Ampun Pak!

Ampun Pak!
KELUARGA KECIL


__ADS_3

Mata Devan melihat sekilas kedatangan Fara ke ruang makan. Dia kembali memfokuskan penglihatannya ke arah sang anak.


“Mom!” panggil Ainsley ceria.


“Mom sudah baca surat dari Ley?” tanya gadis kecil itu dengan mata berbinar.


Tangan Fara menarik kursi di sebelah Ainsley, lalu dia duduk dan menjawab pertanyaan sang anak dengan menggelengkan kepala pelan.


“Mommy baca ketika malam ya, Sayang,” ucap Fara seraya mengecup puncak kepala putri sambungnya.


Kepala Ainsley mengangguk, dia terlihat senang bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya. Kini Ainsley tersenyum dan mulai menjalankan ide yang ada di kepalanya.


“Daddy, Ley ingin jalan-jalan bersama mommy dan daddy,” ucap Ley dengan kepala tertunduk lesu.


Devan meletakkan sendok dan juga garpunya, tatapan mata pria itu terfokus pada putri kecilnya yang tiba-tiba terlihat bersedih.


“Ley ingin ke mana?” tanya Devan dengan lembut.


Mendengar pertanyaan sang daddy membuat sudut bibir Ley terangkat. Namun, sebisa mungkin gadis kecil itu menahan gerakan bibirnya agar sang daddy mau menuruti permintaannya. Perlahan Ainsley mengangkat kepalanya, dia memasang wajah polos seraya mengedipkan mata beberapa kali dalam persekian detik.


“Ley ingin ke pusat permainan kota, Dad. Naik bianglala seperti yang ada di majalah bisnis milik daddy,” ucap Ainsley dengan suara yang terdengar imut.


Devan mengangguk pelan, melihat respon sang daddy membuat Ainsley kegirangan. Fara yang sedari tadi memperhatikan putri sambungnya hanya bisa terkikik geli dalam hati. Baru kali ini Fara menemui anak secerdas dan secerdik Ainsley.


“Daddy menelfon paman Jhon sebentar ya, Sayang.”


Devan hendak berdiri dari duduknya. Namun, Ainsley mengehentikan Devan dengan wajah cemberut.


“Jangan ajak paman Jhon daddy, Ley tidak mau, paman Jhon orangnya tidak seru, tidak mau senyum,” ucap Ainsley dengan bersedekap dada seraya membuang wajah ke arah lain.


Ingin sekali rasanya Fara tertawa melihat tingkah Ainsley yang sangat lucu, bayangan wajah sekretaris Jhon yang datar dan wajah Devan yang lebih parah datarnya daripada Jhon menari-nari di pikirannya.


“Daddy hanya ingin menyuruh paman Jhon memesankan tiket masuk,” ujar Devan menenagkan sang anak.


Ainsley merubah ekspresi wajahnya menjadi senang kembali, gadis kecil itu jadi merasa tidak sabar jalan-jalan bersama dengan mommy dan daddy-nya.

__ADS_1


Devan pergi menjauh dari meja makan. Namun, keberadaan pria itu masih dapat dijangkau oleh mata Fara dan Ainsley.


Terlihat Devan sedang berbicara dengan Jhon lewat smartphone. Fara dapat mendengar suara suaminya yang menyuruh Jhon mengosongkan tempat hawana bermain dengan cara menyewa tempat itu seharian penuh. Devan memutuskan panggilan dan menunggu Jhon kembali menelfon.


Jhon menghubungi seorang pemilik dari tempat hiburan yang memiliki banyak permainan, kebetulan orang yang dihubunginya adalah orang yang pernah memakai jasa media periklanan perusahaan Devan sehingga mereka memiliki nomor si pemilik tempat itu.


Sekretaris itu menghela napasnya saat si pemilik meminta maaf karena jika ingin menyewa harus dilukan sebelum hari-H. Suara orang yang dihubungi Jhon terdengar sungkan, bukannya ingin menolak. Tapi, sudah banyak tiket yang terjual dan tidak mungkin si pemilik menutupnya secara tiba-tiba, apalagi di tanggal merah seperti ini.


Jhon kembali menghubungi Devan, dia menyampaikan apa yang didapatnya barusan. Hal itu membuat Devan mendengus kasar.


“Ya sudah, saya tutup telfonnya.” Devan mengakhiri panggilan dan kembali menghampiri Ainsley.


