
Hari terus berlalu, Fara sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Akan tetapi, kekhawatiran Devan yang berlebihan membuat Fara tidak leluasa melakukan apa pun.
Seperti saat ini, Devan dengan wajah dinginnya terus mengirimkan pesan pada Fara agar tetap di rumah dan jangan banyak bergerak.
"Tuan, lima belas menit lagi rapat akan dimulai," ucap Jhon mengingatkan Devan yang sibuk dengan ponselnya.
"Hm," sahut Devan dengan tatapan fokus pada layar ponsel.
Jhon menarik napas pelan, lalu sedikit menggerakkan kaki dengan kepala miring ke kiri demi bisa mengintip apa yang sedang tuannya lakukan.
Betapa terkejutnya Jhon saat mendapati tuannya sedang memperhatikan pergerakan Fara dari rekaman cctv yang tersambung ke ponsel tuannya.
"Jhon!" Devan bersuara dengan tegas saat menyadari jika sekretarisnya diam-diam sedang mengintip.
Tubuh Jhon tersentak dan hampir saja terjatuh, pria itu langsung berdiri tegak dengan wajah terlihat kaget.
"Sepertinya kau sudah beralih profesi jadi seorang pengintip," ucap Devan dengan nada yang terdengar sinis.
Jhon hanya bisa berdiri diam di tempat, karena tidak baik membela diri disaat sudah tertangkap basah.
Sementara itu di kediaman Devan. Fara sedang rebahan di atas tempat tidur sembari memainkan ponselnya.
Sebuah notifikasi pesan dari Bagas masuk, mata Fara mengernyit saat membaca pesan dari mantan kekasihnya.
'Fara, apa benar kamu sudah menikah dengan pemilik perusahaan Devan Corporation?'
'Fara, aku ingin jujur padamu tentang perasaan yang selama ini masih bersarang di hatiku. Jujur, aku hanya menjadikan anak bosku sebagai pelarian saja.' - Bagas
Fara memutar bola mata malas, muak sekali rasanya membaca pesan dari Bagas.
Jari-jari Fara menari di atas layar ponsel, dia membalas pesan Bagas dengan emosi yang memburu.
'Pelarian? Atau kamu yang dijadikan pelarian? '
Fara langsung mengirim balasan pesan ke pada sang mantan kekasih dengan jawaban yang menohok.
Bagas merasa senang saat mendapatkan notifikasi balasan pesan dari Fara. Namun, sedetik kemudian wajahnya berubah kaku.
Apa yang dikatakan oleh Fara adalah fakta. Bahwa, dia hanya dijadikan oleh anak bosnya sebagai penghangat ranjang saja.
Pria yang merupakan mantan kekasih Fara itu mengacak rambut frustasi. Dia sangat syok saat melihat berita mengenai Fara yang sudah menikah dengan seorang pemilik perusahaan media terkemuka.
__ADS_1
"Dasar lelaki! Dikira aku bodoh kali ya, fyuh ... kok bisa aku pernah mencintai pria sepertinya. Belum di angka seratus saja sudah seperti itu," keluh Fara.
Minat bermain ponsel sudah hilang, Fara meletakkan ponselnya ke atas ranjang. Tidak ada lagi notifikasi yang masuk, mungkin saja Bagas sudah kalah malu untuk membalas pesannya kembali.
Tiba-tiba wajah dingin Devan terbayang dalam pikiran Fara. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala saat keinginan konyol itu kembali datang.
"Hus hus hus." Tangan Fara bergerak seperti sedang mengusir sesuatu di atas kepalanya dengan menggunakan tangan.
"Jangan nakal ya pikiran, huaa aset jangan ikut-ikutan dong." Fara merengek kesal saat puncak bulatan padatnya berdenyut.
Fara jadi uring-uringan, Devan dapat melihat hal itu lewat ponselnya yang tersambung dengan cctv.
"Apa dia merasa tidak nyaman? Atau perutnya keram?!" Devan berguman panik.
Pria berwajah dingin itu berdiri dengan cepat, raut wajahnya berubah khawatir. Dengan segera Devan merogoh sakunya dan mengubungi bik Sani untuk memastikan kondisi sang istri.
"Halo, Bik. Sepertinya istri saya dalam kondisi yang kurang baik, bisa cek ke kamar saya dan hubungi saya kembali," ucap Devan begitu panggilan tersambung.
