
Dengan suara pelan dan terbata-bata aku dan Tina akhirnya benar-benar membaca nama kami sendiri
"Ti-na....Nis-sa"
Ditulis dengan darah yang sudah mengering
Jantungku makin berdenyut kencang, begitupun dengan Tina.
Tanganku semakin gemetar, aliran darahku seolah berhenti begitu saja. Saat itu juga aku membuang kertas itu begitu saja diatas tubuh jasad
Tanpa ada pikir panjang lagi aku dan Tina cepat-cepat keluar dari kamar laknat itu.
Karena didalam benak kami langsung terpikirkan kalau aku dan Tina sudah dipastikan akan dijadikan tumbal oleh Rima dan keluarganya
Meski tubuhku sudah dikuasai ketakutan akan tetapi aku masih ingat untuk menutup kembali pintu kamar Rima supaya Rima gak curiga kalau kami sudah tahu rahasia mereka dan saat ini juga aku dan Tina langsung terpikirkan untuk pulang tanpa sepengetahuan Rima.
Cepat-cepat aku dan Tina mengarah ke kamar langsung mengambil koper dan segera turun untuk pulang tanpa perlu pamit kepada Rima.
Aku dan Tina pun sudah gak peduli dengan handphone kami yang mereka bawa dengan sepihak.
Yang sekarang ada dibenak kami hanya keselamatan saja
Dengan langkah yang tergesa-gesa napas yang terengah-engah, aku dan Tina menghampiri mobil yang terparkir cukup jauh dari halaman rumah kemudian dengan buru-buru memasukkan koper ke dalam mobil.
Dengan cepat juga Tina duduk dikursi setir mobil dan menyalakan mesinnya
Dibarengi juga oleh aku yang duduk disampingnya, berharap kami segera sampai di Jakarta
Tapi sialnya mesin mobil gak bisa hidup.
Tina kesal melampiaskannya dengan memukul setir dengan keras
"Sialan, kenapa mobilnya mogok !" kesalnya
Aku juga jadi semakin panik, hanya bisa menoleh ke luar dari balik kaca mobil melihat-lihat ke segala arah meskipun aku juga gak tahu entah apa yang aku perhatikan.
Karena ini adalah peristiwa saat dimana aku gak bisa berpikir apa-apa.
Tina masih kesal, dia bergumam
"Gua yakin banget, kalau hape kita sengaja dibawa sama mereka supaya mereka bisa mengulur waktu kita untuk pulang" ucapnya
Dan kembali memukul setir
Aku bersandar pasrah ketika melihat gerbang yang tinggi yang sejak tadi tertutup, dalam bersamaan juga aku menoleh Tina yang masih diam menahan diri.
Dia berusaha diam untuk membuat dirinya tenang
"Tina, kita gak akan pernah bisa keluar dari sini. Gak akan pernah. Sementara gerbang aja ditutup. Gimana kita bisa pergi" ucapku putus asa
Tina menoleh gerbang kemudian tersadar kalau memang mustahil bisa kabur dari jeratan setan ini
Tina menatapku, matanya merah berair. Dia menahan airmata kekesalan.
__ADS_1
Perlahan air matanya jatuh begitu saja.
Tina sangat kecewa dan menyesal
Akupun sama seperti dia, aku yang juga sejak tadi menahan tangis akhirnya pecah saat melihat wajahnya yang membendung amarah
Dengan diiringi isak tangis aku juga harus bisa pasrah dengan jebakan menakutkan ini
"Huhuhuhu..huhuhu"
"Tin, kayaknya memang malam ini adalah malam terakhir untuk gua melihat dunia ini. Gua juga gak akan pernah lagi ketemu lu apalagi keluarga gua" ucapku pelan diiringi butiran airmata yang jatuh dipangkuanku
Tina menolehku, kini pipinya basah oleh tangisannya yang gak bersuara
Dia belum mau bicara kepadaku, mungkin kata-katanya tertahan didadanya
Aku menyeka airmataku berusaha kuat dan pasrah kepada kesialan ini.
Berusaha tegar membayangkan apa yang akan terjadi kepada kami nanti
"Tin, kalau gua ada salah maafin gua ya" ucapku tersenyum
Mendengar perkataanku begitu tangisan Tina semakin menjadi-jadi. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tina masih gak bisa berkata-kata sepatah katapun. Dia seolah bisu karena rasa kecewanya yang dalam
Tangisannya yang gak bersuara tapi tersendat-sendat itu membuat menyayat hati
"Huhuhuhuhu"
Dalam bersamaan akhirnya Tina bersuara kembali, dia berbicara dengan nada keras dan sangat marah
"Sialan !!!! Kita dijebak !!!" teriaknya dengan keras kemudian keluar dari mobil dengan membanting pintu mobil.
