Ampun Pak!

Ampun Pak!
BAB 47


__ADS_3

Di kediaman Devan. Ainsley tampak menangis sampai terisak-isak, anak berusia lima tahun itu menginginkan Fara kembali.


“Daddy, mommy dibawa pergi orang jahat.” Ainsley mengadu dengan mata yang basah.


Devan mengusap kepala putri kecilnya, dia menenangkan sang anak dengan berjanji akan membawa Fara kembali ke rumah ini.


“Ley tetaplah di rumah, Daddy akan membawa mommy kembali,” ucap Devan.


Kepala Ainsley mengangguk, dengan penuh harap gadis kecil itu meminta pada Tuhan agar melindungi mommy-nya.


Tuhan, Ley tidak nakal, bu guru bilang anak yang baik akan dikabulkan doa-nya oleh Tuhan. Tolong selamatkan mommy, Ley janji tidak akan nakal.


Para pekerja Devan ikut merasa khawatir dengan keadaan istri tuan mereka. Pak Roni menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya ke pada para asisten rumah tangga. Ekspresi terkejut tidak luput dari wajah mereka saat mendengar cerita pak Roni.


Jhon menunggu Devan di lantai satu, pria itu berdiri saat melihat tuannya turun dari lantai atas.


“Bagaimana dengan lokasinya?” tanya Devan.


“Mereka membawa nyonya ke sebuah bangunan kosong bekas pabrik konveksi. Jika ditempuh dari sini membutuhkan waktu sekitar tiga jam, Tuan,” jelas Jhon yang baru saja mendapatkan informasi dari orang suruhan Devan.


“Kali ini saya membutuhkan polisi dalam penangkapan Zack,” ucap pria berwajah dingin itu.


“Apakah tuan yakin? Hal ini dapat membuat kabar pernikahan Anda diketahui banyak orang, Tuan.”


Devan terdiam sejenak. Namun, lima detik kemudian dia mengangguk. Kali ini dia akan membuat Zack mendekam dipenjara.


“Kita pergi sekarang!” titah Devan begitu tegas.


Jhon mengikuti langkah lebar tuannya, seluruh orang suruhan Devan turut ikut. Pria itu menyewa banyak jasa penjaga untuk menjemput istrinya kembali. Dia tidak akan membiarkan Zack menodai istrinya.


 


***


Fara merasa haus, dia membutuhkan air untuk membasahi tenggorokannya, terlalu banyak menangis membuatnya benar-benar merasa hasu. Fara terjengit kaget saat pintu gudang terbuka perlahan.


Siluet seorang pria terlihat di ambang pintu masuk, Fara mengernyitkan mata saat pria itu berjalan masuk. Jantung Fara berpacu kencang saat tahu siapa sosok yang kini berjalan ke arahnya.


Mata sembab Fara mendelik lebar, dia menggelengkan kepala tidak percaya. Apa tujuan pria itu menculiknya? Pikir Fara.


“Hai, Love.” Zack tersenyum miring.


“Hei kau! Ternyata kau penjual organ manusia, pantas saja kau mengikutiku terus. Ternyata kau penculik jahat!” hardik Fara dengan suaranya yang sedikit serak.


Zack berdiri di hadapan Fara seraya menyeringai, Fara yang melihat itu merasa marah dan juga jengkel. Namun, perasaan itu secepat kilat berganti, Fara merasa panik saat pria di hadapannya membungkukkan badan.


“Ah kamu salah, Love. Aku bukan penjual organ manusia. Tapi … aku pria pencinta wanita,” kata Zack dengan diiringi kekehan kecil.

__ADS_1


Pria itu mengendus wajah Fara, diperlakukan seperti itu membuat Fara merasa risih. Dia membuang wajah ke kanan saat Zack semakin mendekatkan bibirnya.


“Jangan menolakku!” ucap Zack yang merasa geram.


Zack mencengkram kedua pipi Fara dengan tangannya. Dia memajukan bibirnya—berniat mencecap rasa dari bibir ranum Fara yang terlihat sangat menggoda.


Fara merasa panik, wajahnya berubah kaku. Tiba-tiba perut Fara terasa seperti diaduk-aduk, rasa mual melanda dirinya, hingga tidak diduga dia memuntahkan isi perutnya dan membuat wajah tampan Zack ternodai.


“Sialan!!!” umpat Zack terlihat begitu marah.


Pria itu langsung menegakkan tubuhnya, Zack berteriak kencang memanggil anak buahnya untuk segera masuk ke dalam gudang yang menyekap Fara.


Para pria bertubuh tegap itu masuk dengan sigap, dengan wajah yang terlihat marah dia memerintahkan anak buahnya untuk membawa Fara ke dalam mobil.


“Kau, ambilkan aku sebotol air dan tisu!” perintah Zack pada salah satu anak buahnya.


Fara yang mendengar dirinya akan dibawa pergi menaiki mobil menjadi bertambah takut, entah apa tujuan Zack menyekapnya seperti ini.


