
Beberapa saat akhirnya kami sampai di kebun keluarga Rima. Kebunnya ada dibelakang rumahnya. Kebun yang cukup luas dan sangat hijau ditambah lagi udara yang sejuk membuat aku tiba-tiba saja seketika betah.
Apalagi tanah dikebun ini tersambung dengan hutan yang membentang luas menambah aroma tumbuhan yang sangat segar
Dalam bersamaan kedua mertua Rima dan suaminya baru saja selesai membersihkan rumput liar yang tumbuh diantara pohon yang mereka tanam.
Tanpa berbicara apa-apa kepada kami, mereka sibuk melepaskan atribut berkebunnya.
Caping mereka simpan begitupun dengan sabit dan parang mereka taruh di wadahnya. Sebuah ember hitam berukuran sedang yang diletakkan disudut tembok rumah.
Pandangan aku juga malah terpaku pada parang yang dipegang suami Rima, parang itu agak lebar dan panjang kira-kira satu meter. Besinya bermata dua terlihat sangat tajam dan mengerikan. Aku saja sampai merinding melihatnya.
Tapi aku gak mau banyak bicara soal itu, aku berusaha mengalihkan pandanganku ke pepohonan mangga yang berbuah lebat menjuntai
Tanpa bicara apa-apa kepada kami mertua dan suami Rima pergi begitu saja melewati kami seolah kami gak ada dihadapan mereka. Bahkan melirikpun gak sama sekali.
Tapi Rima tampak biasa saja melihat sikap keluarganya yang mendadak dingin itu.
Rima justru mengajak kami untuk duduk lesehan langsung diatas tanah kebun yang bergelombang tanpa alas apa pun.
"Kita duduk di sini aja ya" ajaknya sembari lebih dulu duduk bersila menghadap kami
Aku dan Tina mengikutinya, kami duduk dibawah pohon mangga yang rindang namun belum berbuah
Sementara aku masih terus saja melempar pandanganku ke seluruh arah, melihat semua tanaman yang tumbuh sangat subur dan sehat terawat
Rima melupakan sesuatu, dia lupa ambil pisau "Sebentar ya aku ambil pisau dulu" ucapnya sembari berdiri dan lanjut melangkah ke arah ember penyimpanan benda tajam tadi
Rima mengambil pisau kemudian mencucinya lebih dulu setelah dirasa bersih dia kembali kepada kami
Rima kembali duduk bersila dihadapan kami kemudian meminta melon aku untuk dia belah
"Sini aku belah melonnya" pintanya
Tapi aku malah menolak " Gak usah Rima, biar aku aja yang belah sendiri" tolakku
Tapi Rima sama sekali gak tersinggung, dia memberikan pisaunya kepadaku
"Oh, oke kalau begitu" ucapnya
Tina diam saja, dia hanya memperhatikan aku memotong melon yang aku belah menjadi dua bagian kemudian belahan satunya aku bagi tiga.
Aku kasih sepotong untuk Tina
"Makasih ya Niss" ucapnya
Kemudian aku berikan sepotong untuk Rima
"Ini Rima" sodorku
Tapi Rima menolaknya "Gak usah Nissa. Aku gak doyan melon" ucapnya
"Sejak kapan kamu gak suka melon, bukannya kamu paling doyan ya ?" tanyaku heran
"Semenjak aku umur dua puluh tahun, entah kenapa aku gak suka melon" jawabnya
Tina heran mendengarnya begitupun aku. Kami sama-sama menyerengitkan dahi tapi bagi aku dan Tina itu gak penting untuk dibahas
Aku gak memaksa Rima kalau dia memang sudah gak suka melon
"Oh ya udah kalau memang udah gak doyan melon lagi" cuekku sembari menyantap melon yang sudah aku iris
Melonnya sangat segar dan manis
"Manis banget melonnya, pasti pakai pupuk premium ya, Rima" ucapku
Rima tertawa "Hahaha"
Dia hanya tertawa saja
Tina juga setuju dengan perkataanku kalau melon ini sangat enak dari melon yang pernah kami makan.
