Ampun Pak!

Ampun Pak!
BAB 50


__ADS_3

Saat keluarga kecil itu tengah berkumpul di atas tempat tidur, Fara menghentikan celotehannya dengan sang anak.


Devan yang melihat itu menjadi khawatir. “Apa ada yang sakit?” tanya Devan merasa gusar.


Kepala Fara menggeleng. Wanita itu menurunkan kakinya dari tempat tidur, hal itu tentu saja membuat Devan terkesiap.


“Mau ke mana?” Devan menahan tubuh istrinya.


Ainsley menggaruk keningnya karena tidak mengerti apa yang tengah terjadi.


“Mau ke kamar mandi, saya mau buang air kecil,” ucap Fara dengan cicitan seperti tikus terjepit.


“E-eh bapak mau apa?” tanya Fara panik saat Devan mengangkat tubuhnya dari tempat tidur.


“Saya antar, Ley tunggu di sini ya, Sayang.”


“Hu’um.” Gadis kecil itu mengacungkan dua ibu jarinya.


Tidak! Bagaimana bisa dirinya buang air kecil dengan Devan yang ikut serta masuk. Devan menurunkan Fara, dia membantu membuka kloset duduk, saat Devan hendak menurunkan celana Fara, wanita itu menepis tangannya.


“Saya bisa sendiri, Pak.”


Namun, tampaknya Devan adalah pria yang sangat keras kepala, dia tidak menghiraukan ucapan sang istri dan tetap melanjutkan gerakannya yang sempat terhenti.


Huaa sarangku kelihatan! Batin Fara berteriak.


Pipi Fara terlihat bersemu merah, dirinya duduk di atas kloset duduk dengan bantuan Devan. Fara mendengakkan kepalanya saat melihat Devan masih berdiri di sampingnya.


“Pak pipis saya tidak bisa ke luar kalau dilihatin begitu.” Fara mencebikkan bibirnya dengan pipi semerah tomat.


Devan tidak menghiraukan ucapan istrinya, dia tetap berdiri di samping sang istri dan hanya memutar 45° badannya.


“Hah ya sudahlah,” ucap Fara terdengar pasrah.


Fara menekan tombol flush saat acara buang air kecilnya selesai, saat dia sudah membersihkan diri dan hendak berdiri, Devan segera membalik badan kembali dan membantu menaikkan celana istrinya.


Hal ini seperti cobaan bagi pria berumur 36 tahun itu, dia melihat aset istrinya dengan meneguk ludah susah payah.


Devan menepis pikiran syahdu-nya dan segera mengangkat tubuh sang istri. Fara yang diperlakukan sedemikian rupa malah merasa jika Devan terlalu berlebihan semenjak tahu jika dirinya sedang hamil.


Hmm padahal hanya dua kali, tapi aku bisa hamil secepat ini. Ucap Fara dalam hati.

__ADS_1


***


Malam hari pun tiba, Devan terlihat gelisah di atas tempat tidur. Dia berulang kali merubah posisi tidurnya, hal yang sama juga terjadi dengan Fara yang tidak bisa tidur karena menginginkan sesuatu.


Devan merasa lidahnya kembali terasa pahit, sedangkan Fara begitu menginginkan Devan menjadi bayi besar seperti saat itu.


“Pak.”


“Fara.”


Panggil keduanya secara bersamaan. Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menghilangkan kecanggungan yang ada.


“Bapak saja duluan,” ucap Fara, karena sejujurnya dia tidak berani mengutarakan keinginannya.


“Kamu saja,” balas Devan.


Fara merasa tidak tenang, keinginan untuk hal itu sangat membuatnya gelisa sampai-sampai dia tidak bisa tidur padahal dirinya sudah sangat mengantuk.


Fara memanikan jarinya yang dia letakkan di atas perut. Dengan menutup mata Fara mengutarakan keinginannya.


“S-saya ingin ini … anu itu,” kata Fara tidak jelas sambil menunjuk bulatan padatnya.


Devan yang memang pikirannya sedari tadi ke arah itu langsung paham dan memperjelas maskud sang istri.


Ekspresi Devan saat ini sangat berlawanan dengan isi hatinya. Dia merasa beruntung bisa mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa harus malu untuk meminta.


Devan bergerak mengangkat baju tidur Fara ke atas. Glek! Napas pria itu berubah menjadi berat. Tatapan mata yang mengarah ke kedua bulatan padat sang istri begitu intens sampai-sampai Fara merasa malu saat dirinya membuka mata dan melihat Devan terus memandangi asetnya.


