ANAK ARWAH

ANAK ARWAH
21. MATI MENGENASKAN


__ADS_3

Akhirnya kami putuskan bermalam diantara akar pohon yang besar, menahan dinginnya malam yang menusuk sampai ketulang ditambah lagi kondisi tubuh yang semakin kurang enak dirasa.


Sampai akhirnya matahari pagi menyambut kami dengan cahayanya yang memantul diantara dedaunan yang berembun.


Dipagi ini juga tubuh aku dan tubuh Tina demam. Wajah kami pucat dan sangat lemah.


Rima yang menyaksikan penderitaan kami akhirnya menangis menyesal


Rima menyeka airmatanya yang terus mengucur membasahi pipinya


"Maafkan aku ya. Aku orang paling berdosa di dunia ini. Seharusnya aku yang pantas mati bukan kalian" ucapnya dengan penuh rasa menyesal


Aku dan Tina hanya memandang wajahnya yang penuh derai airmata


"Sebenarnya kalian memang sengaja dijebak. Saat itu Ibu mertuaku melihat obrolan chat kita, dari situ dia meminta kalian. Sebenarnya aku gak mau tapi aku gak sanggup menolak karena aku takut dia membunuhku" ucapnya


Mendengarnya aku makin belum bisa memaafkannya "Memangnya kamu gak bisa berbohong kalau aku dan Tina gak jadi datang karena ada urusan lain ?"


Masih dalam tangisannya, Rima menggelengkan kepala


"Saat itu pikiran aku buntu, aku dalam pengaruh ketakutan. Maaf" ucapnya


Meski dia terus meminta maaf tetap saja aku masih kesal kepadanya


"Semudah itu kamu meminta maaf. Kenapa gak dari awal saja kamu bawa kami lari. Kenapa baru sekarang !" kesalku


Tapi Tina melerai emosiku


"Sudah lah Niss, semua sudah terjadi. Sudah bisa sampai sini saja sudah lebih dari cukup. Kita gak usah perdebatkan yang kemarin apalagi kamu bisa lihat sendiri bagaimana perjuangan Rima membunuh mertuanya dan melukai suaminya sampai akhirnya membawa kita sampai sini" ucapnya


Aku terdiam mendengar ucapan Tina


Sementara Rima masih saja menangis meski terus menyeka airmatanya seolah airmatanya gak ada habisnya


"Jadi, komplek perumahan ini sebelumnya penuh dengan warga tapi lambat laun perumahan ini ditinggal oleh masing-masing pemiliknya karena dianggap angker karena sering sekali warga banyak yang mati. Padahal semua itu atas ulah kedua mertuaku dan suamiku. Sampai-sampai asisten rumah tangga saja mereka jadikan tumbal untuk penghasil harta kekayaan mereka. Sampai sekarang orang-orang menganggap kalau perumahan ini komplek perumahan berhantu penuh dengan kutukan makanya hanya rumah mertuaku yang sampai sekarang masih ada penghuninya" jelasnya


Mendengarnya aku merinding, aku gak menyangka kalau seperti itu alasannya


"Terus, kenapa anak kamu meninggal ?" tanyaku


"Dia sengaja dibunuh oleh suamiku untuk tumbal utama dan sebagai perantara kepada iblis" jawabnya


Mendengarnya aku dan Tina terbelalak


"Hah !"


Rima mengangguk kemudian melanjutkan ceritanya

__ADS_1


"Saat itu, Ibuku yang menginap di rumah itu tahu karena sempat melihat dengan matanya sendiri kalau suamiku dengan tega hati menusuk jantung anaknya. Sebenarnya aku sudah tahu rencana suamiku tapi aku gak bisa berbuat apa-apa karena suamiku sangat tempramental. Saat itu aku juga takut kalau sampai aku banyak bicara maka dia akan membunuh kedua orang tuaku"


Aku Tina kembali syok "Hah !"


Rima kembali bercerita meski terus menangis tapi dia hebat bisa kuat mengingat luka lamanya itu


"Setelah Ibuku mengadu kepada ayahku akhirnya suamiku akan dipolisikan tapi naasnya, kedua orang tuaku justru dibunuh dengan keji oleh suamiku persis seperti apa yang aku lakukan kepada mertuaku semalam" jelasnya


Aku dan Tina jadi ikut menangis mendengar penderitaan berat yang Rima alami selama ini.


