Ampun Pak!

Ampun Pak!
SELENA


__ADS_3

Fara mengendikkan bahu, lalu melanjutkan perjalanannya menuju lantai bawah untuk mengambil cemilan dari kulkas, entah kenapa akhir-akhir ini dia jadi lebih sering merasa lapar disaat tengah malam seperti sekarang ini.


Dirinya yang tidak menggunakan kacamata pembungkus aset tidak khawatir jika ada pekerja pria karena para pekerja pria tidak tidur di dalam rumah utama, mereka tidur di bagian rumah Devan yang tidak terlalu besar di dekat taman belakang rumah.


Saat sampai di depan kulkas, mata Fara menatap ke arah pudding cokelat dengan penuh minat, tanpa menunggu lama dia segera membawa wadah berisi pudding itu ke meja makan. Fara menyantap dessert dengan tekstur yang lembut itu dengan sangat lahap sampai pudding yang ada di wadah itu hanya tersisa setengah.


Merasa sudah kenyang, Fara memutuskan untuk kembali naik ke atas. Langkah Fara terhenti saat melewati kamar suaminya. Rasa penasaran menggoda dirinya untuk mengintip apakah Devan sudah atau belum tidur di jam tengah malam.


Dengan penuh kehati-hatian Fara menekan handle pintu dan mendorongnya secara perlahan. Begitu pintu terbuka, mata Fara tidak dapat melihat wajah Devan karena pria itu mematikan lampu kamar dan lampu tidur sehingga tidak ada cahaya yang menemani malam dingin pria itu.


Kaki Fara melangkah masuk, tak lupa dia menutup pintu kamar suaminya lalu menyalakan senter dari ponsel sebagai penerang sebelum akhirnya dia menyalakan lampu tidur yang tidak akan mengganggu si pria yang ternyata sudah tertidur.


Fara duduk di bibir ranjang, dia menatap wajah Devan yang terlihat tidak tenang. Apa mungkin sang suami sedang bermimpi buruk? Fara melihat kerutan-kerutan dan dahi Devan saat pria itu menekuk wajahnya, bulir keringat menghiasi wajah Devan padahal pendingin ruangan sudah menyala.


Pria itu tampak bergerak gelisah. Fara yang melihat itu inisiatif mengulurkan tangannya ke atas kepala sang suami dan mengusap kepala itu dengan penuh kelembutan. Tanpa diduga, Devan berubah tenang.


Fara terus mengusap lembut kepala Devan sampai pria itu benar-benar tenang. Fara sudah berulang kali menguap, dia sangat mengantuk. Melihat Devan yang sudah tenang dalam dunia mimpinya pun membuat Fara memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Tidak lama setelah kepergian Fara dari kamar Devan, pria yang tadinya sudah tenang kini kembali bergerak gelisah sampai akhirnya dia terbangun dengan jantung berdetak hebat.


“Selena.” Satu kata meluncur dari mulut Devan.


Lagi dan lagi dia bermimpi tentang Selena, mimpi yang berasal dari potongan masa lalunya saat berada di Italia.


 


Flashback On


Devan menatap sahabatnya yang sedang memainkan peniup gelembung di taman sekolah dengan tatapan mendamba. Pria itu tidak sabar menunggu hari kelulusan dari sekolah menengah yang akan selesai sebentar lagi, dia akan mengutarakan perasaannya dan menjadikan Selena sebagai kekasihnya.


“Dev, melamun? Apa kamu dan daddy-mu bertengkar lagi?” tanya Selena yang ikut bergabung duduk di sebelah Devan.


Wanita berparas cantik dan bertubuh tinggi itu menyentuh pundak Devan. Dia tahu benar bagaimana hubungan di antara Devan dengan daddy sahabatnya itu sangatlah tidak dalam kondisi yang baik. Ada alasan yang tidak pernah diberi tahu Devan pada siapapun kenapa dirinya sangat membenci sang daddy sampai-sampai pria itu memilih untuk hidup mandiri tanpa mau menerima sepeser uang pun dari daddy-nya.

__ADS_1


“Tidak, aku sudah lama tidak bertemu pria itu,” sahut Devan.


“Emm kamu ini selalu saja begitu, sampai kapan akan terus begini hum? Selagi masih memilik orang tua jangan sia-siakan mereka. Aku ingin sekali melihat bagaimana wajah kedua orang tuaku,” ucap Selena terdengar lirih.