Tapi dalam bersamaan juga perut Tina kembali keram. Lantas dia langsung meremas perutnya kembali sampai-sampai dia gak sanggup melanjutkan makan melonnya
"Duh, kenapa sakit lagi ya" keluhnya
Tina merintih kesakitan tapi Rima terlihat tenang saja.
"Mungkin kamu mau datang bulan, Tin" tebak Rima
__ADS_1
Mendengarnya aku baru kepikiran kesitu
"Oh iya bisa jadi" sambungku
Tapi Tina gak menjawab apa-apa, dia hanya meringis kesakitan
Saat itu juga Rima berinisiatif menuntun Tina untuk istirahat saja di kamar
"Kalau gitu kamu istirahat aja dulu ya" usul Rima sembari menggenggam lengan Tina untuk membantunya berdiri.
Aku juga ikut membantunya
Langkah kami berjalan hati-hati seiring langkah Tina yang masih kesakitan hingga akhirnya sampai juga dikamar kami
Sampai di dalam kamar pun Tina masih dibantu untuk rebahan di atas kasur oleh aku dan Rima
Tina berterimakasih kepada kami
"Thanks ya sobat" ucapnya yang sudah berlinang air mata karena saking menahan sakit
Rima tersenyum "Iya sama-sama Tin. Aku ambilkan obat dulu ya" ucapnya sembari pergi
Sekarang tinggal aku dan Tina didalam ruangan sunyi ini.
Mendadak juga rasa keram perut Tina sudah hilang. Dia merasa kembali sehat seperti awalnya
Tina bangkit duduk dari rebahannya
"Gua udah gak sakit lagi Niss" ucapnya
"Kok aneh sih Tin" heranku
Tina juga gak bisa jawab keherananku "Kayaknya kita harus pulang sekarang juga, supaya gua bisa cek ke dokter" ucapnya
Aku menghela napas
"Dari tadi kan emang begitu rencananya" ucapku
"Ya udah kalau gitu kita siap-siapin koper aja deh. Kita pamit sekarang aja. Tunggu Rima balik ke sini lagi" ucapnya
Tanpa berlama-lama lagi aku langsung bergegas mengambil koper kami di dalam lemari
Lantas aku langsung saja mencari gawaiku, mencari didalam tas sampai di dalam koperku.
Sampai-sampai Tina risih melihatku
"Cari apa sih Niss ?" tanyanya
"Cari hape" jawabku masih terus membongkar isi dalam koperku
Mendengar jawabanku, Tina juga baru tersadar
"Oh iya, hape gua juga mana ya" ucapnya sembari ikut mencari juga
Anehnya handphone kami temukan didalam koper kami masing-masing didalam tumpukan pakaian.
Aku mengambilnya sembari mengingat-ingat kembali apakah benar aku yang menyimpannya sampai didalam sini.
Begitupun dengan Tina yang gak habis pikir ada hal aneh seperti ini
Aku bergumam pelan kepada Tina "Apa jangan-jangan ada sesuatu yang mengintai kita di rumah ini Tin?"
Tapi Tina gak percaya "Gak mungkin sih, gua gak yakin di sini ada orang jahat"
"Tapi apa lu gak ada rasa curiga sama mertua dan suaminya Rima ?" prontalku
Tina menatapku dalam-dalam, dia tersentak dengan pernyataan aku yang terlalu berani. Tapi dia gak yakin dengan ucapanku
"Jadi maksud lu mereka mau bunuh kita ?"
Aku gak bisa menjawabnya karena aku juga gak mau menuduh tapi perasaan aku yang ngeri agak condong kepada mereka bertiga.
Tina kembali merapikan kopernya kemudian sembari menyalakan Handphonenya yang dalam keadaan mati
"Bisa jadi rumah ini angker tapi gak ada hubungannya sama keluarganya Rima" ucapnya sembari terus memencet tombol on
Tapi sudah beberpa detik dipencet rupanya hapenya gak hidup kembali
"Kayaknya batrenya habis nih" ucapnya sembari mencari charger
__ADS_1
Melihat hapenya habis batrai akhirnya aku juga ikut cek hapeku dan rupanya sama saja kondisinya seperti hape Tina
"Hape gua juga habis batrai nih" gumamku kemudian langsung menyambungkan aliran listrik ke colokan yang sudah tersedia diatas meja.
