
Beberapa saat menaiki anak tangga dan membahas hal yang sebenarnya gak penting akhirnya Rima membuka pintu kemudian mempertemukan kami dengan ruang kamar yang cukup luas, kami langsung disambut oleh cahaya lampu yang amat terang bagai siang bolong dengan terik matahari bahkan aku sampai lupa kalau saat ini sudah malam.
Aku dan Tina masih terkesima melihat isi kamar, sampai-sampai kaki kami terasa minder untuk bergerak masuk meski Rima sudah mempersilahkan kami masuk
"Ini kamar kalian. Silahkan masuk" ucapnya sembari masih berdiri dimulut pintu bersama kami
Tapi entah kenapa kami masih belum mau melangkah masuk
Kamar yang begitu terang dengan sentuhan warna dinding putih bersih, gorden tule putih bersih, kasur yang juga putih bersih. Semua perabot serba putih sampai-sampai bunga mawar yang jadi penghias diatas meja pun berwarna putih.
Sebenarnya warna ruang kamar ini gak ada bedanya dengan kamar hotel yang pernah aku singgahi. Kamar seperti ini sudah ada banyak di kota-kota besar. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dihati tapi entah apa itu
Gak butuh lama Rima memulai lebih dulu melangkah masuk, dengan raut wajahnya yang bertahan ramah sejak tadi tangan lembutnya membuka lemari kemudian memperlihatkan koper kami yang rupanya sudah sampai lebih dulu
"Koper kalian sudah ada di sini" ucapnya
Melihatnya, aku dan Tina saling menoleh.
Aku gak menyangka kalau keluarga Rima sangat menjamu tamu dengan baik
Aku tersenyum "Makasih sudah dibawakan. Maaf ya kami jadi bikin repot kalian" ucapku
Rima menganggap itu hal biasa "Santai aja, kayak sama siapa aja" ucapnya
"Makasih banyak ya, semoga besok pagi aku dan Tina bisa ketemu anak kamu. Siapa deh namanya ?" ucapku
"Iya, lebih baik sekarang kalian tidur aja dulu" ucap Rima "Oh iya, karena ini adalah kamar khusus tamu jadi kalian bisa merasakan udara segar besok pagi. Kalian bisa buka pintu belakang yang dibalik gorden disitu nanti kalian bisa lihat pemandangan yang cantik besok pagi. Kalau sekarang sih gelap" tambahnya
Aku dan Tina menoleh pintu yang dia tunjuk kemudian mengangguk pelan
Tanpa berlama lagi karena Rima juga sudah terlihat lelah akhirnya dia memutuskan untuk pergi
"Kalau gitu aku tinggal dulu ya, sampai ketemu besok pagi. Selamat tidur ya kalian" ucapnya sembari melangkah keluar
Aku dan Tina mengangguk "Iya Rima" ucap kami serempak kemudian Tina berterimakasih "Makasih ya Rima" ucapnya.
"Iya sama-sama, anggap rumah sendiri" ucapnya.
Kemudian dia menutup pintu kamar kami dan kamar mendadak sunyi senyap
Aku dan Tina belum melakukan apa-apa tapi aku dan dia justru masih berdiri saling menoleh kemudian saling melempar pandangan ke setiap sudut kamar tanpa komentar
Tapi dalam bersamaan aku melangkah ke arah pintu untuk mengunci pintu, pikirku supaya gak ada orang asing yang sembarang masuk
Kemudian aku juga yang lebih dulu mendaratkan tubuhku diatas kasur tepat dipinggir. Kasurnya sangat lembut aku rasa ini kasur yang mahal
Melihat aku merebahkan tubuhku dengan santai akhirnya Tina mengikutiku merebahkan tubuhnya disampingku.
__ADS_1
Posisi Tina ada dibagian dalam kasur menepel tembok sementara aku dipinggir kasur
Aku dan Tina sama-sama memeluk guling dan masih menatap langit-langit kamar tanpa bicara apa pun itu
Sesekali Tina menguap "Woooaah"
Aku meliriknya karena sama sekali justru aku gak ngantuk padahal jarum jam dinding sudah menunjukkan jam tengah malam.