Bik Sani bergegas mengecek ke kamar istri tuannya, dan saat wanita paruh baya itu masuk. Terlihat Fara tengah berbaring gelisah.
"Maaf, Nyonya. Apa nyonya baik-baik saja? Atau ada yang sakit?" tanya bik Sani dengan nada cemas.
"Saya tidak apa, Bik. Hanya bosan saja," ucap Fara jujur.
Dirinya memang merasa bosan. Namun, hal yang membuatnya uring-uringan adalah karena rasa pada puncak bulatan padatnya yang begitu menginginkan usapan dari Devan. Tapi, tidak mungkin dia mengatakan hal itu.
Bik Sani mengusap dada lega, wanita paruh baya itu izin ke luar saat sudah mengetahui keadaan istri dari tuannya dan segera menghubungi Devan untuk mengabari.
Devan yang mendapatkan informasi tentang kondisi dari asisten rumah tangganya merasa lega.
***
"Ley belum pulang juga, huh bosannya." Fara mendengus.
Wanita yang tengah berbadan dua itu memutuskan untuk ke luar dari kamar, dia melangkah menuruni anak tangga demi anak tangga sampai akhirnya tibalah dirinya di ambang pintu masuk dan keluar utama.
"Nyonya mau ke mana? Kata tuan, nyonya tidak diperbolehkan ke luar," ucap bik Ayu yang kebetulan melihat istri tuannya menuruni tangga.
Fara membalik badannya menjadi menghadap bik Ayu. Wajah Fara terlihat lesu begitu mendengar ucapan dari salah satu ART-nya.
"Sebentar saja, Bik. Saya hanya mau ... mau emmm ke indojuli," kata Fara dengan tersenyum kaku.
__ADS_1
"Biar saya saja, Nyonya." Bik Ayu mengajukan diri, bahaya jika tuannya mengetahui jika Fara ke luar dari rumah.
Bibir Fara mengerucut, wajahnya tampak sebal. Ingin sekali dirinya mengajukan protes pada sang suami.
"Ya sudah tidak jadi deh kalau begitu, Bik. Tiba-tiba saya mau duduk-duduk saja di taman belakang," ujar Fara.
Bik Ayu mengangguk dan berniat menemani istri tuannya duduk di taman. Namun, gerakan bik Ayu terhenti saat Fara meminta tolong dibuatkan jus guava.
"Maaf merepotkan ya, Bik."
Bik Ayu mengulas senyum. "Tidak apa, Nyonya. Sudah tugas bibik. Kalau begitu bibik buatkan dulu ya. Mari, Nyonya."
Fara bersorak riang dalam hati, dia segera berjalan melewati pintu utama di rumah Devan. Jalan yang seharusnya ke kanan untuk menuju taman belakang rumah tidak dilewati oleh Fara. Wanita itu malah berjalan lurus menuju pintu gerbang.
"Pak satpamnya ada di pos lagi, haduh! Ayo Fara putar otak."
"Aha!" Fara menjentikkan jarinya saat sebuah ide muncul di kepalanya.
Fara berjalan cepat menuju pos satpam yang berada dekat pintu gerbang sebelum bik Ayu datang.
"Pak, bik Ayu sudah buatkan jus. Bapak ambil ke dapur ya," ucap Fara dengan senyum manis yanh tersungging di bibirnya.
Satpam itu tampak keheran karena tidak biasanya dibuatkan jus. "Jus? Wah biasanya kopi. Apa si bibik lupa ya." Satpam itu garuk-garuk kepala.
"Biar sehat jangan kopi terus, Pak."
"Kalau begitu saya ke dapur sebentar ya, Nyonya."
Fara mengangguk seraya tersenyum. Fara menunggu sampai satpam itu benar-benar sudah masuk ke dalam rumah barulah dirinya membuka pintu gerbang dan pergi ke luar dengan wajah cerah disertai senyum yang mengembang.
Senyum Fara luntur seketika saat mobil Devan baru saja tiba di depan gerbang.
"Mau ke mana hum?" tanya Devan dengan wajah terlihat sangat datar saat ke luar dari mobil.
"Pak Devan!"
Bersambung ....
Hai zeyengku tercinta, maaf othor ilang timbul seperti ikan lohan, othor baru pindahan jadi baru bisa kembali up😣 terima kasih dan lope sekebon untuk para readers yang masih setia bersama pak Devan dan Fara.
Jumpa lagi esok di bab selanjutnya ❤❤❤❤
__ADS_1