
Rima menghela napasnya
"Karena arah itu akan mengarah ke jalan aspal, cuma hutan ini yang mengarah ke jalan aspal" jelasnya
Aku mengangguk pelan "Oke kalau begitu" pahamku
Rima memberi pilihan kepadaku
"Apa kamu mau jalan sekarang atau mau istirahat dulu ? Karena wajah kamu pucat sekali " Tanyanya
Aku langsung jawab
"Kita langsung jalan sekarang karena kalau mengulur waktu nanti bisa ketemu suami kamu lagi" ucapku
Tapi Rima yakin kalau suaminya akan kembali besok " Aku yakin dia gak akan mengejar kita karena dia akan membawa jasad Tina ke kamar ritual untuk diambil darahnya walau sedikit" jelasnya
Mendengarnya aku merinding "Aku gak mau membayangkan itu" ucapku
Meski penjelasan Rima yang cukup meyakinkan tapi aku mau segera sampai di kota
"Lebih baik kita pergi sekarang aja. Aku sudah gak sabar mau sampai rumahku" ucapku
Rima tersenyum
"Oke deh kalau gitu ayo kita jalan" ucapnya kemudian mempersilahkan aku untuk jalan di depannya
Akhirnya perjalanan kami lanjutkan dengan perut kosong yang membuat fisik semakin lemah dan gemetaran.
langkah kaki yang terseok-seok pun gak bisa aku hindarkan.
Sesekali aku mengeluh lelah dalam perjalanan, rasanya tulang remuk dan tenggorokan sangat kering apalagi kepala kembali sakit dan demam yang masih bersemayam ditubuhku
Aku merunduk menyentuh lutut, aku merasa kalau kaki ini gak sanggup berjuang
"Aku capek banget, aku juga lapar, aku haus, aku gemetar" ucapku.
Tiba-tiba saja airmataku menetes jatuh diantara dedaunan kering yang jatuh gugur
Rima memelukku, dia juga ikut menangis
"Maaf, aku cuma bisa bilang maaf" ucapnya
Mendengar ucapannya aku semakin terisak, justru membuat aku kesal
"Aku pikir teman adalah tempat yang nyaman, tapi rupanya kali ini aku salah" ucapku berusaha melepaskan pelukannya
Rima semakin merasa bersalah dia hanya bisa berkata satu kalimat itu saja "Aku minta maaf" ucapnya
"Sori Rima, aku tetap sakit hati dengan apa yang menimpa aku sekarang apa lagi Tina harus mati karena ulah kamu" ucapku
Rima menangis terisak, dia semakin gak sanggup menahan rasa penyesalannya
"Aku tahu, harusnya aku yang pantas mati" ucapnya
"Memang harusnya kamu, Rima !!!" teriakku
Rima menatapku penuh airmata, dia gak sanggup berkata-kata lagi
Saat itulah emosi aku semakin meluap "Kamu yang seharusnya mati bukan Tina.. Kamuuuu !!!" teriakku lagi
Rima hanya mampu berkata "Maafkan aku Nissa, aku minta maaf. Aku bersalah" ucapnya
"Percuma maaf kamu, Rima. Percuma !!!" teriakku lagi
"Huhuhuhu...Maafin aku Nissa" ucapnya lagi berulang kali
"Kamu sudah membuat kami menderita, aku menderita... Tina mati !" ucapku lagi
Saat itu juga Rima bersujud dihadapanku, dia menyentuh kaki ku dan menciumnya.
Saat itu juga aku menepisnya dengan masih sangat marah "Gak usah seperti ini Rima. Semua percuma. Mau pun kamu mati sekalipun gak akan menghidupkan Tina lagi. Tina sudah mati !" ucapku
Tapi Rima masih saja bersimpuh dikaki ku, dia sangat terluka dengan penyesalannya. Dia gak berucap sepatah katapun dia hanya terus menangis
Tapi aku gak peduli dengannya, yang ada dipikiranku hanya ingin keluar dari neraka ini
"Sekarang ini aku cuma mau pulang, jadi sekarang tolong arahkan jalan yang benar" ucapku
Rima bangkit berdiri, dia tersenyum walau pipinya sudah basah
"Aku akan mengantarkan kamu sampai ke kota, dan aku akan melaporkan diri ke polisi" ucapnya
Aku mengangguk "Bagus. Itu rencana yang bagus" ucapku sembari mulai melangkah membelakangi Rima
Dalam bersamaan tiba-tiba saja terdengar suara jejak kaki yang menginjak dedauan kering membuat kami menoleh ke belakang
__ADS_1
Sialnya rupanya suami Rima muncul kembali, dia datang dengan pedangnya yang masih berlumuran darah
Tanpa basa-basi lagi, suami Rima langsung saja menebaskan pedangnya yang panjang itu ke arah kami.
