Ampun Pak!

Ampun Pak!
KIKUK


__ADS_3

Devan duduk dengan tidak nyaman. Pria itu berusaha untuk terlihat tenang, Fara dapat melihat kecemasan yang tergambar jelas di wajah sang suami. Dia bingung bagaimana cara mengambil hewan itu dari bagian privasi suaminya.


Satu-satunya cara adalah dengan cara membuka celana mantan bosnya. Namun, apa pria itu mau? Fara menggaruk kepala dengan rasa bingung.


“Bantu saya sekarang!” titah Devan dengan wajah tegang.


“Apa bapak mau …?” ucap Fara menggantung dengan mata melirik ke arah celanan suaminya.


Devan mengangguk pasti, pikirannya sudah melanglangbuana entah ke mana, dia khawatir hewan itu bergerak ke area yang lain—tempat yang sulit dijangkau. Jadi, kepalanya itu mengangguk saja dengan solusi terakhir dari istrinya.


Mendapat persetujuan dari sang suami membuat Fara menarik napas panjang. Dia menolehkan kepala ke arah Ainsley, dengan memegang kedua bahu anak itu Fara memberi tahu sang anak agar tetap duduk di dangau selagi mereka kembali ke mobil.


Ainsley yang merasa jika sang daddy dalam keadaan yang tidak baik pun mengangguk patuh, gadis kecil itu langsung duduk diam dengan ditemani cemilan yang baru saja Fara ke luarkan agar gadis kecilnya tidak pergi ke mana-mana.


“Tetaplah di sini selagi Mommy dan daddy masih di dalam mobil ya, Sayang,” ucap Fara seraya mengecup puncak kepala Ainsley.


Gadis kecil berusia lima tahun itu mengangguk. “Baik, Mom.”


“Anak pintar.” Fara kembali mebubuhkan kecupan ke puncak kepala sang anak.


Dia turun dari dangau yang di dudukinya seraya menarik pelan tangan Devan. Pria tampan itu terlihat kaku, untuk bergerak saja dia harus dengan bantuan Fara.


“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Pacet kalau sudah kenyang akan lepas sendiri,” kata Fara.


Tangan wanita itu menggenggam tangan suaminya sepanjang perjalanan menuju mobil, dia terus mengatakan hal-hal yang mengalihkan pikiran pria yang sedang dirundung rasa takut.


Devan terlihat seperti anak kecil di mata Fara, dia baru bisa melihat sisi lain seperti ini dari mantan bosnya setelah menikah dan tinggal serumah dengan pria itu. Bayangkan saja, saat ini Devan berjalan dengan dituntun oleh Fara layaknya anak kecil.


Sesampainya di dalam mobil, Fara dan Devan duduk saling berhadapan. Devan merasa malu. Tapi, pria itu juga merasa takut.


“Berbalik, Pak.”


“Tutup matamu!” perintah Devan.


“Kalau saya tutup mata, bagaimana saya bisa tahu di mana pacet itu berada, hadeh ….” Fara menepuk jidatnya melihat tingkah Devan yang ada-ada saja.


Mau tak mau pria itu membalik badannya menjadi menghadap pada senderan kursi mobil, dia membuka sabuk pinggang, lalu menurunkan pinggang celanannya dengan tangan sedikit bergetar.


Fara sendiri merasa grogi berhadapan dengan bookong sang suami. Namun, dia berusaha menguatkan diri dan terlihat biasa saja.


“Izin ya, Pak,” ucap Fara meminta izin sebelum menurunkan segi tiga pelindung milik suaminya.


Kepala Devan mengangguk dengan wajah yang mengeluarkan banyak keringat. Jantung keduanya berdebar hebat. Fara menarik napasnya walau terasa berat. Dia menggapai tisu yang berada di dekatnya, lalu menarik beberapa lembar benda tipis berwarna putih itu sesuai yang dirinya butuhkan.

__ADS_1


Tangan Fara gemetaran saat menurunkan segi tiga pelindung burung hantu suaminya, napasnya tercekat begitu bongkahan Devan memenuhi penglihatannya.


Glek!


Kuatkan dirimu Fara! Fara menyemangati diri dalam hati.


Wanita itu meneliti ke segela arah, matanya menyusuri area bongkahan milik Devan, dia mencari di mana pacet itu berada. Fara semakin menundukan dengan kepala sedikit miring ke kanan, akhirnya dia menemukan pacet yang berada di dekat sela paha suaminya.


Glek!


Burung hantu, ucap Fara dalam hati.


Mata wanita itu disuguhkan dengan sesuatu yang membuatnya susah berkedip, dia menggelengkan kepala berusaha untuk fokus dengan tujuannya. Perlahan dia menarik pacet yang menempel di sela paha suaminya dengan menggunakan tisu.


