiri melihat tuannya yang mondar-mandir seperti setrikaan.
“Jhon, panggil salah satu office boy untuk membawakanku secangkir teh. Kali ini gulanya lebih banyak satu sendok dari biasanya,” ucap Devan.
Dia begitu tidak nyaman hari ini, dia berharap teh manis dapat menghilangkan rasa pahit di lidahnya.
“Baik, Tuan.”
Tidak lama setelah itu, seorang office boy masuk untuk mengantarkan minuman Devan.
Pria itu segera menyeruput teh hangat yang ada di atas mejanya.
__ADS_1
“Permisi, Pak.” Office boy itu undur diri.
Devan mengangguk. Namun, tidak sampai tiga detik dia menyemburkan teh yang baru saja diminumnya. Si office boy yang hampir sampai pada pintu keluar pun urung membuka pintu saat mendengar sang bos yang menyemburkan teh buatannya.
“Apa kau sudah memasukan gula pada saat membuat minuman ini?” tanya Devan.
Office boy itu kembali menghampiri Devan dengan menundukkan kepala, dia terlihat sangat takut. Apalagi kini Jhon juga ikut menatapnya dengan tajam.
“S-saya sudah memasukkan gula lebih banyak dari biasanya, Pak,” jawab si office boy dengan kepala tertunduk.
Devan menghela napas panjang, ada yang salah dengan dirinya. Baru kali ini dia mengalami hal sekonyol ini.
“Kau kembalilah bekerja,” ucap Devan.
“Apa mau saya buatkan teh yang baru, Pak?” tawarnya.
“Tidak perlu,” sahut Devan. Pria itu kembali pada wajah datarnya.
***
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, Devan sedang menyetir menuju ke kediamannya.
Pria itu tiba di rumah pada tengah malam dan dapat dipastikan jika sang putri sudah tertidur.
Devan membuka minuman yang dibeli Jhon tadi siang, dia meneguk minuman keras itu hanya sedikit. Jadi, dirinya tidak dalam kondisi mabuk.
“Ah. Minuman ini akan membantuku.” Devan bermonolog.
Dia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Kaki Devan menyusuri tangga, saat melewati kamar Ainsley dia membuka pintu itu dengan hati-hati. Sudut bibirnya terangkat saat melihat sang anak tidur sendirian, yang artinya Fara sedang berada di kamarnya sendiri.
Devan melepas jas yang dikenakannya dan menyampirkan jas itu ke atas pundaknya, tidak lupa dia membuka tiga kancing teratas kemejanya.
Kemeja itu dia buat sekusut mungkin. Saat
tampilannya sudah sempurna, dia mulai membuka pintu kamar Fara.
Kepalanya sedikit condong ke depan untuk mengintip apakah sang istri dalam keadaan terjaga atau tidak, dan betapa beruntungnya dia saat melihat Fara sudah terlelap di atas tempat tidur.
Devan masuk dengan mengendap-ngendap seperti seorang maling, dia menatap Fara yang tidur terlentang dengan air liur yang hampir tumpah.
Sialan, ini seperti bukan diriku! Umpat Devan dalam hati.
__ADS_1
Bersambung ….
Ada yang tahu pak Devan mau melakukan apa?