ANAK ARWAH

ANAK ARWAH
15. TINA KECEWA


__ADS_3

Aku dan Tina menoleh ke arah suara


Lantas saja suara itu seolah menyudahi kami berada di balkon.


Aku dan Tina kembali masuk ke dalam kamar.


Tina menutup kembali pintu balkon sementara aku melangkah untuk membuka pintu yang sejak tadi masih bersuara pelan


"Tok.tok..tok..tok"


Dengan hati-hati aku membukanya


Kreekh


Tapi gak ada siapa pun yang berdiri di depan pintu.


Aku sedikit takut tapi berusaha memusnahkannya dengan membaca doa


Pintu aku tutup kembali


Dengan raut wajah yang datar aku kembali ke kasur, di atas kasur Tina sudah merebahkan tubuhnya, terlentang memeluk guling


Tina memperhatikan raut wajahku, dengan heran dia menanyakannya


"Siapa Nis ?" tanyanya


Aku menaikkan kedua pundakku


"Gak tahu" ucapku pelan


Belum juga sampai duduk dikasur dalam bersamaan suara ketukan kembali terdengar dan kali ini agak keras


"Tok..tokkk...tokkk !!!"


Aku hanya menoleh ke arah suara tapi kali ini Tina yang berinisiatif membuka pintu


Kreekh


Dari belakang Tina aku bisa melihat mulut pintu dengan jelas, kalau Tina juga gak melihat siapa-siapa dari balik pintu.


Tapi Tina menoleh ke samping arah tangga seolah melihat sesuatu dari kedua matanya.


Gak lama kemudian tanpa bicara apa-apa Tina menutup pintu kemudian menghela napasnya dengan raut wajah yang tenang


Dia kembali ke kasur dan menarik selimutnya


Aku jadi penasaran siapa yang dia lihat


"Siapa Tin ?" tanyaku


"Rupanya anaknya si Rima yang iseng. Barusan dia kepergok terus kabur turun tangga" ucapnya santai sembari memulai tidurnya


Mendengar penjelasannya aku hanya diam gak bergeming sepatah kata pun


Entah kenapa aku gak percaya kalau yang dilihat oleh Tina adalah anaknya Rima


Aku yakin pasti ada rahasia di rumah ini. Tapi aku gak tahu harus menunjukkan bukti apa.

__ADS_1


Pagi sudah kembali lagi meski semalam sempat diganggu oleh hal aneh tapi semalam aku bisa tidur dengan nyenyak.


Seperti biasanya jam tujuh pagi aku dan Tina turun ke ruangan makan. Karena dihari sebelumnya hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan untuk sarapan bersama dengan keluarga Rima.


Tapi rupanya ruang makan kosong gak ada siapa-siapa, bahkan meja makan pun bersih dari hidangan yang biasanya penuh santapan setiap pagi.


Aku dan Tina hanya berdiri diam dihadapan meja kemudian saling menoleh.


Seolah gak tahu harus berbuat apa


Aku berbisik kepada Tina


"Jangan-jangan kita disuruh masak sendiri" ucapku


Tina tersenyum, dia merasa kalau kalimatku barusan hanya candaan baginya


"Yang masak harusnya lu, ya" ucapnya


Aku menghela napas resah "Hemmm"


Dalam bersamaan Rima datang dari belakang kami, dia datang bukan untuk mengajak kami makan pagi melainkan memberikan kabar


"Selamat pagi teman-teman !" sapanya terdengar ceria


Sikapnya berbeda dari pagi biasanya


Aku dan Tina lantas menoleh kearahnya, raut wajahnya gak seperti biasanya. Dia terlihat sangat penuh sukacita. Mungkin karena hari ini anaknya berulang tahun


Aku juga gak luput menyapanya balik "Selamat pagi juga, Rima !" sapaku dengan manis


Begitupun dengan Tina turut membalas sapaannya "Pagi juga Ibu " sapanya


"Kalian pasti lapar ya, aku buatkan roti dan susu panas ya ?" ucapnya menawarkan kepada kami


Sebenarnya ide yang bagus tapi aku dan Tina dengan cepat menolaknya.


