
Bunyi musik memenuhi ruangan, 2 orang pria sedang menikmati minuman mereka, yang tak lain tak bukan adalah Ben dan Niko.
" Jadi datang apa ga sih tuh orang???" Tanyanya pada Ben sambil melihat kearah jam tangannya.
" Sabar bro..." jawab Ben sambil menepuk bahu Niko.
Yang di tunggu akhirnya menampakan dirinya juga.
" Tumben telat kamu Steven?? Kita udah menunggu kamu 30 menit!!!"
" Iya nih..kabar juga ga kasih..!" timpal Ben
" Ada kerjaan yang harus aku selesaikan tadi."
" lagu basi itu.. kayak hari besok tuh bakal ga ada lagi, ga menikmati hidup banget sih kamu brother.. iya ga Nik??
" Kamu kayak aja tau dia aja Ben, mana tau di menikmati hidup.."
Hahaha...Ben dan Niko mentertawakan Steven, menurut mereka Steven sangat kaku dan hanya tau berkerja saja.
" Aku menemui kalian bukan untuk menjadi bahan lelucon kalian.."
"Lihat Nik..selain kaku, ga bisa humor juga dia.. hahaha"
" Biasa Ben, kelamaan hidup di peradabannya sendiri.. hahaha"
Mereka ber2 sangat senang bisa mengerjai Steven, sedangkan Steven hanya duduk sambil menikmati minuman tanpa peduli dengan ejekan mereka.
" Udah ah..capek aku ketawa dari tadi Ben, kasihan juga ada yang dari tadi jadi patung hidup."
" Udah puas kalian ??"
" Ngambek dia Nik.. hahaha" ketawa Ben masih mengejek.
" Btw ada apa kamu balik ke indonesia?? baru juga berapa hari di Australia, apa ada hal yang penting?? Tanya Niko pada Steven
" Iya nih...tadi pagi aku tanyain juga di cuekin" Ben memprotes.
Steven tidak ingin menceritakan kepada ke2 sahabatnya itu, apalagi Ben yang agak mulut ember. Tapi ia harus menceritakan kepada mereka, Karena ia memerlukan bantuannya Dalam menjalankam rencananya itu.
" Sebenarnya aku pulang karena mummy ku ngambek sama aku, jadi aku pulang buat minta maaf, Tapi sekarang malah jadi cerita lain..!!"
" Maksudnya gimana??" Tanya Niko
" Mummy memberiku syarat, jika ingin di maafkan aku harus pergi temu janji dengan anak temannya.."
" Wah..bagus donk, kalau aku mah ga nolak" Ucap Ben yang terlihat senang seandainya ia berada di posisi Steven.
" Kalau kamu sih aku ga heran Ben, terus gimana kamu terima ?? Tanya Niko.
" Jelas aku ga terima, kalian tau selama ini aku belum bisa menerima siapa pun."
" Sampai kapan kamu bakal mengharapkan orang yang tidak menghargai mu itu" Ucap Ben dengan nada dingin.
Steven hanya diam ketika mendengar perkatakan Ben. Niko yang merasa suasana menjadi kaku karena perkatakan Ben, ia pun berinisiatif melanjutkan bertanya kepada Steven.
" Jadi sekarang masalahnya mummy mu masih marah gitu??
" Ya tapi juga bukan.."
" Gimana sih kamu Steven..mabuk kamu?? baru juga minum segitu!" ejek Ben.
" Mummy memang marah karena aku menolaknya, tapi yang jadi masalah adalah aku mengaku sudah punya pacar pada mummy!!"
" Whatt...???" teriak Niko dan Steven bersamaan.
" Jadi kamu udah punya pacar?? Tanya Ben penasaran, begitu juga dengan Niko yang menunggu jawaban dari Steven.
" No...aku jawab begitu hanya supaya mummy berhenti menjodohkan aku dengan anak temannya itu, yang jadi masalah sekarang ia ingin bertemu dengan pacarku, yang sebenarnya tidak Ada."
" Ah...itu gampang..kamu sewa saja perempuan untuk jadikan pacar bohongan mu. selesai deh masalah"
" Iya Steven, gitu aja koq ribet banget" timpal Niko.
" Sebenarnya aku sudah memikirkan seperti yang kalian pikirkan, malah aku sudah mempunyai calonnya."
" What..??? hari ini banyak sekali kejutan mu.!" Ben yang sekali lagi merasa surprise apa yang Steven ucapkan barusan.
" So masalah selesai donk!!" terka Niko
" Besok saya akan kembali keaustralia untuk menjemput gadis itu.!!"
" Jadi bule gadis itu?? Tanya Ben
__ADS_1
" Bukan, dia orang Indonesia yang berkerja disana secara ilegal."
