ANAK ARWAH

ANAK ARWAH
11. ANTARA MENYESAL ATAU ENGGAK


__ADS_3

Tina masih terlihat linglung "Denger apa ?" dia malah balik tanya.


Padahal suara ketukan itu masih jelas terdengar olehku.


Seharusnya dia juga dengar


Aku berusaha mengarahkan pendengarannya, karena aku yakin nyawanya masih setengah terkumpul bisa saja itu alasannya dia belum siap merespon


"Coba denger baik-baik" ucapku


Akhirnya Tina berusaha mendengar apa yang aku maksud, dia mulai tersadar dari tidurnya dan mengikuti permintaanku


Telinganya dia pasang baik-baik ke arah pintu tapi sayangnya pada saat Tina sudah benar-benar mau mendengar, suara ketukan malah hilang


Suasana kembali sunyi


"Gak ada suara apa-apa" ucapnya namun meski begitu dia masih penasaran.


Dia masih mau berusaha mendengar suara yang membuat aku panik


Tapi aku harus tetap memberitahu dia kalau suara ketukan penuh amarah itu benar adanya


"Tadi ada suara yang ngetuk pintu, awal pelan terus kenceng banget kayak marah" jelasku


Tina berpikir sebentar "Mungkin itu Rima, kali" tebaknya


Aku mengelaknya karena aku gak yakin dengan tebakan Tina


"Tapi ada suara anak perempuan ketawa" ucapku


"Ya berarti bener kalau itu si Rima bawa anaknya" ucapnya santai saja


Tapi aku yakin betul kalau itu bukan Rima


"Ih, gak masuk akal banget masa jam segini dia ketuk pintu bawa-bawa anaknya juga. Mau ngapain " bantahku


"Ya bisa jadi dia mau tidur bareng sama kita" ucapnya


Aku menggelengkan kepala, aku makin jadi curiga kalau rumah ini gak beres


Bisa jadi di rumah besar ini banyak penghuninya tapi Rima dan keluarganya menutupinya


"Gak mungkin Tin, kalau itu beneran Rima, masa sih dia ngetuknya gak sambil manggil nama kita. Lagian kan bisa aja dia telpon lu atau gua kalau memang pintunya gak dibuka-buka. Lagi pula logikanya dia pasti tahu jam segini kita udah enak tidur jadi gak mungkin dia datang seenak dia" bantahku


Tina diam mencoba meresapi bantahanku


"Tapi gua gak denger apa-apa sih, Nis. Apa karena tidur gua ini tidur kebo ya" ucapnya malah bercanda


Aku meghela napas "Besok kita pulang aja yuk" ajakku sertamerta


Mendengarnya Tina malah cuek dia malah kembali tidur memalingkan tubuhnya sama seperti awal


"Kayaknya lu ngigau deh" cueknya sembari menarik selimutnya


Tapi aku berusaha meyakinkannya lagi aku harus bisa membuat Tina percaya kepadaku


"Gua gak bohong Tin, dari tadi tuh gua gak bisa tidur jadi mana mungkin gua ngigau" tekanku

__ADS_1


Untungnya Tina masih menghargai curhatanku akhirnya dia membalikkan badannya ke arahku


"Gini aja deh, besok pagi kita jangan cerita soal ini ke siapa pun. Kita pura-pura aja kalau sekarang gak terjadi apa-apa. Dan kita jangan sampai memperlihatkan sikap takut ke mereka karena takutnya akan menyinggung tuan rumah seolah-olah rumahnya ini kandang setan. Nanti kalau misalnya kecurigaan kita tentang makhluk di rumah ini semakin gak ramah ke kita. Kita pulang baik-baik tanpa omongan ke arah situ. " ucapnya dengan sangat bijak


Aku mengangguk "Oke juga tuh ide lu" setujuku


Tina kembali membalikkan badannga "Yaudah sekarang kita tidur" ucapnya


Aku cukup lega mendengar keputusannya meski sebenarnya aku mau pulang saat ini juga.


Pagi jam enam menyapa, suara burung-burung dan binatang lainnya dari dalam hutan terdengar jauh memecah dinginnya pagi


Aku masih berselimut sedikit malas untuk beranjak turun dari ranjang. Tapi saat aku memicingkan mata rupanya Tina sudah gak ada disampingku


Buru-buru aku terbangun duduk dan mencarinya dengan pandangan ke segala arah, akhirnya aku melihatnya diluar jendela sedang berdiri di balkon menghadap hutan.


Aku menghela napasku, tanda merasa aman kalau dia gak meninggalkan aku sendirian.


Tanpa pikir panjang lagi aku langsung menghampirinya. Berjalan pelan ke arahnya yang masih berdiam membelakangiku


Aku memanggilnya dengan pelan "Tin. Lu udah bangun aja" ucapku


Semakin aku mendekati punggungnya aku langsung disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah. Hutan yang luas yang masih diselimuti kabut pagi yang cantik samar-samar terlihat dari jauh beberapa pengunungan bagai lukisan yang indah


Tanpa sadar aku mengucap takjub "Wow, cantik banget" gumamku sembari melangkah mendekati Tina.


Dalam bersamaan terdengar pintu kamar dibuka, sontak saja aku melihat ke arahnya. Batinku mengatakan kalau yang datang itu Rima


"Nissa, ayok sarapan !" ajak Tina.