Tapi hape aku dan Tina justru gak bisa mengisi batrai. Bahkan gambar batrai terisi pun gak ada.
Aku panik tapi Tina santai saja
"Gimana ini Tin, batrainya gak ngisi loh !" panikku
Tina menenangkanku
"Santai Niss palingan colokan ini gak berfungsi kita tunggu Rima datang, nanti kita colok ditempat lain aja" ucapnya
Meski Tina berkata begitu entah kenapa aku merasa gusar dan muak ingin pergi dari rumah ini.
Aku merasa menyesal bisa sampai di sini
"Sekarang juga kita harus pamit Tin. Gua udah gak tahan. Gua yakin ini bukan masalah biasa. Ini masalah aneh !" paksaku
"Ya tapi bagaimana kita bisa pulang sementara hape kita aja mati. Kita kan harus liat peta google" ucapnya
Aku diam mendengar jawaban Tina yang masuk akal sekali
Tapi Tina masih terus tenangkan aku
"Santai aja Niss. bisa jadi ini cuma sugesti kita aja makanya yang terjadi itu hal buruk. Coba kita usahakan berpikir yang baik-baik aja dulu" ucapnya
Tapi aku gak menjawab sama sekali sampai akhirnya Rima datang kembali membawa obat untuk Tina
"Maaf ya kelamaan soalnya aku harus cari dulu yang belum kadaluarsa" ucapnya
Tina tersenyum "Gak apa-apa Rima, lagipula sakit perut aku sudah sembuh kok" ucapnya
Rima menghela napas
"Oh syukurlah kalau sudah sembuh tapi lebih baik kamu minum aja nih obatnya siapa tahu nanti kumat lagi" usulnya
"Iya Rima, nanti aku minum" ucap Tina sembari menerima obat
Mengingat obat yang dibawakan Rima aku jadi teringat tadi pagi bertemu dengan anaknya Rima
"Tadi aku ketemu anak kamu loh, ditangga" ucapku memotong obrolan mereka
Rima menolehku "Ketemu diatas tangga ?" tanyanya balik
Aku mengangguk "Iya, dia cantik banget mirip kamu" ucapku
Rima tersenyum "Iya Niss semua orang pasti akan bilang begitu"
"Dia sudah sehat ya ?" tanyaku
Rima malah gelagapan "Oh sudah, ta-a-pi dia la-a-gi di kamar. A-ku be-lum bo-lehin dia keluar kamar" jawabnya
Aku mengangguk pelan "Tapi tadi aku tanyain dia, kalau kamu ada dimana. Tapi dia malah nunjuk ke kamar. Gak lama kemudian malahan kamu datang dari di kebun" ucapku
Rima mengerutkan dahinya namun raut wajahnya tenang
"Dia memang begitu, kalau ada yang tanya dia. Dia selalu asal jawab" jawab Rima
Aku mengangguk pelan "Oh, gitu"
Tina yang sejak tadi diam akhirnya mengucapkan kata-kata yang aku tunggu sejak tadi
"Rima, maaf banget ya. Aku sama Nissa mau balik ke Jakarta siang ini juga" pamitnya
Mendengar Tina berpamitan, raut wajah Rima langsung berubah sedih
"Yaah, kalian kan belum ketemu anak aku. Bukannya kalian datang ke sink rencananya mau ikut rayain ultah anak aku. Emangnya kalian gak bisa tunggu sampai hari kamis. Ini kan baru hari selasa " ucapnya
Aku dan Tina saling menoleh.
Jujur saja aku gak enak hati kepada Rima dan aku gak bisa bicara banyak, biar Tina yang menentukan rencana selanjutnya
Akhirnya Tina yang memutuskannya
"Ya sudah deh kita pulang hari kamis aja setelah acara ulang tahun anak kamu. Kalau gitu aku boleh numpang colokan dibawah ya soalnya hape kami kehabisan batrai" ucap Tina
Rima tersenyum "Makasih ya sudah mau menunggu anak aku sampai sehat kembali. Hapenya aku bawa aja ke kamar aku, nanti kalau sudah penuh aku kembalikan " ucapnya
__ADS_1