Ampun Pak!

Ampun Pak!
BAB 48


__ADS_3

Jhon memerintahkan dua orang dari mereka untuk menjaga Zack beserta anak buahnya agar tetap berada di lokasi sampai polisi datang. Sementara delapan orang bayaran Devan yang lainnya diperintahkan untuk kembali.


Jhon berlari membukakan pintu mobil untuk Devan yang sedang menggendong tubuh Fara.


“Terima kasih,” ucap Fara terdengar lirih.


Devan menundukkan kepalanya, raut wajah Devan terlihat tegang saat mendapati wajah pucat Fara. Tidak! Dia merasa seperti berada di masa lalu.


“Jhon ke rumah sakit sekarang!” perintah Devan saat dirinya sudah berada di dalam mobil dengan memangku tubuh istrinya.


Jhon menyalakan mobil dengan segera, mobil yang dinaiki mereka melaju dengan kecepatan tinggi. Fara yang masih sadar terus memperhatikan wajah Devan yang terlihat panik. Sebuah senyum kecil tersungging di bibir Fara, dia dapat melihat raut wajah lain dari suaminya selain raut datar dan dingin.


Kepala Devan menunduk, dia menghapus keringat yang membasahi wajah sang istri, darah yang ke luar dari sela paha Fara tidak begitu banyak. Namun, mampu membuat pikiran Devan tidak tenang.


Apa kau hamil? Batin Devan bertanya di tengah rasa khawatirnya.


“Pak saya mengantuk,” ucap Fara dengan suara yang terdengar sangat pelan.


Melihat mata Fara yang semakin sayu dan hendak tertutup membuat rasa panik menyerang diri Devan. Pria itu berteriak pada Jhon yang sedang menyetir untuk menambah lajunya.


Rasa takut melanda Devan saat Fara menutup matanya dan tak lagi bersuara. Dia menepuk pelan pipi istrinya berulang kali. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil karena Fara tetap memejamkan mata.


Perjalanan menuju rumah sakit diiringi kecemasan yang luar biasa membuat laju mobil yang kecang menjadi terasa lambat.


***


Begitu tiba di rumah sakit, Devan langsung turun dengan dibantu oleh Jhon yang mebukakan pintu mobil. Beberapa tim medis membantu Devan untuk membawa Fara ke atas brankar rumah sakit.


Banyak mata yang memperhatikan Devan si pemilik perusahaan media terkemuka. Bisik-bisik mulai terdengar. Namun, Devan tidak menghiraukan semua itu karena saat ini fokusnya adalah Fara yang terbaring di atas brankar rumah sakit.


“Selamatkan istri saya, Dokter!” Devan mendesak dokter yang menangani Fara.


“Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Bapak tunggulah di luar,” ucap dokter tersebut.


Rasa enggan membuat Devan tidak ingin meninggalkan istrinya sendiri. Akan tetapi, dirinya harus mematuhi prosedur rumah sakit agar Fara bisa ditangani secepatnya. Dia memilih ke luar dan menunggu di depan ruangan tempat Fara ditangani.


Devan mondar-mandir seperti setrikaan, Jhon yang melihat itu tidak berani menegur tuannya untuk duduk dan menunggu.


Sepertinya Anda mulai menyukai wanita itu. Tapi, Anda berusaha menyangkalnya, Tuan. Batin Jhon.


Beberapa waktu berlalu, Devan duduk di samping Jhon. Namun, saat pintu berwarna putih yang dilengkapi dengan kaca tebal itu terbuka, Devan langsung berdiri dan menghampiri dokter yang menangani Fara.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan istri saya?” tanya Devan dengan tidak sabaran.


Jhon yang tadinya duduk di sebelah sang tuan ikut berdiri.


“Istri serta janin yang ada di dalam kandungan istri bapak dalam keadaan baik-baik saja. Beruntung bapak membawa pasien tepat waktu,” tutur sang dokter.


Dunia Devan terasa seperti berputar, hamil? Satu kata yang ada di benaknya saat ini. Apa benar Fara hamil?


“H-hamil?”


Bukan Devan yang bertanya melainkan Jhon yang keceplosan saat mendengar penjelasan dari sang dokter.


Devan menoleh ke arah Jhon dengan mata mendelik, Jhon membuang wajah ke arah lain. Dia bersyukut istri tuannya dalam keadaan baik-baik saja.


Diam-diam Anda sudah menanam benih yang lain. Hah, semoga Anda bahagia, ucap Devan dalam hati.


