
Devan menenggak jamu buatan Fara dengan jakun naik turun, hal itu tidak terlepas dari mata Fara yang memperhatikan tonjolan di leher suaminya yang bergerak naik turun. Gerakkan itu terlihat melambat di mata Fara, dia ikut menelan ludah karena Devan terlihat begitu cool.
Wajah Devan tampak mengernyit saat menyudahi acara minum jamunya, tidak terlihat tanda-tanda pria itu akan memuji.
Fara menatap cemas, dia tidak sabar menunggu bagaimana respon yang akan diberikan suaminya setelah meminum jamu buatannya. Namun, dia kembali menelan kekecewaan saat Devan tampak diam saja. Dia pikir Devan akan berkata jika jamu buatannya enak, apalagi dia melihat tumblr berisi jamu itu hanya tersisa sedikit. Raut wajah kecewa tergambar samar di wajah Fara. Namun, Ainsley yang sangat peka dengan sang mommy dapat menangkap sinyal itu.
Ainsley sedikit memiringkan kepala seraya meletakkan satu jari telunjuk di bawah dagu. Gadis kecil itu tersenyum saat sebuah ide muncul di kepalanya.
“Daddy, bagaimana rasanya?” tanya Ainsley dengan memasang wajah dibuat sepenasaran mungkin.
Devan berdeham, dia enggan menjawab. Akan tetapi, putri kecilnya tampak menuntut jawaban.
“Enakkan, Dad?” tanya Ainsley lagi.
Pria itu menganggukkan kepala pelan dengan memasang senyum yang terlihat begitu kaku. Fara mendengus dalam hati, suaminya benar-benar seperti kulkas yang diberi nyawa.
***
Tiga hari berlalu setelah acara menikmati liburan di sawah orang, kini Devan menjalankan rutinitasnya sebagai seorang CEO di perusahaan yang dibangunnya. Dia berkutat di depan layar monitor dengan wajah terlihat sangat serius.
Di tempat lain, Fara sedang membuka kulkas, dia melihat stok jamu yang dibuatnya sudah habis. Belakangan ini Devan selalu disajikan dengan jamu tolak sial buatan dirinya, dan betapa senangnya dia saat pria itu tidak menolak.
“Sudah habis, buat lagi deh.”
Wanita itu menepuk jidat saat teringat jika bahan yang dibutuhkannya untuk membuat jamu sudah habis. Fara berniat untuk pergi ke pasar. Tapi, dia teringat jika sebentar lagi Ainsley akan pulang sekolah.
Fara menggaruk kepalanya, dia terlihat bingung. Dirinya takut jika sang anak akan menangis saat tidak menemukan keberadaan dirinya di rumah.
“Titip pesan sama bik Sani sajalah kalau begitu,” ucap Fara bermonolog.
Dia menghampiri bik Sani dan menitip pesan untuk Ainsley jika dirinya sedang pergi ke pasar untuk berbelanja.
Dirasa sudah aman, Fara segera menaiki tangga untuk mengambil uang secukupnya, tidak lupa dia memakai masker karena kali ini dirinya ke luar dari rumah Devan tanpa supir. Dirinya memilih untuk naik ojek online.
“Mbak tinggal di rumah pemilik perusahaan media paling tersohor. Mbak kerja di sana?” tanya tukang ojek online yang merasa kepo.
Fara menjawab pertanyaan si tukang ojol dengan sedikit berteriak karena suara kendaraan yang mengganggu pendengaran.
__ADS_1
“Iya, saya kerja di sana,” jawab Fara.
Dia berharap tukang ojol itu tidak lagi bertanya karena telingannya terhalang dengan helm. Namun, harapan selalu menghianati keinginan karena tukang ojol itu kembali bertanya.
Fara merasa pusing karena dirinya tidak mendengar dengan jelas apa yang tukang ojol itu katakan. Jadilah ia mengeluarkan kata terampuh sedunia. “Hah?”
“Aakkkjsnwdwid, Mbak,” ucap sang supir ojol yang tidak terdengar jelas.
“Iya, Bang.” Fara menjawab dengan asal.
Hal absurd itu berlanjut hingga dirinya merasa ingin berteriak untuk minta tolong. Fara merasa menemukan secercah ketenangan saat pasar tradisional sudah terlihat dengan matanya yang berarti dia hampir sampai.
“Ini, Bang. Terima kasih.” Fara melakukan pembayaran secara tunai. Tak lupa dia melepaskan helm dan memberikannya pada tukang ojol.