Tapi Rima masih tetap bicara


"Kemarin siang itu sebenarnya aku sudah memberikan kalian jalan dengan cara membuka gembok gerbang karena aku mendengar suara kalian ada di dalam kamar mayat anakku. Aku mendengar kalian akan kabur. Disitu aku berpikir kalau sudah saatnya aku membantu kalian untuk melarikan diri. Tapi rupanya aku gak tahu kalau mobil kalian dirusak. Makanya aku kembali ke kebun untuk menyembunyikan pedang suamiku karena dengan pedang itu lah leher kalian ditebas"


Aku merinding mendengarnya tapi masih bertanya-tanya


"Kalau memang kamu mau bantu kami melarikan diri, kenapa gak pada saat itu saja kamu menampakkan diri kamu. Kamu kan bisa tinggal bilang kalau gerbang gak dikunci" ucapku


Rima menunduk "Aku sudah kepalang merasa bersalah. Aku gak sanggup melihat wajah kecewa kalian. Maaf" ucapnya


Saat dalam bersamaan terdengar suara pijakan kaki yang seolah melangkah pelan ke arah kami.


Sontak saja kami terdiam mengunci suara rapat-rapat


Rima menoleh kepadaku dan juga Tina, dia memberikan aba-aba supaya kami bersiap untuk berlari lagi tapi sepertinya Tina terlihat gak sanggup untuk berjuang pulang.


Tapi sialnya belum juga bersiap lari lebih jauh ke dalam hutan. Sekonyong-konyongnya suami Rima muncul dari balik pepohonan yang seharusnya bisa menyembunyikan keberadaan kami


Suaminya berdiri dihadapan kami dengan tatapan garang dan pedang panjang bermata dua ditangannya


Kami panik atas kehadirannya dan tanpa pikir panjang lagi, Rima menarik tangan aku dan Tina untuk berlari menelusuri hutan


"Cepat lari ! Cepattttt !" teriak Rima


Mau gak mau aku dan Tina harus berlari meski dengan langkah tertatih.


Saat itu juga suami Rima mengejar kami dan siap membunuh kami satu per satu


Tapi dalam perjalanan tubuh Tina roboh, dia jatuh tersungkur lemas.


Bahkan dia tertinggal jauh dari langkah kaki aku dan Rima


Sementara suami Rima sudah semakin dekat dengannya


Aku berusaha menghampiri Tina tapi dihalau oleh Rima


"Sudahlah, kita pergi saja dari sini !" teriaknya sembari menarik tanganku

__ADS_1


Jelas saja aku menolaknya


"Gak. Lepasin tangan aku !" teriakku sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Rima


Tapi Rima masih terus menghalauku, dia terus berusaha mengajakku untuk melanjutkan pergi dari situ


"Biarkan saja, Nissa.. Relakan dia...ayooo !!!!" paksa Rima sembari terus menyeret aku


Dalam bersamaan juga langkah suami Rima semakin mendekati Tina yang terlihat gak berdaya.


Lalu menetak tubuh Tina bertubi-tubi dengan pedang yang dia bawa sampai akhirnya Tina meregang nyawanya


Dari jarak pandang jauh yang sudah tertutupi dedaunan aku masih bisa melihat Tina dibunuh secara membabi buta


Dengan langkah yang semakin menjauh dari Tina, aku menangis histeris, aku hanya bisa teriak memanggilnya sembari menahan tanganku yang ditarik paksa oleh Rima


"Tinaaaaaa !!! Tinaaaaa !!! Tinnnaaaa !!!" teriakku


"Huhuhuhuhuhuhu...huhuhuhuhu !!"


Lagi-lagi aku gak pernah menyangka kalau aku harus melihat sahabatku sendiri dibunuh begitu kejinya, andai aku bisa menolongnya mungkin dia gak akan mati sia-sia.


Semoga kamu istirahat dalam tenang, kawanku.


Akhirnya aku kembali melanjutkan perjalananku sampai akhirnya masuk ke dalam hutan yang diyakini Rima kalau suaminya gak akan mengetahui keberadaan kami.


Saat itu juga Rima menenangkan aku


"Maaf Nissa, kalau kita melawan dia maka dia akan membunuh kita" ucapnya


Mendengarnya aku menangis


"Aku gak tega melihat Tina dibunuh sekeji itu. Dan aku juga gak tahu harus bagaimana lagi. Aku juga yakin kalau aku gak akan hidup." ucapku


Tapi Rima menepis pikiran burukkku


"Gak, kamu pasti hidup" yakinnya kepadaku


Rima menunjuk jalan kepadaku "Itu, jalan pintasnya" tunjuknya


Aku menolehnya "Kamu tahu dari mana kalau itu jalannya ?" tanyaku heran


Rima menjelaskan perihal jalan pintas menuju jalan aspal ke kota


"Sebentar lagi kita akan sampai ke jalan aspal. Lewat situ akan tembus ditengah jalan aspal menuju kota. Nanti ditengah jalan itu ada cabang jalan berasal dari perkampungan nanti kita akan cari tumpangan kendaraan yang lewat disana" ucapnya dengab yakin


Aku mengangguk paham tapi aku masih heran darimana dia tahu

__ADS_1


"iya tapi kamu tahu darimana ?" tanyaku lagi


__ADS_2