Tentu saja karena kami gak enak hati kepadanya


Tina langsung menolak "Gak usah Rima, biar aku dan Nissa aja yang bikin sendiri" ucapnya


Kemudian aku sambung setuju dengan mengangguk


Untungnya Rima gak tersinggung dengan penolakan kami


"Oke deh kalau gitu, nanti kalian bikin aja sesuka hati kalian ya. Aku mau ke kebun dulu. Mau bersih-bersih kebun" ucapnya sembari melepaskan rangkulannya kemudian hendak pergi


Tapi aku buru-buru mencegahnya "Rima !" panggilku


Rima menoleh cepat


"Iya !" jawabnya


"Kami mau ambil hape, karena sebentar lagi kan kami akan pulang" pintaku


Mendengar begitu Rima merubah raut wajahnya menjadi sedikit datar


"Owh, maaf ya kebetulan hape kalian baru aja dibawa mertua aku ke kota. Nanti siang mereka akan bawa lagi ke sini" jelasnya

__ADS_1


Aku dan Tina saling menoleh heran


Mendengar begitu aku dan Tina merasa bingung kenapa harus sampai dibawa ke kota.


"Hah !"


Tapi disini Tina yang sangat terlihat kecewa kepada Rima


"Kok bisa sih hape kami dibawa. Untuk apa ?" tanyanya


Rima tersenyum kaku, dia mulai paham kalau Tina gak suka dengan cara keluarganya


"Hape kalian gak bisa isi batrei makanya sama mertua aku dibawa ke kota untuk diperiksa hari ini juga . Ibu yang bawa katanya sekalian pergi ke kota sebentar katanya ada urusan" jelasnya


Tapi Tina masih gak mau terima dengan penjelasannya karena aku tahu betul kalau hapenya seharga satu motor.


Dia takut hapenya hilang


"Tapi kenapa kamu gak bilang dulu ?" ucap Tina


Rima yang mulai merasa terpojok akhirnya cuma bisa berusaha menenangkan hati Tina


"Kamu tenang aja Tin, hape kamu dan hape Nissa bakalan aman kok. Ini semua demi kebaikan kalian supaya nanti pulang dari sini hape kalian dalam keadaan hidup" jelasnya


Mendengar penjelasan Rima akhirnya Tina gak bisa berkata apa-apa lagi.


Mulutnya seolah terkunci begitu saja


Dalam bersamaan juga Rima kembali pamit kepada kami


"Aku ke kebun dulu ya, mau beres-beres. Mungkin setengah jam selesai. Kalian sarapan saja dulu. Nanti kalau kedua mertua aku dan suami aku pulang bawa hape kalian pasti aku akan kembalikan lagi ke kalian " ucapnya


Aku mengangguk "Iya Rima" ucapku


Tapi Tina diam saja, dia masih jengkel dengan keputusan sepihak keluarga Rima.


Dan aku sebagai teman dekatnya selalu berusaha menenangkan perasaannya


"Ya udah lah Tin, nanti juga balik lagi hapenya. Lebih baik kita bikin sarapan dulu yuk" ajakku


Tapi Tina menolaknya mentah-mentah


"Gua gak lapar !" ucapnya sembari melangkah pergi meninggalkanku


Rupanya suasana hatinya jadi kacau karena kabar pagi ini.


Melihat Tina pergi gak mau sarapan, akhirnya mau gak mau aku putuskan ikut gak sarapan juga.


Aku lebih memilih mengikuti Tina pergi ke kamar. Sebagai seorang sahabat yang setia kawan


Pagi ini sudah hari kamis, sudah saatnya acara ulang tahun anaknya Rima akan diadakan entah jam berapa belum ada kepastian


Satu helai pun pernik-pernik pesta gak ada yang terpasang.


Suasana pagi ini pun masih sama seperti hari sebelumnya, suasana yang sepi dan dingin bahkan anak Rima saja belum diperlihatkan sosoknya sejak kami datang ke rumah ini.


Tina terus saja melangkah menaiki anak tangga tanpa memperdulikan aku dibelakangnya sampai akhirnya dia lebih dulu melewati kamar Rima

__ADS_1


Tina gak menyadari kalau pintu kamar Rima terbuka sedikit.


__ADS_2