“K-kau ….” Devan tergagap.


Tangan Fara semakin gemetaran saat tidak sengaja menyenggol senjata kepunyaan Devan. Tisu yang ada digenggamannya hampir terlepas, dia berusaha menguatkan diri.


“S-sudah, Pak.”


Devan buru-buru menaikan celana beserta dengan segi tiga pelindungnya, dia kembali memasang kaitan celana dan mengetatkan sabuk pinggang yang dikenakannya.


Pria itu membalik badannya, pasangan suami istri itu terduduk di kursi mobil. Jantung keduanya bertalu-talu tak karuan. Bahkan Fara masih dalam mode gemetaran, berbeda dengan Devan yang diam bak patung. Namun, keringat tidak berhenti mengalir di pelipis pria itu.


“P p p-pak.”


Niat hati ingin mencairkan suasana, dirinya malah terlihat semakin aneh saat mengucapkan satu kata saja ia tak mampu, bibirnya bergetar, lidahnya terasa kelu.


Kepala Devan tidak berani menoleh, dia juga tidak mau mengeluarkan sepatah kata pun karena takut akan mengalami hal konyol yang terjadi barusan.


Fara menolehkan kepala ke arah suaminya, berniat mengajak pria itu kembali ke dangau. Namun, matanya reflek membelalak lebar saat tak sengaja melihat resletik celana Devan yang belum dikancing.


“P- p-pak, anu ….”


Devan tidak menanggapi ketergagapan istrinya sampai wanita itu melanjutkan perkataannya yang belum sempat terselesaikan.


“Rumah anu belum ditutup, Pak.” Fara menunjuk-nunjuk ke arah resleting celana suaminya yang terbuka.


Pria itu spontan memiringkan badan dan menutup resleting itu dengan terburu-buru.


“Stshs sialan!” umpat Devan saat senjata miliknya terzolimi oleh resleting yang tega menggigit kepunyaanya.


“Bapak kenapa?” tanya Fara terdengar khawatir.

__ADS_1


Kepala Devan menggeleng, dia menarik napas dan kembali menegakkan posisi duduknya.


“Saya baik-baik saja,” jawab Devan dengan wajah yang terlihat memerah.


Fara menarik napas lega saat tahu suaminya baik-baik saja, pasangan suami istri itu ke luar dari mobil dan kembali menghampiri Ainsley yang tampak anteng memakan cemilan buah yang dikeringkan.


“Mommy, daddy!” pekik Ainsley dengan wajah gembira.


Devan dan Fara ikut bergabung dengan sang anak yang duduk di dangau. Devan terus mengalihkan matanya ke arah lain agar tidak melihat wajah Fara.


Pria itu tampaknya masih malu atas insiden diteplokin pacet. Berbeda dengan Devan. Fara malah terlihat seperti tidak terjadi apa-apa. Dia mengeluarkan semua makanan yang dirinya bawa. Salah satunya adalah jamu yang dirinya buat sendiri.


“Ayo kita makan, nah ini jamu untuk bapak.” Fara menyerahkan tumblr transparan yang terlihat kuning karena terdapat jamu di dalamnya.


“Apa ini?” tanya Devan yang tidak fokus.


“Itu jamu tolak sial,” sahut Fara dengan lugas.


Devan memicingkan mata—curiga. Fara menepuk jidatnya sendiri saat tahu arti dari tatapan suaminya.


“Minumlah, Pak. Bagus untuk mengatasi pegal linu untuk orang yang sudah berumur,” ucap Fara yang membuat mata Devan memicing tajam.


“Maksudmu saya tua?!”


Ainsley terkikik geli melihat mommy dan juga daddy-nya, gadis kecil itu membuat Fara dan Devan saling menoleh ke arahnya.


“Daddy sudah tua, hi-hi-hi.” Ainsley menutup mulut dengan satu tangannya dengan bahu bergerak naik turun.


“E-eh, Sayang … tidak boleh seperti itu, daddy masih muda, tampan dan keren,” ucap Fara.


Wanita itu berusaha membuat kikian sang anak meredah agar Devan lebih tenang, karena pria itu terlihat sensitif saat mendengar kata tua.


“Tidak boleh ya, Mom?” Ainsley menengadahkan kepala yang diiringi degan wajah polosnya.


“Iya, tidak boleh sayang.”


Devan berdeham saat mendengar Fara menyebut dirinya tampan dan keren. Reflek pria itu merapikan kemeja yang dikenakannya.


Aku memang tampan dan keren. Batin Devan terlihat percaya diri.


 


 

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2