
Aku dan Tina menoleh ke arah suara
Lantas saja suara itu seolah menyudahi kami berada di balkon.
Aku dan Tina kembali masuk ke dalam kamar.
Tina menutup kembali pintu balkon sementara aku melangkah untuk membuka pintu yang sejak tadi masih bersuara pelan
"Tok.tok..tok..tok"
Dengan hati-hati aku membukanya
Kreekh
Tapi gak ada siapa pun yang berdiri di depan pintu.
Aku sedikit takut tapi berusaha memusnahkannya dengan membaca doa
Pintu aku tutup kembali
Dengan raut wajah yang datar aku kembali ke kasur, di atas kasur Tina sudah merebahkan tubuhnya, terlentang memeluk guling
Tina memperhatikan raut wajahku, dengan heran dia menanyakannya
"Siapa Nis ?" tanyanya
Aku menaikkan kedua pundakku
"Gak tahu" ucapku pelan
Belum juga sampai duduk dikasur dalam bersamaan suara ketukan kembali terdengar dan kali ini agak keras
"Tok..tokkk...tokkk !!!"
Aku hanya menoleh ke arah suara tapi kali ini Tina yang berinisiatif membuka pintu
Kreekh
Dari belakang Tina aku bisa melihat mulut pintu dengan jelas, kalau Tina juga gak melihat siapa-siapa dari balik pintu.
Tapi Tina menoleh ke samping arah tangga seolah melihat sesuatu dari kedua matanya.
Gak lama kemudian tanpa bicara apa-apa Tina menutup pintu kemudian menghela napasnya dengan raut wajah yang tenang
Dia kembali ke kasur dan menarik selimutnya
Aku jadi penasaran siapa yang dia lihat
"Siapa Tin ?" tanyaku
"Rupanya anaknya si Rima yang iseng. Barusan dia kepergok terus kabur turun tangga" ucapnya santai sembari memulai tidurnya
Mendengar penjelasannya aku hanya diam gak bergeming sepatah kata pun
Entah kenapa aku gak percaya kalau yang dilihat oleh Tina adalah anaknya Rima
Aku yakin pasti ada rahasia di rumah ini. Tapi aku gak tahu harus menunjukkan bukti apa.
__ADS_1
Pagi sudah kembali lagi meski semalam sempat diganggu oleh hal aneh tapi semalam aku bisa tidur dengan nyenyak.
Seperti biasanya jam tujuh pagi aku dan Tina turun ke ruangan makan. Karena dihari sebelumnya hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan untuk sarapan bersama dengan keluarga Rima.
Tapi rupanya ruang makan kosong gak ada siapa-siapa, bahkan meja makan pun bersih dari hidangan yang biasanya penuh santapan setiap pagi.
Aku dan Tina hanya berdiri diam dihadapan meja kemudian saling menoleh.
Seolah gak tahu harus berbuat apa
Aku berbisik kepada Tina
"Jangan-jangan kita disuruh masak sendiri" ucapku
Tina tersenyum, dia merasa kalau kalimatku barusan hanya candaan baginya
"Yang masak harusnya lu, ya" ucapnya
Aku menghela napas resah "Hemmm"
Dalam bersamaan Rima datang dari belakang kami, dia datang bukan untuk mengajak kami makan pagi melainkan memberikan kabar
"Selamat pagi teman-teman !" sapanya terdengar ceria
Sikapnya berbeda dari pagi biasanya
Aku dan Tina lantas menoleh kearahnya, raut wajahnya gak seperti biasanya. Dia terlihat sangat penuh sukacita. Mungkin karena hari ini anaknya berulang tahun
Aku juga gak luput menyapanya balik "Selamat pagi juga, Rima !" sapaku dengan manis
Begitupun dengan Tina turut membalas sapaannya "Pagi juga Ibu " sapanya
"Kalian pasti lapar ya, aku buatkan roti dan susu panas ya ?" ucapnya menawarkan kepada kami
Sebenarnya ide yang bagus tapi aku dan Tina dengan cepat menolaknya.