Sontak kepala Devan menoleh ke wajah sang istri, pipi kedua pasangan itu terasa panas. Seperkian detik keduanya sama-sama membuang muka ke arah yang berlawanan.


Fara kepalang malu, suaminya bertindak terlalu lama dan membuatnya semakin tidak dapat mengontrol napasnya. Wanita itu hendak menurunkan bajunya kembali.


Namun, dengan sigap Devan menahannya. "Jangan! Bahaya jika keinginan si baby tidak kesampaian," ucap Devan berdalih.


"Apa iya? Dulu Ley juga begitu?" tanya Fara.


Wajah yang tadinya bersemu kini sirna dan berganti menjadi wajah penasaran.


Devan menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan istrinya. Dia menaikan kacamata penutup bulatan padat milik Fara dengan perlahan.


Fara terkejut dan spontan memejamkan mata dengan kuat. Tempat tidur terasa bergoyang saat Devan bergerak. Namun, pria itu tidak menimpa tubuh sang istri karena ia membawa tubuh istrinya menjadi menyamping.

__ADS_1


Alis Fara bergerak saat sapuan hangat ia rasakan pada asetnya, perasaan yang tadinya gelisah berganti dengan rasa lega dan nyaman. Entahlah, mungkin saja Fara sudah ketagihan semenjak saat itu. Atau Devan yang ketagihan? Yang pasti saat ini keduanya sama-sama menikmati.


Fara yang tetap memejamkan mata semakin merasa nyaman saat tangang Devan mengusap perutnya dengan sangat lembut.


Aku pikir pak Devan akan menolak anak ini, ternyata malah sebaliknya, sangat di luar ekspetasi. Batin Fara sambil sesekali melipat bibirnya.


Devan benar-benar menikmati apa yang sedang dia lakukan. Belum juga anak di dalam kandungan Fara lahir, tapi dia sudah menjadikannya sebagai alasan untuk bisa merasakan bulatan yang lebih segar daripada buah semangka, walau besarnya tidak seberapa. Akan tetapi, tidak mengurangi rasa nikmatnya.


Mulut yang bergerak aktif itu tidak ada lelahnya. Bahkan, sampai si pemilik aset sudah tertidur pun, Devan tetap saja bersimulasi menjadi bayi besar.


Rasa pahit di lidahnya sudah menghilang. Tapi, dia seakan enggan untuk menyudahi acara minum susu cap pabrik mangkrak milik istrinya.


Saat Fara bergerak ingin memutar badan, Devan dengan segera mempuk-puk Fara seperti bayi sehingga wanita itu diam dan malah menarik Devan dalam pelukannya.


Devan layaknya guling bagi Fara, satu kaki Fara naik ke atas pinggang suaminya.


Mata Devan terpejam kuat, dia berusaha menghalau has-ratnya yang timbul dan menyala.


***


Malam yang begitu nikmat sekaligus menyiksa sudah berlalu, kini Devan yang tidak berangkat ke perusahaannya melihat tanggal yang berwarnakan merah.


Pria itu melepas puncak bulatan padat milik Fara dari ******* mulutnya. Tatapan Devan jatuh pada aset yang terlihat basah.


Devan menggelengkan kepala dan segera menutup aset itu sebelum dirinya kembali tersiksa.


Fara terbangun saat dadanya terasa ringan, dia mengerjapkan mata perlahan, lalu mengucek matanya.


Pemandangan wajah tampan Devan memenuhi penglihatannya, hidung yang mancung dan rambut yang terlihat acak-acakkan menambah pesona pada pria itu.


Reflek Fara mengusap perutnya dengan berharap agar sang anak mewarisi paras dan hidung mancung Devan.


Sadar sang istri memperhatikannya, Devan pun berdeham untuk mengalihkan rasa aneh yang melintas di dalam dirinya.


"Mau itu ...." Fara menunjuk ke arah Devan.


Devan mengikuti ke mana arah jari telunjuk Fara membidik. Mata pria itu melirik ke bawah.


Hap!


Tangan Devan reflek memegang senjata pamungkasnya.

__ADS_1


Bersambung ....


Duh aduh mau apa tuch Fara? 🐦 Neh lagi si pak Devan pakai acara ngeles, kan kesian tuh baby belum lahir udah dimanfaatin 🙉


__ADS_2