
Di kediaman rumah Eric..
"Tante Rosa... koq mama Sama Papa lama banget sih..ana udah ga sabar tunggu makanan nya."
"Sabar yah ana sayang.. pasti sebentar lagi mama sama papa pulang..kita main akting akting aja yuk sambil tunggu mama papa ana pulang."
"Ayo tante Rosa..ana akting nya hebat loh tante"
"OK...coba sekarang ana akting lagi di tangkap orang jahat terus ana minta tolong nangis-nangis gitu."
"Ok tante..."
"Ana kamu duduk sini tante ikat dulu pakai tali"
"Koq harus pakai ikat-ikat tante kan sakit..." Gerutu ana..
"Ga sakit koq..kan pura-pura, mau yah..kan biar akting ana makin bagus"
Sebisa mungkin tante Rosa membujuk ana agar ia mau diikat.
"Hm...yawda kalau gitu"
jawab ana yang berhasil di bujuk oleh tante Rosa..
"Ana..."
panggil tante Rosa..
"Nanti kalau tante videoin ana, Ana harus pura-pura nangis waktu panggil mama dan papa ana terus teriak minta tolong yah, pasti mama dan papa jadi cepat pulang."
"mama sama papa akan cepat pulang kalau lihat video itu yah tante??"
Tanya ana dengan polosnya tanpa tau ada akal busuk di dalam benak tantenya itu.
"Iya ana..pasti nanti cepat pulang mama sama Papa ana"
"Ok dech tante..."
__ADS_1
jawab ana sambil tersenyum dan menunjukan tanda ok.
Ditempat lain...
"Wah...jadi abang mau menguasai semua harta papa gitu...udah..Aku Ga mau banyak urusan..cepat berikan Aku uang itu sekarang juga"
"Edwin...Aku sudah berulang Kali menolong mu, tapi kamu tidak juga berubah...bukan begini cara nya...Aku sudah tidak bisa menolong mu Kali ini.."
"Ok..kalau begitu..."
Edwin lalu mengeluarkan ponselnya, terlihat dia sedang menghubungi seseorang.
Kemudian dia berjalan mendekat ke arah Eric dan menunjukan sebuah video...
"Mama ....papa...tolong ana...ana takut...mah...pah..."
hiks...hiks.. tangis ana di dalam video.
"Ana..."
"Edwin berhenti menunjukan video itu..
"Edwin apa yang kamu lakukan.. itu keponakan mu...kamu sudah gila..."
Bela mulai menangis..
"sayang....ana...
ana..sayang.. bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Ana kita"
"Edwin ini tidak lucu cepat lepaskan ana...kamu tega dengan keponakan mu sendiri"
"Hahaha...abang saja tega kepada ku kenapa aku tidak.."
"Itu berbeda Edwin... dia hanya anak kecil yang tak tau apa-apa, sedangkan kamu...kamu yang memilih jalan dengan tidak benar"
"Sudah...Aku sudah muak dengan semua ini" Bentak Edwin...
__ADS_1
"Selama ini aku sudah coba bertahan dan berbaik di depan mu...Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikap sok baik mu itu"
Edwin terlihat menghubungi seseorang di ponsel....tak lama keluar beberapa orang dari belakang rumah tempat dimana awal Edwin muncul...
Bela Dan Eric mulai merasa khawatir dengan beberapa orang yang muncul itu..
Seorang pria yang baru muncul itu memberikan amplop kepada Edwin..
"Tanda tangani ini..maka ana akan Aku lepaskan"
"Apa ini..???"
Eric membuka amplop tersebut dan membaca...
"Edwin...jadi kamu sudah merencanakan ini...aku tidak akan mentanda tangani document itu.."
"Terserah abang mau atau tidak...tapi jangan menyesal kalau terjadi apa-apa pada anak kesayangan mu itu."
"Document apa itu sayang..."
Tanya Bela sambil mengambil dari tangan Eric...
"Sudah ku duga ini semua akal-akalan mu dari awal Edwin"
Tatapan Bela penuh dengan amarah ke Edwin...setelah ia membaca document perpindahan harta itu...
Hahahaha...Tawa Edwin...
"Aku tidak bohong...memang aku mempunyai hutang...lagipula aku hanya minta hak harta ku lebih awal saja"
"Dasar kamu tidak tau diri...bajingan kamu"
Ucap Bela penuh dengan kebencian pada Edwin.
"Cepat tanda tangani..Aku sudah tidak punya waktu"
hallo reader part background Ana agak panjang yah..jangan bosan..setelah part background ini udah selesai..baru deh muncul CEO yg di tunggu...
__ADS_1