
Akhirnya jam lima sore sampailah kami dijalan yang seharusanya menjadi tembusan desa yang menjadi tempat tinggal Rima
Tapi aku dan Tina berhenti di jalan pembelah hutan yang cukup lebar dan spertinya jalan ini sangat panjang. Jalan aspal yang masih halus bertaburan daun-daun kering sesekali terbang tehembas ban kendaraaan yang sesekali lewat.
Jalan ini terasa sunyi meskipun ada saja beberapa mobil, motor bahkan sepeda yang lalu lalang melewati kami. Namun karena kami sudah masuk di area pepohonan tinggi besar dan tua seolah membawa kami masuk ke dalam hutan belantara yang menyeramkan.
Kalau dari peta jalan ini cukup jelas adanya namun ada cabang jalan sebelah kiri yang dapat mengantarkan kami ke rumah Rima. Titiknya begitu jelas ada diujung cabang jalan.
Dan beruntungnya aku melihat cabang jalan itu
"Itu cabangnya Tin" tunjukku.
Karena cabang jalannya tepat ada disebelah kiri kami.
Tina menolehnya namun dia ragu untuk masuk "Apa benar ini cabangnya, Nis ?" tanyanya
"Iya, lihat aja nih di peta" ucapku sembari menunjukkan gambar peta kepadanya
Tina mengecek kemudian wajahnya mulai sedikit yakin tapi kakinya enggan tancap pedal gas mobilnya
"Jalannya itu kayak gak ada aspalnya, apa bisa dilewatin mobil ?" tanyanya
Mendengarnya aku jadi ikut berpikir.
Tapi aku gak mau berpikir panjang akhirnya aku inisiatif menelpon Rima untuk mendapatkan kejelasan darinya
Tuuuuttt...ttuuuuuutt !
Rupanya hape aku hilang sinyal. Padahal sejak tadi sinyal aman saja
"Gak ada sinyal Tin!" keluhku
Tina pun ikut mengecek sinyal hapenya
"Coba kita keluar dulu siapa tahu ada sinyal" ucapnya sembari mematikan mesin mobilnya dan lebih dulu keluar
Hampir setengah jam sinyal gak kunjung kembali, begitupun dengan sinar mentari yang mulai habis ditelan malam.
Itu yang membuat aku dan Tina mulai panik meskipun masih banyak kendaraan yang lewat dihadapan kami.
Ada sosok bapak tua bersepeda ontel membawa patahan kayu dijok belakangnya berhenti dihadapan kami. Dia heran melihat kami terlihat membutuhkan bantuan
"Ada yang bisa dibantu Mbak ?" tanyanya
Sontak saja aku dan Rima menatapnya, merasa beruntung karena ada yang mau menawarkan bantuannya
Tapi Tina yang lebih dulu menjawabnya
"Kalau jalan itu bisa dilewati mobil gak pak ?" tanyanya sambil menunjuk jalan cabang
Bapak tua itu menolehnya kemudian raut wajahnya berubah kaget "Loh, itu kan jalan buntu Mbak !" ucapnya
Aku dan Tina saling menoleh, karena masih berpatokan dengan peta yang dikirimkan Rima.
__ADS_1
Tapi Tina yang masih menjawab Bapak tua itu "Masa sih pak. Soalnya rumah temen saya ada diujung jalan itu !" tegasnya
Tapi Bapak tua itu malah mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan perjalananya
"Salah kali Mbak. Soalnya itu jalan buntu!" ucapnya kemudian pergi begitu saja
Aku yang gak peduli dengan ucapan Bapak tua itu kembali mengecek sinyal hape.
Bersyukurnya sinyal kembali.
Dan pas banget Rima menelpon
"Halo Rima !" panggilku
"Kalian udah di mana ? Aku hubungi sejak tadi gak bisa-bisa !" ucapnya
"Sinyalnya hilang, Rim. Aku dan Tina sudah di cabang jalan tapi...." baru aja aku mau jelasin sudah dipotong Rima
"Oke, Kalian tunggu disitu ya. Aku segera jemput !" ucapnya
Aku gak tahu harus berpikiran apa kedirinya tapi aku hanya bisa bilang "Oke, Rima. Aku tunggu ya !"
Saat menunggu Rima, aku dan Tina gak banyak bicara karena takut salah bicara mengingat hari sudah gelap. Kami hanya bisa bersabar menunggu di dalam mobil sembari memperhatikan kedatangan Rima entah akan muncul darimana.
