ANAK ARWAH

ANAK ARWAH
22. TINGGAL KENANGAN


__ADS_3

Rima menghela napasnya


"Karena arah itu akan mengarah ke jalan aspal, cuma hutan ini yang mengarah ke jalan aspal" jelasnya


Aku mengangguk pelan "Oke kalau begitu" pahamku


Rima memberi pilihan kepadaku


"Apa kamu mau jalan sekarang atau mau istirahat dulu ? Karena wajah kamu pucat sekali " Tanyanya


Aku langsung jawab


"Kita langsung jalan sekarang karena kalau mengulur waktu nanti bisa ketemu suami kamu lagi" ucapku


Tapi Rima yakin kalau suaminya akan kembali besok " Aku yakin dia gak akan mengejar kita karena dia akan membawa jasad Tina ke kamar ritual untuk diambil darahnya walau sedikit" jelasnya


Mendengarnya aku merinding "Aku gak mau membayangkan itu" ucapku


Meski penjelasan Rima yang cukup meyakinkan tapi aku mau segera sampai di kota


"Lebih baik kita pergi sekarang aja. Aku sudah gak sabar mau sampai rumahku" ucapku


Rima tersenyum


"Oke deh kalau gitu ayo kita jalan" ucapnya kemudian mempersilahkan aku untuk jalan di depannya


Akhirnya perjalanan kami lanjutkan dengan perut kosong yang membuat fisik semakin lemah dan gemetaran.


langkah kaki yang terseok-seok pun gak bisa aku hindarkan.


Sesekali aku mengeluh lelah dalam perjalanan, rasanya tulang remuk dan tenggorokan sangat kering apalagi kepala kembali sakit dan demam yang masih bersemayam ditubuhku


Aku merunduk menyentuh lutut, aku merasa kalau kaki ini gak sanggup berjuang


"Aku capek banget, aku juga lapar, aku haus, aku gemetar" ucapku.


Tiba-tiba saja airmataku menetes jatuh diantara dedaunan kering yang jatuh gugur


Rima memelukku, dia juga ikut menangis


"Maaf, aku cuma bisa bilang maaf" ucapnya


Mendengar ucapannya aku semakin terisak, justru membuat aku kesal


"Aku pikir teman adalah tempat yang nyaman, tapi rupanya kali ini aku salah" ucapku berusaha melepaskan pelukannya


Rima semakin merasa bersalah dia hanya bisa berkata satu kalimat itu saja "Aku minta maaf" ucapnya


"Sori Rima, aku tetap sakit hati dengan apa yang menimpa aku sekarang apa lagi Tina harus mati karena ulah kamu" ucapku


Rima menangis terisak, dia semakin gak sanggup menahan rasa penyesalannya


"Aku tahu, harusnya aku yang pantas mati" ucapnya


"Memang harusnya kamu, Rima !!!" teriakku


Rima menatapku penuh airmata, dia gak sanggup berkata-kata lagi


Saat itulah emosi aku semakin meluap "Kamu yang seharusnya mati bukan Tina.. Kamuuuu !!!" teriakku lagi


Rima hanya mampu berkata "Maafkan aku Nissa, aku minta maaf. Aku bersalah" ucapnya


"Percuma maaf kamu, Rima. Percuma !!!" teriakku lagi


"Huhuhuhu...Maafin aku Nissa" ucapnya lagi berulang kali


"Kamu sudah membuat kami menderita, aku menderita... Tina mati !" ucapku lagi


Saat itu juga Rima bersujud dihadapanku, dia menyentuh kaki ku dan menciumnya.


Saat itu juga aku menepisnya dengan masih sangat marah "Gak usah seperti ini Rima. Semua percuma. Mau pun kamu mati sekalipun gak akan menghidupkan Tina lagi. Tina sudah mati !" ucapku


Tapi Rima masih saja bersimpuh dikaki ku, dia sangat terluka dengan penyesalannya. Dia gak berucap sepatah katapun dia hanya terus menangis


Tapi aku gak peduli dengannya, yang ada dipikiranku hanya ingin keluar dari neraka ini


"Sekarang ini aku cuma mau pulang, jadi sekarang tolong arahkan jalan yang benar" ucapku


Rima bangkit berdiri, dia tersenyum walau pipinya sudah basah


"Aku akan mengantarkan kamu sampai ke kota, dan aku akan melaporkan diri ke polisi" ucapnya


Aku mengangguk "Bagus. Itu rencana yang bagus" ucapku sembari mulai melangkah membelakangi Rima


Dalam bersamaan tiba-tiba saja terdengar suara jejak kaki yang menginjak dedauan kering membuat kami menoleh ke belakang

__ADS_1


Sialnya rupanya suami Rima muncul kembali, dia datang dengan pedangnya yang masih berlumuran darah


Tanpa basa-basi lagi, suami Rima langsung saja menebaskan pedangnya yang panjang itu ke arah kami.