" Dari mana kamu tau dia ilegal? Tanya Niko ..
" Kamu ini bodoh ya Niko, tentu saja Steven sudah menyelidikinya"
" Hahaha...ya..ya tentu saja kamu sudah menyelidikinya terlebih dahulu" Niko yang seolah baru sadar akan kebodohannya.
" Aku ingin kalian berkerja Sama untuk menyakinkan mummy, kalau gadis itu adalah pacarku."
" Gampang..tidak masalah." sambil Ben menunjukan tanda ok.
" Kamu tenang saja Steven, kami pasti akan membantu mu untuk menyakinkan mummy mu..!!"
" Dan satu hal yang ingin kuberi tau, gadis itu seperti nya seorang psk."
" What?? kenapa dengan mu?? begitu banyak pilihan tapi kamu pilih seorang psk??" Niko yang seolah tak percaya.
" Kamu yakin dia seorang psk?? Tanya Ben sambil meneguk minumannya.
" Aku beberapa kali melihatnya bersama om-om."
" Mungkin saja itu paman nya?? Ben mencoba untuk memastikan.
"Apakah jika pamannya mereka akan bermesraan di depan umum??"
Steven merasa tidak mungkin semua pria itu adalah saudara atau paman gadis itu.
" Lantas kenapa kamu masih mau menggunakan gadis itu..??, bagaimana kalau sampai ketahuan kalau dia adalah gadis sewa, di tambah lagi dia seorang psk, nama keluarga mu bisa hancur!!"
" Aku yakin tidak ada yang akan tau, selain kalian ber2 dan gadis itu, kecuali kalian yang membocorkannya.!!" Tatapan Steven kepada ke2 sahabatnya seolah menusuk mereka.
" Kami tidak akan begitu, jangan lupa kamu masih punya patung hidup, siapa tau nanti dia yang membocorkan.!!"
" Patung hidup?? siapa Ben??
" Siapa lagi.. asisten setianya yang selalu ikut kemana Steven pergi.."
" OH...ya..ya kamu jangan lupa bisa saja nanti asisten mu yang membocorkan pada mummy mu!!"
" Hm...dia tidak seperti kamu Ben, yang mempunyai mulut tidak dapat dia jaga."
" hahaha..kenapa aku yang kena jadinya."
Steven dan Niko memandang Ben, seolah hanya Ben lah orang itu jika sampai rahasia ini terbongkar.
" Hei..come on, kenapa kalian menatap ku begitu, aku memang mulut ember, tapi aku bisa menjaga rahasia juga. Dan lagi, siapa tau gadis itu sendiri yang membocorkan.!!"
Niko berbalik sekarang memandang kearah Steven.
" Benar juga apa yang di katakan oleh Ben..Steven!!"
" Aku akan memastikan itu tidak akan terjadi, dia akan menyesal seumur hidupnya kalau sampai hal itu terjadi." dengan penuh keyakinan Steven merasa dia akan bisa menguasai semua apa yang ia rencanakan.
" Sementara aku akan ke australia, mummy pasti juga akan mencari infomasi tentang pacar ku kepada kalian, kalian tau apa yang harus kalian lakukan!!"
" Ya..ini sudah menjadi makanan kami dari dulu" Senyum Ben kepada Steven.
Keesokan pagi.. Steven berangkat lagi keaustralia, David sudah tau segala perihal tentang apa yang terjadi.
" Ana..." Panggil mbak Lia
Ana yang memang sudah siap untuk pergi berkerja pun turun dan menghampiri mbak Lia.
" Mbak tadi panggil ana??"
" Iya, Ada yang mau mbak bicarakan..!!"
" Apa mbak?? "
" Dengar...semalam pria dari asisten itu menghubungi mbak.."
" Oh ya...jadi gimana mbak ??"
" Pria itu ingin menemui mu nanti Malam."
" Hah..nanti Malam?? jam berapa mbak?? jadi tar mbak jemput ana di tempat kerja yah?
" Ana...dia hanya ingin bertemu dengan mu!!!" lagi mbak Hari ini kan harus balik Indonesia, kamu lupa??"
" Dengan saya saja mbak??? tapi mbak ana ga bisa bahasa inggris gimana donk??
Ana merasa sedikit takut, kenapa hanya dengan dirinya, tapi memang dia yang menumpangkan wine ke pria itu.
__ADS_1
" Kamu jangan takut, rupanya pria itu orang indonesia juga."
" Bagaimana kalau nanti dia menganiaya ana mbak???"
" Kamu jangan pikir yang tidak-tidak, sepertinya pria itu orang berada, dia tidak akan melakukan hal yang membuat dirinya nanti terkena masalah. tapi jika dia melakukan kekerasan, beri tau mbak..kamu mengerti ana"
" Iya mbak.." jawab ana lesu
" Karena mbak akan pulang ke indonesia, jadi mbak memberi nomor mu pada asistennya. Ana kamu mendengarkan mbak??"
