
Malam sudah kembali lagi tapi Rima lebih memilih sibuk mengurus anaknya yang sakit daripada menemani kami sebagai tamunya.
Akhirnya kami hanya berdiam saja menikmati kebosanan di dalam kamar yang terasa terasingkan
Meski begitu aku dan Tina gak keberetan dengan kondisinya yang memang harus lebih memilih anaknya yang masih sakit
Malam jam delapan begini Tina ada ide bagus untuk menghangatkan suasana di dalam kamar yang dingin
"Kita ngopi yuk Niss" ajaknya tiba-tiba
Aku mengangguk setuju
"Boleh juga tuh. Kita bikin yuk" ajakkku
Tina diam sebentar
"Tapi lebih baik kita ijin dulu sama tuan rumah. Karena kalau nanti kita main bikin aja takutnya gak sopan sama tuan rumah" ucap Tina yang berubah wanti-wanti kepadaku
Aku mengangguk
Ada benarnya juga perkataan Tina
"Iya, tapi kalau di bawah sepi gak ada siapa-siapa lebih baik ya kita ga usah bilang kalau mau bokin kopi. Tapi kalau kita ketemu salah satu orang rumah di bawah ya pastinya aku akan ngomong" ucapku
"Good" ucap Tina cepat
Aku berpikir sebentar, mengeritkan dahi
"Jadi, yang bikin kopi gua sendirian doang nih, lu gak ikut ?" tanyaku
Tina tersenyum menggodaku
"Mmmm, emangnya lu mau ditemenin ya ?" ucapnya
Aku mengangguk "Ya iyalah. Pegel kali bawa-bawa kopi dari lantai bawah ke sini" ucapku, padagal sebenarnya aku takut kalau nanti ada makhluk aneh di bawah.
Tanpa ragu Tina bergegas "Oke kalau gitu ayuk ke bawah" ajaknya
Akhirnya dengan kesepakatan bersama, kami turun tangga pelan-pelan meski kami juga sempat merasakan seolah ada yang gak terlihat sedang mengintai entah dari sidut mana.
Yang pasti rasanya merinding tepat saat melintas pintu kamar Rima, aku juga mencium aroma bau kemenyan yang menyengat tajam sampai tembus ke otakku
Rupanya Tina juga mencium aroma itu tapi untungnya aku dan Tina berusaha supaya berpura-pura gak terjadi apa-apa.
Kami berusaha melalui lintasan itu dengan sikap yang normal saja
Kami hanya saling menoleh tanpa komentar dan kembali melanjutkan langkah ke dapur
Sesampainya di dapur yang semakin terasa sunyi dan kali ini sangat mencekam
Karena saking masih menyimpan rasa takut akhirnya dengan cepat-cepat aku melangkah ke arah rak piring kemudian mengambil cangkir kopi
Secepat kilat juga aku menyeduh kopi dengan adukan yang yang begitu cepat sampai-sampai suara sendok dan cangkir yang saling beradu terdengar nyaring dikesunyian malam
Deg..deg..deg
__ADS_1
Suara jantung aku begitu kuat berdenyut dari biasanya, berdebar kencang sampai-sampai Tina juga mendengarnya
Tapi aku berusaha tetap tenang dan fokus kemudian mengarahkan cangkir yang sudah aku isi bubuk kopi ke tombol panas despenser
Tina yang sejak tadi diam memperhatikanku akhirnya berkomentar
"Itu suara jantung lu Niss ?" tanyanya
Aku mengangguk kemudian menyelesaikam seduhan kopi yang aku buat
"Iya, gak tahu kenapa rasanya gua bener-bener gak nyaman banget berlama-berlama di rumah ini" jawabku sembari mengangkat nampan yang berisi dua cangkir kopi panas buatanku
Tina menghela napasnya dalam-dalam seolah menyiratkan kalau dia gak ada rasa takut sama sekali
Tina mengoper nampan yang ditanganku ke tangannya kemudian membawanya melangkah ke kamar, sembari masih berbicara kepadaku
"Ya ampun Niss, segitu aja lu sampe ketakutan" ucapnya sembari berjalan di depanku namun aku berjalan dibelakangnya
Beberapa langkah menuju tangga, ku kembali mencium aroma amis darah yang sangat menyengat, setiap beberapa langkah berjalan aroma yang aku rasakan kemudian berubah menjadi bau busuk yang sangat menyengat.
Tapi lagi-lagi aku gak bisa berkomentar banyak tentang hal itu. Aku hanya diam saja terus mengikuti langkah Tina yang ada di depanku
Sesampainya di kamar
Aku dan Tina mulai menyantap kopi buatanku.