Fara yang sudah tahu jika Devan akan menyampaikan bahwa mereka tidak bisa pergi ke tempat itu segera menghentikan suaminya, dia tidak mau melihat wajah bersedih Ainsley. Fara berdiri dan menarik tangan suaminya.


“Pak, kan masih bisa pergi tanpa harus mengosongkan tempat itu,” ucap Fara dengan suara yang pelan.


Devan menarik tangannya, lalu membalas ucapan Fara dengan mata menatap tajam.


“Hal itu akan membuat orang disekitar mengambil kesempatan untuk menggoreng informasi!” jawab Devan dengan mendengus.


Fara mengehela napas berat, dia tahu pasti jika sang suami enggan orang-orang mengetahui jika dia adalah istri dari Devan, pemilik perusahaan Devan Corporation.


Devan cukup tertarik, dia membiarkan Fara untuk melanjutkan apa yang ingin diucapkan oleh wanita itu.


“Ada sawah yang terbentang luas, di sebelahnya terdapat sungai yang tidak begitu lebar. Di sana juga ada dangau,” ucap Fara.


“Ba- bangau?” tanya Devan yang merasa asing dengan kata itu.


“Dangau, Pak. Bukan bangau, dangau itu tempat para petani beristirahat sehabis membajak sawah, biasanya mereka duduk di dangau jika waktu makan siang tiba. Ya tempatnya itu seperti rumah kecil terbuat dari bambu dengan beratapkan tepas, ukuran dangau tidak besar.” Fara menjelaskan dengan tangan bergerak seperti sedang menggambarkan bagaimana bentuk dangau.


“Hm, di mana tempat memesan tiketnya?” tanya Devan dengan wajah datar.


Fara hampir saja menyembur wajah Devan, dia menutup mulut—menahan tawa. Ada-ada saja suaminya ini, mana ada orang mau duduk di dangau pakai tiket segala.


“Kau ….” Devan menggeram kesal.

__ADS_1


“Kita tidak perlu membeli tiket, cukup izin saja sama yang punya.” Fara bicara sambil menahan tawanya.


Devan mengangguk setuju atas ide dari istrinya. Walaupun dirinya sempat kesal karena Fara menertawakannya.


Mereka kembali duduk dan menghampiri Ainsley yang diam sambil memperhatikan kedua orang tuanya yang sedari tadi asik bicara.


Fara menjelaskan pada sang anak jika mereka tidak jadi pergi ke wahana bermain. Wajah Ainsley berubah murung. Namun, hal itu tidak berlangsung lama saat Fara mengatakan jika mereka akan pergi ke sawah yang ada sungai di sebelahnya.


 


 


***


 


Fara beserta suami dan anaknya sedang berada di dalam mobil, kali ini Devan tidak membawa supir. Dia menyetir sendiri dengan Fara dan Ainsley yang duduk di sebelahnya. Perjalanan yang tidak dekat membuat mereka harus menempuh perjalanan selama tiga jam lamanya untuk sampai di tempat yang Fara arahkan.


Devan menepikan mobilnya. Ainsley menunjuk-nunjuk jendela dengan suara riang.


“Mom, rumputnya banyak sekali.”


Fara mengulum senyumnya, dia mengelus pipi sang anak yang berada di atas pangkuannya seraya berkata, “bukan rumput, Sayang. Itu tumbuhan padi yang masih muda.”


Devan melihat sekitar jalanan yang sepi dan sisi kanan dan kiri tempat mereka menepi dipenuhi dengan sawah yang masih hijau.


Hanya ada satu rumah yang berada di tengah sawah, dan satu dangau yang ada di antara sawah yang terbentang luas.


“Pak, mungkin itu si pemilik sawah. Kita ke sana dulu untuk minta izin menggunakan dangaunya,” ucap Fara.


Pria itu mengangguk, dia ke luar dari mobil dan membuka pintu bagasi mobil untuk mengambil tas yang berisi makanan yang sudah disiapkan Fara sebelum pergi. Fara mengikuti langkah kaki suaminya.


Wanita itu menggendong Ainsley. Sementara Devan menjinjing tas yang cukup berat. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sedang berlibur ke kampung halaman.


 

__ADS_1


Bersambung ….


Wah bagaimana lanjutan kisah keluarga kecil Devan yang sedang liburan di sawah orang?🙈🙈🙈


__ADS_2