Serta merta aku pun melangkah menghindarinya tapi gak dengan Rima, justru dia melawan suaminya sendiri dengan cara menangkap ujung pedang bermata dua itu.


Aku yang menyaksikan keberaniannya sampai-sampai mengurungkan niat untuk pergi


Karena bagaimanapun aku gak sampai hati Meninggalkan Rima dalam keadaan yang membahayakannya


Akhirnya Rima dan suaminya saling beradu kekuatan menahan pedang, mereka saling mendorong satu sama lain untuk mendekatkan mata pedang kearah leher masing-masing.


Walau tangan Rima sudah terluka bersimbah darah tapi Rima gak peduli, dengan sekuat tenaganya dia mengarahkan mata pedang suaminya ke arah suaminya.


Sebenarnya aku ingin membantunya tapi aku gak tahu harus melakukan apa.


Rima yang sadar kalau masih ada aku didekatnya, dia teriak kepadaku


"Lari !!! Lari !!! Cepat lari !!!" teriaknya masih terus menahan pedang


Mendengarnya aku jadi ragu harus lari atau harus menolongnya tapi kalau pun menolongnya aku harus melakukan apa.


Aku bingung, aku gak gak tahu harus apa.


Akhirnya aku hanya berdiri saja memperhatikan mereka saling berusaha membunuh lawan


Rima berteriak lagi


"Cepat lari, Nissa. Cepattt !!!" teriaknya lagi


Mendengarnya aku makin bingung, emosiku semakin luruh dan aku menangis dan bicara kepadanya


"Rima, kamu harus ikut. Kamu harus hidup !" ucapku


Tapi Rima hanya terus berkata


"Lari !!! Cepat !!!" teriaknya lagi


Dalam bersamaan Rima berhasil merobohkan tubuh suaminya setelah dia menendang ******** suaminya.


Dalam masih saling bertahan memegang pedang dari sisi masing-masing.


Mereka terjatuh dan posisi Rima ada diatas tubuh suaminya, mereka saling mengincar batang leher untuk saling mereka gorok


Rima masih terus berteriak


"Lari, Nissa !!! Lari !!!" teriaknya


Dalam bersamaan juga akhirnya Rima berhasil mendorong mata pedang ke arah leher suaminya, dan suaminya pun berhasil mendorong mata pedang ke arah leher Rima.


Mereka sama-sama tersayat oleh senjata mereka sendiri.


Melihatnya aku menangis histeris


"Rima !" panggilku yang sebenarnya itu sia-sia


Suara tangisku pecah bersama angin, menyesali perkataanku yang seolah gak akan memaafkan Rima padahal sekarang dia benar-benar mati untukku


"Huhuhuhuhuhu. Rima !" panggilku lagi


Rima masih bisa bicara tapi gak ada suaranya lagi, suaranya bagai terhimpit


"Sori. Aku sayang kamu, Tina. Kita sahabat" ucapnya kemudian raut wajahnya semakin melemah


Mendengarnya aku semakin gak sanggup berkata-kata lagi. Aku benar-benar hancur


Beberapa saat akhirnya Rima dan suaminya benar-benar sudah gak bernapas lagi. Mereka meregang nyawa bersama-sama, meninggal dalam keadaan mata yang terbelalak


Sebelum aku pergi untuk melanjutkan perjalanan, aku mendoakan mereka terlebih dulu dalam hisakan tangis yang sakit sampai didada.


"Rima, maaf dan terimakasih" ucapku kemudian menyeka airmataku yang terus saja berlinang


Akhirnya dengan langkah yang sempoyongan dan penuh harapan, aku melanjutkan perjalanan yang sekarang seorang diri.