" Iya mbak...ana hanya takut, bagaimana ana akan bayar uang sebanyak itu." Mata ana sedikit memerah karena menahan ingin menangis.
" Mbak mengerti perasaan mu, di maafkan mbak andai aja mbak ga bawa kamu kesana." sesal mbak Lia
" Bukan salah mbak koq..mungkin memang nasib ana aja ga bagus."
" Jangan berpikir begitu, yang penting kamu temui dulu pria itu, kabari mbak jika sudah menemuinya.."
Mobil jemputan ana sampai di depan staff house, ana pun berpamitan untuk berkerja.
" Ana pamit dulu ya mbak, semoga perjalanan mbak selamat sampai tujuan, dan doakan ana akan baik-baik saja kalau ketemu pria itu.."
" Iya..makasih ana..kamu hati-hati di jalan"
Ana seharian di tempat kerja terlihat tidak bersemangat, Hati nya merasa gelisah, entah apa yg akan ia hadapi nanti malam. Mbak nanik yang melihatnya pun menghampiri.
" Kamu kenapa ana?? lagi sakit?? dari tadi aku perhatiin kamu lesu ga bersemangat."
" Ga apa-apa koq mbak, sedikit capek Aja" alasan ana kepada mbak nanik
" Bentar lagi selesai kerjaan mu, habis itu kamu bisa istirahat."
" Iya mbak.. makasih"
Steven dan David sudah sampai di landasan airport khusus bagian jet pribadi. Mereka lalu berjalan keluar, di sana sudah ada seorang supir yang menunggu mereka. Di perjalanan ke apartment di dalam mobil tidak terdengar suara percakapan apa pun.
Sampai lah mereka di apartment, Kali ini David tidak tinggal bersama dengan Steven..ia menempati apartment lain tapi masih di gedung yang sama.
" David...kamu jemput gadis itu sekarang!!"
" Saya mengerti Tuan.."
David pun segera pergi menjemput ana, sebelumnya ia telah mengirim pesan ke ana, kalau ia sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya.
Ana yang sedang berbaring dikamarnya, tidak dapat memejamkan matanya..Hatinya gelisah tidak karuan. Ia sudah dari tadi berbaring di sana sejak pulang dari kerja, selesai mandi dan makan.
Ponsel miliknya bergetar, sebuah pesan masuk. Fikirnya mungkin Celine tapi bukan, itu dari nomor asing yang ternyata setelah ia buka adalah asisten pria itu, yang mengatakan ia sedang dalam perjalan menjemputnya.
Ana semakin gelisah, tapi apa yang bisa ia lakukan..ia hanya bisa menghadapinya, apa pun itu.
Tak berselang lama, terdengar suara Bel...ana pun turun membuka pintu.
" Selamat Malam Nona, maaf malam-malam begini mengganggu anda. Saya David asisten Tuan Steven, ia meminta saya datang untuk menjemput anda. Apa anda sudah siap Nona??"
Ana terdiam..ia seolah menjadi patung hidup..Di dalam otaknya berbagai macam fikiran..apa yang akan terjadi padanya.
" Nona...Nona???"
Ana yang beberapa kali dipanggil Oleh David, akhirnya pun tersadar dari lamunannya itu.
" Oh...i..iya...Aku sudah siap"
David melajukan mobilnya menuju apartment, sedangkan ana yang duduk di belakang tidak berhenti gelisah sambil meremas jarinya.
" Nona...kita sudah sampai, silakan turun..saya akan menghantar anda kepada Tuan Steven."
Ana yang karena sibuk dengan pikirkan sampi tidak sadar sudah sampai. Ia lalu turun dari mobil dan mengikuti David membawanya. David berhenti di sebuah apartment bernomor 7. Ia lalu menekan Bel, lalu pintu pun terbuka.
" Nona..silakan masuk Tuan Steven sudah menunggu anda!!"
Deg....jantung ana seolah Akan berhenti..mendengar pria itu telah menunggu nya.
Ana pun masuk..di lihatnya apartment itu begitu elit dan besar, lalu focusnya tertuju pada seorang lelaki yang sedang duduk bersila kaki sambil membaca sebuah document.
David membawa ana berjalan kearah pria itu.
" Nona..silakan duduk, ini adalah Tuan Steven."
Ana duduk di sofa berhadapan dengan Steven, Steven yang sedang membaca document lalu berhenti membaca dan kemudian menatap ke wajah ana.
" Kita berjumpa lagi Ana..!!!"
** hai para reader...Ayo dukung author dengan jangan lupa like, lope-lope, comments dan vote.
__ADS_1