“Apa saya sudah bisa melihat keadaan istri saya?” tanya Devan kembali beralih ke dokter.


“Bapak bisa membesuk pasien jika sudah dipindahkan ke ruang rawat.


Kepala Devan mengangguk. Dia masih tidak menyangka akan memiliki anak dari Fara.


Devan melirik Jhon dengan tatapannya yang tajam. “Kau jangan mengejek saya!”


Jhon langsung mengambil jarak, dia mewanti-wanti jika tuannya akan marah. “Saya akan mengambilkan pakaian Anda dan mengurus perihal Zack,” ucap Jhon, lalu dia melarikan diri dari hadapan tuannya.


Devan menggelengkan kepalanya. “Anak,” ucap Devan bermonolog.


Setelah menunggu, Devan membesuk istrinya yang sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, pria itu masuk dengan keadaan jantung yang berdebar tidak karuan. Wajahnya yang dingin tidak terlihat saat ini, gurat cemas tergambar di wajah tampan Devan saat dirinya membuka pintu itu.


Devan berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata terkunci pada Fara yang terlihat masih belum sadarkan diri. Dia membawa langkahnya yang berat masuk, tidak lupa dirinya menutup pintu sebelum menghampiri sang istri.


Kini Devan berada di sisi brankar rumah sakit yang ditempati Fara. Tangan Devan yang bergetar terulur dan diletakkannya di atas perut Fara.


“Pak ….”


Pria itu terlonjak kaget dan spontan menarik tangannya yang berada di atas perut Fara saat wanita itu tiba-tiba memanggil dirinya.


“Kenapa saya di rumah sakit, perut saya sakit ya, Pak?” tanya Fara dengan suara yang terdengar parau.


Fara berpikir jika perutnya terluka karena Zack mendorongnya dan jadi lah perutnya terbentur sesuatu hingga membuat perutnya berdarah. Tapi, kenapa saat Devan menyentuh perut dirinya tidak terasa sakit, bukankah kalau ada luka akan sakit jika disentuh?

__ADS_1


Tangan Fara hendak menarik baju pasien yang dikenakannya untuk memeriksa keingintahuannya. Namun, Devan menggenggam tangan wanita itu dan membuat gerakan tangan istrinya terhenti.


Kepala Fara menoleh pelan dengan mata menatap wajah sang suami. “Saya mau melihat bagaimana luka di perut saya, Pak,” ucap Fara sedikit merengek.


“Tidak ada luka,” balas Devan.


Dahi wanita itu mengernyit, jika tidak ada luka kenapa Devan mengusap perutnya sambil memasang wajah terlihat khawatir.


Melihat raut bingung Fara, Devan berniat memberi tahu tentang kehamilan yang saat ini sedang dialami Fara. Sebelum itu, dia menarik napas panjang sebelum mengatakan kabar yang entah itu bahagia atau sedih untuk sang istri.


“Kau hamil.”


“Hamil?” tanya Fara terlihat syok.


“Ya, mengandung seorang bayi,” sahut Devan karena pria itu pikir Fara belum mengerti maksud perkataan singkatnya.


Fara langsung teringat akan kondisinya sebelum dibawa ke rumah sakit oleh Devan. Deg! Fara berubah cemas, pikirannya melanglangbuana.


“T-tadi saya berdarah, bagaimana dengan ….”


“Anak saya kuat, dia masih bertahan di sini,” ucap Devan seraya mengelus perut Fara.


Wanita itu dapat bernapas lega. Tapi, tunggu dulu! Dia mendengar Devan menyebut ‘anak saya’. Tidak! Ini bukan hanya anak Devan.


“Ini anak saya!” Fara menepis tangan Devan dari perutnya.


Devan terkejut, dia melihat Fara yang memeluk perutnya sendiri.


“Saya yang membuat dan membuahinya,” sahut Devan merasa tidak terima.


“Hahh, lebih baik kau istirahat.” Devan duduk di kursi yang berada di samping brankar rumah sakit.


Pria itu tidak perduli akan protes dari istrinya, dia tetap saja mengelus perut Fara. Tidak dapat dielakan jika Fara merasa terharu. Saat ini dia sedang mengandung.


 


Bersambung ….


Sampai jumpa di bab selanjutnya esok hari pukul 21.00 WIB. Mari angkat jempole zeyengku. Azeeekkk.


 

__ADS_1


__ADS_2