Serta merta aku pun melangkah menghindarinya tapi gak dengan Rima, justru dia melawan suaminya sendiri dengan cara menangkap ujung pedang bermata dua itu.
Aku yang menyaksikan keberaniannya sampai-sampai mengurungkan niat untuk pergi
Karena bagaimanapun aku gak sampai hati Meninggalkan Rima dalam keadaan yang membahayakannya
Akhirnya Rima dan suaminya saling beradu kekuatan menahan pedang, mereka saling mendorong satu sama lain untuk mendekatkan mata pedang kearah leher masing-masing.
Walau tangan Rima sudah terluka bersimbah darah tapi Rima gak peduli, dengan sekuat tenaganya dia mengarahkan mata pedang suaminya ke arah suaminya.
Sebenarnya aku ingin membantunya tapi aku gak tahu harus melakukan apa.
Rima yang sadar kalau masih ada aku didekatnya, dia teriak kepadaku
"Lari !!! Lari !!! Cepat lari !!!" teriaknya masih terus menahan pedang
Mendengarnya aku jadi ragu harus lari atau harus menolongnya tapi kalau pun menolongnya aku harus melakukan apa.
Aku bingung, aku gak gak tahu harus apa.
Akhirnya aku hanya berdiri saja memperhatikan mereka saling berusaha membunuh lawan
Rima berteriak lagi
"Cepat lari, Nissa. Cepattt !!!" teriaknya lagi
Mendengarnya aku makin bingung, emosiku semakin luruh dan aku menangis dan bicara kepadanya
"Rima, kamu harus ikut. Kamu harus hidup !" ucapku
Tapi Rima hanya terus berkata
"Lari !!! Cepat !!!" teriaknya lagi
Dalam bersamaan Rima berhasil merobohkan tubuh suaminya setelah dia menendang ******** suaminya.
Dalam masih saling bertahan memegang pedang dari sisi masing-masing.
Mereka terjatuh dan posisi Rima ada diatas tubuh suaminya, mereka saling mengincar batang leher untuk saling mereka gorok
Rima masih terus berteriak
"Lari, Nissa !!! Lari !!!" teriaknya
Dalam bersamaan juga akhirnya Rima berhasil mendorong mata pedang ke arah leher suaminya, dan suaminya pun berhasil mendorong mata pedang ke arah leher Rima.
Mereka sama-sama tersayat oleh senjata mereka sendiri.
Melihatnya aku menangis histeris
"Rima !" panggilku yang sebenarnya itu sia-sia
Suara tangisku pecah bersama angin, menyesali perkataanku yang seolah gak akan memaafkan Rima padahal sekarang dia benar-benar mati untukku
"Huhuhuhuhuhu. Rima !" panggilku lagi
Rima masih bisa bicara tapi gak ada suaranya lagi, suaranya bagai terhimpit
"Sori. Aku sayang kamu, Tina. Kita sahabat" ucapnya kemudian raut wajahnya semakin melemah
Mendengarnya aku semakin gak sanggup berkata-kata lagi. Aku benar-benar hancur
Beberapa saat akhirnya Rima dan suaminya benar-benar sudah gak bernapas lagi. Mereka meregang nyawa bersama-sama, meninggal dalam keadaan mata yang terbelalak
Sebelum aku pergi untuk melanjutkan perjalanan, aku mendoakan mereka terlebih dulu dalam hisakan tangis yang sakit sampai didada.
"Rima, maaf dan terimakasih" ucapku kemudian menyeka airmataku yang terus saja berlinang
Akhirnya dengan langkah yang sempoyongan dan penuh harapan, aku melanjutkan perjalanan yang sekarang seorang diri.