Tina yang lebih dulu menyeruputnya tapi dia malah gak bisa menikmati kopi buatanku itu
"Kok dingin begini sih, ini malah kayak kopi dingin yang dibiarin semalaman begitu aja" ucapnya
Aku juga menyeruputnya
Benar saja airnya dingin, seperti air ledeng dan rasanya juga hambar meski ada rasa kopinya tapi gak sewangi kopi yang biasanya dibuat
Aku jadi heran sendiri
"Tadi gua kasih air panas kok Tin" ucapku membela diri
"Masa sih, buktinya ini dingin. Lu salah ngasih air kali. Jangan-jangan lu salah nuang air tekonya" ucap Tina seolah masih yaki kalau ini kesalalaianku.
Karena secara logika gak mungkin bisa secepat itu kopinya dingin
Tina diam menatapku, dia juga mengingat kembali saat memperhatikan membuat kopi
"Kalau gua ingat sih, memang bener sih lu pakai yang panas. Tapi kenapa ini jadi dingin ya. Padahal kan kita cuma dari dapur" ucapnya heran
Aku yang sejak kemarin sudah curiga dengan rumah ini akhirnya kembali gak bisa mengontrol rasa takutku
Aku terus saja menoleh ke kanan ke kiri setiap sudut kamar.
Dengan suara berbisik aku mulai meluapkan apa yang aku rasakan kepada Tina saat dibawah
"Tadi pas kita mau naik lagi ke sini gua nyium bau amis darah, dan bau busuk. Sebelum turun juga gua nyium bau wangi di depan kamar Rima. Kalau lu gimana Tin ?"
Tina menatapku seolah mengingat sesuatu dan akhirnya dia juga mengaku "Iya kalau pas turun gua juga nyium wangi di depan kamar Rima. Tapi sewaktu naik sih gua gak nyium aroma apa-apa" ucapnya
__ADS_1
Mendengar jawaban Tina begitu langsung saja aku merinding
"Besok kita pulang aja yuk. Apa pun alasan Rima gua gak peduli" ajakkku lagi
Tina mengangguk setuju
"Oke aja, tapi hape kita kan sama Rima" ucap Tina mengingat kembali handphone yang kami titipkan untuk isi batrei
Aku juga baru mengingatnya kembali "Oh iya hape kita ya belum dikembalikan" ucapku
Tapi Tina gak begitu mempermasalahkannya "Ah, soal hape gampang lah itu. Besok pagi kita minta sekaligus pulang" ucap Tina kemudian menyingkirkan dua gelas kopi ke atas meja
Akhirnya kami gak menikmati kopi sama sekali
Tapi Tina malah pergi ke balkon kamar, dia membuka kamar pelan-pelan dan berdiri menatap hutan yang gelap.
Tapi aku masih duduk di kasur memikirkan hari esok
Semilir dinginnya angin malam yang masuk ke dalam kamar seolah menusuk kulitku sampai ke tulang
Dari luar Tina memanggilku untuk menghampirinya
"Nissa, sini deh !" panggilnya
Pikiranku yang sejak tadi masih memikirkan apa yang akan terjadi besok akhirnya dipecah oleh suaranya
Tanpa menjawabnya aku lantas menghampirinya
Belum juga berdiri disampingnya, Tina sudah memberitahu sesuatu kepadaku
Tina menunjuk arah kanannya, dari jauh terlihat guratan-guratan kecil cahaya lampu rumah-rumah diujung hutan sebelah kanan
"lihat deh di sana, rupanya disana ada penduduknya ya !" tunjuknya
"Iya, aku pikir di belakang perumahan ini semuanya hutan dan gunung aja ya" ucapku
"Iya mungkin aja sejak kemarin ketutup kabut tebal jadi keliatan" ucap Tina
Aku mengangguk setuju "Bisa jadi Tin" Ucapku sembari memperhatikannya kembali. Dan aku juga baru sadar kalau rupanya ada jalan menuju ke sana bahkan ada lampu jalan yang menerangi walau gak semua lampunya hidup.
Itu terlihat jelas dari atas meski dari jarak pandang yang cukup jauh
Langsung saja aku menunjuk ke arahnya
"Di sana ada jalan menuju ke penduduk itu deh Tin !" tunjukku
Tina menoleh ke arah yang aku tunjuk kemudian dia mengangguk-angguk seolah tahu sesuatu
"Ooh, aku tahu sekarang. Berarti sewaktu kita kesasar pas mau ke sini tuh petanya memang mengarahkan kita ke perkotaan itu dulu, nah kemudian diarahkan ke jalan yang mengarah ke perumahan ini, tapi saat itu kan Rima datang pakai jalan potong. Berarti besok kita pulang lewat jalan situ aja lebih mudah dan kita juga sudah tahu kalau ujungnya perkotaan itu " ucap Tina
Aku mengangguk paham "Bener banget" ucapku setuju
Saat kami masih berdiri di balkon tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar dengan ketukan yang sangat pelan.
"Tok..tok..tok..tok"
__ADS_1