Langkahku sangat pelan


Aku sangat lelah


Tapi aku terus berjalan perlahan berharap jalan aspal sudah aku temukan.


Tapi ditengah perjalanan aku roboh dan gak sanggup membuka kedua mataku.


Beberapa saat tidur diatas tanah akhirnya langit jingga membangunkanku.


Tubuhku semakin lelah saja, rasanya mustahil untuk bisa tetap bertahan hidup tapi harapanku lebih besar dari lelahku yang akhirnya mengajakku kembali bangkit berjuang

__ADS_1


Aku siapkan kembali mentalku.


Mulai berjalan perlahan menikmati hari semakin gelap.


Aku berharap tenagaku gak akan habis sampai akhirnya aku mendapatkan pertolongan yang entah dari siapa pun


Dibawah langit hitam langkah kaki ku gak berhenti menapak walau tertatih tapi aku masih ada sisa harapan untuk kembali pulang.


Untungnya ada bulan diantara bintang-bintang yang cukup menyinari jalanku.


Tapi semakin lama aku merasa kalau nyawaku sedikit lagi akan habis hanya doa sebagai pelipur yang menemaniku sepanjang perjalananku


Bulan dan bintang pun telah pergi, mereka diusir oleh kelamnya malam berkabut.


Malam semakin dingin dan aku sudah putus asa.


Aku tersungkur kelelahan, aku gak tahu harus sampai mana lagi aku berhenti melangkah.


"Ya ,Tuhan. Jika memang sekarang aku harus mati maka ambillah nyawaku saat dalam lelapku" gumamku


Dan tanpa aku sadari airmataku kembali menetes.


Ngeeeeennggg...!


Tin..tin...tin...tin !! Ngeeengg


Tiba-tiba saja samar-samar terdengar suara mobil lewat


Mendengarnya senyumanku merekah mengiringi pengharapanku yang kembali datang


Cepat-cepat aku bangkit berdiri untuk menjemput sumber suara. Walau tubuhku sempoyongan tapi aku sangat bahagia berlari menghampirinya.


Sekuat-kuatnya aku melangkah sampai akhirnya aku berada di jalan aspal yang gelap dan sepi


Langsung saja aku berteriak ditengah-tengah jalan


"Tolongggg !!! Tolllooonggg !!! Tolonggg !!" teriakku sampai menangis bahagia


Tapi sayangnya belum ada satu pun kendaraan yang yang lewat.


Akhirnya aku putuskan untuk berjalan maju berharap ada kendaraan yang mau menampungku


Dalam bersamaan samar-samar aku mendengar ada suara mobil dibelakangku


Ngeeenggg...ngeeenggg !


Sontak saja aku berteriak kepadanya ditengah jalan merentangkan kedua tangan seolah menghadangnya dari jauh


"Tolllonggggg !!! Tolllongggg !!!" teriakku


Tapi mirisnya


Tinnnn...tin....nnn !!!


Brukkkkkkhh !!!!


Mobil itu justru menabrakku


Sampai-sampai aku terpental dan skarat gak sadarkan diri


Pandanganku gelap, aku serasa dibawa ke dimensi lain. Bertemu Tina dan Rima yang tersenyum melambaikan tangan kepadaku. Mereka berada diantara guratan-guratan kilau emas yang memantulakn keindahan.


Sampai akhirnya aku tersadar di ruangan rumah sakit.


Ada seorang wanita berseragam tenaga kesehatan yang berdiri dihadapanku, dia pengawas


"Selamat pagi, Bu" sapanya


"Saya di mana Bu ?" tanyaku


"Di UGD" jawabnya


"Kok saya bisa sampai sini ?" tanyaku lagi


"Semalam Ibu kecelakaan dan langsung dibawa ke sini oleh si penabraknya. Kaki Ibu terlindas ban mobil dan harus di amputasi"


Mendengarnya aku menangis sejadi-jadinya, aku membayangkan kehilangan satu kaki dan itu sangat menyakitkan bagiku.


Tapi didalam hati kecilku masih mau mengucap syukur kalau aku masih hidup sampai hari ini.


Thanks, God


-TAMAT-


(*Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca novelku. Mohon maaf jika ada salah kata atau keslahan penempatan kalimat atau ada kesamaan nama tokoh dan lainnya sebab cerita ini hanyalah fiksi)

__ADS_1


__ADS_2