Saat aku melihatnya berdiri dimulut pintu, aku panik dan langsung melihat ke arah Tina yang sejak tadi membelakangiku.


Dia menghilang tapi aku yakin tadi aku melihat sosoknya. Aku juga yakin kalau itu Tina sekalipun dia membelakangiku


Rupanya Tina yang nyata adalah Tina yang baru saja mengajakku sarapan.


Untungnya Tina paham saat melihat raut wajahku yang terlihat jelas ketakutan, mulutku pun gemetar seolah sulit untuk bicara apa yang barusan terjadi.


Tina melangkah ke arahku dengan penasaran


"Lu kenapa lagi Nis ?" tanyanya semakin mendekat kemudian berdiri tepat dihadapanku


Dia juga menepuk pundakkku seolah ingin menyadarkan aku, setidaknya berusaha membuat aku sedikit lebih tenang


"Jangan bilang lu ngerasain hal aneh lagi ?" ucapnya


Aku masih panik tapi mulutku terkunci rapat.


Aku menggelengkan kepala


Tapi Tina masih penasaran "Terus kenapa muka lu keliatan takut begini, apa yang lu denger sekarang ?" ucapnya sembari menoleh ke setiap arah


Tapi Tina masih mau sabar menungguku tenang " Oke, sekarang lu tarik napas lalu lu berdoa dalam hati. Lu ikhlasin apa yang udah lu lihat atau lu rasakan" ucapnya


Mendengarnya aku berusaha tenang meski gak begitu mudah untukku.


Beberapa saat kemudian akhirnya aku cukup tenang untuk menjelaskan apa yang aku lihat.

__ADS_1


Tapi baru aja aku mulai bicara, Rima sudah datang menjemput kami


"Kalian lama sekali, semua lagi nunggu kalian dibawah. Mau sarapan bersama" ucapnya


Aku dan Tina menoleh tapi berusaha memberikan raut wajah yang senang-senang saja supaya dia gak curiga kepada kami.


Aku dan Tina hanya gak mau melukai hatinya karena sikap kami yang kesannya mungkin akan terasa gak sopan


Tina tersenyum kemudian melangkah cepat ke arah Rima "Oh iya, sampai lupa. Gara-gara lihat pemandangan udara yang sejuk banget sampai lupa. Maaf ya " ucapnya sembari menggandeng tangan Rima untuk segera keluar dari kamar


Untungnya Rima tersenyum dan gak terlihat kalau dia curiga dengan sikap kami


Sementara aku juga ikut terbawa senyuman Tina dan mengikuti langkah mereka sampai di ruang makan


Di atas meja besar sudah penuh dengan beraneka hidangan. Ada sirup, roti panggang, nasi goreng, mie goreng, kopi, susu, ayam goreng bahkan ada sepiring besar putu ayu berwarna hitam dan merah. Padahal yang makan kedua mertua Rima, suami Rima, Rima, aku dan Tina.


Tapi lagi-lagi aku gak melihat anak Rima


Diawal pertemuan pagi ini sebelum duduk bersama dengan mereka aku menyapa mereka dengan sangat manis "Pagi semua" ucapku


Begitupun dengan Tina yang ikut menyapa "Pagi juga semua" ucapnya


Pasang mata mereka yang menatap sejak kedatangan kami seolah memberi kesan kalau mereka sudah menunggu lama tapi meski begitu mereka tetap ikut membalas sapaan kami, dengan ramah mereka serempak menyapa balik "Pagi juga!" balas mereka


Tanpa disuruh duduk oleh siapa pun dari mereka, aku dan Tina sudah mengambil posisi duduk.


Tina duduk disampingku, dan disampingnya ada Rima.


Disamping Rima kursi kosong, kemudian disamping kursi kosong ada suaminya.


Kedua orang tua suaminya duduk bersebelahan dihadapan kami


Mungkin kursi kosong itu untuk anaknya Rima yang belum datang


Ibu mertua Rima begitu ramah menjamu kami, dia gak segan-segan memberikan kami masing-masing sepotong ayam goreng


"Dimakan ya, ini masakn Ibu" ucapnya


Aku mengangguk segan "Iya makasih ya Bu" jawabku sembari tersenyum


Beberapa saat makan bersama rupanya Tina gak tahan menanyakan keberadaan anak Rima.


"Rima, anak kamu kemana ?" tanyanya


Suatu pertanyaan yang seharusnya gak membuat Rima terlihat kaku


"Oh, dia masih di kamar. Dia agak demam" ucapnya


"Kasihan banget, nanti aku lihat ya. Boleh kan ?" Pinta Tina


Tapi Ibu mertua Rima yang cepat menjawab


"Sebaiknya jangan, karena dia itu masih kecil takutnya nanti kalau dijenguk sama sembarang orang bisa makin parah" ucapnya


Aku yang sejak tadi makan lahap jadi ikut dalam obrolan "Apa sudah dibawa ke dokter, Bu ?" tanyaku prihatin


Bu Atik tersenyum "Sudah, kemarin siang. Tapi sepertinya hari ini biar dokternya saja yang ke sini. Takutnya nanti dia kecapean kalau dibawa keluar" ucapnya

__ADS_1


__ADS_2