Langkahku sangat pelan
Aku sangat lelah
Tapi aku terus berjalan perlahan berharap jalan aspal sudah aku temukan.
Tapi ditengah perjalanan aku roboh dan gak sanggup membuka kedua mataku.
Beberapa saat tidur diatas tanah akhirnya langit jingga membangunkanku.
Tubuhku semakin lelah saja, rasanya mustahil untuk bisa tetap bertahan hidup tapi harapanku lebih besar dari lelahku yang akhirnya mengajakku kembali bangkit berjuang
__ADS_1
Aku siapkan kembali mentalku.
Mulai berjalan perlahan menikmati hari semakin gelap.
Aku berharap tenagaku gak akan habis sampai akhirnya aku mendapatkan pertolongan yang entah dari siapa pun
Dibawah langit hitam langkah kaki ku gak berhenti menapak walau tertatih tapi aku masih ada sisa harapan untuk kembali pulang.
Untungnya ada bulan diantara bintang-bintang yang cukup menyinari jalanku.
Tapi semakin lama aku merasa kalau nyawaku sedikit lagi akan habis hanya doa sebagai pelipur yang menemaniku sepanjang perjalananku
Bulan dan bintang pun telah pergi, mereka diusir oleh kelamnya malam berkabut.
Malam semakin dingin dan aku sudah putus asa.
Aku tersungkur kelelahan, aku gak tahu harus sampai mana lagi aku berhenti melangkah.
"Ya ,Tuhan. Jika memang sekarang aku harus mati maka ambillah nyawaku saat dalam lelapku" gumamku
Dan tanpa aku sadari airmataku kembali menetes.
Ngeeeeennggg...!
Tin..tin...tin...tin !! Ngeeengg
Tiba-tiba saja samar-samar terdengar suara mobil lewat
Mendengarnya senyumanku merekah mengiringi pengharapanku yang kembali datang
Cepat-cepat aku bangkit berdiri untuk menjemput sumber suara. Walau tubuhku sempoyongan tapi aku sangat bahagia berlari menghampirinya.
Sekuat-kuatnya aku melangkah sampai akhirnya aku berada di jalan aspal yang gelap dan sepi
Langsung saja aku berteriak ditengah-tengah jalan
"Tolongggg !!! Tolllooonggg !!! Tolonggg !!" teriakku sampai menangis bahagia
Tapi sayangnya belum ada satu pun kendaraan yang yang lewat.
Akhirnya aku putuskan untuk berjalan maju berharap ada kendaraan yang mau menampungku
Dalam bersamaan samar-samar aku mendengar ada suara mobil dibelakangku
Ngeeenggg...ngeeenggg !
Sontak saja aku berteriak kepadanya ditengah jalan merentangkan kedua tangan seolah menghadangnya dari jauh
"Tolllonggggg !!! Tolllongggg !!!" teriakku
Tapi mirisnya
Tinnnn...tin....nnn !!!
Brukkkkkkhh !!!!
Mobil itu justru menabrakku
Sampai-sampai aku terpental dan skarat gak sadarkan diri
Pandanganku gelap, aku serasa dibawa ke dimensi lain. Bertemu Tina dan Rima yang tersenyum melambaikan tangan kepadaku. Mereka berada diantara guratan-guratan kilau emas yang memantulakn keindahan.
Sampai akhirnya aku tersadar di ruangan rumah sakit.
Ada seorang wanita berseragam tenaga kesehatan yang berdiri dihadapanku, dia pengawas
"Selamat pagi, Bu" sapanya
"Saya di mana Bu ?" tanyaku
"Di UGD" jawabnya
"Kok saya bisa sampai sini ?" tanyaku lagi
"Semalam Ibu kecelakaan dan langsung dibawa ke sini oleh si penabraknya. Kaki Ibu terlindas ban mobil dan harus di amputasi"
Mendengarnya aku menangis sejadi-jadinya, aku membayangkan kehilangan satu kaki dan itu sangat menyakitkan bagiku.
Tapi didalam hati kecilku masih mau mengucap syukur kalau aku masih hidup sampai hari ini.
Thanks, God
-TAMAT-
(*Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca novelku. Mohon maaf jika ada salah kata atau keslahan penempatan kalimat atau ada kesamaan nama tokoh dan lainnya sebab cerita ini hanyalah fiksi)
__ADS_1