Namun rupanya hanya sepuluh menit saja mobil putih Rima sudah muncul dari dalam cabang jalan yang gelap gulita
Segitu cepatnya
"Kata si Bapak tua tadi itu jalan buntu. Gimana sih tuh orang !" ucapnya, dia masih terpikirkan perkataan si bapak tua tadi
Mendengarnya aku jadi tertawa
"Haha, kayaknya si Bapak tua itu mau nakutin kita" ucapku sembari turun karena sudah terlihat kalau Rima sudah turun dari mobilnya tengah menghampiri mobil kami
Akhirnya kami saling berpelukan
Rima menyambut kami begitu terharu dan lepas
"Ya ampun aku kangen banget sama kalian !" ucap Rima sembari melepaskan pelukannya
Aku dan Tina gqk luput melepaskan rasa rindu kepadanya.
Setelah beberapa saat saling melepas rindu akhirnya Rima mengajak pergi ke rumahnya
"Nissa, Tina . Kalian masuk ke dalam mobil aku aja. Nanti biar Ayah mertua aku yang bawa mobil kamu , mobil aku nanti disetir ama suami aku" ucapnya
Tina langsung mengangguk "Ide yang bagus tuh !" setujunya cepat
Kami masuk ke dalam mobil kemudian aku dan Tina duduk dibelakang setir sementara Rima ada disamping suaminya.
Kemudian perlahan kemudi mobil mulai masuk ke dalam jalan yang sangat gelap dan menyeramkan.
Sangat gelap dan sunyi hanya ada suara mesin mobil yang menambah ramai perbincangan kami.
__ADS_1
Meski suaminya Rima hanya diam saja tapi gak membuat aku dan Tina merasa gak disambut dengan baik. Karena sebelumnya sudah merasakan kehangatan dari Rima.
Bahkan sepanjang jalan Rima selalu mengajak bicara
"Kalian sampai jam berapa tadi ?" tanyanya
Aku langsung menjawabnya "Jam lima deh kayaknya" ucapku sembari memperhatikan jalan yang disorot lampu mobil
Tina juga ikut bicara "Tadinya udah mau masuk sini tapi aku ragu soalnya jalanannya bukan aspal sih" ucapnya
Tapi Rima tersenyum "Kalau aja kamu yakin ini jalannya mungkin udah dari tadi kalian ada di rumah aku" ucapnya
"Iya malahan tadi ada bapak-bapak bilang kalau ini jalan buntu. Jadinya kan kita tambah bingung dong" ucap Tina
Rima tertawa mendengarnya "Hahaha!"
Kemudian melanjutkan obrolannya "Jangan percaya apa kata orang sini, sebagian orang sini suka nakut-nakuti orang kota yang gak tahu apa-apa supaya bisa kejebak sama bantuannya. Nanti kalau kalian sudah minta bantuan sama mereka pasti mereka akan peras uang kalian" jelasnya
Aku dan Tina mengangguk paham mendengarnya
"Ooh begitu ya !" ucap kami serempak
"Iya, hal kayak gitu udah biasa disini. Orang-orang disini tuh pemikirannya pelosok banget karena banyak yang gak sekolah dan malas bekerja" jelasnya lagi
Aku mengangguk paham "Pantesan aja tadi si bapak itu bilang begitu" tambahku
Perjalanan menuju rumah Rima semakin dekat namun obrolan yang sejak tadi hangat mulai hilang ditelan dinginnya malam
Kami mendadak hening dan gak ada satupun yang memulai bicara.
Hingga akhirnya sampailah kami diperkampungan yang terang.
Sederetan rumah-rumah yang mereka diami semua sudah tembok dan megah namun meski lampu-lampu jalan begitu terang benderang gak ada satupun manusia yang beraktifitas diluar. Mungkin karena sudah malam juga.
Akhirnya mobil kami berhenti di depan gerbang rumah yang paling megah diantara rumah lainnya.
Gerbang yang tinggi megah berwarna emas menambah daya tarik tersendiri jika melihatnya.
Beberapa saat menunggu akhirnya gerbang dibuka oleh wanita paruh baya.
Kami masuk ke dalam halaman rumah dan langsung takjub dengan kemegahan rumahnya
Bagai istana putih dengan sentuhan warna emas yang mencolok.
Sembari turun aku masih saja terus menerus takjub melihatnya "Rumah kamu megah banget kayak istana !" ucapku
Tina menambahkan "Kalau kita bikin panggung dangdut di dalam rumah ini pasti gak akan kedengeran sampai luar nih. Gak akan ganggu tetangga" candanya
Aku tertawa "Hahaha !"
Disaat bersamaan Rima mengajak kami untuk masuk ke dalam rumahnya "Ayok masuk !" ajaknya dengan ramah
Namun suami dan ayah mertuanya sudah lebih dulu masuk.
__ADS_1