“Jangan lupa bintang limanya ya, Mbak,” ucap si abang dengan tersenyum ramah.
Fara menganggukkan kepala, dia memberikan bintang lima ke pada supir ojek online yang mengantarkannya ke pasar, dia tahu jika para supir ojol sering mengajak para penumpangnya berbicara untuk meningkatkan kualitas pelayanan dengan tidak bersikap acuh dan cuek.
Wanita itu memasuki area pasar, betapa terkejutnya Fara saat melihat pria yang pernah dikatainya tidak waras.
“Ih dia kok bisa ada di sini.”
“Tunggu Fara!” Pria itu mengejar Fara.
Langkah Fara kalah lebar dengan langkah pria yang kini mengahalangi jalannya. Padahal dia memakai masker. Akan tetapi, pria di depannya bisa mengenali.
“Akhirnya kamu ke sini lagi, hari ini mau belanja apa? Aku temani ya,” ucap si pria.
Fara berusaha tidak perduli dengan pria di depannya, dia menghindar dan berniat untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti saat pria itu terus menghalangi jalan.
“Apa kau tidak memilik pekerjaan sehingga mengikutiku seperti ini?” tanya Fara ketus.
Pria itu tampak tersenyum. Tampan sih, hanya saja lebih tampan pak Devan. Pikir Fara. Reflek kepala Fara menggeleng saat mengingat wajah suaminya yang dingin dan datar.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa,” sahut Fara dengan wajah jutek.
Fara membiarkan pria itu mengikuti dirinya sepanjang berbelanja, dia sengaja memilih tempat yang terdapat genangan air berwarna kecoklatan yang aromanya cukup luar biasa untuk dia lewati. Pria itu terlihat tidak nyaman. Namun, tetap saja si pria mengikuti ke mana Fara melangkah.
Pria itu bernapas lega saat Fara ke luar dari area pasar, dia menahan lengan Fara saat wanita itu hendak pergi.
__ADS_1
“Bisa kita makan terlebih dahulu? Aku tahu di mana restaurant yang menyanjikan makanan lezat.”
Fara memutar bola mata malas, dia menarik lengannya dari genggaman pria itu dengan sedikit kuat.
“Dengar ya, saya heran dengan Anda yang mengikuti saya dari tadi, dan kenapa Anda tahu saya akan ke sini? Anda intel ya?” tanya Fara sengit.
Pria itu terkekeh mendengar cerocosan Fara, dia semakin tertantang untuk mendekati wanita yang sudah ditargetkannya sebagai patner-nya di atas ranjang.
“Ayolah, anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena aku sudah mengembalikan dompet kamu,” ucap pria itu dengan menaikkan satu alisnya.
Fara berdecak. “Kau pamrih juga ternyata!”
Dan kini keduanya sedang berada di rumah makan sederhana. Ya, Fara menerima ajakan pria itu dengan syarat pria itu harus berjanji tidak akan menganggunya lagi.
“Pak makan di sini pakai semur jengkol, sambel ijonya dibanyakin ya. Kau mau makan pakai apa?” tanya Fara pada pria di sebelahnya.
“Samakan saja dengan kamu,” jawab pria itu.
Fara dan si pria memilih tempat duduk yang berada dekat dengan kipas angin, pria itu menatap sekeliling rumah makan dengan tatapan heran. Dirinya baru pertama kali makan di tempat seperti ini.
“Hei, sesuai janji ya. Jangan ganggu aku lagi setelah ini,” kata Fara dengan mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah si pria.
“Ya, kau takut sekali. Perkenalkan namaku Zack.”
“Oh.”
Zack menarik satu sudut bibirnya, Fara berbeda dari sekian banyaknya wanita yang pernah ia temui. Wanita ini sangat sulit untuk didekati. Pikir Zack.
“Selamat menikmati,” ucap bapak pemilik rumah makan sederhana itu seraya menata pesanan Farad an Zack ke atas meja.
Mata Zack menyipit, dia merasa aneh dengan makanan yang tersaji di depannya. Sebuah menu paling aneh yang pernah dirinya pesan, bentuk dari makanan itu bulat pipih dengan warna kecoklatan.
“Ayo cepat makan, aku harus segera pulang.”
Di perusahaan, Devan kembali mendapat laporan jika Fara kembali bertemu dengan Zack.
“Kurang ajar!”
Bersambung ….
__ADS_1