Zack ke luar dari gudang tempat dia menyekap wanita incarannya, dia mengambil air kemasan dan tisu yang diberikan oleh anak buahnya, lalu membersihkan wajahnya dari muntahan Fara.


Pria itu masuk ke dalam mobil, dia menunggu anak buahnya membawa Fara ke dalam mobil yang dinaikinya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, anak buahnya sudah datang membawa Fara dengan tangan yang terikat.


Fara berusaha memberontak. Namun, dirinya tidak dapat menandingi tenaga dari para pria bertubuh kekar yang memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.


Zack yang duduk di bangku tengah menyambut kedatangan Fara dengan senyuman nakalnya, Fara yang melihat itu merasa muak. Jika tangannya tidak dalam keadaan terikat mungkin dirinya sudah memukul wajah pria di sampingnya.


“Baik, Tuan,”sahut mereka berempat dengan serentak.


Zack menarik tubuh Fara agar semakin mendekat dengannya. Fara tidak bisa melakukan apa pun dengan tangan terikat.


Raut wajah Fara berubah saat menyium aroma yang tidak sedap dari tubuh Zack, aroma itu membuatnya merasa mual. Dia tidak tahan berdekatan dengan pria di sampingnya.


“Eum, aku ingin muntah jika berada di dekatmu,” ucap Fara yang bersiap-siap ingin menyemburkan muntahannya.


Zack terkesiap, dia langsung menjauh dari Fara, dan benar saja wanita itu tidak jadi muntah. Ada apa dengan Fara. Pikir Zack.


Mobil yang dinaiki Zack bersiap untuk melaju, tiba-tiba cahaya lampu dari mobil lain terlihat. Empat mobil menghadang jalan ke luar Zack dan orang suruhannya.


Fara mengenali salah satu di antara empat mobil yang menghadang mereka. Satu nama terlintas di benaknya.


Pak Devan ….


Devan turun bersama dengan orang yang sudah dibayarnya untuk menyelamatkan Fara. Pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga sebatas siku itu tampak sangat marah, dia menatap tajam ke arah dua mobil di depannya.


“Keluar kau baji-ngan!” teriak Devan dengan lantang.


Jhon yang berada di sisi Devan memasang badan untuk melindungi tuannya. Dia berjaga-jaga jika Zack melakukan perlawanan.

__ADS_1


Fara meneteskan air mata saat melihat Devan berada di tempat ini, dia pikir suaminya akan membiarkannya dibawa oleh orang lain.


“Dasar bodoh! Jangan diam saja, cepat lawan mereka!” bentak Zack pada anak buahnya.


“Tapi, Tuan. Kita kalah jumlah.”


“Keluar sekarang!” Zack berteriak yang membuat anak buahnya ke luar dari mobil.


Saat para anak buah Zack ke luar, Zack mendorong Fara untuk maju ke kursi depan. Sementara dia pindah ke kursi kemudi.


Devan berdecih saat tidak melihat batang hidung Zack, dia menatap remeh ke arah empat pria yang maju ke hadapan mereka.


Sepuluh orang yang berada di sisi Devan maju menyerang, adu jontos terjadi di tempat itu, sinar bulan menjadi saksi atas apa yang terngah terjadi.


Tidak sulit manjatuhkan anak buah Zack yang jumlahnya tidak sebanding dengan mereka.


Mata Jhon menangkap sesuatu, dia segera memberi tahu Devan. “Tuan, sepertinya Zack ada di dalam mobil itu!”


Devan spontan memutar kepalanya, dia bersama Jhon berlari ke arah mobil itu.


Zack yang melihat itu bersiap-siap menyalakan mobilnya. “Mati kau!”


“Apa yang kau lakukan?!” pekik Fara.


Kaki Zack bersiap menginjak pedal gas, Fara yang melihat itu langsung menghentikannya dengan maju dan menggigit kuat paha Zack sampai pria itu memekik kesakitan.


Fara semakin mengeratkan gigitannya, dia berusaha mengulur waktu sampai Devan berhasil membuka pintu mobil Zack.


Zack berusaha mendoorong kepala Fara yang menggit pahanya. Dia yang terlalu fokus tidak sadar jika Devan sudah berada di sebelahnya.


“Wanita kurang ajar, lepas!” Zack menendang Fara hingga wania itu terdorong dan menghantam pintu mobil.


“Baji-ngan!” Devan menggeram marah dan langsung melayangkan tinjunya secara membabi buta.


“Nyonya,” teriak Jhon saat melihat celana yang dikenakan tampak berdarah.


Devan reflek menoleh, dia yang hendak melayangkan tinju terakhirnya di wajah Zack yang sudah babak belur urung begitu melihat kondisi Fara.


“Jhon kau urus dia!” Devan menghempaskan tubuh Zack yang sudah tidak berdaya ke luar.


Pria itu menghampiri istrinya, dia membuka ikatan tangan Fara dan mengangkat wanita itu.


“Pak, perut saya sakit,” ucap Fara dengan wajah meringis.


 


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2