Tentu saja karena kami gak enak hati kepadanya
Tina langsung menolak "Gak usah Rima, biar aku dan Nissa aja yang bikin sendiri" ucapnya
Kemudian aku sambung setuju dengan mengangguk
Untungnya Rima gak tersinggung dengan penolakan kami
"Oke deh kalau gitu, nanti kalian bikin aja sesuka hati kalian ya. Aku mau ke kebun dulu. Mau bersih-bersih kebun" ucapnya sembari melepaskan rangkulannya kemudian hendak pergi
Tapi aku buru-buru mencegahnya "Rima !" panggilku
Rima menoleh cepat
"Iya !" jawabnya
"Kami mau ambil hape, karena sebentar lagi kan kami akan pulang" pintaku
Mendengar begitu Rima merubah raut wajahnya menjadi sedikit datar
"Owh, maaf ya kebetulan hape kalian baru aja dibawa mertua aku ke kota. Nanti siang mereka akan bawa lagi ke sini" jelasnya
__ADS_1
Aku dan Tina saling menoleh heran
Mendengar begitu aku dan Tina merasa bingung kenapa harus sampai dibawa ke kota.
"Hah !"
Tapi disini Tina yang sangat terlihat kecewa kepada Rima
"Kok bisa sih hape kami dibawa. Untuk apa ?" tanyanya
Rima tersenyum kaku, dia mulai paham kalau Tina gak suka dengan cara keluarganya
"Hape kalian gak bisa isi batrei makanya sama mertua aku dibawa ke kota untuk diperiksa hari ini juga . Ibu yang bawa katanya sekalian pergi ke kota sebentar katanya ada urusan" jelasnya
Tapi Tina masih gak mau terima dengan penjelasannya karena aku tahu betul kalau hapenya seharga satu motor.
Dia takut hapenya hilang
"Tapi kenapa kamu gak bilang dulu ?" ucap Tina
Rima yang mulai merasa terpojok akhirnya cuma bisa berusaha menenangkan hati Tina
"Kamu tenang aja Tin, hape kamu dan hape Nissa bakalan aman kok. Ini semua demi kebaikan kalian supaya nanti pulang dari sini hape kalian dalam keadaan hidup" jelasnya
Mendengar penjelasan Rima akhirnya Tina gak bisa berkata apa-apa lagi.
Mulutnya seolah terkunci begitu saja
Dalam bersamaan juga Rima kembali pamit kepada kami
"Aku ke kebun dulu ya, mau beres-beres. Mungkin setengah jam selesai. Kalian sarapan saja dulu. Nanti kalau kedua mertua aku dan suami aku pulang bawa hape kalian pasti aku akan kembalikan lagi ke kalian " ucapnya
Aku mengangguk "Iya Rima" ucapku
Tapi Tina diam saja, dia masih jengkel dengan keputusan sepihak keluarga Rima.
Dan aku sebagai teman dekatnya selalu berusaha menenangkan perasaannya
"Ya udah lah Tin, nanti juga balik lagi hapenya. Lebih baik kita bikin sarapan dulu yuk" ajakku
Tapi Tina menolaknya mentah-mentah
"Gua gak lapar !" ucapnya sembari melangkah pergi meninggalkanku
Rupanya suasana hatinya jadi kacau karena kabar pagi ini.
Melihat Tina pergi gak mau sarapan, akhirnya mau gak mau aku putuskan ikut gak sarapan juga.
Aku lebih memilih mengikuti Tina pergi ke kamar. Sebagai seorang sahabat yang setia kawan
Pagi ini sudah hari kamis, sudah saatnya acara ulang tahun anaknya Rima akan diadakan entah jam berapa belum ada kepastian
Satu helai pun pernik-pernik pesta gak ada yang terpasang.
Suasana pagi ini pun masih sama seperti hari sebelumnya, suasana yang sepi dan dingin bahkan anak Rima saja belum diperlihatkan sosoknya sejak kami datang ke rumah ini.
Tina terus saja melangkah menaiki anak tangga tanpa memperdulikan aku dibelakangnya sampai akhirnya dia lebih dulu melewati kamar Rima
__ADS_1
Tina gak menyadari kalau pintu kamar Rima terbuka sedikit.