Malahan Tina yang semakin ngantuk tapi rupanya dia gak terbiasa tidur dengan cahaya lampu kamar, dia malah menginginkan lampu dimatikan saja
"Matiin lampunya Nis" pintanya sembari menutup matanya tapi masih gelisah karena silau
Aku mendengarnya kemudian menoleh kontak lampu didekat pintu tapi enggan beranjak untuk melakukannya
Tapi meski begitu Tina terus saja memaksa bahkan dia merengek "Matiin buruan" ucapnya
Aku masih diam saja, karena mata aku masih segar sudah pasti aku yang akan merasakan kegelapan seorang diri
Karena saking butuhnya, akhirnya Tina yang beranjak sendiri dari kasur kemudian mematikan cahaya lampu.
Klik
Suasana sontak berubah
Mencekam dan terasa ditelan kesunyian malam
Tapi gak dengan Tina yang menganut kesunyian malam "Nah, kalau gelap begini kan enak" ucapnya sembari kembali diposisi tidurnya
"Bukan urusan gua" ucapnya cuek kemudian memiringkan tubuhnya dengan membelakangiku.
Karena aku juga gak berani menyalakan lampunya kembali akhirnya aku pun ikut memiringkan badan ke arah punggungnya karena aku juga gak berani harus menatap arah pintu
Malam semakin larut aku juga sudah berusaha membawa pikiranku ke alam bawah sadar, berusaha membawa otakku ke dalam mimpi tapi sialnya aku malah semakin gak bisa tidur.
Sebenarnya aku gak tahu pasti sudah jam berapa karena aku gak berani melihat ke arah jam dinding tapi aku yakin kalau sudah lewat dari jam satu pagi
Malam pun semakin sunyi, semakin dingin dan semakin mencekam hanya ada suara detik jam dinding yang sejak tadi bersarang ditelingaku
Akhirnya aku putuskan untuk bersembunyi dibalik selimut yang tebal, kembali berusaha memejamkan kedua mata meski masih sulit.
Dalam bersamaan suara ketukan lembut dari balik pintu menggetarkan batinku yang pengecut ini
"Tok...tok..tok!"
Tapi aku gak mau membuka selimut dari wajahku, aku masih tetap bertahan bersembunyi dalam ketakutan
Tapi ketukan pintu kembali berbunyi pelan
__ADS_1
"Tok..tok..tok..tok!"
Semakin terus terdengar aku semakin berusaha supaya mengantuk. Aku harus bisa pura-pura gak mendengarnya. Tapi sayangnya itu hanya teori
Dalam bersamaan ada suara anak yang sepertinya suara anak perempuan entah dari mana asalnya. Tawanya yang terdengar jauh namun terasa lirih.
Itu yang membuat aku semakin gemetar ketakutan
Apalagi suara pintu kembali mengusik tapi kali ini cukup keras
"tok..tok..tok..tok!"
"Astagfiruhllah!" bisikku, dalam ketakutan yang sudah berat
Menunggu beberapa saat akhirnya suara aneh itu gak terdengar lagi. Aku cukup merasa aman dan bersyukurnya aku mulai ngantuk.
Kelopak mataku mulai berat dan otakku mulai masuk kedalam mimpi
Tapi sialnya
Suara ketukan pintu yang sangat marah kembali mengancamku
"Tokkk...tokkk..tokkk..tokk!!!!!"
Sontak saja aku terkejut dan langsung membangunkan Tina
Aku panik
Dengan suara yang sangat pelan aku memanggil Tina dengan mengoyakkan tubuhnya berkali-kali berharap Tina meresponku
"Tina, Tina, Tina !" bisikku ditelinganya
Dalam bersamaan suara ketukan pintu masih terdengar marah
"Tok..tokk..tokkk!!"
Tapi tanpa menjawabku Tina malah menepis tanganku, dia merasa kalau aku terlalu menganggu lelapnya
Meski begitu aku tetap berusaha membangunkannya. Gak perduli kalau dia akan marah
"Tina bangun, plissss bangun !" pintaku masih berbisik
Akhirnya Tina membuka matanya pelan-pelan kemudian menatap wajahku yang super panik
Tapi Tina gak menyadari suara ketukan pintu yang jelas-jelas sangat keras
Tina malah mengeluh, dia seakan menyesal meladeni aku
__ADS_1
"Aduh, apaan sih Nis ?" kesalnya
"Dengar gak ?" tanyaku