Melihatnya keluar dari mobil akhirnya aku ada ide bagus.
Aku lekas keluar dari mobil berniat menghampiri Tina yang bersandar dipintu setir.
Dia masih menangis tapi kali ini tangisannya bersuara
"Huhuhuhu...huhuhu"
Baru aja aku mau melangkah menghampiri Tina tiba-tiba gak disengaja oleh kedua mataku menangkap sosok yang berdiri dari dalam jendela persis jendela ruang tamu, dia mengintip ke arah kami dari sisi gorden yang dia buka sedikit
Aku tahu kalau yang mengintip itu adalah Rima
Bahkan saat kepergok oleh kedua mataku, dia langsung buru-buru menutup gorden
Saat bersamaan juga tanpa pikir panjang lagi dengan cepat aku menarik tangan Tina yang tengah menangis
Tina cukup panik saat sikapku terlihat sangat ketakutan
"Kita mau kemana lagi, kita gak akan bisa kabur !" ucapnya
__ADS_1
"Pasti bisa. Ayok cepat pergi dari sini !" tegasku kepadanya sembari masih menyeret tangannya ke arah gerbang yang tinggi
Tapi Tina masih saja gak yakin kalau aku dan dia bisa lolos dari jeratan
"Kita gak mungkin bisa pergi, kita udah dikunci di sini !" ucapnya putus asa
Tapi aku tetap yakin
"Kita panjat gerbang ini !" ucapku
Tapi dalam bersamaan akan memanjat gerbang, aku melihat gerbangnya justru gak dikunci bahkan gemboknya saja terpisah
".....eh..sebentar..." ucapku heran tapi langsung saja membuka gerbang
Tina yang melihatnya juga heran "Loh, kok gak dikunci. Kalau tahu begini lebih baik dari tadi aja perginya !" ucapnya
Beberapa saat akhirnya aku dan Tina bisa keluar dari halaman rumah iblis itu.
Aku dan Tina terus berlari dengan langkah kaki yang sangat kencang, pandangan mata kami terus saja mengarah kedepan berharap kaki lemah kami membawa kami pergi menjauh.
Akhirnya kami sudah ada ditengah perjalanan.
Jalan aspal halus yang panjang dan cukup lebar seolah memberi harapan untuk membawa kami sampai ke kota
Kanan kiri kami sekarang sudah dihadapkan oleh banyaknya pepohonan besar bagai hutan, ada banyak pohon liar yang menyaksikan kelelahan kami
Sunyi dan sepi hanya ada suara angin yang sesekali mengibaskan helaian rambut kami.
Aku dan Tina berhenti sebentar, mengambil napas yang semakin pendek.
Sesekali juga Tina memijit betisnya, dia terlihat sangat kelelahan.
Sementara aku berusaha mengatur napas yang semakin terengah-engah
Tina menolehku napasnya juga terengah-engah. Raut wajahnya juga sudah lebih memancarkan kelegaan
"Pokoknya kita harus bisa sampai ke kota. Gua rasa Rima gak akan ngejar kita. Yang kita harus waspadai itu mertuanya dan suaminya" ucapnya
"Tapi kenapa Rima bisa sejahat ini ya sama kita, dan anehnya juga kenapa gerbang gak dikunci ya" heranku
"Kita gak usah pikirin itu dulu, yang kita pikirkan gimana caranya kita bisa sampai ke kota" ucap Tina
Beberapa menit beristirahat akhirnya napas kami kembali normal, denyut jantung kami pun kembali berdetag dengan baik.
Tapi meski begitu isi hati kami masih belum baik-baik saja
Sepanjang jalan aku dan Tina sesekali berlari sesekali jalan santai sesekali juga berhenti sebentar sampai akhirnya langkah kami berhasil membawa kami begitu sangat jauh dari perumahan
Sepanjang kami melangkah gak ada satupun kendaraan yang melewati jalan sepi ini. Maksud hati kami mau menumpang ke kota.
Tapi naasnya, kesialan memang sudah berpihak kepada aku dan Tina
Saat kami terus melangkah, dari arah berlawanan mobil yang kami kenal berhenti tepat dihadapan kami seolah sedang menghadang jalan aku dan Tina.
__ADS_1