Devan menatap Selena dengan hati yang ikut bersedih. Wanita itu tidak pernah tahu siapa orang tua aslinya karena dia ditemukan oleh pasangan kakek dan nenek yang kini sudah dia anggap sebagai ayah dan ibunya.


“Jangan memasang wajah sepeti itu, wajahmu jadi bertambah jelek,” ejek Devan.


Selena menoleh ke arah Devan dengan mata mendelik lebar, dia memukul bahu pria itu. Wajah yang awalnya terlihat kesal kini berubah jadi ceria yang diiringi tawa keduanya.


Hari terus berlalu, Devan merasakan ada perubahan pada Selena. Wanita itu jadi sulit untuk ditemui, bahkan tidak lagi bertukar cerita dengannya.


Rasa penasaran yang besar membuat Devan mengikuti ke mana Selena pergi secara diam-diam. barulah dia tahu jika wanita yang disukainya sedang dekat dengan pria lain yang tidak dirinya kenal.


Selena terlihat seperti orang yang sedang kasmaran, dia selalu dihujani dengan kata-kata cinta dari pria yang kini baru saja resmi menjadi kekasihnya.


Wanita itu tidak sabar ingin memberitahu Devan tentang dirinya yang sudah memiliki kekasih.


“Aku akan pergi malam ini untuk merayakan hari kelulusan bersama dengan Zack, apa kamu mau ikut bergabung, Dev? Pasti makin seru kalau kamu ikut,” ucap Selena dengan mata berbinar.


Devan menolak, dia tidak ingin melukai hatinya dengan melihat Selena bersama pria lain.


“Yahh, ya sudah deh lain kali saja kita pergi bersama. Daaa aku pergi dulu. Selama untuk kelulusan kita berdua.” Selena berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Devan.


Mata Devan menatap kepergian Selena bersama seorang pria yang berada di dalam mobil. Dia memilih kembali masuk ke dalam kekediamannya dan berusaha menenangkan hati karena saat ini dia sedang merasakan perasaan yang dialami banyak orang yang sedang patah hati.


“Zack kenapa kita ke hotel? Bukannya kita akan pergi ke pusat permainan?” tanya Selena yang terlihat bingung.


Zack tersenyum manis, dia mengusap pipi kekasihnya seraya berkata, “kita akan bermain di sini, lebih seru dibanding ke pusat permainan yang ada di mall.”


Kepala Selena mengangguk pelan, dia percaya saja pada apa yang dikatakan oleh kekasihnya. Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam hotel.


Ternyata Zack sudah memesan kamar di hotel yang terlihat mewah ini sebelum mereka tiba. Sepanjang perjalanan menuju kamar yang sudah dipesan oleh Zack, bibir pria itu tidak berhenti tersenyum dan semakin terlihat merekah saat keduanya sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


“Ayo duduk di sini, Sayang.” Zack menarik tangan Selena dengan penuh kelembutan.


Diperlakukan sedemikian rupa membuat Selena tersipu, apalagi Zack memanggilnya dengan sebutan sayang.


Kini mereka duduk di atas ranjang dengan seprai putih. Tangan Zack merambat ke atas paha Selena yang membuat si wanita merasa tidak nyaman.


“Zack ….”


“Apa kau mencintaiku?” tanya Zack yang tidak menghiraukan ketidaknyamanan Selena.


Kepala Selena mengangguk sebagai jawaban. Namun, tangannya juga berusaha menepis tangan Zack yang terus merambat.


“Tidurlah bersamaku jika kau benar-benar mencitaiku,” ucap Zack seraya mengusap paha Selena.


“T-tapi ….”


“Atau jangan-jangan kau tidak mau! Apa karena kau menyukai sahabat priamu?” tanya Zack memojokkan Selena.


Kepala Selena menggeleng kuat. “A-aku hanya takut Zack,” ucapnya.


Zack menyeringai, dia membelai wajah Selena dan entah bagaimana Zack berhasil mengukung tubuh wanitanya.


Tidak ingin kehilangan kesempatan emas, pria itu mulai menjalankan aksinya dengan membuat Selena terlena pada setiap sentuhannya.


Zack berhasil merasakan kenikmatan tubuh Selena yang belum terjamah oleh siapapun. Dia memacu dirinya dengan begitu gagah sehingga ruangan itu penuh dengan suara-suara Selena yang sudah hanyut dalam permainannya.


Flashback Off


 


Bersambung ….


Hai zeyengku. Devan dan Fara akan hadir lagi nanti malam.  

__ADS_1


__ADS_2